NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: MERAWAT HARAPAN DI LAJUR WAKTU

Dua minggu berlalu sejak ketukan palu hakim di Pengadilan Negeri Semarang yang menjatuhkan vonis tujuh bulan penjara bagi Mas Rendra dan Pak Didi. Gema ruang sidang yang dingin itu kini telah digantikan oleh riuh rendah suasana Terminal Bus Mangkang di pagi buta. Udara Semarang masih diselimuti embun tipis saat aku melangkah turun dari bus ekonomi yang membawaku dari Sukorejo.

Di tangan kananku, sebuah rantang susun aluminium berisi sega megana hangat, sambal goreng ati, dan peyek kacang—semuanya adalah masakan rumahan kesukaan Mas Rendra yang kumasak bersama Ibu sejak lepas isya semalam. Sementara tangan kiriku secara refleks mendekap perutku yang kian hari kian terasa mengeras. Janin di dalam rahimku ini seolah tahu bahwa setiap hari Sabtu, ibunya akan menempuh perjalanan berjam-jam demi sebuah pertemuan singkat di balik jeruji besi.

Langkah kakiku membimbingku menyusuri trotoar menuju Lembaga Pemasyarakatan tempat Mas Rendra menjalani masa hukumannya. Rasa lelah dan mual yang kadang masih menyerang di usia kehamilan empat bulan ini seolah menguap, dikalahkan oleh ketetapan hati yang telah kupilih di depan Bapak waktu itu. Aku tidak ingin menjadi wanita yang hancur karena dendam; aku memilih menjadi jangkar yang menarik suamiku kembali ke dermaga pertobatan.

Suasana ruang kunjungan Lapas pagi itu sudah mulai ramai oleh antrean keluarga narapidana lainnya. Setelah melewati pemeriksaan barang bawaan yang begitu ketat oleh petugas sipir—di mana rantang makananku diaduk dengan sendok untuk memastikan tidak ada barang terlarang—aku dipersilakan duduk di salah satu meja panjang beralas semen yang disekat oleh jeruji besi setinggi dada.

Jantungku berdegup agak kencang saat pintu besi di ujung ruangan berdenting keras. Sesosok pria dengan kaus biru khas tahanan berjalan keluar dengan langkah ragu. Mas Rendra.

Rambutnya kini sudah dicukur rapi, menyisakan potongan pendek yang membuatnya tampak lebih bersih dibandingkan saat di ruang sidang dulu. Wajahnya tidak lagi sepucat dua minggu lalu, namun gurat penyesalan yang mendalam masih tercetak jelas di sudut matanya yang sayu. Begitu pandangannya menangkap sosokku yang duduk tenang memegang rantang, matanya seketika berkaca-kaca. Dia mempercepat langkahnya, lalu duduk di kursi kayu di seberang jeruji besi.

"Yuni..." bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya yang kasar langsung menempel pada celah besi, mencoba menggapai jemariku.

Aku mengulas senyum tipis, menyambut jemarinya dan menggenggamnya hangat. "Assalamualaikum, Mas. Bagaimana kabarmu di dalam? Sehat?"

"Waalaikumsalam... Sehat, Yun. Alhamdulillah, sehat," jawabnya terbata-bata, air matanya perlahan luruh membasahi pipinya yang kian tirus. "Kamu... kamu beneran datang, Yun. Aku kira... aku kira kata-katamu di pengadilan waktu itu cuma untuk menenangkanku saja."

"Pernikahan kita di KUA Sukorejo itu sah di mata Gusti Allah, Mas. Aku bukan wanita yang akan lari saat suamiku terjatuh, meskipun jatuhnya karena kekhilafan sendiri," ujarku lembut sembari membuka tutup rantang aluminium di atas meja. Aroma harum nasi megana dan bumbu rempah seketika menguar di antara sekat besi. "Ini, kumasakkan makanan kesukaanmu. Dimakan ya, Mas. Masih hangat."

Mas Rendra menatap makanan di hadapannya dengan tatapan nanar. Dengan tangan yang bergetar, dia menyuap nasi itu ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, tangisnya kembali pecah tanpa suara. Penyesalan yang amat sangat tampak jelas mengiris-iris dadanya. Pria yang dulu hidup serbatercukupi di rumah marmer kota kini harus mengecap asinnya air mata di atas nasi rumahan yang dibawa oleh istri yang pernah disia-siakan keluarganya.

"Maafkan aku, Yun... Maaf karena aku sempat jadi pengecut yang menuruti skenario Ibu," ucapnya di sela sedu sedan. "Di dalam sini, setiap malam saat menatap langit-langit sel yang sempit, aku selalu ingat bagaimana kamu dulu bekerja sendirian di dapur tanpa pernah mengeluh, sementara kami memperlakukanmu seperti pelayan. Aku benar-benar berdosa, Yuni..."

"Sudah, Mas. Jangan diingat lagi yang sudah lewat. Tujuh bulan ini anggap saja sebagai waktu dari Gusti Allah untuk Mas Rendra belajar bersabar dan mendekatkan diri. Bapak dan Ibu di desa juga sudah memaafkan, mereka hanya ingin melihat Mas keluar nanti sebagai pria yang benar-benar baru," kataku sembari menuntun tangannya untuk menyentuh permukaan perutku dari balik sela-sela jeruji besi.

Begitu telapak tangannya yang hangat merasakan sedikit tonjolan di balik baju kurungku, Mas Rendra memejamkan mata dengan khusyuk. Dia mengecup besi pembatas itu berulang kali seolah sedang mengecup anak kami yang berada di dalam kandungan. "Anakku... maafkan Ayah, Nduk... Ayah berjanji, setelah keluar dari sini, Ayah sendiri yang akan mencangkul di ladang Bapak, bekerja apa saja asal halal untuk membesarkanmu. Ayah tidak akan kembali ke Semarang lagi."

Waktu kunjungan tiga puluh menit berlalu begitu cepat tanpa terasa. Bunyi peluit petugas sipir menandakan bahwa waktu pertemuan kami telah habis. Mas Rendra berdiri dengan berat hati, tangannya perlahan melepas genggaman jemariku.

"Minggu depan aku datang lagi, Mas. Jaga kesehatan dan jangan tinggalkan salat lima waktu ya," pesanku penuh harap.

Mas Rendra mengangguk kuat, mencoba tersenyum di balik sisa air matanya. "Iya, Yun. Aku pasti tunggu. Hati-hati di jalan pulang ke desa."

Aku melangkah keluar dari gedung Lapas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Matahari pagi Semarang kini terasa menghangatkan pundakku, tidak lagi terasa membakar seperti bulan-bulan lalu. Perjalanan pulang menggunakan bus ekonomi menuju Sukorejo tidak lagi terasa menyiksa, karena di dalam rahimku ada harapan yang tumbuh, dan di balik jeruji besi itu, ada sebuah jiwa yang sedang meniti jalan pulang menuju pertobatan yang hakiki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!