Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG YANG RETAK KARENA RINTIHAN
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden sama sekali tidak membawa kesegaran bagi Azzura. Tubuhnya terasa jauh lebih berat dari kemarin, kepalanya berdenyut, dan rasa mual itu kembali menyerang bahkan sebelum ia sempat mendudukkan diri di tempat tidur.
Saat ia melangkah gontai ke luar kamar, ia berpapasan dengan Nayaka yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Pria itu sedang menyambar kunci mobil di atas meja, sorot matanya tetap sedingin es.
"Nggak usah pura-pura lemas begitu," ucap Nayaka tanpa basa-basi, suaranya sarat akan rasa jengah. "Gue sibuk hari ini, banyak urusan di kantor, jadi lo pergi ke rumah sakit sendiri saja."
Azzura tertegun sejenak, memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang gemetar. Ia tidak punya energi lagi untuk mendebat atau menjelaskan betapa sakitnya ia saat ini. Ia sudah terbiasa dengan penolakan Nayaka sejak hari pertama mereka terikat.
"Iya, nanti aku ke rumah sakit sendiri," jawab Azzura lirih sambil mengangguk pelan.
Nayaka mendengus, seolah jawaban Azzura hanyalah gangguan kecil bagi jadwalnya. "Bagus kalau sadar diri. Jangan hubungi gue kalau cuma mau drama soal kesehatan," tambahnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu depan dengan dentuman keras.
Setelah kepergian Nayaka, Azzura terduduk lemas di kursi makan. Ia teringat janji Satyaka semalam di telepon. Hatinya perih; pria yang seharusnya melindunginya justru abai, sementara pria yang seharusnya ia lepaskan justru menjadi satu-satunya yang bersedia mengirimkan bantuan.
Tanpa diketahui Azzura, di luar rumah, orang tuanya memantau dari kejauhan dengan senyum puas. Mereka tahu bahwa hari ini adalah waktu yang tepat bagi Azzura untuk mengetahui "hasil" dari rencana mereka, sebuah kenyataan yang akan menghancurkan kesepakatan satu bulan yang selalu dibanggakan oleh Nayaka dan Azzura.
Azzura menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Satyaka, namun hanya nada sambung yang terdengar tanpa jawaban. Ia tidak tahu bahwa saat ini Satya sedang terjebak dalam rapat penting di kantor arsitekturnya, mencoba profesional meski hatinya tidak tenang.
Karena tidak sanggup lagi menahan rasa gejolak di perutnya, Azzura akhirnya memaksakan diri memesan taksi daring dan berangkat ke rumah sakit seorang diri. Di ruang periksa yang beraroma antiseptik tajam, ia duduk dengan jemari yang saling bertaut cemas di hadapan seorang dokter senior.
Azzura menceritakan semua gejalanya, namun ia juga dengan tegas menekankan satu hal—karena rasa takut dan kesetiaannya pada Satya—bahwa ia dan suaminya sama sekali tidak melakukan hubungan badan.
Dokter tersebut mengangguk-angguk kecil sambil mencatat di papan medis, lalu memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Kalau dari cerita Ibu soal tidak adanya hubungan suami istri, kemungkinan besar ini memang murni masalah pencernaan atau asam lambung yang naik drastis karena stres," jelas dokter tersebut.
"Jadi saya tidak apa-apa, Dok?" tanya Azzura memastikan.
"Ibu kelihatannya hanya salah makan atau ada iritasi pada lambung. Nanti kami berikan obat untuk meredakan mual dan menetralkan asamnya. Pastikan istirahat cukup dan jangan terlalu banyak pikiran, ya," ucap dokter sembari menuliskan resep.
Azzura bernapas lega. Setidaknya, diagnosis itu sejalan dengan keyakinannya bahwa tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Nayaka. Ia menerima resep itu dengan tangan gemetar, merasa sedikit tenang karena berpikir bahwa "janji satu bulan" itu masih memiliki harapan.
Azzura keluar dari ruang dokter dengan perasaan sedikit lebih tenang. Resep obat di tangannya terasa seperti harapan bahwa semua mual dan sakit ini hanyalah reaksi tubuhnya terhadap stres yang luar biasa. Ia duduk di kursi tunggu apotek, menyandarkan kepala ke dinding rumah sakit yang dingin.
Sesaat kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Satyaka.
"Ra, maaf tadi aku rapat besar sama klien. Kamu gimana? Sudah ke dokter? Aku sudah pesan dokter buat ke rumahmu tapi katanya kamu sudah pergi."
Azzura tersenyum tipis, air mata hampir jatuh lagi. Di saat Nayaka membuangnya begitu saja, Satya tetap menjadi orang pertama yang mencarinya. Ia segera membalas pesan itu.
"Aku sudah di rumah sakit, Sat. Kata dokter cuma salah makan dan stres. Ini lagi nunggu obat. Kamu nggak usah khawatir ya, fokus kerja saja."
Di sisi lain kota, Nayaka sedang duduk di meja kerjanya, menatap dokumen tanpa fokus. Kalimatnya tadi pagi kepada Azzura terus terngiang, menimbulkan rasa tidak nyaman yang asing. Ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa jahat karena membiarkan wanita yang secara sah adalah istrinya pergi ke rumah sakit sendirian dalam kondisi selemas itu.
Namun, egonya kembali berbisik. Dia yang memilih ini, Nay. Dia yang setuju menikah meski tahu lo punya Damira.
Nayaka melempar pulpennya ke meja, lalu menyambar ponselnya. Ia mencari kontak Damira, ingin sekali menghubungi gadis itu untuk sekadar mendengar suaranya demi menenangkan hati. Tapi ia ragu, apakah Damira mau mengangkat telepon dari pria yang baru saja mematahkan hatinya?
Sementara itu, di apotek rumah sakit, asisten dokter yang tadi menangani Azzura tampak ragu-ragu melihat lembar hasil laboratorium yang baru keluar. Ia melihat Azzura dari kejauhan, lalu melihat catatan dokter. Ada sesuatu yang tidak sinkron antara pengakuan pasien dengan hasil tes darah yang ada di tangannya. Namun, karena jam kerja sudah hampir usai, ia hanya meletakkan berkas itu ke dalam map untuk ditinjau ulang besok.
Azzura pulang dengan kantong obat, tidak menyadari bahwa diagnosis "salah makan" itu mungkin hanyalah sebuah kesalahan awal dari rentetan kenyataan yang jauh lebih rumit.
Azzura melangkah turun dari taksi dengan kaki yang masih terasa sedikit goyah. Ia menatap bangunan kafe kecil dengan desain minimalis namun hangat yang alamatnya baru saja dikirimkan oleh Satya. Tempat ini cukup tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, seolah-olah Satya tahu bahwa mereka membutuhkan ruang yang tidak terjangkau oleh mata-mata keluarga atau kecurigaan Nayaka.
Begitu pintu kaca berdenting terbuka, aroma kopi dan kayu manis langsung menyambutnya. Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil, Satya sudah duduk menanti. Wajah pria itu langsung berubah tegang saat melihat sosok Azzura yang tampak jauh lebih kurus dan pucat dari terakhir kali mereka bertemu.
"Ra," Satya langsung berdiri, menuntun Azzura untuk duduk. "Kamu pucat sekali. Sudah minum obat dari dokter tadi?"
Azzura mengangguk lemah, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski bibirnya tampak kering. "Sudah, Sat. Katanya cuma asam lambung karena stres. Aku nggak apa-apa, benar."
Satya menghela napas panjang, tangannya bergerak ragu seolah ingin menggenggam tangan Azzura namun ia teringat di mana mereka berada. "Aku khawatir sekali. Tadi Nayaka benar-benar membiarkanmu pergi sendiri?"
"Dia... dia sibuk, Sat," jawab Azzura lirih, berusaha membela keadaan yang sebenarnya juga menyakitinya. "Lagipula, kan kita memang sudah sepakat soal satu bulan itu. Dia nggak merasa punya kewajiban apa-apa lagi padaku."
Satya terdiam. Ia teringat percakapannya dengan Damira kemarin tentang "menunda luka". Melihat Azzura seperti ini, janji satu bulan itu terasa semakin menyiksa daripada memberi harapan.
"Tadi aku bertemu Damira, Ra," ucap Satya tiba-tiba, suaranya merendah.
Azzura tersentak kecil, matanya menatap Satya dengan rasa ingin tahu sekaligus takut. "Damira? Dia... gimana?"
"Dia lebih kuat dari yang aku kira. Dia bilang, kita harus belajar bahwa luka ini nyata sekarang, bukan bulan depan. Dan melihat kamu sakit begini sendirian, aku mulai merasa bersalah karena membiarkan kamu tetap di rumah itu hanya demi sebuah janji yang belum tentu ditepati Nayaka."
Suasana di meja itu seketika menjadi berat. Di tengah aroma kopi yang menenangkan, ada dua hati yang sedang berusaha keras mempertahankan sisa-sisa harapan, tanpa menyadari bahwa kenyataan di balik "salah makan" yang didiagnosis dokter tadi pagi sedang bersiap menghancurkan segalanya.