Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Ruang Kedap di Lantai Lima Puluh
Pintu lift berlapis titanium menutup dengan desis halus, seketika memotong wajah pias Hendra yang masih terpaku di lobi bawah. Indikator lantai di atas pintu bergerak naik dengan kecepatan tinggi, memicu tekanan udara yang membuat telinga Olin sedikit berdengung. Di dalam ruang sempit yang didominasi dinding cermin berbingkai krom itu, tidak ada yang bersuara.
Olin memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Satin hijau zamrud yang dikenakannya tampak berkilau statis di bawah lampu neon putih lift. Di sampingnya, Zayyan berdiri tegak tanpa sandaran, meluruskan pandangan pada pintu titanium dengan rahang yang mengatup rapat. Kedekatan fisik ini memicu kembali debar di dada Olin, bukan karena takut, melainkan karena atmosfer kompetitif yang menguar kuat dari tubuh pria itu.
Ting.
Lantai lima puluh menyambut mereka dengan koridor luas berlapis karpet wol wol tebal sewarna arang yang meredam setiap derap langkah. Di ujung koridor, dua daun pintu kaca buram setinggi tiga meter dijaga oleh dua petugas internal bertubuh tegap. Begitu Zayyan mendekat, pintu tersebut berayun terbuka otomatis, menampilkan sebuah ruang rapat oval yang dikelilingi dinding kaca setinggi langit-langit, memperlihatkan pemandangan kota Pekanbaru dari titik tertinggi.
Di tengah ruangan, belasan pria dan wanita paruh baya dengan setelan jas formal hitam duduk mengitari meja marmer hitam raksasa. Di ujung meja yang paling jauh, duduk seorang pria tua berambut putih perak dengan tongkat berkepala elang emas yang bertumpu di antara kedua lututnya—Kakek Albert.
Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin begitu Zayyan melangkah masuk, disusul oleh Olin dan Xavi. Belasan pasang mata dewan komisaris langsung menghujani mereka dengan tatapan menyelidik, penuh kalkulasi, dan sarat akan penolakan terselubung.
"Kau membawa selingan ke dalam ruang sidang utama, Zayyan?" Suara Kakek Albert terdengar parau namun memiliki gema otoritas yang dalam, memotong keheningan ruangan dengan tajam. Mata tuanya yang cekat beralih dari Zayyan, menyapu sosok Olin dengan pandangan merendahkan, lalu berhenti tepat pada Xavi. "Dan siapa bocah ini? Sejak kapan El-Ghazali Corp membuka tur fasilitas untuk anak-anak di tengah krisis?"
Zayyan tidak langsung menuju kursi utamanya di ujung meja yang lain. Dia memilih berdiri di sisi meja, meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan marmer yang dingin, menatap lurus pada sang kakek. "Dia bukan selingan, Kakek. Dia adalah alasan mengapa Iron Sentry senilai miliaran rupiah milik faksi Anda bisa lumpuh total dalam waktu sepuluh menit semalam."
Kasak-kusuk halus seketika pecah di antara para anggota dewan komisaris. Beberapa dari mereka saling berpandangan dengan kening bertaut rapat, menganggap ucapan Zayyan sebagai sebuah lelucon yang buruk.
Olin meremas tas genggamnya, merasakan ketegangan di ruangan ini mulai membakar batas kesabarannya. Namun, sebelum dia sempat menarik Xavi mundur, putranya justru melepaskan genggaman tangannya. Dengan langkah kaki yang teratur dan tenang, Xavi berjalan mendekati salah satu kursi kosong di sisi meja, lalu memanjat naik hingga duduk dengan punggung tegak bersandar pada sandaran kulit yang tinggi.
"Sistem Iron Sentry Anda tidak lumpuh karena serangan eksternal, Tuan Albert," cicit Xavi, suaranya yang jernih memotong kasak-kusuk para direksi dengan presisi yang mengejutkan. Dia membuka gawai portabel kunonya, meletakkannya di atas meja marmer, lalu mengetuk layarnya dua kali.
Seketika, layar proyektor raksasa di dinding belakang Kakek Albert menyala, menampilkan visualisasi jaringan interkoneksi El-Ghazali Corp yang dipenuhi garis-garis merah berkedip.
"Sistem itu runtuh karena vendor enkripsi baru yang dipilih oleh tim hukum Tuan Hendra sengaja menanamkan backdoor pada sub-peladen keuangan," Xavi melanjutkan, menyesuaikan letak kacamata bundarnya dengan santai saat belasan direksi mulai menoleh panik ke arah layar. "Aku hanya mengirimkan paket data kosong sebesar dua gigabita untuk memicu protokol isolasi mandiri agar data saham kalian tidak tersedot keluar oleh pihak ketiga. Jadi, secara teknis... aku baru saja menyelamatkan lima belas persen likuiditas perusahaan Anda subuh tadi."
Kakek Albert mencengkeram kepala elang emas di tongkatnya hingga buku-buku jarinya memutih. Mata tuanya melebar, menatap diagram siber tingkat tinggi yang kini terpampang nyata di dinding ruang rapatnya—sebuah data rahasia yang bahkan belum sempat dilaporkan oleh divisi teknologi mereka sendiri. Pria tua itu perlahan mengalihkan pandangannya pada Zayyan, menuntut penjelasan atas anomali yang berdiri di depan matanya.
Zayyan menegakkan kembali tubuhnya, menarik satu sudut bibirnya membentuk senyum sinis yang sarat akan kemenangan mutlak. "Seperti yang kubilang, Kakek. Perkenalkan... Arsitek Rahasia di balik runtuhnya sistem kita. Dan mulai hari ini, dia berada di bawah perlindungan hukum penuh namaku."