Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas Om Tampan
Setelah naik taksi online sekitar 20 menit, Rina akhirnya tiba di kampus.
Dia berusaha menyapa beberapa teman yang sudah lama tidak dia temui. Teman-teman Rina taunya gadis ini sudah di DO makanya mereka kaget melihat gadis berambut luruh itu kembali ke kampus.
Saat Rina sedang berjalan menuju kantor Prof. Eliza untuk mengantarkan revisian skripsinya tiba-tiba seseorang memanggilnya lantang.
"Rina!"
Suara bariton itu memotong keriuhan koridor kampus membuat langkah Rina mendadak terkunci.
Sontak jantungnya berdetak kencang.
Dengan wajah pucat Rina menoleh ke arah suara.
"Anjai!" umpat Rina merasa keberanian Adrian memang sudah level dewa. "Ini Om edan bener!" geram Rina dalam hati.
Tanpa babibu, Rina langsung berputar arah dan mempercepat langkahnya setengah berlari membelah kerumunan berusaha menghindari Adrian yang dengan tampang cool-nya terus berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Rina yang berjalan cepat akhirnya tiba di koridor kampus. Ini adalah tempat berbahaya karena di tempat ini bagaikan ladang ranjau baginya.
Teman-teman seangkatannya mungkin terlihat sibuk dengan gawai masing-masing tapi Rina tahu betul mereka adalah biang gosip.
Salah lihat sedikit saja kabar burung bisa sampai ke telinga Bu Eliza sebelum matahari tenggelam.
"Hey! Rina, tunggu!" teriak Adrian lagi dengan wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Rina memperlebar langkah, menyelinap ke lorong sepi di dekat laboratorium tua yang jarang dilewati orang.
Sialnya, langkah kaki Adrian yang panjang dengan cepat menyusulnya. Pria itu berhasil mencekal pergelangan tangan Rina sehingga gadis cantik ini menghentikan langkahnya..
"Om, mau ngapain sih ke sini?!" bisik Rina setengah histeris sambil buru-buru melepaskan cengkeraman Adrian.
Ia menggaruk tengkuknya yang mendadak dingin karena keringat. "Jangan kayak gini, Om! Kalau sampai ketahuan, aku bisa kena DO hari ini!"
"Iya, Om tahu, maaf," ucap Adrian, tiba-tiba menurunkan intonasi suaranya. "Om cuma mau minta maaf soal kejadian semalam."
"Udah, gak usah minta maaf. Aku udah maafin, kok," potong Rina. "Tapi untuk urusan nonton nanti malam, sori banget Om, aku gak bisa. Temen-temenku ada di mana-mana. Kalau sampai ada yang lihat kita jalan berdua dan lapor ke Bu Eliza, aku bisa dirajam hidup-hidup!"
Hahahahahaha!
Tawa Adrian pecah, menggema di lorong sepi itu.
Kening Rina berkerut dalam. Ia menggelengkan kepala bagaimana tidak dia benar-benar tidak habis pikir dengan kegilaan pria di hadapannya ini. "Kenapa malah ketawa sih, Om? Lucu?"
"Ups, maaf, maaf," Adrian meredakan tawanya, menatap Rina dengan binar jenaka yang manipulatif. "Om tadi sebenarnya habis menemui Bu Eliza. Nanyain perkembangan mahasiswi bimbingannya yang lagi ngerjain tugas akhir."
Jantung Rina serasa berhenti berdetak. "M-maksudnya?"
"Kebetulan, di perusahaan Om lagi ada lowongan untuk fresh graduate," lanjut Adrian. "Dan Om merekomendasikan satu posisi bagus buat kamu. Jadi, setelah kamu lulus bulan depan, kamu bisa langsung kerja di perusahaan Om. Bagus, kan? Kita bisa ketemu setiap hari tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi di apartemen."
"Jangan-jangan... ini taktik dia supaya aku gak bisa lepas dari dia setelah lulus nanti?" ucap Rina curiga.
"Jangan-jangan apa?" tanya Adrian.
"Hehehe! Enggak! Aku rasa tawaran ini oke juga. Kalau posisinya bagus, aku mau jadi pegawai Om," ujar Rina sambil melipat tangan di dada. "Tapi janji ya, Om. Jangan sampai Bu Eliza tahu kalau kita punya hubungan... lebih dari sekadar bos dan karyawan."
"Siap, Bos kecil!" ucap Adrian penuh kemenangan.
"Jadi, mulai kapan kita bisa satu kantor?" tanya Adrian memajukan wajahnya dengan senyum yang begitu percaya diri.
"Satu kantor?" Rina mengerjap.
"Bisa kali mulai hari ini?" goda Adrian lagi, menaikkan sebelah alisnya.
Rina menarik napas dalam-dalam. "Iya, deh!"
Setelah menyelesaikan urusan kampusnya akhirnya Rina melangkah menuju tempat parkir di mana Adrian sudah menunggunya sejak tadi.
Pria mapan itu sengaja parkir di tempat yang agak tersembunyi agar Rina sedikit merasa aman.
"Kamu bisa nyetir?" tanya Adrian santai saat Rina sudah ada di dalam mobil.
Rina mendengkus jenaka. "Nyetir? Aku ini mahasiswa miskin, Om. Boro-boro nyetir, punya mobilnya aja cuma mimpi."
"Nanti Om ajarin," sahut Adrian halus. Tangannya yang bebas meraih jemari Rina, mengusapnya lembut. "Kan kamu sekarang sudah jadi pegawainya Om. Jadi, kalau nanti kamu bawa-bawa mobil Om, orang-orang bakal mikirnya itu fasilitas kantor. Amankan?"
Aduh!
Batin Rina menjerit, hatinya meleleh seketika. Ujian hidup macam apa ini? Di depannya ada seorang pria matang, tampan, kaya raya, dan luar biasa royal.
Sihir kemewahan itu terlalu menyilaukan untuk ditolak.
"Beneran boleh, Om?" tanya Rina dengan nada manja.
"Beneran, Sayang. Tapi... kita menginap di apartemen Om lagi ya malam ini?"
Rina spontan mengangguk. Detik itu juga ia melupakan semua ketakutannya tentang Bu Eliza tentang status Adrian dan tentang risiko hancurnya masa depan.
Persetan dengan moralitas kenyamanan ini terlalu candu. Kekayaan ini memabukkan.
Malam mulai larut saat mereka tiba di apartemen megah itu.
Sepanjang jalan dari koridor hingga pintu masuk tawa mereka berderai. Sesekali mereka saling lempar candaan sensual seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.
Rina benar-benar amnesia bahwa Adrian adalah suami orang.
Adrian membuka pintu apartemennya dan Rina langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Udah nyaman?" tanya Adrian sambil melepas kancing teratas kemejanya lalu berjalan mendekati Rina.
Tatapan mata suami orang ini berubah dari yang tadinya jenaka berubah menjadi penuh gairah.
"Om..." bisik Rina dengan suaranya tercekat di tenggorokan.
Tanpa suara, Adrian menangkup rahang Rina dan langsung mengulum bibir merah gadis itu dengan dalam.
Rina melenguh halus untuk merasakan sensasi panas yang membuat kesadarannya melayang.
Ciuman Adrian terasa menuntut namun memabukkan sedetik kemudian Rina mulai tenggelam dalam sisa-sisa rasa bersalah yang sempat berbisik di kepala Rina.
Perlahan, Adrian memindahkan kecupannya dari bibir mulai turun ke leher jenjang Rina yang wangi kemudian meninggalkan jejak-jejak nafas yang memburu sebelum akhirnya mendarat di dada wanita simpanannya.
Sentuhan itu membuat punggung Rina melengkung pasrah.
"Om..." Rina mendesah parau dengan jemarinya meremas bahu kemeja Adrian, mencari pegangan di tengah badai gairah yang menggelisahkan.
Adrian mendongak sedikit sambil menatap sepasang mata Rina yang sudah sayu oleh hasrat. Senyum penuh kemenangan terukir di wajah tampannya.
"Ayo, Sayang. Kita lewati malam ini dengan penuh gairah," bisik Adrian.