Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Pertemuan Kedua Bu Ratna
"Xavier, kamu..."
Keira tidak menyelesaikan kalimat.
Mochi mengeong dari bawah meja, seolah menikmati kekacauan manusia.
Xavier menurunkan gelas. "Aku apa?"
Keira menatap outer krem di tangannya, lalu menatap wajah Xavier yang terlalu tenang. Ada banyak pertanyaan di lidahnya. Kamu tahu? Kamu cuma bercanda? Kamu sadar aku selama ini benar-benar meniru kamu karena alasan yang tidak mungkin kamu percaya?
Tidak satu pun aman.
Jadi Keira memilih jalan paling pengecut.
"Kamu menyebalkan."
Xavier menatapnya dua detik, lalu sudut bibirnya naik sedikit. "Itu sudah sering kamu bilang."
"Berarti belum cukup."
"Noted."
Malam itu, Keira pulang membawa outer baru, perut hangat, dan rasa penasaran yang tidak selesai. Nokia tua tidak memberikan peringatan. Tidak ada hukuman. Tidak ada pesan bahwa rahasianya terbongkar.
Berarti Xavier belum tahu.
Mungkin.
Tapi sejak malam itu, setiap kali Keira memakai outer krem pemberian Xavier, ia merasa seperti memakai pertanyaan.
Kamis berikutnya, pertanyaan itu ikut masuk ke kelas Bu Ratna.
Keira datang bersama Celine. Ia sudah bertekad duduk biasa, bersikap biasa, dan tidak memikirkan bahwa Xavier semalam mengirim pesan:
`Outer-nya kepakai?`
Keira menjawab:
`Kepakai karena Bandung dingin. Bukan karena kamu.`
Xavier membalas:
`Tentu.`
Satu kata itu berhasil membuat Keira kesal selama tiga puluh menit.
Di kelas, Xavier sudah duduk di kursi partner mereka. Ia melihat outer krem yang dipakai Keira, lalu tidak berkomentar. Tidak berkomentar itu justru membuat Keira ingin melempar penghapus.
Celine duduk di kursinya sendiri di baris depan, menoleh ke belakang dan mengangkat alis. Keira pura-pura tidak melihat.
Bu Ratna masuk dengan energi yang terlalu cerah untuk Kamis siang.
"Minggu lalu kalian sudah mengamati kebiasaan partner. Hari ini kita akan latihan membaca ekspresi."
Seluruh kelas langsung gelisah.
Bu Ratna tersenyum. "Tenang, tidak ada yang berbahaya. Kalian hanya perlu menatap partner selama tiga puluh detik tanpa tertawa."
Keira membeku.
Xavier menoleh perlahan.
Mata mereka bertemu.
"Tidak," bisik Keira.
"Bu Ratna belum bertanya."
"Aku menolak secara spiritual."
"Tidak ilmiah."
Bu Ratna bertepuk tangan. "Ayo, semua pasangan saling berhadapan. Jangan bicara. Jangan menutup wajah. Yang tertawa duluan kalah."
Kelas berubah menjadi keributan kecil. Kursi diseret, mahasiswa saling berhadapan, beberapa langsung tertawa sebelum mulai. Keira memutar kursinya menghadap Xavier dengan perasaan seperti hendak mengikuti lomba yang hadiahnya serangan jantung.
Xavier duduk tenang. Tentu saja.
Bu Ratna mengangkat timer. "Mulai."
Detik pertama, Keira masih bisa bernapas.
Detik kelima, ia mulai menyadari hal-hal bodoh: bulu mata Xavier ternyata panjang, tahi lalat kecil di bawah bibirnya lebih jelas dari jarak sedekat ini, dan matanya tidak sedingin yang orang-orang kira. Ada sesuatu yang hidup di sana, tenang tapi memperhatikan.
Detik kesepuluh, Keira hampir kalah.
Xavier tidak berkedip.
Keira menyipitkan mata, mencoba mengubah rasa gugup menjadi tantangan. Xavier balas menatap tanpa ekspresi. Semakin ia tenang, semakin Keira ingin mengacaukannya.
Detik kelima belas, ia menaikkan alis sedikit.
Tidak berhasil.
Detik kedua puluh, ia menggembungkan pipi sangat pelan, nyaris tidak terlihat.
Sudut bibir Xavier bergerak.
Keira menangkap peluang. Ia membuat wajah serius paling aneh yang bisa ia buat: mata dibulatkan sedikit, bibir ditekuk tipis, ekspresi seperti Mochi saat ketahuan mencakar sofa.
Xavier menahan.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia tertawa pendek.
Bukan senyum. Bukan embusan napas kecil. Tertawa sungguhan, rendah dan tidak siap.
Seluruh kelas langsung bersorak.
Kevin, yang entah kenapa masuk kelas sebagai pengunjung sebentar untuk mencari temannya di pintu, berteriak dari luar, "XAVIER KALAH?"
Bu Ratna ikut tertawa. "Baik, berarti Keira menang."
Keira menutup wajah dengan dua tangan. "Bu, itu bukan tujuan akademik."
"Justru itu akademik. Ekspresi partner kamu berubah karena stimulus tak terduga."
Xavier menatap Keira, masih ada sisa tawa di matanya. "Curang."
"Strategi."
"Kamu membuat wajah Mochi."
"Berarti efektif."
Kelas masih tertawa. Celine dari depan memberi Keira dua jempol seolah ia baru memenangkan kejuaraan nasional.
Mahasiswa di baris kanan mulai berbisik.
"Xavier bisa ketawa juga ternyata."
"Kalau sama partner-nya, bisa."
Keira pura-pura tidak mendengar, tetapi telinganya panas. Ia menunduk ke handout, menulis apa saja agar tangannya terlihat sibuk. Di sebelahnya, Xavier juga tampak mendengar bisikan itu. Bedanya, ia tidak membantah. Ia hanya mengambil botol air, minum pelan, dan menyembunyikan sisa senyum di balik gerakan itu.
Bu Ratna mengetuk meja dengan spidol. "Ini contoh bagus. Kadang respons emosional muncul bukan karena tekanan besar, tapi karena rasa aman dalam interaksi kecil."
Rasa aman.
Keira hampir berhenti menulis.
Ia tidak tahu apakah kelas lain juga mendengar kalimat itu sebagai teori. Bagi Keira, kalimat itu terdengar terlalu dekat dengan perasaannya sendiri.
Setelah latihan selesai, Bu Ratna meminta mereka menulis refleksi singkat. Keira mencatat:
`Xavier tertawa kalau dipancing ekspresi kucing tersinggung.`
Xavier melirik catatannya.
"Itu data rahasia."
"Ilmiah."
"Balas dendam?"
"Observasi."
Saat kelas bubar, Keira mengumpulkan handout, notebook, dan beberapa buku referensi yang ia pinjam dari perpustakaan. Tumpukannya terlalu tinggi untuk satu tangan. Ia baru hendak menyeimbangkan semuanya ketika Xavier mengambil setengah tanpa bertanya.
"Aku bisa bawa sendiri."
"Bisa jatuh sendiri juga."
"Aku tidak selemah itu."
Xavier menatapnya sebentar. Tatapan itu membuat Keira ingat semua makanan tanpa sambal, bubur di gagang pintu, air hangat di Braga. Ia tahu Xavier tidak bermaksud meremehkan. Ia hanya memperhatikan dengan cara yang tidak selalu bisa ia hadapi.
"Aku tahu," katanya lebih pelan. "Tapi aku tetap bisa bantu."
Keira kehilangan bantahan.
Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di koridor, Nokia di dalam tas Keira bergetar. Ia berhenti di dekat jendela dan membuka tas sedikit setelah memastikan tidak ada yang melihat.
`Interaksi positif terdeteksi.`
`Nilai Replika meningkat stabil.`
Keira menutup tas cepat-cepat.
Angkanya tidak melonjak besar, tetapi bergerak. Setelah satu minggu sistem sempat diam karena Xavier menghilang, gerakan kecil itu cukup membuat dada Keira longgar. Ternyata tertawa di kelas pun bisa menjadi alasan tubuhnya bertahan sedikit lebih lama.
Xavier berhenti dua langkah di depannya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"HP jadulmu?"
Keira hampir menjatuhkan buku. "Properti DKV."
"Aku belum tanya."
"Wajahmu tanya."
"Wajahku cerewet?"
Keira teringat kalimatnya sendiri di Braga, lalu tersenyum. "Cukup."
Xavier tidak mendesak. Ia hanya menyesuaikan tumpukan buku di tangannya dan berjalan di sampingnya sampai lobi fakultas.
Di belakang mereka, Bu Ratna keluar kelas sambil membawa map. "Oh iya, untuk minggu depan!"
Semua mahasiswa yang masih di koridor menoleh.
Bu Ratna tersenyum terlalu lebar.
"Tugas berikutnya: tulis surat cinta untuk partner kalian."