"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Manteman, ada bab yang kayaknya kurang bener. Ada part yang kurang pas. Nanti aku beresin ya. Mohon maaf sebelumnya. Makasih banyak buat yang masih baca karya aku. 🥰
...****************...
Akhir pekan, Lingga pulang ke rumah. Dan pada saat itu Mita berkata bahwa dirinya siap untuk kembali bekerja. Mita merasa bahwa sekarang kondisi psikisnya sudah jauh lebih baik sehingga ingin melakukan kewajiban yang seharusnya sudah dilakukan.
Dibalik itu, Mita juga merasa semakin tidak enak dengan keluarga Lingga. Semua orang yang ada di rumah itu begitu baik, tapi Mita tak ingin semakin merepotkan mereka.
"Jadi gitu, kamu siap buat kerja lagi? Kamu yakin? Kalau yakin hari ini kita langsung berangkat, kamu bisa pakai rumah yang ada di Ungaran. Ada banyak kamar di sana, jadi kamu bisa nempati nya dengan bebas,"ucap Lingga.
"Lebih baik saya nyari kost aja, Pak. Nggak enak kalau saya tinggal di rumah berdua aja sama Bapak," jawab Mita dengan penuh pertimbangan. Dia sebenarnya sudah memikirkan itu dari lama. Mita juga sudah punya tempat tujuan dimana dia akan tinggal, Yakni tempat kost nya yang dulu pernah ditinggalinya selama bekerja di perusahaan Lingga.
Lagi pula, jawaban Mita itu benar adanya. Dia tidak mungkin tinggal bersama hanya berdua saja dengan sang pimpinan. Pasti akan jadi fitnah dan juga omongan banyak orang. Terlebih rekan-rekan Mita yang dulu tahu bahwa dirinya telah menikah dengan Erdio.
"Kenapa cuman berdua aja?" tanya Lingga.
"Eh, lha bukannya rumah Bapak yang di Ungaran itu ditempati Bapak ya. Kalau saya tinggal di situ, bukannya cuma hanya ada kita berdua aja?" ucap Mita dengan wajah bingung.
"Nggak lah, di rumah itu ada Bari dan juga Wilson kok. Mereka berdua juga tinggal di sana. Dan di rumah itu juga ada asisten rumah tangga dari rumah ini. Emang sama Ibu di kirim ke sana buat ngurus rumah dan masak. Jadi kita nggak hanya akan tinggal berdua, tapi beeeeeerrr berempat atau berlima ya, atau bahkan berenam. Soalnya ada penjaga rumah juga dan ada supir."
Aaaah
Wajah Mita bersemu merah karena malu. Dia tidak tahu jika rumah itu ternyata dihuni oleh banyak orang. Dirinya sudah berprasangka lebih dulu sebelum tahu kebenarannya.
"Jadi gimana?" tanya Lingga.
"Ya udah Pak, saya mau deh,"jawab Mita.
"Good, kalau gitu bereskan barang kamu. Terus kita berangkat sekarang juga. Soal mobil, biar dibawa Baron aja. Kamu naik mobil sama aku," ucap Lingga.
Mita mengangguk pasrah. Memang lebih baik dia tidak menyetir sendiri sampai ke Ungaran. Rasanya masih sedikit tidak yakin dengan dirinya sendiri, dan mengikut Lingga adalah hal yang paling benar setidaknya saat ini.
Tapi Mita meminta izin kepada Lingga untuk kembali ke rumahnya yang ada di Magelang lebih dulu. Setidaknya dia harus mengambil pakaian kerjanya yang telah disimpan rapi sebelumnya. Mita juga hendak membawa beberapa buku miliknya baik yang berkaitan dengan pekerjaan maupun tidak.
"Nggak masalah. Nanti kita ke sana dulu. Kupikir alesan mu cuma baju, kalau soal baju kita bisa beli lagi nanti, gampang. Tapi kalau soal buku-buku, itu jadi urusan lain. Kalau gitu, ayo kita bilang ke Ayah dan Ibu dulu. Mereka belum tahu tentang keinginanmu buat balik kerja kan?"
Mita menggelengkan kepala. Dia memang belum memberitahu Asha dan Adam soal ini. Mita sengaja menunggu Lingga, karena menurutnya Lingga paling pas untuk memulai berbicara kepada Asha dan Adam.
"Jadi Mita udah mau kerja, gitu?" tanya Asha.
"Yaah, dan nggak seru dong nggak ada Mbak Mita,"sahut Lintang cepat.
Agaknya mereka terkejut mendengar ucapan Lingga soal Mita yang hendak kembali bekerja.
"Iya Bu, Pak, saya ingin kembali bekerja. Rasanya akan lebih baik begitu. Lebih baik menyibukkan diri sambil menunggu putusan cerai dari pengadilan ketimbang berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Maaf ya Lintang," ucap Mita.
"Lagian kamu kenapa yang ribet amat sih, Dek. Besok juga kamu udah balik Jogja kan. Liburan semester kamu juga udah mau abis," imbuh Lingga.
Lintang tidak berkata apapun. Namun wajahnya menunjukkan rasa kesal kepada sang kakak. Secara teknis, Lintang merasa kehilangan teman. Tapi ucapan kakaknya benar juga bahwa lusa dia sudah akan kembali ke kota lain untuk menempuh pendidikannya.
"Ya udah kalau sudah jadi keputusanmu begitu, Nduk. Nggak apa, malah bagus kalau kamu ngerasa bahwa menyibukkan diri adalah hal pilihan baik. Kalau kamu pengen 'pulang', pulanglah ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu," ucap Asha.
"Ya bener, nggak perlu mikir yang aneh-aneh. Datang saja kapan pun kamu mau," imbuh Adam.
"Terimakasih Pak, Bu dan Lintang. Saya akan mengingat hal itu. Kalau begitu saya permisi, mau membereskan tas."
Adam dan Asha mengangguk, dia membiarkan Mita untuk ke kamarnya. Tak lupa Asha menyuruh Lintang untuk membantu MIta.
Tentu saja ada alasan mengapa Asha meminta Lintang untuk menyingkir dari tempat itu. Apalagi kalau bukan ingin berbicara dengan Lingga, putra sulung mereka.
"Jadi, apa yang mau kamu lakukan hmmm?" tanya Adam.
"Apasih Yah, nggak ngerti deh sama pertanyaan Ayah,"jawab Lingga sambil mengerutkan alisnya.
"Tck, masa iya harus diperjelas sih. Kamu suka kan sama Mita. Terus apa rencanamu hmmm? Awas ya jangan aneh-aneh. Posisinya masih belum pisah sama suaminya. Dan kamu juga harus nunggu sampai putusan cerai lalu nunggu masa iddah juga," kata Adam.
Eh???
Mata Lingga membulat sempurna. Dia tidak menyangka akan mendengar ucapan ayahnya sedemikian. Dan saat melirik ke arah ibunya, agaknya mereka berdua memiliki pemikiran yang sama tentang dirinya.
"Ini apa-apaan sih. Masa iddah, rencana, putusan cerai? Nggak ngerti deh aku, kenapa pada bisa nyimpulin begini sih," ucap Lingga bingung.
"Halah, kamu ini emang oon atau pura-pura nggak ngeh sama perasaan kamu sendiri. Jelas-jelas kamu itu suka sama Mita. Lingga, kami tuh orang tua kamu. Kami tahu betul gimana kamu. Kamu nggak akan seeffort ini buat bantu orang apalagi perempuan kalau kamu nggak ada perasaan apapun ke dia?" ucap Asha panjang.
Lingga terdiam. Mulutnya seolah dibungkam oleh sebuah fakta yang mungkin tak disadarinya.
"Suka? Aku ke Mita? Masa iya gitu sih? Aku cuma mau nolong dia aja kok, suer deh!" ucap Lingga dalam hati sambil berpikir keras tentang ucapan ayah dan ibunya.
TBC
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,