Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Perubahan Suasana di Kelas Yasmin
Dhini dan Tegar melonjak kaget ketika Vyan berdehem. Vyan berbalik membuat suasana hening lebih lama.
"Sampai mana tadi?" tanyanya setelah kembali menghadap mereka.
"I-itu di kelas kami... " jawab Tegar memberanikan diri menjawab walau suaranya bergetar.
"Ya. Kalian lihat tadi?" tanya Vyan nadanya datar namun setiap katanya terasa seperti beban berat yang dijatuhkan ke pundak mereka. "Sandra adalah bukti hidup bahwa di sekolah ini, kebodohan dan keserakahan adalah kombinasi yang fatal."
Vyan berjalan pelan, langkah sepatunya di atas lantai terdengar seperti detak jam kematian bagi Dhini dan Tegar. Ia berhenti tepat di tengah-tengah mereka.
"Sebagai anggota OSIS, kalian punya tugas untuk mengawasi. Tapi kalian malah sibuk mengawasi satu sama lain, pacaran, dan pura-pura buta saat Yasmin diperlakukan seperti itu di depan mata kalian." Vyan menoleh ke arah Tegar. "Atau lo merasa Yasmin pantas mendapatkannya, Gar?"
"N-nggak, Kak. Sumpah!" Tegar menjawab dengan suara tercekat.
"Lalu kenapa kalian diam?" Vyan kini menatap Dhini. "Bukannya kalian yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan gue di kelas X-2? Atau lo Dhini ikut membully Yasmin?"
"Nggak... " Dhini terisak pelan. "Maaf, Kak ... A-aku cuma khawatir sama gosip yang beredar."
"Jadi kau percaya itu dan menggangap Yasmin pantas dibully?!"
Suara Vyan yang meninggi membuat Dhini semakin menciut dan menangis kencang.
"Ampun, Kak Vyan! Aku ga akan bully lagi. Jangan kasih aku lipstik biru! Waaa.... "
Tegar terkejut dan segera menepuk-nepuk pelan punggung Dhini. Vyan memijit keningnya.
"Berhenti nangis! Berisik!"
Tegar segera menutup mulut Dhini. Dhini mengangguk dengan air mata tetap bercucuran.
"Pokoknya gini. Mulai besok, gue nggak mau dengar ada satu goresan pun di meja Yasmin. Gue nggak mau liat ada satu sobekan pun di bukunya. Dan gue nggak mau liat dia sendirian di kelas." Vyan menjeda sejenak, membiarkan ancamannya meresap.
Tegar dan Dhini yang merapatkan bibirnya menahan tangis mengangguk-angguk dengan cepat.
"Kalau sampai gue tahu ada orang yang menyentuh Yasmin lagi, gue nggak akan cari pelakunya. Gue akan cari kalian. Karena buat gue, kegagalan lo berdua menjaga dia berarti lo bagian dari pelaku."
"Kami mengerti, Kak. Kami janji," sahut Tegar dengan cepat, nyaris putus asa.
"Bagus. Pastikan aku tidak mendengar laporan semacam ini lagi dari kelas kalian. Siapa pun yang mengusik Yasmin, urusannya langsung sama gue." Vyan kembali ke kursinya.
"Kami paham, Kak Vyan," ucap Tegar. Sedangkan Dhini sudah tak bisa bersuara.
"Sekarang keluar. Dan ingat pesan gue tadi, jangan ada yang bolos besok."
Dhini dan Tegar segera berbalik, setengah berlari menuju pintu. Begitu mereka keluar, Agil yang sejak tadi berjaga di luar, masuk dan menutup pintu dengan suara klik yang tajam.
Vyan geleng-geleng lalu tersenyum dan akhirnya tertawa.
"Gil, emang gue seserem itu ya? Tadi gue batuk doang mereka kagetnya kayak denger suara bom. Pokoknya gue nahan tawa waktu itu. Eh, si Dhini malah mewek kayak bocah... ampun! Padahal kalem aja sih, takut amat dapat lipstik biru."
Agil hanya menghela napas. "Lu sih seneng banget nakutin anak orang."
"Kalau ga punya dosa, ga bakal takut kali," kilah Vyan.
Agil hanya geleng-geleng. "Terus gimana masalah Pak Danu yang ngeluh kebocoran soal udah beres?"
Vyan termenung. Dia sebenarnya nemu fotokopian soal yang gagal di tempat sampah ruang fotokopi sekolah. Disitulah muncul ide menjebak Sandra. Zaki yang menawari Sandra soal dengan akun anonim seolah itu hanya pesan berantai. Hanya ternyata Sandra tidak membelinya. Tidak masalah baginya, karena tidak ada bedanya.
Tadinya dia mau memutus rasa penasaran Pak Danu tentang kebocoran soal dengan isu jual beli oleh oknum yang bakalan sulit dilacak karena bukan dari sekolah. Dia akan memperlihatkan chat broadcast Zaki yang juga mampir ke BBM nya.
Namun kemarin saat melewati ruang guru, mendengar obrolan Pak Danu dan Pak Yoga.
"Tapi Pak Yoga, saya benar-benar ingat draf yang salah cetak itu saya buang di ruang fotokopi pagi-pagi sekali," suara Pak Danu terdengar cemas. "Apa mungkin ada siswa yang menggeledah tempat sampah? Kalau benar, ini sudah masuk pelanggaran berat."
Vyan menahan napas di balik dinding. Tangannya mengepal. Ia merutuki kecerobohannya karena tidak terpikir bahwa Pak Danu akan sedetil itu mengingat lokasi pembuangan sampah.
"Pak Danu... Anda ini terlalu perfeksionis," terdengar suara Pak Yoga yang tenang, disusul bunyi gesekan kursi. "Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atau mencurigai hal-hal dramatis seperti penggeledahan tempat sampah. Meja fotokopi itu kan dilewati banyak orang, termasuk petugas kebersihan dan staf tata usaha."
"Justru itu! Bagaimana kalau ada yang mengambilnya?"
"Begini," Pak Yoga menjeda, suaranya merendah namun berwibawa. "Kemarin saya tidak sengaja melihat log komputer di warnet depan saat mencari materi. Ada situs forum belajar yang isinya memang arsip soal-soal lama sekolah kita dari tahun 2010 sampai 2012. Kebetulan, draf yang Anda buat itu kan modifikasi dari soal lama. Sangat mungkin anak-anak itu hanya beruntung menemukan arsip yang mirip di internet."
"Tapi kertas yang di bawah meja Sandra itu... seperti hasil fotokopi dari draf saya."
"Pak, dengarkan saya," suara Pak Yoga kini terdengar lebih tegas. "Kalau Anda memperpanjang masalah ini dengan tuduhan 'pencurian sampah', sekolah akan terlihat sangat ceroboh dalam menjaga dokumen. Nama baik Anda sebagai guru senior juga taruhannya. Saran saya, katakan saja pada Kepala Sekolah bahwa itu hanya kebocoran arsip lama yang sudah Anda antisipasi."
"Maksud Anda?"
"Toh, Anda bilang sendiri kan kalau itu soal tahun lalu dan bukan versi final yang Anda gunakan untuk ujian tadi? Berarti secara teknis, tidak ada kebocoran soal ujian. Yang bocor hanyalah draf sampah yang sudah tidak berlaku. Anggap saja Sandra CS itu bodoh karena belajar dari sumber yang salah. Berikan mereka nilai nol karena membawa kertas ke dalam kelas, dan buat soal baru yang benar-benar segar untuk susulan. Masalah selesai, tanpa ada drama investigasi."
Hening sejenak. Pak Danu tampaknya sedang menimbang-nimbang harga dirinya.
"Mungkin Anda benar, Pak. Daripada jadi skandal besar yang memalukan dan itu kecerobohan saya sendiri... lebih baik saya anggap ini masalah kedisiplinan siswa saja."
"Tepat. Lagi pula, sudah menjadi rahasia umum kalau anak-anak sekarang memang sering main di warnet untuk mencari 'jalan pintas'. Kita tidak bisa mengontrol internet, Danu."
Vyan termenung. Dia bukan merasa diselamatkan. Dia merasa curiga dan kesal pada Pak Yoga. Guru muda itu selalu begitu, terlalu banyak tahu tapi seringkali menutupinya atau pura-pura tidak tahu. Bukannya senang, Vyan merasa tersentil.
Dia mencurigai sikap Pak Yoga ini ada udang dibalik batu. Karena dia adalah satu-satunya orang yang mungkin bisa menghancurkan reputasinya di sekolah, kapan pun dia mau. Karena itu Vyan merasa waswas seolah Pak Yoga sedang memegang senapan di balik punggungnya dan siap menembaknya kapan saja.
Namun, untuk menyingkirkan Pak Yoga, bukanlah hal mudah. Vyan sama sekali tidak melihat celahnya. Malah dia merasa, Pak Yoga akan menyerangnya duluan sebelum dia bergerak. Karena hal itulah dia membenci guru itu. Satu-satunya guru yang bisa dia hadapi dengan cara yang dingin dan ketus, ataupun dia serang secara terang-terangan. Dan anehnya, Pak Yoga selalu tersenyum menanggapinya, seolah menanggapi bocah yang sedang merajuk.
"Jadi gimana?" tanya Agil khawatir.
Kali ini dia memang tidak terlibat secara langsung tapi dia khawatir suatu saat Vyan akan tersandung juga.
"Aman kok, Pak Danu ga bakal mempermasalahkannya lagi."
Agil mengangguk lega.
"Terus, gimana sama temen-temen Yasmin yang lainnya, yang suka bully Yasmin? Apa mereka ga perlu kena sanksi?" tanya Agil penasaran.
Vyan tersenyum. "Kan, udah ada Dhini dan Tegar. Mereka ga akan bisa tenang lagi di kelas. Lihat aja."
Agil mengerutkan alis membayangkan sesuatu yang mungkin belum terbayangkan olehnya.
...****************...
Keesokan harinya di kelas Yasmin.
Yasmin baru saja memegang gagang sapu ketika Tegar tiba-tiba muncul dan merebutnya.
"Sini, Yas. Biar gue aja yang lanjutin," ucap Tegar dengan nada suara yang dipaksakan ramah, meski wajahnya masih tampak sedikit tegang.
Yasmin berkedip bingung. "Eh? Tapi kan hari ini jadwalku piket."
"Siapa lagi yang piket hari ini?" tanya Tegar.
Yasmin mengitarkan pandangan. Belum banyak yang datang ke kelasnya.
"Yana ...," tunjuk Yasmin sambil menatap Yana yang sedang main game di BlackBerry-nya.
Ponsel mereka memang masih bisa dipakai kalau bel masuk belum bunyi. Kalau bel sudah bunyi, mereka wajib mematikan ponsel dan menyimpannya di keranjang khusus atau menaruhnya di loker masing-masing.
"Yana!" Tegar berseru, membuat Yana tersentak. "Sini lo! Piket yang bener. Jangan biarin Yasmin kerja sendirian terus. Cepetan!"
Yana melongo. Tegar memang ketua kelas tapi biasanya tidak begitu berfungsi karena lebih sibuk di OSIS ataupun pacaran. Namun kali ini, melihat tatapan Tegar yang tidak biasa, ia segera bangkit dan menyambar serbet dengan malas. Di sisi lain, Dhini mendekati Yasmin yang masih mematung.
"Yas, mending kamu duduk aja. Capek, kan?" Dhini merangkul bahu Yasmin, membawanya ke bangku. "Oya, ada PR Matematika atau Biologi yang susah nggak? Sini, aku bantuin kalau ada yang bingung."
Reka yang baru sampai di pintu, dan menyaksikan itu sambil mematung, tampak terbelalak. Apa-apaan ini? Kenapa Dhini dan Tegar mendadak jadi perhatian pada Yasmin?
...****************...
Author cuma mau bilang, Sori, Dean. Pengorbanan lu kayaknya sia-sia 😢