NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 14

Ferdi mundur dari jendela, lalu terduduk di atas lantai kamar dengan pandangan kosong. Air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Rasa hancur, bersalah, dan takut bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Istrinya telah tewas dengan mengenaskan, dan anak laki-lakinya kini telah berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan yang berkeliaran di luar sana.

​Siska berjalan mendekati kakaknya dengan langkah kaki yang lemas. Dia menjatuhkan balok kayu yang dipegangnya ke lantai. "Mas... dia sudah pergi... Doni sudah bukan Doni yang kita kenal..." bisik Siska sambil menangis terisak-isak.

​Mereka berdua berjalan kembali ke ruang tengah dengan tubuh yang lunglai. Di sana, tubuh kaku Mbak Selfi yang sudah hancur masih terbaring di atas lantai semen. Di jari manis tangan kanan Selfi yang sudah berwarna abu-abu pucat, cincin kuno dengan permata merah darah itu mendadak retak dengan sendirinya, lalu pecah menjadi abu hitam yang jatuh ke lantai. Ikatan pesugihan itu telah selesai ditunaikan, dan sang pemilik telah memberikan tumbal tertinggi, yaitu nyawanya sendiri.

​Namun, Siska tahu ini belum berakhir. Makhluk itu masih hidup dan berkeliaran di luar sana. Rasa sedih yang mendalam di hati Siska mendadak berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Kemarahan kepada rumah ini, kepada kutukan ini, dan terutama kepada satu-satunya orang yang tahu rahasia ini tetapi memilih untuk diam: Pak Cahyo.

​"Mas Ferdi, jaga Mbak Selfi di sini. Siska harus menyelesaikan ini," kata Siska dengan suara yang tiba-tiba terdengar tegas di antara isak tangisnya.

​Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya yang masih syok, Siska berlari keluar rumah. Dia menerobos sisa hujan gerimis malam itu, mengabaikan rasa dingin yang menusuk kulitnya. Tujuannya hanya satu: rumah tua di sebelah.

​Siska menaiki teras rumah Pak Cahyo dengan amarah yang memuncak. Dia menggedor pintu kayu jati itu dengan kedua tangannya sekuat tenaga.

​BANG! BANG! BANG!

​"Pak Cahyo! Buka pintunya, Pak! Buka!" teriak Siska histeris. Suaranya pecah membelah keheningan malam yang pekat. "Mbak Selfi sudah meninggal, Pak! Anak itu... Doni... dia berubah jadi iblis dan pergi ke luar! Bapak harus tanggung jawab! Buka, Pak!"

​Tidak ada jawaban dari dalam. Rumah itu tampak seperti kuburan yang mati. Namun, Siska tidak menyerah. Dia mengambil sebuah batu besar dari pot tanaman di teras, lalu menghantamkannya ke jendela kaca rumah Pak Cahyo hingga hancur berantakan.

​PRANKKK!

​"Kalau Bapak nggak keluar, saya akan hancurkan seluruh rumah ini! Buka, Pak Cahyo!" desak Siska dengan napas yang terengah-engah, air matanya bercampur dengan air hujan di wajahnya.

​Mendengar ancaman dan hancurnya kaca jendela, terdengar suara langkah kaki yang berat dari dalam. Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka. Pak Cahyo berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat pucat. Tangannya yang memegang sebatang rokok tampak bergetar hebat. Dia melihat ke arah Siska, lalu melirik ke arah rumah sebelah yang lampunya menyala terang benderang.

​"Neng... sudah saya bilang, jangan libatkan saya..." kata Pak Cahyo dengan suara serak, mencoba kembali menutup pintunya.

​Namun, Siska bergerak lebih cepat. Dia menahan pintu itu dengan badannya, mendorongnya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Nggak bisa, Pak! Nggak bisa lagi Bapak bungkam seperti ini! Kakak ipar saya mati mengenaskan di dalam! Dadanya hancur, jantungnya dimakan! Bayi itu... bayi iblis itu sekarang lepas! Apa Bapak mau membiarkan makhluk itu memakan orang lain lagi?!"

​Pak Cahyo memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatap mata Siska yang penuh dengan tuntutan dan kemarahan. Pria tua itu kembali diam, mengunci mulutnya rapat-rapat, bersikap seolah dia tidak mendengar apa-apa.

​"Bicara, Pak! Tolong bicara!" desak Siska lagi, kali ini suaranya melemah, berubah menjadi rintihan putus asa. Dia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Pak Cahyo, mencengkeram ujung sarung bapak tua itu. "Saya mohon... katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi pada rumah itu dulu? Siapa makhluk itu? Bagaimana cara menghentikannya? Kalau Bapak tetap diam, kutukan itu tidak akan pernah berhenti!"

​Melihat mahasiswi itu menangis bersujud di kakinya, pertahanan Pak Cahyo runtuh juga. Bahunya yang tegap tampak merosot lambat laun. Dia mengembuskan napas panjang yang sangat berat, seolah baru saja melepaskan beban rahasia yang telah dia pikul selama puluhan tahun.

​"Sudah terlambat, Neng... semuanya sudah terlambat," bisik Pak Cahyo lirih, matanya berkaca-kaca menatap pekatnya kegelapan malam di luar.

​Pak Cahyo memegang pundak Siska, membantunya berdiri, lalu mengajaknya masuk ke dalam ruang tamunya yang remang-remang. Suasana di dalam rumah Pak Cahyo sangat kuno, dipenuhi aroma minyak mistik dan asap rokok yang pekat.

​"Duduklah, Neng," kata Pak Cahyo kaku. Dia sendiri duduk di kursi kayu berukir, lalu menyalakan rokoknya yang sempat padam. Setelah beberapa kali mengisap rokoknya dalam-dalam, dia akhirnya mulai membuka suara.

​"Rumah yang kalian tempati itu... dulunya adalah milik seorang saudagar kaya sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Namanya Pak Broto. Dia punya segalanya, kecuali satu hal: keturunan. Istrinya mandul," cerita Pak Cahyo dengan suara yang bergetar.

​Siska mendengarkan dengan saksama, menahan napasnya agar tidak memotong cerita pria tua itu.

​"Karena putus asa dan malu pada tetangga, Pak Broto pergi ke daerah pedalaman untuk mencari dukun ilmu hitam. Di sanalah dia melakukan perjanjian pesugihan. Dukun itu memberikan sebuah cincin kuno bermata merah pekat. Syaratnya sederhana: cincin itu harus dipakai oleh istrinya, dan setelah seratus hari dari kehamilan gaib yang diberikan oleh makhluk di dalam cincin, mereka harus menyerahkan tumbal darah."

​"Istri Pak Broto melahirkan seorang anak laki-laki," lanjut Pak Cahyo, tatapan matanya kosong menerawang masa lalu. "Tapi anak itu lahir cacat, kakinya bengkok patah ke dalam. Dan tepat di malam keseratus, karena Pak Broto tidak tega memberikan tumbal manusia yang diminta, makhluk itu bangkit. Dia mengamuk, memakan jantung istri Pak Broto, lalu menghabisi seluruh isi rumah tersebut."

​Siska membekap mulutnya. Cerita itu sangat persis dengan apa yang baru saja menimpa Mbak Selfi.

​"Lalu... lalu bagaimana dengan anak itu, Pak? Ke mana anak Pak Broto pergi?" tanya Siska dengan jantung yang berdebar kencang.

​Pak Cahyo menatap Siska dengan pandangan yang sangat kelam. "Anak itu tidak pernah mati, Neng. Dia dikubur hidup-hidup di bawah kolong lemari rias kuno kamar utama oleh warga desa setelah kejadian malam itu. Jiwanya telah menyatu dengan cincin dan tanah rumah tersebut. Makhluk itu akan tetap tertidur di bawah sana... sampai ada wanita hamil lain yang masuk ke rumah itu dan memakai cincinnya kembali."

​Pak Cahyo menjatuhkan sisa rokoknya ke asbak, lalu memegang kedua tangan Siska dengan erat. "Cincin yang dipakai kakak iparmu itu adalah wadah jiwanya. Dan sekarang, setelah memakan jantung dan darah segar ibunya di malam keseratus, makhluk itu telah mendapatkan tubuh fisik yang sempurna. Dia bukan lagi sekadar kutukan rumah, Neng. Dia sudah menjelma menjadi Iblis Bayi yang nyata, dan dia akan terus berkeliaran di luar sana untuk mencari mangsa baru."

​Siska merasakan sekujur tubuhnya menjadi dingin mendengar penjelasan Pak Cahyo. Desakan demi desakannya malam ini akhirnya membuka pintu rahasia yang mengerikan, namun kebenaran ini justru membawa ketakutan baru yang jauh lebih besar: Doni, bayi iblis berkaki bengkok itu, kini berada di luar sana, bebas berkeliaran di tengah masyarakat.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!