Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Terjal yang Terbuka
Suasana pagi di Jakarta yang seharusnya tenang pecah seketika menjadi kekacauan yang tak terlukiskan. Di gedung Jones Group, suara dentuman dahsyat mengguncang fondasi bangunan hingga kaca-kaca jendela di lantai bawah bergetar hebat. Di pelataran parkir yang biasanya tertata rapi, pemandangan berubah menjadi neraka. Api menjilat langit dengan lidah-lidah panas, sementara puluhan mobil mewah terpelanting ke udara seperti mainan yang dihantam tangan raksasa, mendarat dengan dentuman logam yang memekakkan telinga.
Karyawan berlarian keluar, berteriak histeris, mencari perlindungan dari hujan puing dan asap hitam pekat yang membubung tinggi. Kepanikan merajalela di sepanjang jalan protokol.
Di lantai teratas, Oliver Jones berdiri mematung di balik kaca anti-peluru. Matanya yang biru tak berkedip, memandang pemandangan kehancuran di bawah sana dengan ekspresi yang sangat dingin—begitu dingin hingga seolah suhu ruangan ikut membeku. Julian, asistennya, berlari masuk dengan napas memburu.
"Sir! Serangan bom di parkir! Kerusakan material sangat besar, dan korban luka sedang diidentifikasi!"
Oliver mengangkat tangan, menghentikan laporan Julian. Ia tidak terkejut. "Aku tahu," suaranya tenang, nyaris seperti berbisik. "Ini adalah konfirmasi terakhir yang kubutuhkan. Mereka tidak lagi bermain sebagai pebisnis, mereka bermain sebagai teroris."
****
Tiga jam sebelumnya, di balik tembok penjara yang seharusnya tak tertembus, keajaiban yang dipaksakan oleh uang terjadi. Bu Anne, dengan sisa-sisa koneksi yang ia kumpulkan dari menjual aset terakhirnya, telah melobi oknum pejabat tinggi. Dengan amplop tebal berisi janji-janji manis dan nominal yang cukup untuk membeli sebuah pulau kecil, Malik Wiratama dan Dara Mitha Dahayu melangkah keluar dari gerbang penjara.
"Kita bebas, Malik!" pekik Dara, wajahnya berseri dengan seringai kemenangan yang mengerikan. "Anjani dan si bule itu akan membayar mahal untuk ini!"
"Jangan senang dulu," Malik menyambar, meski ia tampak lega menghirup udara bebas. "Kita tidak punya apa-apa lagi. Perusahaan sudah disita, rekening dibekukan. Kita harus menghancurkan pusat kekuatannya sekarang juga."
Dara tidak menunggu lama. Dengan mental yang sudah benar-benar hancur dan dipenuhi dendam, ia tidak lagi peduli pada hukum. Ia memiliki sisa-sisa akses ke bahan peledak yang ia beli melalui sindikat bawah tanah. Ledakan di Jones Group adalah hadiah pembukanya.
Anjani berada di rumah sakit, menemani orang tuanya saat berita ledakan itu pecah di televisi ruangan. Tubuhnya lemas, nyaris roboh. Ia segera menghubungi Oliver.
"Oliver! Aku dengar ledakan di kantormu... kau tidak apa-apa?"
Suara Oliver di seberang telepon terdengar jauh lebih tenang daripada situasi yang digambarkan berita. "Aku baik-baik saja, Anjani. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di rumah sakit bersama orang tuamu. Tim keamananmu akan melipatgandakan penjagaan."
"Mereka sudah gila, Oliver! Mereka lepas dari penjara! Apa yang akan kita lakukan?"
"Apa yang kita lakukan?" Oliver terdiam sejenak, lalu terdengar kekehan rendah yang mengerikan. "Kita akan membiarkan mereka merasa menang untuk terakhir kalinya. Dara telah melampaui batas. Dia tidak hanya menyerangku, dia menyerang fasilitas publik. Sekarang, dia bukan lagi musuhku atau musuhmu. Dia adalah musuh negara."
Sore harinya, Dara dan Malik bersembunyi di sebuah villa terpencil di pinggiran kota. Mereka merayakan "kebebasan" mereka dengan penuh angkuh, menenggak minuman keras seolah-olah tidak ada polisi yang memburu mereka.
"Lihat wajah Oliver di berita!" seru Malik, tertawa terbahak-bahak melihat cuplikan video kekacauan di gedung Jones Group.
****
Namun, di tengah tawa mereka, suara sirine mulai mendekat. Bukan satu atau dua mobil, melainkan puluhan kendaraan taktis kepolisian yang mengepung villa tersebut. Pihak berwenang tidak lagi menggunakan surat perintah biasa; mereka bergerak dengan otorisasi khusus dari kementerian atas laporan terorisme yang diserahkan oleh tim hukum Jones Group.
Dara yang menyadari situasi langsung panik. "Malik! Polisi! Bagaimana bisa mereka menemukan kita begitu cepat?!"
Mereka mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun di sana, bayangan seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam telah menunggu. Itu Oliver Jones. Dia tidak memegang senjata, namun auranya membuat langkah kaki Dara terhenti seketika.
Oliver berjalan mendekat, menatap Dara yang gemetar dengan tatapan yang seolah merobek jiwa wanita itu. "Kau menyukai ledakannya, Dara?"
"Kau... kau monster!" teriak Dara.
Oliver berhenti tepat di depan wajah Dara. "Aku hanyalah seorang pebisnis yang tidak suka barang dagangannya dirusak. Tapi sekarang, kau bukan lagi urusan bisnis bagiku."
Oliver memberi isyarat kepada komandan kepolisian di belakangnya. "Tahan mereka. Pastikan mereka tidak pernah melihat cahaya matahari dalam waktu yang sangat lama."
Dara meronta, mencoba menerjang Oliver, namun petugas dengan sigap menahannya. "Anjani! Kau pikir ini berakhir?! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!" teriak Dara hingga suaranya serak.
Malik hanya bisa terduduk di tanah, wajahnya penuh penyesalan yang terlambat. Ia menatap Oliver dengan pandangan kosong, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya—harta, kekuasaan, dan masa depan—hanya karena mengikuti nafsu dendam seorang wanita yang telah kehilangan akal sehatnya.
Oliver memalingkan muka, mengabaikan teriakan Dara. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Anjani. "Semuanya sudah selesai, Anjani. Mereka sudah ditangkap kembali, kali ini dengan tuntutan terorisme. Tidak ada lagi jalan keluar."
Anjani yang berada di ruang tunggu rumah sakit menghela napas panjang. Air mata kelegaan jatuh membasahi pipinya. Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir.
Namun, saat ia menatap televisi di ruang tunggu yang masih menyiarkan kerusakan gedung Jones Group, Anjani sadar bahwa meski Malik dan Dara sudah tamat, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan keberanian untuk tetap berdiri tegak saat dunia berusaha meruntuhkanmu.
Dara dan Malik dibawa pergi dalam kendaraan tahanan dengan pengawalan super ketat. Tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk menyuap hakim atau melarikan diri. Panggung telah runtuh, dan tirai akhirnya ditutup atas drama dendam yang telah menelan begitu banyak air mata dan kehancuran.
****
Hujan badai mengguyur jalanan Jakarta malam itu, menyamarkan suara gesekan ban mobil polisi yang meluncur cepat menuju penjara dengan keamanan maksimum. Di dalam kendaraan tahanan yang tertutup rapat, Dara Mitha Dahayu duduk dengan tangan terborgol di depan, namun matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, sorot matanya tajam dan liar, seperti hewan buas yang telah lama terkurung dan kini menemukan celah untuk menerkam.
Dara telah memupuk kebencian ini selama berbulan-bulan di dalam sel, dan kegagalan ledakan gedung Jones Group—yang menurutnya hanyalah masalah "kurangnya daya ledak"—menjadi bahan bakar bagi obsesinya.
Tepat saat mobil polisi melintasi jembatan layang yang sepi dan diterpa angin kencang, sebuah truk besar tiba-tiba memotong jalur dari arah berlawanan, memaksa pengemudi mobil polisi melakukan pengereman mendadak. Ciiittt! Suara ban yang beradu dengan aspal basah memenuhi udara. Mobil itu tergelincir, menabrak pembatas jalan, dan terbalik.