Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Gunung Es
Suasana di dalam gang kecil pemukiman padat penduduk itu mendadak terasa jauh lebih sempit, sesak, dan menekan sejak kemunculan Arsen.
Lampu-lampu pijar redup kekuningan yang menggantung di sekitar kedai sederhana milik Alana seolah-olah kehilangan dayanya, meredup kalah bersaing dengan aura dingin dan intimidasi mutlak yang memancar dari tubuh tegap pria dewasa tersebut.
Pria itu berdiri kokoh, mendominasi seluruh ruang visual dengan kemeja gelapnya yang terkesan angkuh.
Alana masih duduk mematung di kursi plastiknya, tepat di seberang Axel. Kedua tangan yang tadinya menopang dagu dengan santai kini mendadak turun dan mencengkeram pinggiran celana joroknya.
Otaknya yang sudah kelelahan setelah seharian dipaksa berpikir di bangku perkuliahan, kini benar-benar dipaksa berhenti bekerja, gagal memproses kenyataan gila yang sedang tersaji tepat di depan matanya.
Pak Arsen.
Dosen killer paling perfeksionis, paling dingin, dan paling ditakuti di seluruh fakultasnya, kini sedang berdiri di dekat meja kedai ayam geprek rumahan yang sederhana.
Malam-malam.
Dan yang membuat jantung Alana serasa melompat keluar dari rongga dadanya adalah kenyataan sekunder yang baru saja terungkap: Axel, bocah misterius berwajah datar yang dua malam ini menumpang makan di depannya, ternyata adalah putra sulung dari dosen menyebalkan tersebut.
"Ya Allah..." gumam Alana teramat pelan, nyaris tenggelam dalam desau angin malam. Ia tidak berani langsung berdiri, merutuki nasib sialnya yang entah bagaimana bisa selalu terikat dengan pria bernama Wijaya ini.
Sementara di sisi lain meja plastik, Axel perlahan menggeser kursinya ke belakang dan berdiri tegak.
Begitu sosok sang ayah melangkah mendekat memasuki batas pendar lampu kedai, seluruh kehangatan dan ekspresi sedikit melunak yang sempat diperlihatkan Axel kepada Alana beberapa menit lalu langsung lenyap tanpa bekas.
Wajah bocah dua belas tahun itu kembali kosong, mengeras, dan kaku seperti biasanya.
Namun, sorot matanya kini berubah menjadi jauh lebih dingin dan tajam, sebuah bentuk pertahanan diri yang otomatis aktif setiap kali berhadapan dengan otoritas sang ayah.
Arsen melangkah maju dua hitungan, suara ketukan pantofelnya di atas lantai semen terdengar begitu konstan dan mengancam.
Tatapan matanya yang setajam elang langsung turun, berhenti tepat pada piring anyaman bambu bekas makan yang sudah kosong bersih di atas meja plastik.
Detik berikutnya, netra elang itu bergerak ke samping, menatap Alana yang masih duduk kaku dengan pandangan menilai yang dingin, sebelum akhirnya berpindah lurus mengunci sosok Axel.
Ekspresi wajah Arsen terlampau datar. Tidak ada bentakan, tidak ada urat leher yang menegang, dan justru ketenangan yang ekstrem itulah yang membuat atmosfer di sekitar mereka terasa jauh lebih mengerikan dan mencekam.
"Menarik," satu kata itu keluar pelan, bergetar rendah dari bilah bibir Arsen yang tipis.
Alana refleks menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.
Di dalam kepalanya, ia bertanya-tanya kenapa nada suara dosennya ini selalu terdengar seperti seorang bos mafia besar yang baru saja menemukan sebuah pengkhianatan fatal di dalam organisasinya.
Axel memilih untuk tetap diam mematung, sementara Alana yang sudah tidak tahan dengan keheningan yang menyiksa ini mulai didera kepanikan massal di dalam hatinya.
Ia mencoba memberanikan diri untuk membuka suara, bermaksud mencairkan ketegangan sebelum suasana berubah menjadi arena pertumpahan darah verbal. "Eh... anu, maaf sebelumnya, Pak Arsen... ini tuh sebenarnya—"
"Jadi ini alasanmu pergi larut malam dan mengabaikan puluhan panggilan?" suara bariton Arsen yang berat langsung memotong ucapan Alana begitu saja tanpa ampun.
Tatapannya sama sekali tidak beralih dari Axel, seolah-olah menganggap keberadaan Alana di sana tak lebih dari sekadar dekorasi latar belakang.
Namun entah bagaimana, tekanan udara dari ucapan pria itu terasa ikut menghantam ulu hati Alana.
Axel tidak bergeming. Ia justru memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku jaket hitamnya, menegakkan bahu demi menantang tatapan sang ayah. "Aku lapar."
"Apa di rumah sebesar itu tidak menyediakan makanan yang layak untukmu?" tanya Arsen, intonasinya naik satu oktav, dingin dan menusuk.
"Aku tidak mau makan di rumah," jawab Axel telak, menggunakan kata aku dengan penekanan yang berani.
Jawaban jujur namun sarat akan pembangkangan dari sang putra sukses membuat rahang kokoh Arsen sedikit mengeras.
Garis kemarahan samar mulai tercetak di pelipisnya. Hening kembali merayap, jauh lebih pekat dan menekan dari sebelumnya.
Alana duduk kikuk di tengah-tengah kedua orang tersebut, merasa seperti seekor kancil yang tidak sengaja terjebak di ruang sempit di antara dua gunung es raksasa yang sama-sama keras, kaku, dan mengintimidasi.
Bedanya, yang satu adalah gunung es versi dewasa yang sudah matang atau malah kematangan, dan yang satunya lagi adalah versi mini yang sedang bertumbuh.
Arsen akhirnya mengalihkan pandangannya, melirik lurus ke arah Alana yang masih duduk membeku di kursinya. Tatapan tajam yang biasa digunakan di dalam ruang kelas untuk menguliti mental mahasiswa itu kini langsung membuat Alana refleks menegakkan posisi duduknya, seperti seorang prajurit yang sedang diinspeksi oleh komandannya.
"Jadi... Kamu yang memberinya makan malam ini, Saudari Alana?" tanya Arsen. Nada suaranya terdengar sangat formal, namun ada selipan sarkasme yang kentara di sana.
"Eh... iya, Pak," Alana memaksakan sebuah senyuman canggung yang terlihat sangat tidak alami, lalu perlahan bangkit berdiri dari kursi plastiknya untuk menghormati sang dosen, meskipun kakinya terasa agak lemas. "Soalnya... tadi Axel kelihatan lapar banget pas datang ke sini. Kebetulan kedai saya baru mau tutup, jadi saya buatin porsi terakhir."
"Dan kamu rupanya cukup akrab, ya, dengan anak laki-laki yang mungkin baru kamu kenal dalam waktu singkat?" sambung Arsen lagi.
Pria matang itu maju satu langkah, memperpendek jarak hingga bayangan tubuh tingginya seolah mengurung meja plastik tersebut.
"Bebenah kedai di jam segini, tapi kalian masih betah duduk mengobrol berduaan di pinggir jalan tanpa memikirkan kecemasan orang dirumahnya."
Alana mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa tidak terima dengan arah pembicaraan ini.
Kalimat Arsen barusan tidak hanya terdengar seperti tuduhan, tetapi juga seolah-olah menilai Alana adalah mahasiswi kurang kerjaan yang sengaja menahan anak orang di warungnya untuk diajak mengobrol.
Pikiran Alana berputar liar. Di satu sisi, egonya sebagai pemilik kedai yang jujur merasa tersinggung.
Namun di sisi lain, ia sadar betul pria di depannya ini punya kuasa untuk memberi nilai E di kartu hasil studinya besok pagi.
Alana meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin, mencoba menyusun kalimat defensif yang aman, tetapi situasi di antara ayah dan anak itu justru bergerak jauh lebih cepat dari kalkulasi otaknya.