NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah di Depan Pintu Kontrakan

Ada satu hal yang lebih menyakitkan daripada dikhianati.

Difitnah.

Karena pengkhianatan dilakukan oleh orang yang kita cintai.

Sedangkan fitnah dilakukan oleh orang yang seharusnya menjadi keluarga.

Dan pagi itu, Nandin akan merasakan keduanya sekaligus.

Hidup Nandin akhir-akhir ini terasa seperti berjalan di atas jembatan rapuh.

Setiap hari ada saja hal yang membuatnya takut jatuh.

Masalah uang.

Anak-anak.

Usaha katering.

Wisnu.

Dan sekarang...

Rahasia yang perlahan mulai terbuka dari Korea.

Namun hidup tidak pernah memberi seseorang waktu untuk fokus pada satu masalah saja.

Selalu datang berombongan.

Seolah penderitaan punya teman-teman sendiri.

Pukul lima pagi seperti biasa.

Alarm belum berbunyi.

Tapi Sherly sudah bangun lebih dulu.

Anak itu memanjat tubuh ibunya sambil membawa boneka kelinci yang sudah mulai kusam.

"Mamma..."

Nandin membuka mata.

"Kenapa sayang?"

"Lapal."

Nandin tertawa kecil.

Jam lima pagi dan anak ini sudah lapar.

"Baiklah."

Di samping mereka, Shella masih tidur dengan posisi yang sangat rapi.

Berbeda dengan Sherly yang seperti badai kecil.

Kadang Nandin heran bagaimana dua anak yang lahir dari perut yang sama bisa memiliki sifat berbeda sejauh itu.

Setelah membuatkan susu dan menyiapkan sarapan sederhana, Nandin mulai memasak pesanan katering.

Hari itu ada pesanan enam puluh kotak nasi untuk acara pengajian.

Lumayan.

Keuntungannya bisa dipakai membeli susu anak-anak bulan depan.

Saat sedang mengiris bawang, ponselnya berbunyi.

Pesan dari Rina.

Jantung Nandin langsung berdebar.

Karena beberapa hari terakhir Rina memang sedang membantu mencari informasi tentang Wisnu.

"Mbak."

"Iya Rin."

"Aku dapat orang yang pernah satu pabrik sama Mas Wisnu."

Deg.

Pisau di tangan Nandin berhenti bergerak.

"Serius?"

"Iya."

"Dia teman lama."

Napas Nandin langsung terasa berat.

Selama ini semua hanya gosip.

Hanya kabar simpang siur.

Tapi sekarang...

Ada seseorang yang benar-benar mengenal Wisnu.

"Apa katanya?"

Tiga menit.

Lima menit.

Tidak ada balasan.

Sampai akhirnya pesan itu masuk.

"Dia bilang memang pernah lihat Mas Wisnu dekat dengan perempuan Indonesia."

Tubuh Nandin langsung lemas.

"Dekat bagaimana?"

Balasan datang.

"Sering pergi bareng."

"Sering makan bareng."

"Sering kelihatan bersama saat hari libur."

Mata Nandin mulai panas.

Namun ia masih berusaha tenang.

"Itu saja?"

Rina mengetik cukup lama.

Lalu mengirim pesan yang membuat jantung Nandin hampir berhenti.

"Katanya banyak orang mengira mereka pacaran."

Bruk.

Nandin duduk di kursi dapur.

Kakinya tiba-tiba tidak kuat menopang tubuhnya.

Pacaran.

Kata itu sederhana.

Tapi terasa seperti pisau.

Karena selama ini dirinya masih berstatus istri sah.

Masih membesarkan anak-anak Wisnu.

Masih berjuang sendirian.

Sementara di tempat lain...

Orang-orang mengira suaminya sedang berpacaran.

"Mama..."

Shella datang membawa gelas plastik.

Nandin langsung menghapus air mata.

"Tidak apa-apa sayang."

Ia memeluk kedua anaknya.

Lama.

Karena hanya mereka yang membuatnya tetap waras saat ini.

Siang harinya.

Saat semua pesanan sudah selesai.

Nandin kembali membuka Instagram.

Akun Seline kembali aktif.

Dan kali ini...

Dadanya terasa makin sesak.

Foto terbaru memperlihatkan secangkir kopi dan sebuah tangan laki-laki.

Biasa saja.

Namun bukan itu yang membuatnya membeku.

Melainkan cincin.

Ada cincin berwarna perak di jari manis tangan laki-laki itu.

Nandin langsung memperbesar gambar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangannya mulai gemetar.

Karena cincin itu sangat mirip dengan cincin yang pernah ia belikan untuk Wisnu sebelum berangkat ke Korea.

Bukan cincin pernikahan.

Melainkan cincin sederhana hadiah ulang tahun.

Wisnu hampir tidak pernah melepasnya.

Setidaknya dulu.

"Nggak mungkin..."

bisiknya.

Namun kalimat itu kini terdengar semakin lemah.

Karena terlalu banyak kebetulan.

Terlalu banyak kecocokan.

Terlalu banyak petunjuk.

Dan yang paling menakutkan...

Wisnu tiba-tiba menghubunginya malam itu.

Pukul sebelas malam.

Saat Shella dan Sherly sudah tidur.

Ponselnya berdering.

Nama Wisnu muncul.

Nandin langsung mengangkat.

"Halo."

Tidak ada salam.

Tidak ada basa-basi.

Yang terdengar justru suara Wisnu yang marah.

"Kamu main sosmed sekarang?"

Deg.

Nandin langsung duduk tegak.

"Apa?"

"Jangan pura-pura nggak tahu."

Suara Wisnu terdengar sangat tajam.

"Kamu bikin akun Instagram?"

"Iya."

"Lalu Facebook juga?"

"Iya."

"Ngapain?"

Nandin terdiam.

Karena ini pertama kalinya Wisnu terdengar benar-benar panik.

"Memangnya kenapa?"

"Jawab pertanyaanku.”

Nandin mulai curiga.

Sangat curiga.

"Aku cuma belajar."

bohongnya.

Wisnu langsung mendengus.

"Kamu nyari apa?"

Nah.

Itu dia.

Bukan "ngapain main sosmed".

Bukan "kenapa bikin akun".

Tapi...

"Kamu nyari apa?"

Dan saat itulah alarm dalam kepala Nandin berbunyi keras.

"Aku nggak nyari apa-apa."

"Kamu bohong."

"Kok tahu?"

Hening.

Beberapa detik.

Dan hening itu sudah cukup menjadi jawaban.

Karena seseorang hanya akan panik kalau merasa ada sesuatu yang sedang dicari.

"Aku cuma lihat-lihat."

kata Nandin tenang.

Namun di dalam hati.

Jantungnya berdetak sangat keras.

"Awas saja kalau macam-macam."

ancam Wisnu.

Nandin hampir tertawa.

Macam-macam?

Selama bertahun-tahun dia yang ditinggalkan.

Dia yang tidak dinafkahi.

Dia yang membesarkan anak sendirian.

Tapi sekarang justru dirinya yang dicurigai.

"Kamu pikir aku punya waktu buat macam-macam?"

Wisnu tidak menjawab.

Dan untuk pertama kalinya.

Nandin merasa.

Wisnu sedang takut.

Benar-benar takut.

Telepon berakhir dengan suasana tidak enak.

Namun malam itu.

Alih-alih menangis.

Nandin justru semakin yakin.

Ada sesuatu yang disembunyikan Wisnu.

Dan sesuatu itu mulai terancam terbongkar.

Keesokan paginya.

Masalah baru datang.

Sekitar pukul sembilan pagi.

Saat Nandin sedang menyiapkan pesanan.

Suara motor berhenti di depan kontrakan.

Lalu terdengar suara keras.

"NANDIN!"

Tetangga langsung menoleh.

Nandin yang sedang mencuci sayur keluar dari dapur.

Dan langsung membeku.

Ibu Sri.

Wanita itu berdiri di depan pagar.

Wajahnya merah.

Matanya penuh kemarahan.

"Bu?"

"Apa yang kamu lakukan?"

Tetangga mulai keluar rumah.

Bu Rini.

Bu Ratna.

Pak Darto.

Dan beberapa warga lainnya.

Semua penasaran.

Nandin sendiri bingung.

"Memangnya kenapa?"

Ibu Sri menunjuk wajahnya.

"Kamu pikir saya nggak tahu?"

"Tahu apa?"

"Kamu main belakang sama anak saya!"

Deg.

Semua orang langsung terdiam.

Nandin bahkan tidak mengerti.

"Maksud Ibu apa?"

"Kamu bikin akun macam-macam."

"Kamu nyari laki-laki lain."

"Kamu bikin malu keluarga."

Nandin benar-benar tercengang.

Apa?

Laki-laki lain?

Bahkan untuk tidur delapan jam saja dia tidak punya waktu.

Bagaimana bisa mencari laki-laki lain?

"Bu..."

"Kamu pikir saya nggak tahu?"

Ibu Sri terus berteriak.

Dan semakin keras suaranya.

Semakin banyak tetangga berkumpul.

Biasanya fitnah seperti itu cukup untuk menghancurkan nama seseorang.

Tapi kali ini berbeda.

Karena semua orang mengenal Nandin.

Mereka tahu kehidupannya.

Mereka melihat sendiri kesehariannya.

Bu Rini akhirnya maju.

"Bu Sri."

"Apa?"

"Saya tiap hari ke sini."

"Terus?"

"Nandin bahkan jarang keluar rumah."

"Iya."

sahut Bu Ratna.

"Paling cuma antar katering."

"Atau belanja bahan."

"Laki-laki mana yang Ibu maksud?"

Ibu Sri langsung terdiam.

Karena memang tidak ada.

Tidak pernah ada.

Dan semua orang tahu itu.

Pak Darto bahkan ikut angkat bicara.

"Bu."

"Saya pemilik kontrakan ini."

"Nandin di sini sama anak-anaknya."

"Kerjanya dari pagi sampai malam."

"Kalau ada laki-laki lain saya pasti tahu."

Wajah Ibu Sri mulai berubah.

Karena untuk pertama kalinya.

Tidak ada yang mempercayai tuduhannya.

Justru orang-orang membela Nandin.

Dan itu membuatnya semakin kesal.

"Kalian semua dibohongi!"

teriaknya.

Namun kali ini.

Tidak ada yang menanggapi.

Karena mereka sudah melihat sendiri selama berbulan-bulan.

Mereka melihat Nandin memasak.

Mengantar katering.

Mengurus anak.

Menjemur pakaian.

Membersihkan rumah.

Setiap hari.

Tidak ada ruang untuk melakukan hal lain.

Akhirnya Ibu Sri pergi dengan wajah merah padam.

Namun setelah motor itu menghilang.

Nandin justru berdiri diam.

Sangat diam.

Karena untuk pertama kalinya.

Ia menyadari sesuatu.

Semua ini bukan tentang dirinya.

Bukan tentang media sosial.

Bukan tentang fitnah.

Bukan tentang laki-laki lain.

Mereka panik.

Wisnu panik.

Ibu Sri panik.

Dan orang yang panik biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.

Malam itu.

Saat Shella dan Sherly tertidur di sampingnya.

Nandin membuka kembali foto cincin di akun Seline.

Lalu membuka kembali pesan Rina.

Lalu mengingat kemarahan Wisnu semalam.

Dan perlahan.

Potongan-potongan puzzle itu mulai menyatu.

Belum lengkap.

Tapi cukup membuatnya mengerti satu hal.

Ia sedang berada sangat dekat dengan kebenaran.

Dan kebenaran itu...

Mungkin jauh lebih buruk daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!