Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Jejak yang Terhapus
Getaran itu begitu halus hingga nyaris tak terasa, namun bagi mereka yang berada jauh di dalam Hutan Ilusi, perubahan kecil apapun mampu menjadi pertanda bahwa sesuatu sedang terjadi. Aurelia menghentikan langkahnya.
Ujung tongkat Astralis di tangannya memancarkan cahaya samar, jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya. Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk membuat pola-pola ukiran pada batang tongkat terlihat hidup, seolah ada aliran energi yang berdenyut di dalamnya.
“Relia?” Lyra yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. Ia menoleh dengan wajah penuh tanda tanya ketika melihat sahabatnya menatap tongkat itu tanpa berkedip. “Kenapa?” Tanya Lyra lagi.
“Aku tidak tahu…” Aurelia mengusap perlahan kristal di ujung tongkatnya. “Sejak tadi rasanya seperti ada sesuatu yang memanggil.” Belum sempat Lyra menjawab, salah satu murid tingkat tiga yang ikut bersama mereka tiba-tiba berjongkok di dekat tanah.
“Tunggu.” Suara pemuda itu terdengar tegang. “Ada bekas jejak.” Katanya lagi dan semua orang segera mendekat.
Di atas tanah yang masih lembab tampak jejak-jejak kaki berwarna hitam pekat. Bentuknya menyerupai telapak serigala, tetapi ukurannya hampir dua kali lebih besar dari pada makhluk yang baru saja mereka kalahkan dan anehnya, jejak itu perlahan menghilang seolah sedang dihapus oleh sesuatu yang tak kasatmata.
“Ini…” Murid yang terluka itu mengernyit. “.. bukan jejak makhluk ilusi.” Pungkasnya lagi dan membuat Lyra berlutut di sisi pemuda itu.
Kemudian, Lyra menyentuh salah satu jejak tersebut dengan ujung tongkatnya yang sudah tercipta seutas benang cahaya, begitu cahaya itu mengenai permukaan tanah, benang tersebut langsung padam dan membuat kedua matanya terbelalak.
“Mana-ku diputus.” Ucap Lyra terkejut dan Aurelia menatapnya bingung.
“Memangnya bisa seperti itu?” Lyra menggeleng pelan menanggapi pertanyaan yang di ajukan oleh Aurelia.
“Seharusnya tidak bisa, karena sihir ilusi tidak memutus aliran mana.” Nada suaranya pun kini jauh lebih serius. “Artinya, ada sihir lain ditempat ini.” Ujar Lyra lagi yang membuat suasana disana kembali sunyi.
Kini, tidak ada seorang pun yang berani melanjutkan langkah sebelum memastikan keadaan benar-benar aman. Namun keheningan itu justru terasa lebih menakutkan, karena suara burung tidak terdengar sedikit pun, bahkan suara daun yang bergoyang akibat hembusan angin pun tidak terdengar sama sekali, hingga angin yang sejak tadi bertiup pelan pun seakan menghilang seolah hutan itu tengah menahan napasnya.
Di luar arena, Professor Cedric tiba-tiba saja mengernyitkan keningnya. Salah satu cermin sihir dihadapannya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya gambar didalamnya berubah menjadi blur dan terasa kabur.
“Aneh,” gumamnya dan Professor Elowen yang mendengar itu pun langsung mendekat ke arahnya.
“Ada gangguan?” Tanya Professor Elowen yang membuat Cedric mengangguk pelan.
“Kristal pemantau sektor timur kehilangan sinkronisasi dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya.” Ucap Cedric yang masih merasa aneh dan juga janggal dengan kejadian itu.
Kepala Akademi yang sejak tadi berdiri diam pun akkhirnya melangkah menghampiri ke arah Cedric, ia mulai memeriksa kejanggalan yang tengah di rasakan oleh pria tua itu, hingga tatapannya mulai tertuju pada cermin yang mulai dipenuhi oleh garis-garis cahaya.
“Periksa perisai pelindung.” Perintah Aldric dan beberapa professor langsung mengangkat tongkat mereka secara bersamaan. Lingkaran sihir raksasa muncul di atas Arena Celestia dan sesaat kemudian, salah satu professor menoleh dengan wajah bingung.
“Perisainya utuh.” Ucap salah satu professor disana.
“Lalu, kenapa kristalnya terganggu?” Tanya Cedric yang masih penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Namun tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu, hanya saja Aldric perlahan memejamkan kedua matanya, dan entah kenapa, firasat buruk yang semalam menghantuinya kini kembali muncul.
Sementra itu, perjalanan Aurelia dan kelompoknya kembali berlanjut. Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, pepohonan di sekitar berubah menjadi semakin tua, batang-batang pohon itu berdiameter begitu besar hingga membutuhkan belasan orang dewasa untuk memeluknya dan akar-akarnya mencuat dari dalam tanah, hingga membentuk lorong alami yang membuat jalan semakin sempit.
“Kita seharusnya sudah melihat penanda jalur berikutnya.” Gumam salah satu murid tingkat tiga dan Aurelia mengangguk.
Sebelumnya professor Cedric sudah menjelaskan bahwa setiap peserta akan menemukan kristal biru sesuai penunjuk arah untuk menuju garis akhir. Namun sejak 15 menit terakhir, tak satu pun kristal terlihat oleh mereka.
“Apa mungkin kita tersesat?” tanya Lyra dan murid tingkat tiga itu langsung menggeleng.
“Tidak mungkin, karena aku hafal peta Hutan Ilusi.” Ia pun menunjuk sebuah batu besar yang dipenuhi oleh lumut. “Batu itu seharusnya berada di jalur utara, tapi sekarang jalannya berbeda.” Lanjutnya seraya memandang sekeliling dan Aurelia juga ikut memperhatikan.
Benar saja apa yang dikatakan oleh murid tingkat tiga tersebut, jika diperhatikan pepohonan di sekitar tampak berubah posisi, bukan karena mereka salah mengingat, melainkan karena hutannya sendiri yang sedang bergerak.
“Apa hutan ini memang bisa berubah?” Lyra bertanya pelan.
“Tidak.” Jawab murid yang tengah terluka itu. “Karena selama ini, hutan ini tidak pernah berubah.” Ucapan itu membuat bulu kuduk Aurelia meremang.
Tongkat Astralis yang berada di tangannya terasa berdenyut hangat, namun kali ini rasanya lebih kuat, seolah sedang mencoba menunjukkan sesuatu dan tanpa sadar Aurelia mengikuti arah cahaya dari kristal di ujung tongkatnya.
“Relia.” Panggil Lyra yang tidak mendapat jawaban dari gadis itu, karena tatapannya tengah terpaku pada sela-sela pepohonan yang berada di sebelah kirinya. Disana, samar-samar tampak sebuah cahaya keemasan yang terlihat redup, bahkan bisa dikatakan hampir tak terlihat.
“Aku melihat sesuatu.” Bisiknya pelan, namun suaranya masih terdengar oleh mereka disana.
“Apa?” Kemudian Lyra mengikuti arah pandang Aurelia, namun yang hanya Lyra lihat hanya sebuah pepohonan. “Aku tidak melihat apa-apa.” Aurelia melangkah perlahan mendekati cahaya itu.
Aurelia terus melangkah, dan semakin ia mendekati cahaya tersebut, denyut tongkat Astralisnya semakin terasa kuat. Hingga akhirnya, ia tiba didepan sebuah batu besar yang tertutup sulur tanaman, cahaya itu berasal dari balik batu tersebut.
Gadis itu mulai mengulurkan tangannya, begitu jemarinya menyentuh permukaan batu, seluruh sulur tanaman yang menutupinya mulai bergerak secara perlahan. Daun-daun disana mulai berguguran, lumut tua yang menempel mengelupas sedikit demi sedikit dan untuk pertama kalinya mereka melihat ukiran yang tersembunyi dibaliknya.
Disana terdapat sebuah lambang, lambang yang sangat dikenali oleh Aurelia, yaitu bintang berujung tujuh—Lambang Astralis. Melihat lambang itu seketika membuat jantung Aurelia berdetak semakin cepat.
“Ini..” Ia belum pernah menceritakan soal lambang itu kepada siapa pun, bahkan pada Lyra sekali pun. Lalu, bagaimana mungkin lambang yang sama berada jauh di dalam Hutan Ilusi? Begitu lah pikirnya saat ini.
“Relia?” Suara Lyra terdengar semakin cemas melihat reaksi sahabatnya itu. “Kau mengenali simbol itu?” Belum sempat menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Lyra, tiba-tiba terdengar sebuah suara dentuman yang begitu kencang.
DUUMM!!
Tanah bergetar hebat, pepohonan bergoyang keras dan burung-burung beterbangan dari kejauhan dan seluruh peserta spontan kehilangan keseimbangan.
“Apa itu?” Teriak salah satu murid hingga getaran kedua menyusul dan kali ini jauh lebih kuat.
Dari balik pepohonan terdengar suara retakan yang panjang, seperti sesuatu yang sangat besar sedang bergerak di bawah permukaan tanah. Aurelia pun mulai menggenggam tongkatnya dengan erat.
Tongkat Astralis miliknya kini memancarkan cahaya terang, dan untuk sesaat ia mendengar suara yang sama seperti ketika memasuki Gedung Astralis. Suara itu terdengar lembut, dan jauh, namun meski terdengar jauh, suara itu terdengar jelas ditelinganya.
“Jangan biarkan mereka membangunkannya.”Suara itu membuat Aurelia membeku.
“Siapa?” Bisiknya lirih. Namun suara itu telah hilang, dan yang tersisa saat ini hanyalah sebuah keheningan, sebelum suara raungan mengerikan mulai menggema dari jantung Hutan Ilusi.
Raungan itu bukan milik serigala maupun makhluk ujian yang pernah mereka pelajari dan ketahui, karena raungan itu terdengar begitu tua dan begitu dalam, seolah berasal dari sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun.
Semua orang saling berpandangan satu sama lain, dan mereka tahu satu hal, ujian yang mereka jalani saat ini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Tanpa mereka sadari, jauh di atas dahan pohon tertinggi, Caelum Velrath menutup matanya perlahan, seolah ia telah lama menunggu suara itu.
“Jadi..” gumamnya pelan. “…segelnya sudah benar-benar mulai melemah.” Sambungnya lagi.
Sementara itu, tidak jauh dari lokasi mereka, Orion menghentikan langkahnya, tatapan abu-abunya membeliak saat merasakan gelombang sihir kuno yang memenuhi udara.
“Terlambat,” bisiknya yang kemudian tanpa ragu sedikit pun, ia berlari menuju sumber raungan itu dan untuk pertama kalinya sang Penjaga Bintang tersebut memutuskan untuk turun tangan.