NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

​Fahri menutup sambungan telepon dengan sentakan pelan. Layar ponselnya meredup, memantulkan bayangan wajahnya yang masih mengeras di dalam kegelapan lorong basement. Peci hitamnya yang biasa miring kini sengaja ia tarik tegak lurus, menutupi keningnya yang berkerut dalam.

​Ia tidak kembali ke kamar utama. Pemuda itu memilih melangkah menuju ruang kerja pribadi ayahnya di lantai bawah, menyalakan lampu meja yang temaram, lalu duduk menunggu dalam keheningan yang mencekam.

​Tepat satu jam kemudian, lampu sorot dari sebuah mobil memotong kegelapan halaman depan rumah mewah Kebayoran Baru. Pintu gerbang diketuk pelan oleh satpam, disusul langkah kaki terburu-buru seorang pria muda berkacamata tebal yang menyandang tas laptop besar. Dia adalah siber atau ahli telematika kepercayaan keluarga Haji Sulaiman yang sering mengurus enkripsi data perusahaan.

​"A Fahri..." sapa pria itu setengah berbisik, napasnya agak terengah saat memasuki ruang kerja. "Ada apa? Tumben mendadak sekali, sampai minta bertemu jam dua pagi begini?"

​Fahri tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyodorkan ponsel milik Zara yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja marmer. Di layarnya, file video panas yang sempat membuat tangis Zara pecah di atas ranjang sudah siap diputar kembali.

​"Periksa video ini," perintah Fahri, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, nyaris seperti bisikan angin malam yang mengerikan. "Saya mau kamu bedah isinya sampai ke akar-akar. Periksa setiap pikselnya, pencahayaannya, sampai metadata file-nya."

​Pria berkacamata itu mengernyitkan dahi. Ia segera duduk, mengeluarkan laptop berspesifikasi tinggi dari tasnya, lalu menyambungkan ponsel Zara menggunakan kabel data. Dalam hitungan detik, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, menjalankan beberapa perangkat lunak forensik video dan pemindai kecerdasan buatan (AI).

​Suasana ruangan itu mendadak sunyi, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding dan gemercik halus ketikan komputer. Fahri berdiri bersedekap dada di dekat jendela, menatap ke luar dengan rahang yang mengatup rapat. Pikiran Fahri tidak tenang; bayangan wajah Zara yang ketakutan dan menangis histeris di atas kasur terus berputar-putar di kepalanya.

​"Bagaimana?" tanya Fahri setelah lima belas menit berlalu tanpa suara.

​Pria ahli telematika itu menghentikan ketikannya. Ia memundurkan posisi duduknya, lalu mengembuskan napas panjang sambil membetulkan letak kacamata tebalnya. Ia menoleh ke arah Fahri dengan tatapan mata yang serius.

​"Ini rapi sekali, A. Sangat rapi. Orang awam, atau bahkan ahli hukum sekalipun, pasti akan langsung mengira ini video asli," ujar pria itu lambat-lambat.

​Mendengar kalimat pertama itu, jantung Fahri seakan mencelos. Tangan yang ada di dalam saku sarungnya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Maksud kamu... video itu asli?"

​"Bukan. Bukan asli," potong pria itu cepat, membuat Fahri menahan napas. "Video ini seratus persen palsu. Ini adalah produk dari teknologi Deepfake tingkat tinggi, menggunakan algoritma penggantian wajah berbasis AI yang sangat mahal. Diolah lewat komputer berspesifikasi militer, bukan aplikasi ponsel murahan."

​Pria itu memutar laptopnya ke arah Fahri, menunjukkan beberapa grafik data dan lingkaran merah di layar monitor yang memperbesar area leher pada video.

​"Lihat di sini, A. Pada detik ke-14, saat wanita di video ini menoleh cepat ke arah kiri, ada glitch atau pergeseran piksel sebesar 0,02 milidetik di area sekitar tanda lahir di lehernya. Frekuensi suara wanita di video ini juga sudah dimodifikasi agar mirip dengan vokal Mbak Zara, tapi gelombang audionya menunjukkan adanya kompresi digital yang tidak sinkron dengan gerakan bibir asli si pemeran video."

​Fahri melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah layar laptop yang menampilkan visual pembedahan piksel tersebut. Rasa sesak yang sejak tadi menyumbat dadanya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa, sekaligus letupan amarah baru yang jauh lebih besar.

​"Bisa kamu lacak siapa yang membuat dan menyebarkan video ini pertama kali?" tanya Fahri, matanya berkilat dingin di balik temaram lampu ruangan.

​"Metadatanya sengaja dihapus, tapi jejak digital tidak pernah bisa hilang sepenuhnya, A. Dari server pengunggah pertama yang saya temukan di IP Address tersembunyi ini..." Pria itu mengetuk layar laptopnya. "...semuanya mengarah pada sebuah jaringan komputer di salah satu gedung perkantoran milik keluarga Rodena di Jakarta Pusat. Video ini diunggah tepat dua hari sebelum acara akad nikah Mbak Zara dan Reza dulu."

​"Keluarga Rodena?"

​Fahri mengulang nama itu dengan kening berkerut dalam. Alisnya bertaut erat, menatap lingkaran koordinat IP Address yang berkedip merah di layar laptop sang ahli telematika. Nama itu terasa asing, namun sekaligus memicu alarm bahaya di kepala Fahri.

​"Iya, A. Rodena Grup," jawab pria berkacamata itu, jemarinya kembali mengetuk barisan kode biner di keyboard. "Gedung pusatnya ada di kawasan Sudirman. Perusahaan konglomerat yang bergerak di bidang investasi dan logistik internasional. Skala bisnisnya raksasa, bahkan beberapa kali sempat bersaing ketat dengan proyek properti milik Haji Sulaiman."

​"Aku sempat dengar nama itu... tapi apa hubungannya dengan Zara dan Reza saat itu?" gumam Fahri lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

​Otak Fahri berputar cepat, mencoba merajut benang merah. Jika video deepfake ini dirancang untuk menghancurkan hidup Zara dan menjebaknya dalam pernikahan dengan Reza, mengapa jejak digitalnya justru bermuara di pelukan raksasa bisnis lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan drama domestik Pak Rahmad?

​Rasa penasaran Fahri sudah berada di ambang batas. Tanpa membuang waktu, ia kembali merogoh ponselnya. Kali ini, ia tidak menelpon tim siber, melainkan menekan nomor kontak sekretaris pribadi ayahnya, Haji Sulaiman—seorang pria paruh baya bernama Pak darma yang memegang seluruh data intelijen bisnis dan arsip hitam korporasi keluarga mereka.

​Telepon diangkat pada dering kedua, meskipun jarum jam sudah menembus angka tiga pagi.

​"Assalamu'alaikum, Pak Darma. Maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Fahri langsung pada intinya, suaranya sedingin es.

​"Wa'alaikumussalam, Pak Fahri. Tidak apa-apa, ada yang bisa saya bantu?" suara bariton di seberang telepon terdengar sigap, langsung tanggap mendengarkan nada bicara sang putra mahkota yang tidak biasa.

​"Saya butuh data lengkap tentang Rodena Grup sekarang juga. Kirimkan struktur organisasi mereka, kepemilikan saham, dan... periksa apakah ada hubungan kerja sama, utang-piutang, atau konflik masa lalu antara Rodena Grup dengan keluarga Reza atau keluarga Pak Rahmad."

​"Baik, Pak Fahri. Mohon tunggu sepuluh menit. Saya buka enkripsi data korporasi dulu."

​Fahri mematikan telepon. Keheningan kembali merayap di dalam ruang kerja marmer itu. Ahli telematika di depannya masih sibuk mengamankan file forensik ke dalam flashdisk, sementara Fahri berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan sedang mengintai di balik air mata Zara, dan Fahri bisa merasakannya.

​Ting.

​Sebuah dokumen PDF terenkripsi masuk ke ponsel Fahri. Ia langsung membukanya dengan cepat, matanya bergerak lincah membaca baris demi baris laporan rahasia yang dikirimkan Pak Darma.

​Satu menit. Dua menit. Wajah Fahri yang tadinya tegang, perlahan berubah menjadi ekspresi penuh kebingungan, sebelum akhirnya matanya membelalak sempurna.

​"Gak mungkin..." bisik Fahri tertahan.

​"Ada apa, A?" tanya si ahli telematika, mendongak kaget melihat perubahan drastis pada raut wajah Fahri.

​Fahri membaca ulang bagian akhir dokumen tersebut dengan napas yang mulai memburu. Berdasarkan data valid korporasi, Rodena Grup sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan Reza maupun keluarga besarnya. Tidak ada investasi bersama, tidak ada persaingan bisnis, bahkan nama Reza tidak pernah masuk dalam radar mereka.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!