Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
#11
“Pakaian gantimu masih ada di lemari kita.”
Lemari kita
Ucapan Bagas tersebut, semakin mengacaukan perasaan Dinda. Tangan kanannya tremor saat membuka lemari tempat dahulu dirinya dan Bagas menyimpan pakaian.
Dulu, Dinda buru-buru pergi dari rumah ini, ia hanya membawa barang yang penting-penting saja. Sisanya masih tertata rapi di tempatnya, Bagas tak pernah memindahkan atau sekedar menggesernya dari tempat semula.
Pakaian yang dulu ia tinggalkan masih utuh, seolah Bagas tak akan pernah menyingkirkan Dinda dari hidupnya. Dinda menarik satu gaun yang sekiranya cocok untuk dipakai di tempat kerja.
Selesai mandi dan berpakaian, tatapannya kembali terpaku pada bayangan dirinya yang terpantul dari cermin di kamar mandi.
Gaun yang dikenakan Dinda adalah hadiah dari Bagas, gaun formal dengan warna putih bergradasi kebiruan yang lembut. Pas sekali di tubuh Dinda, menampakkan lekukan pinggang dan pinggulnya yang ramping.
Dinda teringat ketika dulu Bagas menyerahkan gaun ini padanya, saat itu Dinda sedang hamil besar, jadi tak mungkin mengenakan gaun tersebut, jadi Bagas berbisik, “Gaunnya dipakai nanti setelah melahirkan. Kita kencan berdua, dan baby sementara kita titip ke mama.”
Namun, janji itu tak pernah terlaksana hingga saat ini, sebab waktu tak lagi mengizinkan mereka bersikap mesra seperti sebelumnya. Keberadaan bayi membuat Bagas dan Dinda sibuk, dan setelah Abel hilang, rumah mereka yang dulu penuh kehangatan berganti dengan pertengkaran dan perdebatan panas.
Dinda mengibaskan telapak tangannya, kemudian keluar kamar untuk membantu Eyang bersiap, tapi kehadirannya justru disambut dengan tatapan Bagas yang terpukau melihat penampilannya.
“Itu, gaun yang kuhadiahkan padamu, kan?” cetus Bagas yang tak mampu mengendalikan intonasi suaranya.
“Dinda— kamu cantik sekali, Sayang, warna dan model gaunnya juga sungguh sesuai dengan tubuhmu,” puji Eyang Tuti yang ikut terkesima melihat penampilan Dinda pagi ini.
“Siapa dulu yang pilihkan, selera Bagas keren, kan?” sesumbar Bagas sambil menepuk dadanya bangga penuh rasa bangga.
Namun, tak sedikitpun Dinda terpengaruh, sebab ia tahu Bagas hanya sedang bersandiwara, perannya sebagai suami yang baik harus tetap berjalan sempurna sampai dua bulan ke depan. “Biar suasana cair, Dind. Setidaknya harus begini bila kita berada di dekat Eyang,” bisik Bagas tanpa menggerakkan bibirnya
Tepat seperti dugaan Dinda. “Hanya di depan eyang, tapi di belakang eyang apalagi di luar rumah sebaiknya kita bersikap TIDAK saling kenal!” Dinda memberi peringatan tegas pada Bagas, sebab sandiwara mereka hanya berlangsung di depan Eyang. Jangan sampai Mama Juwita tahu, bisa gawat.
Bagas mengangguk pasrah, tapi kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat Dinda membeku di tempatnya. “Tapi beneran, kamu cantik banget pakai gaun itu. Setelah sandiwara ini selesai, kamu mau, kan, menyimpan gain itu?”
Glek!
Dinda menelan ludahnya, tangannya menyentuh permukaan gaun yang ia kenakan, bahannya sangat halus, hingga nyaman menyentuh kulit. Dulu, Bagas bukan hanya Dinda berseri bahagia ketika menerima gaun pemberian Bagas itu, tapi Bagas pun sama bahagianya.
“Ayo sarapan, Bi Sani menyiapkan nasi goreng favoritmu.” Bagas menuntun Dinda ke meja makan.
•••
“Pagi semua.” Dinda menyapa para karyawannya yang sedang sibuk berbenah di area depan butik.
“Gaun baru, Bu?” tanya Kinanti asistennya.
“Bukan, gaun lama, kok.”
Memang benar gaun lama, kan? Hanya saja belum pernah dipakai.
Dinda langsung masuk ke ruangannya, dan menatap desain yang kemarin ia tinggalkan begitu saja di meja. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“Masuk.” Dinda mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka.
“Pagi,” sapa Dokter Angga.
Dinda kembali fokus ke sketsa gambarnya. “Ada apa, Dok?”
Dokter Angga duduk di depan Dinda, tanpa ada rasa canggung sedikitpun. “Mau nanya, dan ini.” Dokter Angga meletakkan kantong berisi paper bowl yang entah apa isi di dalamnya.
Dinda pun mendongak kembali, tapi hanya keningnya yang mengkerut tanpa suara. “Dara bilang, semalam kamu nginep di butik, jadilah aku bawain bubur ayam untuk sarapan. Sekalian lewat tadi pas nganter Tiara ke sekolah.”
“Mau tanya apa, Dok?” Dinda bertanya tanpa minat, alih-alih menanggapi oleh-oleh yang dibawa Dokter Angga.
“Jawaban kamu,” jawab Dokter Angga.
Barulah Dinda teringat perihal lamaran Dokter Angga beberapa malam yang lalu. “Jawabanku tetap sama.”
“Kenapa?”
“Kamu sendiri, kenapa?”
Dokter Angga menyandarkan punggungnya, “Aku? Kan, jawabanku sudah jelas, aku dan Tiara sama-sama membutuhkan kamu,” jawab Dokter Angga, sama seperti alasannya yang dulu-dulu ketika Dinda bertanya alasannya ingin memperistri Dinda.
Padahal Dinda sama sekali tak berniat menikah kembali dengan pria manapun, yang Dinda harapkan hanya Abel. “Berhentilah mengharapkan aku, Dok. Jangan merasa terbebani dengan kondisiku, aku sudah mengikhlaskannya.”
“Kamu salah, bukan itu alasan utamaku ngeyel ingin menikahimu.”
“Lalu apalagi?”
“Karena aku mencintaimu, Dind. Bukan karena rasa bersalah. Tapi ini adalah sebuah rasa yang tulus, meski dirimu yang tak lagi sempurna sebagai seorang wanita.”
Dinda ingin meraung saja rasanya, sebab sekeras apapun Dinda menolak pria ini, Dokter Angga tetap kukuh dengan perasaannya. Terlebih lagi, orang tua serta anaknya mendukung penuh.
“Pergilah, Dok. Aku sedang sibuk.”
“Jadi, aku ditolak lagi, nih?”
“Iya.”
“Tidak apa-apa, aku akan datang dan bertanya lagi, semoga kamu belum lelah melihatku,” ujar Dokter Angga dengan senyum sejuta watt-nya.
Beberapa saat setelah Dokter Angga pergi, Dara pun mengetuk ruang kerja Dinda. “Mas Angga bilang apa, Mbak?”
“Bukan urusanmu, kenapa kamu memberitahunya?!”
“Mas Angga mendesakku, Mbak. Kan, aku jadi nggak tega,” jawab Dara, pura-pura cemberut agar Dinda merasa iba.
“Nggak usah cemberut begitu, nggak mempan!”
Adara tersenyum, lalu duduk di kursi yang beberapa saat lalu diduduki Dokter Angga.
“Mbak, gimana rasanya tidur sekamar lagi sama mantan?” tanya Dara iseng.
Deg!
Meskipun pertanyaan Dara tidak ada jawabannya, dan Dinda pun tak berniat melakukannya. Tapi tak menutup kemungkinan itu akan terjadi, sebab Dinda tak mungkin tidur dengan Eyang selama wanita itu tinggal di rumah Bagas.
“Sembarangan! Siapa bilang Mbak tidur sekamar sama Mas Bagas?!” sembur Dinda.
“Ya, siapa tahu, kan, cuma kalian yang tahu ap—” Dara tak menyelesaikan ucapannya, ia berlari keluar dengan tawa cekikikan setelah melihat sorot mata Dinda yang berubah garang serta siap menerkam.
•••
Ting!
Tung!
Bel pintu berbunyi, Bagas sedang menemani Eyang Tuti ngobrol, tapi ia tinggal sejenak ke depan untuk membukakan pintu. “Mau kemana?” tanyanya, karena tamunya justru berbalik seperti hendak pergi lagi.
Dinda menoleh lagi, berat sekali langkah kakinya. Tapi sandiwara konyol ini masih berlangsung, entah kapan berakhirnya. Bagas menggenggam tangan Dinda, bukan genggaman tangan yang memaksa, namun, terlalu lembut meski alasannya sekedar untuk bertanya, “Kamu sudah berjanji akan tinggal disini selama dua bulan.”
“Karenamu, Mas. Beberapa saat lalu aku berbohong pada mamaku bahwa malam ini aku akan lembur lagi di butik,” geram Dinda.
Bagas tak mengatakan apa-apa selain permintaan maaf untuk semua yang terjadi belakangan ini, “Aku bersedia menemui Mama Juwita, bila perlu.”
“Lalu? Sudah kamu pikirkan apa resikonya? Mama akan mencincangku hidup-hidup bila tahu bahwa aku tinggal bersamamu lagi.”
“Bagas! Siapa yang datang? Kok Eyang dengar suara Dinda?” seru Eyang Tuti dari dalam ruangan.
“Iya, Eyang, Dinda yang datang.”
“Cepat ajak masuk lalu makan malam, istrimu pasti lelah.”
aku lupa nama Kaka nya bagas