NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 19

“Nama?”

Hanan bertanya pada gadis kecil yang baru saja dia temui beberapa saat lalu di dalam trotoar.

Gadis kecil itu tampak berpikir. “Am—Eleanor.”

Hanan mengerutkan kening tipis. “Eleanor, itu namamu?”

Gadis kecil itu mengangguk cepat. “Panggil El saja, Kakak.”

“Baiklah, El. Sekali lagi kutanya apa yang kamu lakukan di dalam sana?” Hanan menunjuk tempat gelap di samping kakinya.

“Rahasia, aku tidak bisa memberi tahu siapa pun.” Gadis itu memasang cengiran halus dan membuka roti cokelat di tangannya.

“Tunggu, kamu akan makan dengan tangan kotor seperti itu?” Hanan menahan tangan yang terasa sangat kecil di genggamannya. Beberapa noda sudah berpindah ke tangannya, tapi entah kenapa dia tak cukup peduli dengan itu.

Anak itu mengernyit heran. “Memangnya kenapa? Ini baik-baik saja. Rotinya masih enak.”

Hanan menghela napas pelan. Tak ada kran air di dekatnya jadi dia menarik anak itu untuk berjalan bersamanya.

“Kotor, tanganmu penuh dengan kuman. Ayo cuci tangan dulu.”

El tampak cemberut. Hanan menyadarinya, tapi dia pura-pura tak melihat apa pun dan terus membawa El bersamanya.

Sesekali El diam-diam bergerak untuk memakan rotinya, tapi Hanan lebih cepat dan mengambil alih roti di tangannya.

“Kakak, berikan. Itu milikku, tadi aku menawarkannya, tapi Kakak tidak mau.” El merengek sepanjang jalan.

“Tidak sampai kamu cuci tangan. Ayo ikut aku pulang. Aku janji akan memberimu makanan yang enak nanti.” Hanan tidak berharap banyak pada bujukannya, tapi reaksi berikutnya dari gadis kecil itu membuatnya terkejut.

“Makanan? Ayo, ayo. Aku akan ikut kalau begitu. Ke mana kita harus pergi?” El benar-benar antusias.

“Kamu semudah itu mempercayai orang?” Hanan benar-benar tak habis pikir.

“Kenapa tidak? Makanan adalah segalanya. Lagi pula wajah Kakak terlihat meyakinkan, tidak seperti penjahat sangar di televisi.” Tak ada ketakutan di mata gadis kecil itu.

Fokus Hanan benar-benar hanya pada sosok El, bahkan dia melupakan ponselnya yang tertinggal di trotoar.

Remaja itu menghampiri sepeda yang dia parkir dekat pohon.

“Ayo naik.”

Untungnya sepeda yang dibawa Hanan untuk olahraga sore memiliki tempat duduk di belakangnya hingga dia tidak perlu kebingungan bagaimana cara membawa El bersamanya. Namun, setelah sekian lama menunggu, El tak kunjung naik.

“Kenapa? Ayo cepat naik.”

El cemberut. “Kakak, aku tidak bisa naik.”

Sepeda Hanan terlalu tinggi untuk tubuhnya yang kecil hingga El kebingungan bagaimana cara naik ke benda yang tingginya nyaris melewati kepalanya.

Hanan tidak tahu harus tertawa atau tidak sekarang. Dia menoleh dan mengangkat tubuh El dengan sangat mudah hingga gadis kecil itu duduk dengan benar.

“Pegangan, kita berangkat.”

El berpegangan erat di baju Hanan. Ini pertama kalinya dia naik sepeda dan rasanya benar-benar baru. Awalnya dia takut dengan ketidakseimbangan yang dirasakan seolah sepeda itu bisa jatuh kapan saja, tapi kemudian saat angin sejuk sore menyapa wajahnya, dia benar-benar merasa rileks seperti semua ketakutannya telah terbang bersama semilir angin.

Hanan melirik anak kecil di belakangnya dan tersenyum tipis melihat ekspresi senang gadis kecil itu.

Area olahraga Hanan sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Itu karena rumahnya berada di satu area yang sunyi dan jauh dari pemukiman. Sepanjang jalan hanya ada pepohonan tinggi dan lebar. Tak lama Hanan menghentikan sepedanya dan menuntun El turun. Tepat saat itu Ibu Hanan muncul dengan langkah tergesa.

“Hanan, kenapa ponselmu mati? Mama—oh, siapa di belakangmu itu?” Perhatian wanita itu langsung teralih pada sosok kecil yang bersembunyi di belakang tubuh putranya begitu menyadari seseorang mendekat.

“Mama, ponselku jatuh ke trotoar. Tidak bisa diambil dan aku membawa seorang teman baru.” Hanan mendekat pada ibunya dan berbisik. “Maaf, aku membawanya untuk membersihkan diri. Sedari tadi dia ingin makan, tapi tubuhnya terlalu kotor.”

Sang ibu berkedip beberapa kali dan memperhatikan sosok di belakang Hanan yang masih enggan memperlihatkan wajahnya.

“Halo, apa kamu temannya Hanan? Jangan takut, Bibi tidak menggigit. Ke marilah.” Suara wanita itu terdengar sangat lembut.

El yang menyembunyikan diri perlahan memunculkan wajahnya.

“Ha-halo, Bibi. Maaf aku ikut ke mari dengan Kak Hanan. Dia menawariku makanan, aku tidak bisa menolak.” El tak menyembunyikan niatnya sama sekali, meski tampak jejak ketakutan di matanya.

“Kamu, gadis kecil seharusnya tidak ikut dengan sembarang orang asing. Mereka bisa saja ingin menculikmu.” Ibu Hanan menjentik pelan hidung mungil El.

“T-tapi Kak Hanan tidak berniat begitu, makanya aku mau ikut, Bibi.” El membantah.

“Bibi tahu. Untungnya kamu terbujuk oleh putra Bibi, bukan orang asing lain yang berniat jahat. Ayo masuk, kita harus membersihkan dirimu dulu, setelah itu kita makan.”

Mata El berbinar mendengar kata makanan. Dia dengan antusias mengikuti langkah wanita itu untuk membersihkan diri. Sepanjang proses dia begitu tenang karena sentuhan lembut yang diberikan wanita di depannya. Dia belum pernah diperlakukan sebaik ini.

“Bibi, apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu? Ibu guru bilang saat orang lain berbuat baik pada kita, kita harus bisa membalasnya. Jadi, apa yang Bibi inginkan? Aku tidak punya sesuatu yang berharga, tapi aku bisa bekerja.” Celotehan El membuat wanita itu terkejut hingga sisir di tangannya jatuh—membuat suara yang cukup keras.

“Bibi, ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” El berbalik dan memegang tangan wanita itu. Tatapannya penuh rasa bersalah.

Wanita itu kembali pada kesadarannya dan tersenyum lembut.

“El, saat orang berbuat baik pada kita, yang kita lakukan juga harus berbuat baik, tapi itu tidak wajib. Kamu tidak dituntut untuk membalas kebaikannya. Cukup kamu kenang kebaikan orang itu dan menjadikannya sebuah pelajaran yang berharga, kamu bisa membalas kebaikannya saat ada kesempatan, tapi jangan sampai memaksakan diri.” Wanita itu memeluk gadis kecil yang sudah selesai dia dandani.

“Baik, Bibi.” El tampak begitu menurut membuat senyum wanita itu semakin lebar.

“Kita makan setelah itu Hanan akan mengantarmu pulang. Sudah hampir malam.”

Keduanya keluar dari kamar dan menuju dapur. Di sana sudah tersaji beberapa jenis makanan yang tak pernah El lihat sebelumnya.

“Wah, apa ini, Bibi?” El menunjuk satu menu paling mencolok tersaji di sebuah piring besar.

“Ini ayam kecap, yang itu kari ayam kesukaan Hanan.”

“Ayam? Mereka ternyata bisa dimasak?” Raut terkejut El membuat wanita itu gemas.

“Tentu saja bisa, memangnya kamu tidak pernah makan ayam?” Seorang gadis remaja yang lebih tua dari pada Hanan muncul, Kamila.

“Tidak, aku biasanya makan tahu dan tempe. Kalau tidak, mengumpulkan makanan dari tempat sam—oh, kalau yang ini apa, Bibi?” Kali ini El menunjuk salah satu piring di sudut.

“Itu udang. Duduklah dan makan. Mila, panggil adikmu.”

El duduk dibantu Ibu Hanan dan tampak begitu sabar, meski tatapannya sudah ke sana ke mari menatap menu yang berjejer.

Setelah Hanan dan Mila datang, mereka mulai makan. Saking banyaknya makanan, El sampai bingung harus memulai dari mana.

“Makanlah ini dulu.” Hanan mengupas udang dan meletakkannya di piring El.

“Terima kasih, Kakak.”

Kamila menatap tak percaya pada adiknya itu. “Wah, apa-apaan ini? Kamu bahkan tidak seperhatian itu pada kakakmu sendiri. Aku merasa ada udang di balik bakwan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!