"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 mulai tidak percaya diri
Celia, Chaca, Chika saat ini anak remaja itu sampai rumah Celia.
"Bunda tidak ingin kejadian ini terulang lagi, kalian ini masih muda dan seharusnya masa muda digunakan untuk hal yang terbaik bukan tawuran seperti ini!" Ratih sejak tadi tidak berhenti mengoceh kembali memasuki rumah yang diikuti Celia bersama dengan teman-temannya tampak tidak bersemangat.
"Bunda, tetapi benar kok, kita bertiga tidak ikut tawuran, kita bertiga juga tidak akan terjebak dalam situasi itu jika Alfian dan....."
"Celia kamu jangan terus menyalahkan Alfian," Ratih memotong pembicaraan Celia.
Chika dan Chaca saling melihat satu sama lain seolah-olah membenarkan perkataan sahabatnya itu selama ini bahwa Alfian selalu dibela oleh Ratih.
"Kalau tidak ada Om Angga, kalian sampai saat ini sudah pasti mendapatkan masalah!" tegas Ratih.
"Chika, Chaca kalian berdua sekarang sebaiknya pulang, jangan keluyuran lagi nanti orang tua kalian marah!" tegas Ratih.
"Iya Tante, kalau begitu kita pamit dulu," Chaca dan Chika mencium punggung tangan Ratih.
"Hati-hati!" sahut Ratih membuat Chaca menganggukkan kepala dan sebelum pergi sudah pasti berpamitan pada Celia.
"Kamu juga langsung mandi dan istirahat, Bunda tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi dan ini terakhir kalinya!" tegas Ratih.
"Iya Bunda," sahut Celia dengan suaranya terdengar tidak semangat dan kemudian langsung memasuki kamar.
"Anak-anak zaman sekarang, emang harus dipantau dalam keseharian dan jika tidak seperti ini akibatnya," Ratih geleng-geleng kepala.
******
Yogi, Diego, Kania dan Valery terlihat berada di basecamp dengan mereka yang mengobati luka di berbagai lengan mereka akibat tawuran.
"Gara-gara cewek kampungan itu dan kita semua harus kenak imbasnya," ucap Kania dengan kesal.
"Memang mereka itu selalu saja membawa petaka, kita sampai berurusan dengan Polisi," ucap Yogi.
"Bagaimana dengan Alfian? sudah ada kabar belum, tadi saat di kantor polisi melihat ekspresi orang tuanya begitu marah kepada Alfian dan sudah pasti dia akan mendapatkan masalah besar," ucap Diego.
"Jangankan Alfian, gue saja bakalan dapat masalah sama nyokap gue," sambung Valery.
"Tetapi bukannya tadi nyokap lo tidak ada di kantor polisi?" tanya Kania.
"Karena dia memang berada di luar kota, memecahkan sekretarisnya untuk mengurus masalah ini dan setelah dia pulang dari luar kota, gue akan dapat masalah lebih besar lagi," sahut Valery.
"Semua ini gara-gara Celia, semenjak gadis kampung itu masuk ke sekolah kita dan terus saja ada masalah," sahut Yogi.
"Kalian sadar tidak kalau Alfian belakangan ini nggak suka ikut-ikutan ngejek mereka bertiga, gue ngerasa Alfian kayak berpihak kepada mereka," sahut Kania membuat teman-temannya menetap Kania dengan serius.
"Apaan sih, nggak mungkin kayak gitu," sahut Valery merasa hal itu sangat mustahil.
"Sudahlah, kita jadikan baju semua ini pelajaran dan lain kali kita harus hati-hati dengan 3 cewek pembawa sial itu," sahut Yogi membuat semuanya menganggukkan.
******
Alfian harus menerima hukumannya tidak menggunakan fasilitas mobil dari sang ayah yang membuatnya datang ke sekolah hanya diantar oleh sopir.
Teman-teman Alfian yang baru saja sampai ke sekolah heran melihat Alfian dengan wajahnya tampak kesal melangkah memasuki sekolah.
"Alfian kamu tumben sekali diantar sopir?" tanya Valery menghentikan langkah Alfian.
"Bokap nyokap gue marah atas kejadian kemarin dan gue tidak akan membawa fasilitas apapun ke sekolah, kartu kredit disita entah sampai kapan dan hanya boleh bawa ponsel," jawab Alfian.
"Sudah gue duga," sahut Diego.
"Ya, masih mending mendapatkan hukuman itu dan gue nanti tidak tahu akan dapat hukuman apa dari nyokap," sahut Valery mengangkat kedua bahunya.
"Sudahlah sebaiknya kita masuk kelas, hari ini ada ujian bulanan bahasa Inggris," sahut Kania membuat semuanya mengalahkan kepala.
Alfian saat ini sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin memang hanya bisa pasrah, hukuman yang telah dia terima dari orang tua.
****
Celia saat ini berada di kerumunan murid-murid SMA yang terlihat berdiri di depan mading. Wajah Celia kembali sedih saat melihat peringkatnya ternyata hanya naik satu. Dari 35 siswa. Celia berada di peringkat 34 setelah mengikuti ujian bahasa Inggris.
Ini bukan sekali dua kali, bahkan ketika semua mata pelajaran sudah mendapat giliran ujian bulanan, Celia tidak pernah mendapatkan peringkat teratas atau paling tidak memasuki 10 besar.
Mata Celia kembali melihat pada lembar pemberitahuan itu dan ternyata tetap Alfian yang menjadi peringkat pertama.
"Kenapa susah sekali bersaing di SMA ini. Jika seperti ini terus, kemungkinan aku tidak akan bisa masuk universitas kedokteran di luar negeri," ucap Celia tampak tidak semangat.
Celia sudah berusaha belajar mati-matian dan tetap saja tidak mendapatkan nilai yang sempurna, mengalami kesulitan dan mungkin banyak ketinggalan pelajaran yang tidak sesuai dengan sekolahnya sebelumnya sehingga Celia belum mampu menyesuaikan kurikulum pelajaran.
****
Celia saat ini berada di ruangan wali kelasnya, duduk di hadapan guru wanita yang tampak anggun.
"Jadi untuk bisa mengikuti pendaftaran di universitas luar negeri, harus bisa masuk 10 besar juara umum tingkat sekolah?" tanya Celia.
"Benar Celia, dari tahun ketahuan 10 besar juara umum tingkat sekolah sudah pasti akan memasuki Universitas favorit di luar negeri, dan untuk beberapa siswa lainnya berdasarkan pemilihan dari bahkan mereka dalam bidang lain membanggakan sekolah," jawab Bu Widya.
"Bu, artinya saya tidak akan punya kesempatan untuk memasuki Universitas favorit di luar negeri?" tanya Celia.
"Kamu jangan langsung putus asa seperti itu, jangan persaingan ada naik turun dan apalagi kamu juga masih baru di sekolah ini, Ibu tahu kamu murid yang sangat pintar, karena Ibu juga mengenal kamu dari SMA Cendrawasih murid yang berprestasi dan selalu mengikuti olimpiade, mungkin kamu belum mampu menyesuaikan pembelajaran di sekolah ini dengan sekolah kamu sebelumnya sehingga masih banyak soal-soal yang tidak bisa dijawab dengan benar!"
"Masih banyak kesempatan Celia, jika kamu sungguh-sungguh berjuang di sekolah ini, maka ibu yakin kamu akan mendapatkan banyak kesempatan itu," ucap Widya.
Celia hanya menunduk, entahlah apakah dia mampu untuk bersaing dengan teman-temannya atau justru dia akan tetap berada pada tingkat bawah.
"Celia, coba berbaur lebih banyak lagi dengan teman-teman kamu dan terutama teman-teman sekolah kamu, kamu bisa sharing dengan mereka bagaimana sistem pembelajaran agar kamu paham, kamu juga bisa bertanya langsung kepada Alfian yang selalu memegang juara di kelas, tetapi ingat semua bukan hanya berdasarkan akademik saja, untuk menambah nilai, kamu juga bisa mengikuti berbagai ekstrakurikuler di sekolah ini,"
"Kamu harus memanfaatkan ekstrakurikuler di sekolah ini, kita punya kolam renang yang luas, kamu bisa mengikuti latihan peregangan, kita juga punya ekstrakurikuler lain seperti tarian daerah, modern, ada juga kesenian dari musik, juga bidang olahraga seperti basket, futsal, dan bahkan banyak lainnya yang bisa kamu ikuti untuk mengembangkan prestasi kamu," ucap Widya sejam tadi begitu lembut memberikan nasehat Celia.
"Kamu jangan putus asa dan tetap semangat, ibu yakin kamu mampu bersaing sehat dengan teman-teman kamu," Widya tidak berhenti memberikan semangat yang menetap bahwa Celia.
"Makasih ya Bu. Celia akan berusaha dan akan terus belajar," ucap Celia.
"Iya, ibu akan mendukung kamu dan semoga kamu benar-benar bisa menyelesaikan pendidikan kamu dengan baik dan meraih kemungkinan kamu," ucap Widya.
Bersambung.......
...Tidak lupa juga saya mendapat kesempatan untuk kembali membuat novel baru, Besar harapan saya kepada para pembaca untuk setia pada novel saya, membaca dari bab awal sampai bab akhir, tidak melewatkan satu bab dan terus memberi dukungan like, koment, vote dan subscribe....
...Besar harapan saya Novel baru ini juga akan dicintai oleh para pembaca dan bisa laris,...
...Saya ucapkan terima kasih sekali lagi kepada para pembaca atas dukungan selama ini, salam cinta dari saya Author...