"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Batasan yang Melanggar Ikatan.
***
Dunia di sekitar Freya Anindita seolah runtuh dan hancur berkeping-keping dalam satu kedipan mata. Ketegangan di dalam kamar itu mencapai puncaknya saat Galen Danendra, dengan tatapan yang menghujam tajam, berdiri tepat di hadapannya, memutus jarak hingga Freya bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari pria itu.
Freya mematung sempurna, mata bulat indahnya membelalak lebar, menatap lurus pada kemarahan yang membara di kedua bola mata elang Galen. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu yang mencekik di dalam rongga dada.
Entah kemarahan apa yang merasuki pikiran Galen Danendra sore itu. Melihat Freya yang selalu berhasil mengacaukan logikanya, melihat bibir ranum itu terus-menerus menyuarakan pembangkangan dan melayangkan pembelaan untuk laki-laki lain, membuat sisa-sisa kesabaran sang pria berumur dua puluh sembilan tahun itu terbakar habis.
Galen kehilangan kendali penuh atas dirinya sendiri. Cara terbaik untuk membungkam kelancangan gadis tujuh belas tahun itu adalah dengan memberikan gertakan yang akan selalu ia ingat.
"Kak Galen sudah gila!!!". Jerit Freya sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi, pecah oleh tangis yang tidak bisa lagi ia bendung. Ia melangkah mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang yang dingin, sementara Galen terus merangsek maju, mengurung ruang geraknya.
"Kak Galen benar-benar sudah gila! Apa yang sebenarnya Kakak inginkan dariku?! Kenapa kak galen selalu memperlakukanku seperti sampah yang tidak punya hak untuk bernapas?!". Freya berteriak, air mata luruh membasahi pipinya yang memerah. Ia merasa benar-benar terhina oleh intimidasi fisik dan mental yang terus-menerus diberikan Galen.
Galen tidak menunjukkan ekspresi belas kasihan sama sekali. Pria itu menatap lurus ke arah Freya dengan wajah yang dingin—kaku—dan kejam. Ia mencengkeram sisi kepala ranjang di samping kepala Freya, membuat gadis itu tersentak.
"Hak bernapas?". Bisik Galen, suaranya merendah menjadi bariton yang teramat dingin dan mematikan. “Jangan pernah bermimpi tentang hak di rumah ini, Freya. Kau tidak lebih dari sekadar parasit yang berhutang nyawa pada keluarga Danendra."
"Kalau aku parasit, kenapa kak Galen tidak membiarkanku pergi?! Kenapa kakak harus mengontrol setiap detik hidupku?!". Raung Freya, menatap Galen dengan kebencian yang mendalam. "Tindakan kak Galen ini menjijikkan! Kakak selalu menuduhku merusak hidup kakak, tapi…. Tapi sekarang kak Galen sendiri yang bertindak seperti monster yang tidak punya nurani! Aku membencimu, kak Galen! Sangat membencimu!".
"Tutup mulut lancangmu itu!". Bentak Galen, kilat amarah di matanya kian membara. "Setiap langkah yang kau ambil, setiap orang yang kau temui, harus melalui izinku! Kau pikir kau bisa bebas berkeliaran dengan bocah ingusan itu sementara istriku tiada karena dirimu, gadis pembawa sial?!".
"Ini tidak adil! Kakak menggunakan kematian Kak Elena untuk menyiksaku!". Freya membalas dengan berani meski tubuhnya gemetar hebat. "Rendy adalah orang baik, dia tidak pernah menyakitiku seperti yang kak Galen lakukan! Kakak hanya iri karena aku bisa tersenyum saat bersamanya, iya kan?!".
Mendengar nama Rendy disebut, rahang Galen seketika mengetat. "Iri? Jangan membuatku tertawa. Aku adalah pemilik atas hidupmu di rumah sini. Selama kau masih bernafas di bawah atap rumahku, kau tidak punya hak untuk bahagia, kau tidak punya hak untuk jatuh cinta, dan kau tidak punya hak untuk membantah satu patah kata pun dariku!".
Galen memajukan wajahnya, memberikan tatapan intimidasi yang membuat Freya kehilangan kata-kata. "Ingat ini baik-baik, Freya Anindita. Setiap pembangkanganmu dan keras kepala mu akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat dari ini. Jangan sekali-kali mencoba menguji kesabaranku lagi."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Galen membalikkan tubuhnya dengan kaku. Ia melangkah menuju pintu kamar dan membantingnya dengan keras, meninggalkan Freya yang kini menangis tersedu-sedu dalam kehampaan di bawah bayang-bayang otoritas Galen yang menyesakkan.
“Aku membencimu kak, aku sangat membencimu”. Jerit Freya parau, dadanya terasa sesak oleh kemarahan yang tidak bisa ia luapkan.
Sepeninggal Galen yang membanting pintu kamar itu dengan keras, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan.
Freya turun dari ranjang, hendak ingin ke kamar mandi namun tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya sendiri, kakinya terasa lemas membuatnya luruh dan jatuh terduduk di atas lantai marmer yang sedingin es.
Tubuh remajanya yang sintal bergetar hebat. Dengan jemari yang gemetar, Freya perlahan naik menyentuh dan mengusap bibir ranumnya sendiri.
Bibirnya terasa kebas, sedikit bengkak, dan masih menyisakan sensasi panas serta aroma maskulin tajam milik Galen yang tertinggal di sana.
Dadanya terasa luar biasa sesak, seolah dihantam oleh batu besar.
Seumur hidupnya, belum ada satu pun pria yang pernah menjamah bibirnya. Itu adalah ciuman pertamanya—sebuah momen kesucian yang seharusnya berjalan manis, kini justru direnggut secara paksa dan brutal oleh kakak angkatnya sendiri demi sebuah hukuman egois.
Rasa terhina yang teramat sangat membakar batin Freya. Gadis cantik jelita itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang tertekuk, lalu kembali menangis tersedu-sedu.
"Dasar monster... kau benar-benar iblis kejam, kak..." Bisik Freya pilu di tengah kesunyian kamarnya, meratapi harga dirinya yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun.
***
Sementara itu, di kamar sebelah, situasi yang tak kalah kacau sedang melanda Galen Danendra.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya dengan nafas yang memburu pendek.
Wajah tampannya mengeras sempurna, penuh dengan gumpalan emosi yang tidak menentu. Galen tidak langsung menuju meja kerja; ia memilih langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah miliknya yang bernuansa batuan alam gelap.
Begitu pintu kaca tertutup, Galen mencengkram pinggiran wastafel marmer dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Ia mendongak, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin besar. Rahangnya mengetat.
Sialan.
Gairah dan hasrat binal yang teramat pekat mendadak bergejolak hebat di dalam rongga dadanya, merayap turun dengan sangat brutal ke bagian bawah tubuhnya.
Sentuhan intim—kelembutan dan rasa manis dari bibir Freya yang ia lumat habis-habisan tadi rupanya telah membangunkan monster yang selama ini tertidur.
Sudah satu tahun penuh Galen hidup dalam kekosongan, tidak pernah lagi menyentuh wanita mana pun sejak kematian istrinya.
Namun sore ini, hanya karena bibir seorang gadis remaja tujuh belas tahun yang sangat ia benci, kejantanan di bawah sana mendadak tegang dan mengeras sempurna, berkedut hebat seolah memohon dengan sangat liar untuk segera dilampiaskan.
Galen menggeram rendah, merasa teramat jengkel dan jijik pada reaksi tubuhnya sendiri.
"Sialan! Apa yang baru saja kulakukan pada anak bau kencur itu?!". Umpat Galen berbisik dengan suara baritonnya yang serak dan penuh emosi gila.
Tanpa membuang waktu lagi, Galen melepas seluruh pakaian mahalnya secara kasar hingga berhamburan di lantai, lalu melangkah ke bawah pancuran shower. Ia memutar tuas air dingin ke titik maksimal.
Sreeeet...
Kucuran air dingin yang deras seketika tumpah, membasahi kepala, wajah, hingga mengalir deras membasahi seluruh lekuk otot-otot di dada bidangnya yang tegap.
Galen memejamkan mata elangnya rapat-rapat, membiarkan rasa dingin menembus kulitnya, berharap hawa beku itu bisa membungkam hasrat gila yang masih terasa kaku di bawah sana.
Namun, usahanya sia-sia.
Di bawah guyuran air dingin sekalipun, bayangan wajah cantik Freya yang menangis di bawah kuasanya, serta rasa manis bibir gadis itu justru kembali berputar secara brutal di otaknya.
Galen memukul dinding marmer kamar mandi dengan kepalan tangannya yang kuat hingga menimbulkan dentuman keras.
“Sialan kau, Freya Anindita! Kau benar-benar kutukan yang merusak seluruh logikaku!". Rintih Galen dengan napas tersengal-sengal di sela kucuran air, menyadari bahwa ia telah masuk terlalu dalam ke dalam takdir gelap yang ia ciptakan sendiri.
***