Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian
Ekor Hong Maxing yang mengeras dan berujung tajam benar-benar menembus dada kiri Xu Jiangyue. Ia sama sekali tidak merasa kasihan atau menyesal.
Selama ini, Hong Maxing telah bersabar untuk bergaul dan merayu Xu Jiangyue hanya demi mencari tahu kebenaran tentang serangan tiga ratus tahun yang lalu. Selama tiga ratus tahun ia berpura-pura tersenyum pada wanita itu. Selama tiga ratus tahun pula ia menunggu kesempatan. Semua sikap genitnya hanyalah topeng.
"Xu Jiangyue, ayahmu benar-benar membuatku menjadi penjahat atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Bukankah kamu yang diam-diam melukai jiwa Bai Muzhi waktu itu?"
"An—Anda—!"
Xu Jiangyue benar-benar tidak habis pikir. Ia tidak pernah menyangka Hong Maxing mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.
Xu Jiangyue menatap Hong Maxing dengan mata berkaca-kaca, seolah masih berharap semua ini hanya lelucon buruk. Namun tatapan pria itu tetap dingin tanpa sedikit pun belas kasihan.
Hong Maxing mencabut ekornya dari dada wanita itu tanpa ragu. Seketika, Xu Jiangyue terjatuh ke belakang dengan mata terbelalak. Darah mengalir deras, mengotori lantai di bawah tubuhnya. Wajah cantiknya dipenuhi ketidakpercayaan dan keengganan menerima kenyataan.
Ekspresi jijik terpancar dari wajah Hong Maxing. Ia mengibaskan ekornya yang berlumuran darah. Kesembilan ekor itu perlahan memudar hingga akhirnya menghilang.
"Hong Jun, Hong Kai!" panggilnya dingin.
Dua penjaga bayangan langsung muncul di belakangnya dan berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai. Wajah mereka tertutup topeng rubah merah yang khas.
"Yang Mulia, berikan perintah Anda," ucap Hong Jun.
"Bawa betina ini ke kediaman Adipati Xu. Katakan pada Xu Aoshan bahwa akulah yang membunuh putrinya."
"Ya!"
Hong Jun dan Hong Kai mengangguk tegas, lalu segera membawa mayat Xu Jiangyue keluar dari kamar Hong Maxing tanpa menimbulkan suara.
Setelah keduanya pergi, Hong Maxing melirik sekilas lantai yang ternoda darah. Ia kemudian keluar dari kamar dan memerintahkan pelayan untuk membersihkannya. Setelah itu, ia berjalan menuju ruangan lain, berniat menenangkan pikirannya yang masih kacau.
Namun entah mengapa, bayangan seorang gadis manusia justru terus muncul di benaknya. "Hah... menyebalkan," gumamnya pelan. "Apakah aku benar-benar harus menjadi budaknya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Li Yunru sama sekali belum tahu bahwa wanita rubah putih itu telah tewas di tangan Hong Maxing. Sepulang dari kediaman Nenek Caolan sebelum malam, ia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur dan berguling ke kiri dan kanan.
Ia masih berusaha mencerna semua yang baru saja didengarnya. Fakta bahwa orang tua yang membesarkannya selama ini mungkin hanyalah bibi dan pamannya membuatnya sulit percaya.
Ruu rebahan di sampingnya, menatap gadis itu yang terus bergerak tanpa henti. Ia tampak lelah hanya dengan melihatnya.
"Tuan, apa yang membuatmu begitu gelisah?" tanyanya akhirnya.
"Aku hanya berpikir ... jika memang orang tuaku berasal dari dunia ini, lalu mengapa aku hanya manusia biasa?"
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Menurut Nenek Caolan, ibunya adalah anak dari wanita tua yang merupakan kenalan lamanya.
Sangat disayangkan, Nenek Caolan tidak pernah melihat ibu kandung Li Yunru. Neneknya hanya mengatakan pada Nenek Caolan bahwa putrinya sakit-sakitan. Padahal, Nenek Caolan sangat ingin menjodohkannya dengan Bai Muzhi.
Sementara itu, tentang ayah kandung Li Yunru, Nenek Caolan bahkan tidak tahu. Mungkin hanya takdir yang bisa mempertemukan mereka.
Dari cerita Nenek Caolan juga, Li Yunru akhirnya tahu bahwa Bai Muzhi pernah dijodohkan dengan seorang gadis kecil dari ras peri hutan setelah Nenek Caolan gagal menjodohkannya dengan putri wanita tua itu.
Sayangnya, Bai Muzhi dan gadis kecil itu juga tidak berjodoh. Sebelum pergi, gadis kecil itu menghadiahkan cincin perak berukir naga kepada Bai Muzhi sebagai tanda perpisahan. Ia juga berpesan bahwa jodoh Bai Muzhi akan datang dan memiliki cincin itu.
Li Yunru menduga gadis kecil ras peri itu mungkin seorang penjelajah waktu. Tidak heran ada begitu banyak bumbu dan bahan masakan dari zaman modern di dalam ruang cincin spiritual tersebut.
Jadi, apakah gadis kecil itu telah kembali ke masa depan?
Kepalanya semakin sakit. Semakin dipikirkan, semuanya semakin tidak masuk akal.
"Mungkinkah aku memang seharusnya tidak dilahirkan? Jadi ayah dan ibu membuangku ke dunia modern?" gumamnya pelan.
Ruu langsung menggeleng keras. "Jangan berpikiran aneh-aneh, Tuan. Itu tidak mungkin."
"Lalu apa alasannya? Mengapa orang tuaku harus berpura-pura menjadi orang tua kandungku? Mereka bahkan tidak meninggalkan petunjuk, bahkan setelah kecelakaan sekalipun," lanjutnya dengan suara semakin pelan.
"Selalu ada alasan. Bagaimana jika orang tuamu sengaja mengirimmu ke sana demi keselamatanmu?" Ruu mencoba berspekulasi. Ia dapat merasakan kesedihan tuannya. "Tuan, jangan sedih. Aku yakin ayah dan ibumu tidak bermaksud meninggalkanmu," hiburnya lembut.
Li Yunru terdiam lama. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Tanpa disadari, rasa lelah akhirnya mengalahkan kegelisahannya hingga ia pun tertidur.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Bai Muzhi masuk dengan langkah ringan. Melihat Li Yunru sudah tertidur pulas, ia melirik ke arah Ruu.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya pelan.
"Suasana hatinya kurang baik. Dia mengira orang tuanya tidak menginginkannya," jawab Ruu.
"Jika berada di posisinya, siapa pun akan berpikir begitu."
"Seharusnya kamu menghiburnya."
Bai Muzhi mengangkat sebelah alis. "Raja ini tidak pandai menghibur orang."
Ia menyelimuti tubuh Li Yunru dengan selimut hangat. Lalu berjalan ke jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin malam langsung masuk ke dalam ruangan. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat Ruu dari ranjang.
"Jangan mengotori tempat tidur raja ini. Kembalilah ke sarangmu," katanya datar sambil melempar kelinci gemuk itu ke luar jendela. Setelah itu, ia menutup kembali jendela.
"...."
Ruu yang terlempar keluar hanya bisa menahan amarah. Ia ingin berteriak, tetapi takut membangunkan Li Yunru yang sedang tidur.
Benar-benar naga sakit yang tidak punya hati! batinnya kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di wilayah Hongbo, Xu Aoshan datang ke Istana Laifu dan langsung menuju ruang istirahat, tempat Hong Maxing sedang rebahan santai di kursinya.
Beberapa penari dari suku rubah menari di hadapannya, diiringi musik merdu yang mengalun lembut. Suasana malam terasa hangat dan penuh gairah, seolah tidak ada beban sedikit pun. Namun hanya segelintir orang yang tahu bahwa Hong Maxing tidak pernah benar-benar "bermain" dengan para penari yang diundang untuk menghiburnya. Semua itu hanyalah hiburan kosong.
"Yang Mulia! Yang Mulia Raja Xing!" teriak Xu Aoshan sambil memasuki ruangan tanpa izin.
Para bawahan kepercayaan Hong Maxing yang sedang menonton pertunjukan sambil minum arak langsung menoleh ke arahnya.
Tanpa sopan santun, Xu Aoshan mendorong para penari yang sedang tampil ke samping. Gerakannya kasar hingga membuat para pemusik terkejut dan seketika menghentikan permainan mereka. Salah seorang pria manusia setengah binatang dari suku rubah merah muda langsung berdiri dengan wajah tidak senang.
"Adipati Xu, apa yang Anda lakukan dengan bersikap kasar di depan Raja Xing?"
Xu Aoshan melotot tajam. "Diam saja, rubah lembek!"
"...."
Kedua telinga rubah merah muda milik pria itu langsung terkulai lesu. Hanya karena bulunya berwarna merah muda bukan berarti ia bukan pria sejati. Mengapa harus menyebutnya rubah lembek?
Hong Maxing mengangkat sebelah tangannya dengan malas, memberi isyarat agar semua orang pergi. Tanpa berani membantah, para penari, pemusik, dan para bawahannya segera meninggalkan ruangan satu per satu, menyisakan keheningan yang terasa berat.
"Mengapa Adipati Xu datang dan marah-marah di malam yang indah seperti ini?" tanya Hong Maxing santai, bahkan tanpa berniat bangkit dari posisi rebahnya.
Xu Aoshan mengepalkan kedua tangannya. Ia menahan ekspresinya sekuat mungkin, meski urat di dahinya telah menegang.
"Yang Mulia, mengapa Anda membunuh Yue'er, putri kesayangan saya? Apa kesalahannya hingga Anda menghilangkan nyawanya?"
"Hmmm ...?" Hong Maxing tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Apakah kamu sungguh tidak tahu, Adipati Xu?" tanyanya malas.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
Wajah Xu Aoshan menggelap. Melihat Hong Maxing sama sekali tidak terkejut, amarahnya semakin memuncak.
"Yang Mulia, Anda harus memberikan penjelasan hari ini sebelum orang-orang Hongbo menganggap Anda sebagai tiran yang mengkhianati kepercayaan keluarga Xu."
Hong Maxing menghentikan gerakannya yang hendak meminum arak. Ia menurunkan gelasnya perlahan dan menatap Xu Aoshan dengan dingin.
"Jadi sekarang kamu berani mengancamku? Tampaknya aku terlalu baik hati selama ini."
Aura spiritual Hong Maxing langsung menguar, menekan seluruh ruangan. Wajah Xu Aoshan seketika memucat, napasnya menjadi berat. Baru saat itu Xu Aoshan kembali teringat bahwa pria di hadapannya bukan hanya penguasa wilayah Hongbo, melainkan raja sejati Istana Laifu.
Hong Maxing bangkit dari duduknya dan berjalan santai menghampiri Xu Aoshan. Ia berhenti tepat di hadapan pria paruh baya itu, lalu menyeringai tipis.
"Katakan padaku, Xu Aoshan," ucapnya pelan. "Kamu bahkan belum menyadari siapa yang sedang kamu khianati. Kamu benar-benar berpikir aku tidak tahu siapa dalang di belakangmu?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂