NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Yang Sama

“Dhea, berikan sekarang uang itu,” ucap Rafalendra.

“Kak, uang ini buat belikan obat Ibu,” jawab Dhea dengan suara yang sendu.

“Aku tidak peduli. Sekarang berikan uang itu, atau kamu akan tahu akibatnya,” tegas Rafalendra.

Dhea terdiam. Tangannya semakin erat memegang tas yang berisi hasil jualannya hari itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia masih berusaha menahan diri.

“Kak… tolong,” suara Dhea bergetar.

Rafalendra melangkah lebih dekat, membuat Dhea refleks mundur satu langkah ke belakang. Suasana di depan toko bunga itu terasa semakin tegang, hanya ada suara angin sore yang menyapu jalanan.

Dhea menunduk dalam, pikirannya kacau antara rasa takut dan kebutuhan ibunya yang sedang sakit.

Saat Rafalendra mendekat dan ingin menarik tas Dhea, tiba-tiba suara seseorang membuat mereka berdua menoleh.

“Woy, apa yang kau lakukan pada gadis itu?”

Suara itu adalah suara Arelia.

Arelia berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi datar, namun tatapannya tajam mengarah ke Rafalendra.

Ia melangkah mendekat tanpa ragu, seolah tidak peduli dengan situasi yang sedang terjadi.

Dhea terkejut melihat Arelia kembali muncul di depan tokonya. Ia sedikit mundur ke samping, masih memegang erat tasnya.

Rafalendra menatap Arelia dari atas ke bawah, lalu mendengus pelan.

“Ini urusanku. Jangan ikut campur,” ucapnya dingin.

Arelia tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri di antara Dhea dan Rafalendra, seolah melindungi Dhea secara tidak langsung.

“Kalau urusanmu sampai membuat orang ketakutan seperti ini, itu bukan urusan yang bisa dibiarkan,” balas Arelia tenang namun tegas.

“Mbak, k-kenapa kembali?” tanya Dhea dengan nada gugupnya.

“Saya tadi kebetulan lewat mau membeli sesuatu,” jelas Arelia. “Tapi, tidak menyangka malah melihat kejadian seperti ini.”

Rafalendra merasa kesal karena kehadiran Arelia.

“Hey, wanita, jangan ikut campur. Ini urusan antara kakak dan adik,” ucap Rafalendra dingin.

Arelia menatapnya tanpa gentar. Ia justru melangkah sedikit lebih dekat, tetap berdiri di antara Rafalendra dan Dhea.

“Kalau urusan kakak dan adik sampai membuat seseorang dipaksa dan ketakutan, itu bukan urusan keluarga yang sehat,” balas Arelia tenang.

Dhea semakin gemetar di belakang Arelia, memeluk tasnya erat-erat. Ia tidak menyangka situasi yang awalnya biasa saja berubah menjadi seperti ini.

Rafalendra mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai naik.

“Minggir tidak!” teriak Rafalendra.

“Kamu pikir aku takut denganmu?” ucap Arelia membuat Dhea ketakutan.

“Mbak, d-dia seorang pria. Tidak mungkin Mbak bisa menang melawannya,” ucap Dhea dengan suara bergetar.

Seketika Arelia terdiam. Dhea yang tidak tahu sebenarnya siapa diri Arelia. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum kepada Dhea.

“Serahkan semuanya pada saya,” ucap Arelia kepada Dhea.

Dhea tampak bingung sekali. Bagaimana bisa Arelia berani seperti itu?

“Jangan sok kuat,” ucap Rafalendra.

“Aku tidak sok kuat. Tapi, jika kamu berani melangkah mendekat lagi, maka kamu akan tahu akibatnya,” balas Arelia dengan tenang.

Rafalendra mulai menyerang Arelia, ia tampak sangat kesal hingga kehilangan kendali. Hal itu membuat Dhea merasa ketakutan hingga ia berteriak histeris.

“Mbak Arelia!” teriak Dhea.

Namun siapa sangka, Arelia justru lebih cepat bereaksi. Ia menghindar dengan sigap, lalu dalam satu gerakan cepat melayangkan pukulan ke arah wajah Rafalendra. Pukulan itu tepat mengenai sasaran, membuat pria itu terhuyung sambil memegangi wajahnya.

“M-mbak…” panggil Dhea dengan nada bergetar.

Rafalendra terdiam. Rasa sakit dari pukulan itu sangat terasa di wajahnya. Ia menatap Arelia dengan tidak percaya, seolah tidak menyangka bahwa perempuan itu memiliki tenaga seperti seorang pria.

Akhirnya, Rafalendra menyerah untuk mengganggu Dhea.

“Tunggu saja kau nanti, Dhea,” ucapnya sebelum pergi.

Dhea menatap kepergian kakaknya dengan tubuh masih gemetar. Sementara itu, Arelia mendekat ke arah Dhea.

“Kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?” tanya

Arelia membuat Dhea menoleh kepadanya.

Dhea menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“T-tidak, Mbak. S-saya baik-baik saja. T-terima kasih, Mbak sudah membantu saya,” jawabnya terbata-bata.

“Kamu mau pulang?” tanya Arelia kepada Dhea.

“I-iya, Mbak. Saya mau pulang,” jawab Dhea dengan gugup.

“Iya sudah, ayo saya antar kamu pulang,” ucap Arelia membuat Dhea terkejut.

“E-eh, Mbak, tidak usah saja. Saya bisa pulang sendiri kok,” sahut Dhea dengan nada menolak halus.

“Tidak apa-apa, saya takutnya dia kembali menemuimu.”

Dhea terdiam sejenak. Ia menunduk, masih ragu dengan situasi yang baru saja terjadi. Namun di sisi lain, rasa takut akan Rafalendra membuatnya tidak bisa benar-benar menolak.

“Ta-tapi…” Dhea menggigit bibir bawahnya pelan.

Arelia menatapnya dengan tenang, lalu sedikit menghela napas.

“Kalau kamu tetap menolak, saya akan tetap memastikan kamu sampai rumah dengan aman dari jauh,” ucap Arelia tegas namun tetap lembut.

Dhea akhirnya mengangguk kecil.

“Baiklah, Mbak… terima kasih,” jawabnya pelan.

Arelia kemudian berjalan di samping Dhea tanpa banyak bicara. Sesekali ia melirik ke sekitar jalan, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan. Sementara itu, Dhea hanya berjalan pelan dengan perasaan campur aduk, masih belum benar-benar memahami kenapa Arelia begitu peduli padanya.

“Dia kakakmu?” tanya Arelia saat mulai berjalan.

“I-iya, Mbak. Dia kakak saya,” jawab Dhea dengan gugup.

“Kenapa dia bertingkah seperti itu?”

“Itu karena, semenjak dia ditinggal pacarnya menikah. Kakak berubah menjadi berandalan,” jelas Dhea.

Penjelasan itu membuat Arelia tiba-tiba berhenti melangkah. Hal itu membuat Dhea ikut berhenti dan menatapnya dengan bingung.

“Mbak?” panggil Dhea pelan.

Arelia terdiam cukup lama, pandangannya lurus ke depan seolah sedang memikirkan sesuatu yang dalam. Suasana jalan sore itu menjadi hening sejenak.

“Jadi hanya karena itu…” ucap Arelia pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Dhea mengangguk kecil, masih tidak mengerti perubahan sikap Arelia yang tiba-tiba berhenti.

Arelia kemudian menarik napas pelan, lalu kembali menoleh ke arah Dhea dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya.

“Kamu tidak seharusnya menanggung perlakuan seperti itu,” ucapnya singkat.

“Saya tidak berani untuk melawan, Mbak. Karena mungkin sekarang kakak seorang yang benar-benar rapuh,” jelas Dhea.

Arelia kembali diam. Sebenarnya, cerita kakaknya Dhea sama seperti dirinya yang ditinggal pacarnya menikah dengan orang lain.

Ia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan sebelum kembali berbicara.

“Cerita kakakmu, sama seperti saya,” ucap Arelia membuat Dhea terkejut.

Dhea menatap Arelia dengan bingung, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“M-maksud Mbak…” suara Dhea pelan, ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

Arelia tidak langsung menjawab. Ia kembali melangkah pelan, dan Dhea pun ikut berjalan di sampingnya.

Suasana di antara mereka menjadi sedikit lebih sunyi dari sebelumnya, hanya terdengar langkah kaki mereka di trotoar.

“Saya juga pernah berada di posisi seseorang yang ditinggalkan,” ucap Arelia akhirnya dengan nada datar, namun terdengar berat.

Dhea terdiam mendengarnya. Ia tidak berani bertanya lebih jauh, hanya menunduk sambil memperhatikan jalan di depannya.

“Tapi bukan berarti orang yang terluka harus melukai orang lain juga,” lanjut Arelia singkat.

Kata-kata itu membuat Dhea semakin terdiam. Ia mulai mengerti sedikit, bahwa Arelia bukan hanya sekadar membantu tanpa alasan, tetapi juga memiliki luka yang tidak terlihat.

Arelia kemudian melirik Dhea sekilas.

“Makanya tadi saya tidak bisa diam,” ucapnya pelan, lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!