NovelToon NovelToon
Dinikahi Jenderal PTSD

Dinikahi Jenderal PTSD

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syfaanca

Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.

Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.

Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Gelapnya Malam

Wanqing masih terus menggenggam erat amplop yang berisikan surat itu. Ia masih terus berpikir dimana dan ada apa dengan Ibunya. Wanqing tidak menyadari bahwa pada akhirnya ia sudah tiba di kediaman Jenderal Lu Jingyuan di Guangzhou. Perjalanan dari markas militer sebelumnya tidak terasa bagi dirinya yang kini dipenuhi pertanyaan.

Wanqing turun diikuti Ajudan Han. Ibu Mei sudah berdiri dengan tangan terbuka lebar dan senyum merekahnya. "Anakku!!!" Ia berlari menghampiri Wanqing dan memeluknya erat. Emosi dan seluruh perasaan Wanqing sirna seketika.

Wanqing sibuk berbincang sambil menunjukkan beberapa jahitannya yang sudah selesai, ia juga menginstruksikan Ibu Mei dengan jelas pakaian mana yang milik ibu pejabat mana. Namun Ibu Mei dengan cepat berkata, "Ayo kita pergi berdua antar masing-masing saja, Ibu tidak paham berapa harga yang layak, biar Kamu yang tentukan saja."

Wanqing yang tidak enak menolak itu langsung mengiyakan. Hari sudah mendekati sore ketika mobil itu berangkat meninggalkan kediaman Jenderal Lu Jingyuan. "Nanti sebutkan saja harga yang sepadan, jangan menahan diri, mereka semua mampu dan bergengsi." Ujar Ibu Mei.

Mereka pun keliling dan bertamu ke beberapa rumah ibu pejabat lainnya untuk mengantarkan gaun-gaun yang sudah Wanqing khusus jahitkan. Semuanya puas dan senang sekali, bahkan beberapa tidak menanyakan harga dan langsung menyerahkan banyak sekali uang yang tak berani Wanqing lihat nominalnya.

Saat matahari sudah sepenuhnya terbenam, mereka akhirnya tiba di rumah. "Sudah malam sekali nak, baiknya Kamu pulang besok saja ya?" Ujar Ibu Mei. Ia dengan sigap membuka makanan yang sengaja dipesan sebelum mereka kembali ke rumah untuk dimakan bersama. Ajudan Han yang sedari siang mengantarkan Ibu Mei dan Wanqing juga setuju terhadap saran Ibu Mei.

"Ibu.. Baiknya Aku pulang langsung saja setelah makan ini, bukannya Aku menolak, tapi khawatirnya kalau-kalau Jingyuan.."

Ibu Mei menggenggam kedua tangan Wanqing erat. "Ibu tahu kekhawatiranmu nak, baiklah, nanti bawa beberapa herbal dari rumah untuk di sana ya?"

Wanqing mengangguk lega. Setelah makan dan berbincang sebentar, mobil pun sudah siap. Ajudan Han membawakan beberapa herbal dan bawaan Wanqing lainnya untuk ke mobil. "Ayo."

Wanqing berpamitan dan menaiki mobil itu bersama Ajudan Han dan supir yang memang sedari awal sudah ditugaskan mengantarkan Wanqing dari markas militer di perbatasan Guangzhou dan Fuzhou.

Gemuruh petir di langit mulai terdengar, amukkan angin yang menghantam beberapa pepohonan di sepanjang jalan juga berhasil membuat para warga masuk ke dalam rumah masing-masing, jalanan malam itu sangatlah sepi. Wanqing yang masih teralihkan pikirannya dengan amplop di dalam tas kecilnya tak banyak merespon pembicaraan Ajudan Han yang terus menanyakan atau membicarakan banyak hal di jalan kota.

Merasa lelah dengan semuanya dan kebingungan, Wanqing memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar, tak terasa ia akhirnya terlelap. Hujan turun dengan sangat deras, membalut kota dan seisinya dengan kejam. Derasnya air hujan membuat jarak pandang supir jadi berkurang, Ajudan Han yang menyadari itu meminta supir untuk pelan-pelan saja.

Wanqing bermimpi, dalam mimpinya ia berada di suatu tempat yang penuh dengan orang-orang. Dirinya dalam balutan gaun berwarna merah muda, sepatu berpita ungu dengan rambut yang disisir rapih dengan pita terikat di kepalanya. Wanqing memeluk boneka beruang kecil sembari menangis, "Ibu.. Ibu.."

Beberapa anak yang ada di sekitarnya menertawainya dan terus menunjuk-nunjuk dirinya. Salah satu di antaranya, seorang perempuan yang sepertinya adalah pemimpin perempuan-perempuan lainnya maju dan menarik-narik rambut Wanqing. "Hahaha, tidak punya Ibu, tidak punya Ibu.." Anak-anak itu berlarian dan mengitari Wanqing, beberapa diantaranya mendorong tubuh mungilnya sampai terjatuh.

Wanqing yang ketakutan menangis histeris dan berteriak minta tolong. Di tengah tangisannya, seorang anak laki-laki dengan luka di tangan dekat nadinya menjulurkan tangannya. Entah bagaimana caranya anak itu berhasil membubarkan gerombolan anak perempuan yang mengusiknya.

"Ayo bangun." Ujarnya.

Wanqing baru saja hendak menyambar lengan anak itu ketika tiba-tiba dirinya dibangunkan dengan teriakan kencang dari suara yang ia kenal. "Wanqing!!!"

Wanqing membuka matanya, tubuh mungilnya kini sudah digendong oleh seseorang dengan tubuh besar yang tak bisa ia lihat wajahnya. Wanqing yang menyadari kejanggalan itu berusaha memberontak. Ia terus berteriak, "Han'zi!! Han'zi!!! JINGYUAN!!"

*PRANG*

Teko berisi air panas yang ada di dalam kamar itu tumpah sesaat ketika Jingyuan baru saja hendak memindahkannya. Air panas yang tumpah membasahi karpet itu untungnya tidak mengenai bagian tubuhnya sama sekali.

"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak." Gumamnya bingung.

Jingyuan berusaha menenangkan dirinya, ia telah menerima telepon dari Ibu Mei beberapa menit lalu yang mengabarkan bahwa Wanqing baru saja berkunjung dan banyak hal lainnya tentang usaha butik dan uang yang diperoleh istrinya itu. Namun, ada satu hal yang mengganjal dan membuatnya gelisah, malam itu, Wanqing memaksakan dirinya pulang di tengah badai yang menerpa di seluruh Guangzhou dan Fuzhou bagian Utara.

Jingyuan masih mengepalkan tangannya gelisah ketika suara pintu kamarnya diketuk. "Yuan-Yuan.."

Menghela napas kasar, Jingyuan berjalan membukakan pintu kamar itu.

"Kau tidak apa-apa?" Bai Yueran dengan pakaian piyamanya yang transparan itu memeluk dirinya tanpa permisi.

Mendapatkan perilaku tidak mengenakan yang sudah berusaha ia hindari, Jingyuan mundur beberapa langkah dan mendorong Bai Yueran perlahan menjauh. Ia lalu duduk di atas meja makan dan menuangkan teh hangat.

"Untuk apa Kau kemari?"

Bai Yueran menghela napas lemah, wajahnya berubah seolah sedang sedih. Perempuan itu mendekati Jingyuan dan memeluknya lagi dari belakang. "Kenapa semenjak pernikahan kontrak itu, Kau jadi sedingin ini?"

Jingyuan yang tak tahan lagi bangkit dan berbalik menatap Bai Yueran. "Semenjak pernikahan kontrak? Kau memang selalu sama, tidak pernah mau salah."

Bai Yueran yang mendengar itu menggerutu sembari melipat kedua tangannya di dada, "Kenapa sih? Perempuan itu apa istimewanya? Dia kan hanya anak pengusaha kecil, perempuan kumuh tidak terdidik dan tidak bisa apa-apa, perempuan lemah yang bahkan tidak mampu menjagamu."

Jingyuan mengangkat tangannya untuk isyarat diam. Seorang ajudan datang lari tergopoh-gopoh dengan baju yang basah, "Jenderal! Ada telepon darurat dari telepon umum di pedesaan dekat perbatasan."

Tubuh Jingyuan serasa membeku. Ia berlari dengan cepat menuju kantor sementaranya di daratan utara Fuzhou yang sudah dibangun kembali. Di tengah derasnya hujan dan suara petir yang kian menyambar bergantian, tubuh Jingyuan yang sudah basah kuyup memasuki kantornya. Salah satu Ajudannya yang lain sedang menerima telepon, wajahnya pucat pasi.

"Ini dari Ajudan Han. Ajudan Han bilang--" Belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya, telepon genggam itu segera disambar oleh Jingyuan.

"Han! Han! BICARA!" Bentaknya.

Ajudan Han terdengar sulit bernapas dan berbicara, namun satu kalimat yang ia ucapkan mampu membuat Jingyuan lemas dan terjatuh,

"Nyonya diculik!"

*BERSAMBUNG*

Terimakasih sudah bertahan dan membaca sejauh ini, jangan lupa like, komen, vote, dan subscribe ya! Love u all!

1
arya
modus
Lamycut
Suka geremm banget baca si Bai Bai itu ish sebalnya, buang ajah dia 🤭
Syfaansa: harusss🤣🤣🤣
total 1 replies
Lamycut
keren kakak, itu si dingin jendral malu-malu yah, lanjut dan semangat ya kak
arya
ini terbaik sih, author bisa buat karya se megah ini, mau dong tips nya.. hehe
Syfaansa: menghayal dan menonton drachin lah tipsnya KWKWKW
total 1 replies
Syfaook
Lanjut Thor!! jangan lupa update banyak banyak yan
Xxzyeyi
WOII KEREN BANGET MBA AKUNTAN HAHAHA, diem diem idenya nulis beginian, bagus lanjutkan saudarakuh!! semangatt /Curse/
Eat Reactwithmee
Slow burn ya ini Thor hahaha, temen kerjaku karyanya bagus banget, bikin greget banget sama perilaku saling malunya mereka berdua, si Jingyuan juga sok bener nahan nahan padahal mah udh demen kan, ngaku hayu /Scream/
Fei Lord
Ceritanya sangat unik dan menarik sekali yaa, jadi penasaran kelanjutan hubungan kaku bgtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!