NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Malam yang Tenang

Malam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Seluruh mansion Dimitri terlihat tenang dan sunyi. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan beberapa lampu dinding yang menyala redup di sepanjang koridor.

Sebagian besar penghuni rumah sudah tertidur.

Namun tidak dengan Rubi.

Wanita itu berguling pelan di atas tempat tidurnya untuk kesekian kali.

Ia mencoba memejamkan mata.

Mengatur napas.

Bahkan menghitung angka dalam hati.

Tetapi tetap saja tidak berhasil.

"Kenapa susah tidur sekali sih..."

gumamnya pelan.

Entah karena terlalu banyak tidur siang atau karena beberapa hari terakhir pikirannya penuh dengan berbagai hal.

Tentang ancaman misterius.

Tentang bunga yang diberikan anak kecil itu.

Tentang sikap Alexander yang semakin protektif.

Dan yang paling membuatnya tidak tenang adalah kenyataan bahwa dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu.

Rubi menghela napas panjang.

Tangannya mengusap perut yang kini semakin membesar.

"Kalau kamu juga belum tidur, berarti kita senasib."

bisiknya kepada bayi dalam kandungannya.

Seolah mengerti perkataan ibunya, bayi itu bergerak kecil.

Membuat Rubi tersenyum.

Namun rasa kantuk tetap tidak datang.

Akhirnya ia menyerah.

Perlahan Rubi turun dari tempat tidur lalu mengenakan cardigan tipis.

Mungkin berjalan sebentar akan membuatnya lebih rileks.

Koridor mansion terlihat sepi.

Langkah Rubi terdengar pelan di atas lantai marmer.

Saat melewati ruang keluarga, matanya menangkap cahaya yang masih menyala di ujung lorong.

Ruang kerja Alexander.

Rubi berhenti.

Kemudian melihat jam di dinding.

Sudah lewat tengah malam.

Jangan bilang pria itu masih bekerja?

Karena penasaran, Rubi berjalan mendekat.

Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat.

Dari celah kecil itu ia bisa melihat Alexander sedang duduk di belakang meja.

Beberapa dokumen terbuka di depannya.

Laptop menyala.

Dan secangkir kopi hitam terlihat di samping tangan kirinya.

Rubi mengernyit.

"Masih kerja?"

gumamnya.

Belum sempat ia memutuskan masuk atau tidak, suara berat Alexander terdengar.

"Kalau terus berdiri di sana, lantainya tidak akan berubah warna."

Rubi langsung membeku.

Kemudian perlahan membuka pintu.

"Kamu tahu aku di sini?"

Alexander mengangkat kepala.

Tatapan abu-abunya langsung menemukan sosok Rubi.

"Aku mendengar langkah kakimu."

Rubi masuk ke dalam sambil tersenyum canggung.

"Ternyata pendengaranmu mengerikan."

Alexander menutup dokumen di depannya.

"Ada apa?"

Rubi duduk di sofa kecil dekat meja kerja.

"Tidak bisa tidur."

Pria itu memperhatikannya beberapa saat.

Rambut Rubi sedikit berantakan.

Wajahnya terlihat mengantuk.

Namun matanya masih segar.

"Kau seharusnya istirahat."

"Aku tahu."

"Tapi?"

"Tapi tidak bisa."

jawab Rubi jujur.

Alexander menghela napas pelan.

Kemudian melirik jam.

Sudah sangat larut.

"Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?"

Rubi terdiam.

Awalnya ia sendiri tidak tahu.

Namun setelah dipikir-pikir, mungkin ada satu alasan.

"Aku sedikit khawatir."

Tentang ancaman yang belum diketahui.

Tentang bayi yang sedang dikandungnya.

Tentang kehidupan yang tiba-tiba berubah begitu banyak.

Alexander memperhatikan wajahnya.

Meski Rubi berusaha terlihat tenang, ia tetap bisa melihat kekhawatiran di sana.

Dan entah kenapa melihat wanita itu cemas membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Alexander akhirnya berdiri dari kursinya.

"Ayo."

Rubi berkedip.

"Hm?"

"Ayo kembali ke kamar."

"Tapi pekerjaanmu?"

"Bisa menunggu."

Jawaban itu membuat Rubi sedikit terkejut.

Karena biasanya pekerjaan selalu menjadi prioritas utama Alexander.

Namun pria itu sudah berjalan ke arahnya.

"Bangun."

Rubi akhirnya menurut.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di kamar Rubi.

Suasana kamar terasa hangat.

Lampu tidur kecil menyala redup.

Alexander menutup pintu lalu menoleh ke arah Rubi yang masih berdiri di dekat ranjang.

"Kenapa diam?"

tanya pria itu.

Rubi berkedip.

"Kamu ikut masuk?"

Alexander mengangkat alis.

"Kau pikir aku mengantarmu lalu kembali bekerja?"

"Ya..."

Alexander hampir tersenyum.

Kadang-kadang Rubi benar-benar menggemaskan tanpa sadar.

"Kau tidak bisa tidur."

katanya.

"Jadi sekarang tugasmu adalah istirahat."

Sebelum Rubi sempat membalas, Alexander menunjuk tempat tidur.

"Berbaring."

Nada suaranya terdengar seperti perintah.

Namun tidak menakutkan.

Lebih seperti seseorang yang benar-benar peduli.

Rubi akhirnya naik ke atas tempat tidur.

Lalu berbaring sambil menarik selimut.

Alexander duduk di samping ranjang.

Dan itu membuat Rubi sedikit bingung.

"Kamu mau apa?"

tanyanya.

Alexander menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata,

"Biasanya apa yang membuatmu tidur?"

Rubi berpikir sejenak.

"Dulu waktu di panti, pengasuh sering mengusap kepala anak-anak kecil kalau mereka susah tidur."

Setelah mengatakannya, Rubi langsung merasa malu.

Karena itu terdengar kekanak-kanakan.

Namun Alexander justru terlihat serius.

"Hm."

Lalu tanpa peringatan, pria itu mengulurkan tangan.

Bukan ke kepalanya.

Melainkan ke perutnya.

Telapak tangan hangat itu mendarat pelan di atas perut Rubi.

Membuat wanita itu membeku.

Alexander mengusap perlahan.

Gerakannya hati-hati.

Sangat lembut.

Seolah takut membuatnya tidak nyaman.

"Alexander..."

Pria itu hanya menatap perutnya.

"Bayi ini biasanya aktif malam hari."

ucapnya.

"Kalau dia tenang, mungkin kau juga bisa tidur."

Rubi tidak tahu harus menjawab apa.

Karena saat ini jantungnya justru semakin sulit tenang.

Beberapa menit berlalu.

Suasana kamar menjadi sangat hening.

Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas mereka.

Alexander masih duduk di samping tempat tidur.

Sesekali mengusap perut Rubi dengan gerakan pelan.

Dan anehnya...

Rubi mulai merasa rileks.

Kecemasan yang tadi memenuhi pikirannya perlahan menghilang.

Digantikan rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Mungkin karena keberadaan Alexander.

Mungkin karena perhatian kecil yang diberikan pria itu.

Atau mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Saat bayi di dalam kandungannya bergerak kecil, Alexander langsung memperhatikannya.

"Dia bangun."

ucapnya.

Rubi tersenyum.

"Sepertinya dia suka mengganggu ayahnya."

Kata "ayah" itu keluar begitu saja.

Namun membuat keduanya terdiam.

Alexander menatap perut Rubi.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu tersenyum tipis.

"Aku tidak keberatan."

Jantung Rubi langsung berdebar.

Karena jawaban itu terdengar begitu tulus.

Begitu hangat.

Berbeda dari Alexander yang dikenal dunia.

Waktu terus berlalu.

Tanpa sadar kelopak mata Rubi mulai terasa berat.

Rasa kantuk yang tadi tidak kunjung datang kini perlahan muncul.

Mungkin karena suasana tenang.

Mungkin karena kelelahan.

Atau mungkin karena Alexander ada di dekatnya.

Saat matanya mulai terpejam, ia masih bisa merasakan tangan pria itu di atas perutnya.

Hangat.

Menenangkan.

"Aku akan tetap di sini sampai kau tidur."

suara Alexander terdengar pelan.

Rubi yang sudah setengah mengantuk tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Pria itu tidak menjawab.

Namun tatapannya tetap tertuju pada wanita yang perlahan tertidur di hadapannya.

Beberapa menit kemudian napas Rubi menjadi teratur.

Ia akhirnya benar-benar terlelap.

Alexander memperhatikannya cukup lama.

Kemudian mengusap pelan rambut yang jatuh menutupi wajah wanita itu.

Tatapannya melembut.

Jauh lebih lembut dibanding yang pernah diperlihatkannya kepada siapa pun.

"Selamat tidur, Rubi."

bisiknya pelan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alexander tidak kembali ke ruang kerja.

Ia tetap berada di samping tempat tidur.

Menjaga wanita dan anak yang kini tanpa sadar telah menjadi bagian paling berharga dalam hidupnya.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!