Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Di Hadapan Raja dan Pasukan Perang
Matahari sudah condong ke barat saat mereka akhirnya melihat garis perbatasan di kejauhan. Sebuah sungai lebar membentang di antara dua kerajaan, dan di seberangnya, terlihat puluhan tenda pasukan perang Kerajaan Barat. Bendera kerajaan berkibar di angin, dan asap dari api unggun mengepul di udara. Suara genderang perang terdengar samar, menandakan bahwa pasukan sedang bersiap untuk bergerak.
Derek menghentikan kudanya di sebuah bukit kecil. "Di sana. Itu adalah pasukan ayahmu."
Viona menatap ke arah tenda-tenda itu dengan perasaan campur aduk. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan melihat ayahku dalam situasi seperti ini. Dia pasti sangat marah."
"Marah karena kehilangan putrinya," kata Neil pelan. "Siapa pun akan marah jika mengira anaknya dibunuh."
"Tapi dia tidak tahu aku masih hidup." Viona menunduk. "Dan aku akan memberitahunya sekarang."
Derek meraih tangan Viona. "Kita akan melakukannya bersama-sama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ayahmu sendirian."
Mereka menurunkan kuda-kuda mereka dan berjalan menuju tepi sungai. Saat mereka mendekat, para penjaga perbatasan Kerajaan Barat segera waspada. Mereka mengangkat busur dan tombak, siap menyerang jika ada tanda bahaya.
"Berhenti!" teriak seorang kapten penjaga. "Siapa kalian? Ini adalah wilayah perang. Tidak ada orang sipil yang diizinkan mendekat!"
Viona menarik selendangnya, memperlihatkan wajahnya yang sudah tidak lagi ditutupi lumpur. "Kapten, aku adalah Putri Fiona Isabella. Aku ingin bertemu dengan ayahku—Raja Kerajaan Barat."
Kapten itu terbelalak. Ia menatap Viona dengan mata yang tidak percaya. "Putri? Tapi putri sudah..."
"Sudah mati? Tidak, Kapten. Aku masih hidup." Viona menatap kapten itu dengan tatapan tegas. "Bawalah aku kepada ayahku. Aku akan membuktikannya."
Kapten itu ragu-ragu, tetapi ia melihat cincin di jari Viona—cincin yang dikenalnya sebagai lambang keluarga kerajaan. Ia akhirnya mengangguk.
"Baik. Aku akan mengantarkan kalian ke tenda raja. Tapi hanya dua orang yang boleh masuk. Sisanya harus menunggu di sini."
Derek menatap Neil dan Sera. "Tunggu di sini. Aku dan Viona akan menemui raja."
Neil mengangguk. "Hati-hati, Derek."
Viona dan Derek berjalan menyusuri tepi sungai, melewati jembatan kayu yang menghubungkan kedua sisi. Para penjaga mengawasi mereka dengan waspada, tetapi saat mereka melihat wajah Viona, beberapa dari mereka tampak terkejut.
Saat mereka tiba di tenda pusat, seorang pria paruh baya dengan jubah merah dan mahkota emas sedang duduk di kursi kayu di tengah tenda. Pria itu menatap peta perang di depannya, tetapi saat ia mendengar langkah kaki, ia mengangkat kepalanya.
Dan mata pria itu bertemu dengan mata Viona.
Raja Kerajaan Barat—ayah Viona—terdiam. Ia bangkit dari kursinya, matanya memerah. "Viona? Apakah ini... apakah ini benar-benar kau?"
"Ayah," bisik Viona, air mata mulai mengalir. "Aku masih hidup. Aku tidak mati."
Raja itu berlari mendekati Viona, memeluknya dengan erat. "Viona! Putriku! Aku mengira kau sudah tiada! Aku mengira mereka telah membunuhmu!"
"Aku selamat, Ayah. Aku diselamatkan oleh..." Viona menatap Derek yang berdiri di sampingnya. "Aku diselamatkan oleh Derek. Derek Henrick."
Raja menatap Derek dengan tatapan curiga. "Derek Henrick? Siapa dia?"
Derek mengambil dokumen dari sakunya, lalu berlutut di hadapan raja. "Yang Mulia, aku bukan Derek Henrick. Aku adalah Derek Minos—Putra Mahkota Kerajaan Timur. Kakak dari Neil Minos."
Raja terbelalak. "Apa? Putra Mahkota? Tapi Putra Mahkota Kerajaan Timur sudah mati bertahun-tahun lalu!"
"Aku tidak mati, Yang Mulia." Derek menyerahkan dokumen itu kepada raja. "Ini adalah dokumen resmi yang membuktikan identitasku. Aku menyembunyikan diri selama delapan tahun untuk menghindari Dewan Raja yang ingin membunuhku. Dan aku adalah orang yang menyelamatkan putri Anda dari serangan maut di jalan."
Raja memandang dokumen itu dengan seksama. Matanya bergerak cepat, membaca setiap kata. Lalu ia menatap Derek, dan ada banyak emosi di matanya—kemarahan, kebingungan, dan juga kelegaan.
"Jadi, kau adalah putra mahkota yang melindungi putriku?" tanya raja.
"Ya, Yang Mulia. Dan aku telah menikahinya—secara sah di depan adat desa." Derek menatap raja. "Aku mencintai putri Anda, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya."
Raja menatap Viona. "Apakah ini benar, Viona? Kau menikah dengan pria ini?"
Viona mengangguk. "Ayah, Derek adalah pria yang baik. Ia telah melindungiku melewati pegunungan, melewati badai, dan melewati semua bahaya. Aku mencintainya, dan aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya."
Raja menghela napas panjang. Ia menatap Derek, lalu menatap Viona, lalu kembali menatap dokumen itu.
"Jika kau adalah Putra Mahkota," kata raja perlahan, "maka kau adalah musuh Dewan Raja. Dan Dewan Raja adalah orang yang membunuh pengawal putriku. Mereka juga yang memulai perang ini."
"Benar, Yang Mulia." Derek menatap raja. "Dan aku ingin menghentikan perang ini. Aku ingin kembali ke Kerajaan Timur dan mengambil takhta yang menjadi hakku. Dengan begitu, aku bisa menghentikan Dewan Raja, dan kita bisa mengakhiri konflik ini sebelum lebih banyak darah tertumpah."
Raja diam untuk waktu yang lama. Lalu ia menatap Viona.
"Kau yakin dengan pilihan ini, Viona?"
Viona memegang tangan Derek, dan tersenyum. "Aku yakin, Ayah. Karena Derek adalah rumahku sekarang. Dan aku akan mengikutinya ke mana pun."
Raja tersenyum—untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. "Baiklah. Aku akan menarik pasukanku. Aku akan percaya pada pria ini, karena kau mempercayainya, Viona."
Derek menghela napas lega. "Terima kasih, Yang Mulia. Aku tidak akan mengecewakan Anda."
Raja mengangkat tangannya, memberi perintah kepada kaptennya. "Tarik pasukan. Perang batal."
Di luar tenda, suara terompet berbunyi, dan pasukan Kerajaan Barat perlahan mulai membubarkan diri. Derek dan Viona saling menatap, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa damai.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka berdiri di tepi sungai. Neil dan Sera bergabung dengan mereka, dan raja berdiri di samping putrinya. Semua orang tersenyum—memiliki harapan baru, dan masa depan yang lebih cerah.
Malam itu, mereka merencanakan perjalanan Derek kembali ke Kerajaan Timur. Dan di bawah bintang-bintang, Viona dan Derek berjanji bahwa mereka akan menghadapi apa pun bersama-sama—sebagai suami istri, sebagai pasangan, dan sebagai pemimpin masa depan yang akan membawa perdamaian bagi dua kerajaan.