Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalkulator
"Bang Ano mending jagain Lusi aja. Ntar malah pada remuk empingnya. Kena omel Aki loh nanti." Yudi menjauhkan tangan Ziano yang ikut-ikutan menata emping plastik kemas.
"Gue bantuin, tenang aja. Bisa gue kayak ginian doang mah. Lagian Lusi juga lagi anteng tuh mewarnai."Ziano melambaikan tangan karena saat menunjuk ke arah sana, Lusi kebetulan tengah menengok padanya.
"Itu bocah mau jadi pelukis kali yah, anteng banget kalo urusan mewarnai." lanjutnya seraya memasukan emping satu persatu dengan hati-hati.
"Bang nggak gitu juga sih." Yudi menggambil platik di tangan Ziano.
"Masukin banyak kayak gini langsung juga nggak apa-apa. Asal jangan diteken aja, dia nggak bakal remuk." jelasnya sambil memberi contoh.
"Nah kira-kira segini." Yudi mengangkat plastik yang sudah terisi dan menunjukan batas sampai mana pengisian maksimalnya.
"Oke." Ziano tak butuh waktu lama untuk belajar packing. Hal itu sangat mudah dibanding angkut-angkut.
"Segini cukup?" untuk memastikan Ziano menunjukan hasil packing pertamanya.
Yudi mengacungkan jempol. "sip! segitu cukup, bang."
"Hm kurang dikit sih ini tapi nggak masalah." ralatnya saat menimbang hasil kemasan Ziano.
"Maklumlah, gue kan bukan timbangan." balas Ziano.
"Iya bang. Lanjut aja nggak apa-apa, nanti gampang aku tambah atau dikurangi sambil nimbang supaya pas. Segini juga udah luar biasa. Aku pikir tadi abang malah bakal bikin semua ancur kayak biasanya." ledek Yudi.
"Lo kira gue be go apa gimana? semua juga butuh proses lah. Kemaren-kemaren masih kaget gue, belum biasa."
"Kalo sekarang udah biasa, bang?"
"Lumayan lah." jawab Ziano.
"Yud, lo kerja disini udah lama?" tanyanya kemudian.
"Lumayan, bang. Dari kelas satu SMK kerja disini."
"Dari masih sekolah?" Ziano lumayan kaget mendengarnya. Bisa-bisanya kerja sambil sekolah.
"Iya, bang. Udah empat tahun." jawab Yudi.
"Alhamdulillah aku lulus sekolah juga berkat Aki." Yudi menyimpan sejenak plastik emping yang hendak ia steples.
"Bapak meninggal karena kecelakaan waktu aku kelas satu. Ibu yang semula cuma ibu rumah tangga mulai kerja serabutan yang tentu nggak cukup buat biaya hidup sehari-hari, adikku juga baru masuk SMP waktu itu. Aku nyaris putus sekolah, tapi Aki dan Ambu ngerangkul aku dan keluarga di saat semua saudara menjauh. Panjang lah Bang kalo diceritain." lanjutnya dengan mata sedikit berkaca.
Ziano menepuk pundak Yudi, "lo hebat, ibu lo juga hebat."
"Aki sama Ambu sih yang lebih hemat, mau merangkul kami bahkan tampa pamrih waktu itu. Makanya aku mau kerja disini, padahal yang lain pada ke kota."
"Tapi Aki galak." Sela Ziano.
"Galak di luar doang bang, aslinya baik banget." jawab Yudi, "buktinya Abang juga ditampung disini kan?"
Ziano tertawa mendengarnya. Ingin membantah apa yang dikatakan Yudi tapi tak bisa. Itu semua benar adanya. Pilihannya kali ini hanya melanjutkan memasukan benda bulat pipih itu ke dalam plastik dengan telaten.
"Yud..."
"Apa bang?"
"Kalo lo udah lama kerja disini berarti lo tau dong kenapa Aki Dikun sama Ara tadi ribut?"
"Tau lah bang. Bahkan satu kampung juga tau kalo soal itu mah."
"Kenapa? kenapa?" Ziano menggeser duduknya mendekati Yudi.
"Ya karena Aki nggak mau Ara deket-deket sama Marcel, bang."
"Lah! kalo itu gue juga tau!" Ziano jadi kesal, bisa-bisanya Yudi tak paham maksudnya.
"Maksud gue tuh alasan kenapa Ara nggak boleh deket sama Marcel, Yud!" saking gemasnya ia sampai hampir melempar emping di tangannya.
Belum mendapat jawaban, suara Ara yang memanggilnya membuat Ziano beranjak dari sana. "ntar ceritain yah!" ucapnya sebelum pergi.
"Gue lagi bantu Yudi bungkusin emping. Kenapa, Ra?" tanya Ziano begitu keluar dari warung sambil menepuk-nepukan tangannya membersihkan butiran-butiran emping.
"Anterin ke depan, nyari kalkulator. Besok aku ujikom internal tapi kalkulatornya mati." jawab Ara. Semua jadi ribet gara-gara ketahuan Abah. Sekarang kemana-mana harus sama Ziano. Padahal biasanya ia bebas pergi sendiri kecuali berangkat dan pulang sekolah dianter Yudi.
"Siap. Gue bilang ke Aki dulu kalo gitu."
"Nggak usah, A. Aku udah bilang, kata Abah boleh asal sama Aa."
"Oke. Lusi ajakin juga?"
"Uci jangan diajak, udah mau maghrib." ucap Ambu Yayat yang baru keluar dari warung, "biar Uci sama Ambu. Nono anter Neng Ara aja. Hati-hati di jalannya."
"Iya, Ambu." jawab Ziano.
"Kalo gitu Ara berangkat sekarang Ambu." pamitnya seraya menyalami Ambu Yayat. Celingak celinguk tapi akhirnya Ziano melakukan hal yang sama.
Menyalami Ambu Yayat berasa menyalami Oma Jesi. Ziano jadi kangen keluarganya, terutama adiknya Raizel. Ia janji akan membawakan Raizel banyak oleh-oleh saat pulang nanti, bahkan bisa juga mengajak gadis itu mein kesini. Membayangkan si ratu Jeli hidup di kampung membuat Ziano reflek tersenyum, pasti rewel banget itu bocah.
"Malah senyam-senyum! ini kuncinya A!" seru Ara.
"A Ano? heloo?" Ara mengibas-ngibaskan kunci di depan wajah Ziano.
"Sorry! sorry!" Ziano menyambar kunci dari tangan Ara.
"Gue tiba-tiba keinget Jeli." jelasnya kemudian sambil menyalakan motor.
"Jeli? Agar-agar?" tanya Ara.
Ziano hanya menahan tawa mendengarnya.
Ara naik dengan santai. Mereka menyusuri jalan cor-coran yang diapit oleh sawah kanan kirinya. Padi yang baru ditanam itu berjajar rapidengan ujung pemandangan gunung yang membentang dan jingganya langit kala mentari mulai turun.
"Ra..."
"Iya, A..."
"Jeli itu bukan agar-agar, dia adek gue. Namanya Raizel, kalo dia ada disini pasti udah pengen turun, jalan digalengan sambil foto-foto buat ngasih makan pinterest nya."
"Kurang kerjaan banget foto di galengan." cibir Ara.
"Buat lo mungkin pemandagan kayak gini biasa, tapi bagi gue pribadi ini bagus banget. Bahkan ini berpeluang dijadiis bisnis. Ladang cuan lah."
"Apaan sih nggak jelas. Mana bisa sawah kayak gini jadi bisnis." bantah Ara, "bisnisnya yah cuma gini, ditanami, panen, jual. Jadi duit deh."
Ziano melihat Ara dari spion, poninya berantakan tertiup angin dan lesung pipi yang muncul saat ia tersenyum begitu manis. Tanpa sadar membuat dirinya juga ikut menarik sudut bibir.
Kini Ziano dan Ara duduk di depan angkringan, menunggu sosis dan beberapa sate yang sudah mereka pesan selesai di masak.
Ara membuka kalkulator barunya dan mulai mencobanya. Padahal tadi udah dicobain, tapi namanya barang baru pasti pengen terus-terusan ngotak-ngatik. Tak lama Ziano melihat gerak gerik Ara yang mencurigakan. Rupanya ada Marcel di seberang jalan. Keduanya malah kode-kodean. Meski tak bicara Ziano tau, yang satu pengen ketemu yang satu ngelarang.
"Gue bakal biarin lo ketemu sama Marcel tanpa lapor ke Aki kalo lo bisa ngasih alasan yang masuk akal."Ziano berdiri di depan Ara, menghalangi gadis itu memberi kode pada pemuda di seberang jalan.
"Nggak ah! ntar Aa muka dua. Ke aku gini ke Abah gitu.." jawab Ara sambil cemberut. Ia memutar posisi duduknya, tak lagi melihat Marcel.
"Makanya cerita, biar gue bisa ambil pilihan." ucap Ziano.
"Aki orang baik, gue nggak mau ngecewain dia. Tapi disisi lain juga gue nggak mau bikin hidup lo susah." lanjutnya.
"Janji Aa bakal ada dipihak aku?"
"Cerita dulu!"
Ara diam sejenak. Jari jemarinya saling bertaut, seolah sedang membuat pilihan cerita nggak? tapi pada akhirnya ia menghela nafas panjang sambil menatap Ziano.
"Aa nggak pernah liat orang tua Lusi kan?"
Ziano mengangguk.
Sekali lagi Ara menghela nafas panjang. Belum bicara apa-apa tapi matanya sudah berkaca-kaca. Bibir bawahnya digigit rapat-rapat seiring iar mata yang mulai mengalir.
"Teh Nayes sama A Rudi meninggal, Lusi..." belum selesai bicara ia sudah lebih dulu terisak. Dadanya terasa sakit, bernafas pun begitu berat. Kejadian tiga tahun lalu kembali muncul dengan begitu jelas. Kakak satu-satunya terbaring tak berdaya dengan darah yang mengubah warna aspal jalan di tengah teriknya matahari itu menjadi merah.
"Alah..." Ziano jadi binggung melihat Ara yang menangis terisak, terlebih orang-orang yang sedang ada di angkringan jadi fokus pada mereka.
"A dikumahakeun eta si neng kat ceurik kitu?" (A diapain itu sampe nangis gitu?)
"Karunya teuing kat sesegukkan kitu." (kasihan banget sampe terisak gitu)
"Neng ulah ditangisan mun lalaki selingkuh mah, bales we!" (neng, jangan ditangisin kalo cowoknya selingkuh, bales aja!)
"Enya bener. Loba ieuh lalaki mah lain ngan hiji. Sanajan kasep oge sih kabogoh neng." (iya, bener. Banyak ini lelaki yang lain, nggak cuma satu. Ya meskipun pacar neng ganteng.)
"Lah kasep ge ari teu bener mah jang naon!" (lah ganteng juga kalo nggak bener buat apa!)
Dan masih banyak lagi celotehan-celotehan orang-orang di sekitar mereka. Bukannya diam, Ara malah makin terisak.
Ziano memijit pelipisnya. Ini kalo Jeli yang nangis seperti ini pasti udah ia getok kepalanya. Tapi ini Ara, wajah gadis itu begitu menderita.
"Sorry udah maksa lo cerita." Ziano mengelus pelan punggung Ara dengan canggung.
Ara menatap Ziano dengan terisak. Parahnya semakin dielus tangisnya malah makin menjadi-jadi, membuat Ziano frus tasi karena tatapan orang-orang di sekitar yang penuh intimidasi.
"Ya elah nyesel gue nyuruh lo cerita, Ra!" batinnya.
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
contok~contoh
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏