Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKDIR GU YANRAN
Hari semakin gelap. Cahaya matahari terakhir perlahan tenggelam di balik pegunungan ibu kota, meninggalkan semburat jingga suram di langit barat. Di dalam aula kediaman keluarga Gu, suasana terasa sunyi. Hanya suara angin malam yang sesekali menyusup melalui celah jendela.
Setelah mendengar seluruh cerita dari Jenderal Gu Zhengyuan, Mo Chen terdiam cukup lama. Tatapannya kosong menatap lantai batu di depannya. Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, hatinya benar-benar dipenuhi kebingungan.
Selama ini ia selalu menganggap semua yang terjadi hanyalah bagian dari novel yang pernah ia tulis sendiri. Semua tokoh, semua konflik, bahkan tragedi keluarga Gu, ia pikir hanyalah alur cerita yang telah ditentukan.
Namun kini, setelah mendengar langsung bagaimana Gu Zhengyuan berbicara tentang putrinya, melihat rasa sakit di matanya, dan merasakan suasana nyata di sekelilingnya, keyakinannya mulai goyah.
“Ini… benar-benar terasa nyata,” batin Mo Chen.
Ia mulai berpikir keras. Jika dunia ini memang hanya novel yang ia tulis, mengapa ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui? Mengapa cerita masa lalu keluarga Gu tidak pernah ia ciptakan? Dan mengapa setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi sungguhan?
Apakah karena dirinya hanya menulis garis besar ceritanya saja?
Namun jika memang hanya dunia novel… seharusnya tidak terasa seperti ini.
Mo Chen terus tenggelam dalam pikirannya.
Melihat Mo Chen terdiam terlalu lama, Gu Zhengyuan akhirnya menepuk pundaknya pelan.
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara berat namun tenang.
Mo Chen sedikit tersentak dari lamunannya. Ia segera menoleh ke arah sang jenderal.
“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis. “Aku hanya terlalu terhanyut dalam cerita Anda.”
Gu Zhengyuan menatapnya beberapa saat. Tatapan itu berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi kewaspadaan ataupun sikap dingin seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Untuk sesaat, cara pria tua itu memandang Mo Chen terasa sama seperti saat ia memandang Gu Yanran.
Lembut… dan penuh kehangatan seorang ayah.
“Kau anak yang baik,” ucap Gu Zhengyuan perlahan.
Mendengar perkataan itu, mata Mo Chen langsung membesar. Ia benar-benar terkejut.
“Apa bisa Anda ulangi?” tanyanya cepat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Gu Zhengyuan langsung berdehem pelan lalu memalingkan wajahnya.
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
Setelah itu ia berdiri dan membelakangi Mo Chen.
“Kau pergilah. Hari sudah mulai gelap.”
Melihat sikap canggung sang jenderal, Mo Chen diam-diam tersenyum kecil. Sebenarnya ia sudah mendengar dengan jelas. Ia hanya sengaja ingin menggoda pria tua keras kepala itu.
“Kalau begitu… aku pulang dulu, Ayah,” ucap Mo Chen sambil tertawa kecil.
Gu Zhengyuan langsung menoleh tajam.
“Siapa yang ayahmu?” jawabnya cepat.
Meski nada suaranya tetap tegas, ekspresinya jelas berbeda dari biasanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, seakan ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sedang menahan senyum.
Mo Chen tertawa ringan sebelum akhirnya membungkukkan badan hormat.
“Baik, Jenderal Gu.”
Setelah itu ia berjalan keluar dari aula dan meninggalkan kediaman keluarga Gu.
Malam mulai turun sepenuhnya. Lampu-lampu lentera di sepanjang jalan ibu kota mulai menyala satu per satu, menerangi suasana malam yang dingin.
Mo Chen berjalan perlahan sambil menarik napas panjang.
“Tugas berikutnya… menemui Kaisar,” gumamnya pelan.
Namun langkahnya terasa berat.
Ia tidak berniat makan malam ataupun beristirahat. Pikirannya terus dipenuhi sosok Gu Yanran.
Wanita itu sekarang sedang berada di perbatasan, menghadapi bahaya besar sendirian.
Semakin dipikirkan, dada Mo Chen terasa semakin sesak.
Ia tahu betul bagaimana alur cerita asli berjalan.
Di dalam novel, Berita Kematian Gu yanran adalah awal dari kehancuran keluarga Gu.
Dan kini… semuanya benar-benar sedang terjadi walaupun alurnya berbadan tapi tujuan akhirnya sama.
Ini semua adalah rencana kaisar.
---
Di sisi lain, Gu Yanran akhirnya tiba di wilayah perbatasan bersama seratus prajurit yang dibawanya dari ibu kota.
Langit di daerah itu tampak suram. Angin dingin bertiup membawa debu dan aroma darah samar yang masih tertinggal dari peperangan sebelumnya.
Penduduk desa segera berkumpul begitu melihat kedatangan pasukan kekaisaran.
Namun ekspresi mereka tidak menunjukkan harapan.
Sebaliknya… mereka justru tampak cemas.
Ketika melihat bahwa yang datang hanyalah seorang panglima wanita bersama seratus prajurit, keraguan mulai terdengar di mana-mana.
“Seorang panglima wanita bersama seratus prajurit?” ucap seorang pria tua dengan wajah pucat. “Apa kalian berniat mati bersama kami?”
Ucapan itu membuat suasana menjadi semakin sunyi.
Penduduk lainnya ikut menundukkan kepala.
“Benar… bahkan sepuluh ribu prajurit belum tentu mampu menghadapi mereka.”
“Kenapa kekaisaran hanya mengirim pasukan sekecil ini?”
“Apakah Kaisar sudah menyerah pada kami?”
Gu Yanran hanya berdiri diam mendengar semua itu. Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Ia tahu ketakutan mereka sangat wajar.
Musuh yang mereka hadapi bukan pasukan biasa. Mereka terkenal kejam dan tidak pernah meninggalkan korban hidup ketika menyerang desa perbatasan.
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba maju sambil menahan air mata.
“Panglima Gu… kami mohon, kembalilah.”
“Kami tidak ingin Anda ikut mati di sini.”
Penduduk lainnya ikut mengangguk.
Mereka tidak membenci Gu Yanran.
Sebaliknya, mereka semua mengenalnya dengan sangat baik.
Di mata rakyat perbatasan, Gu Yanran bukan sekadar seorang panglima muda.
Ia adalah sosok yang selalu berdiri paling depan ketika perang terjadi.
Sosok wanita kuat yang melindungi rakyat tanpa takut kehilangan nyawanya sendiri.
Selama bertahun-tahun, mereka melihat bagaimana Gu Yanran bertarung bersama ayahnya menjaga wilayah perbatasan.
Ia selalu membantu rakyat kecil.
Membagikan makanan ketika musim dingin tiba.
Melindungi anak-anak desa dari serangan bandit.
Dan berdiri di garis depan setiap kali musuh menyerang.
Karena itu, mereka tidak tega melihatnya dikorbankan oleh kekaisaran.
Semua orang tahu Kaisar tidak memperlakukan keluarga Gu dengan adil.
Namun rakyat biasa seperti mereka tidak punya kekuatan untuk melawan keputusan istana.
Gu Yanran memandang semua orang di depannya satu per satu.
Tatapannya tenang.
Lalu perlahan, ia tersenyum kecil.
“Kalian tenang saja,” ucapnya lembut.
“Aku sudah berada di sini.”
Ia melangkah maju beberapa langkah.
“Aku tidak akan membiarkan satu orang pun terluka.”
Suara Gu Yanran tidak keras, tetapi penuh keyakinan.
Entah mengapa, hanya dengan mendengar perkataannya, hati penduduk desa perlahan mulai tenang.
Beberapa orang bahkan sampai menitikkan air mata.
Mereka tahu… Gu Yanran tidak pernah mengingkari janjinya.
Melihat suasana mulai stabil, Gu Yanran segera menyusun strategi.
Ia memanggil seluruh prajuritnya dan membagi tugas dengan cepat.
“Sepuluh orang berjaga di setiap sudut desa.”
“Pastikan tidak ada celah.”
“Laporkan segera jika menemukan sesuatu yang mencurigakan.”
Seluruh prajurit langsung menjawab serempak.
“Baik, Panglima!”
Gu Yanran kemudian menunjuk beberapa orang lainnya.
“Kalian ikut denganku berpatroli.”
“sisanya berjaga disini”
Meski jumlah pasukan mereka sedikit, gerakan Gu Yanran sangat teratur. Ia memanfaatkan medan desa dan posisi bangunan untuk memperkuat pertahanan.
Melihat semua itu, salah satu prajurit muda tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
“Nona Gu benar-benar hebat,” bisiknya pelan kepada rekannya.
“Di usia semuda ini, dia sudah sangat memahami strategi perang.”
Prajurit lainnya mengangguk setuju.
“Tidak heran Jenderal Gu selalu membanggakannya.”
Malam itu akhirnya berlalu dengan cukup tenang.
Belum ada serangan besar dari musuh.
Namun Gu Yanran tahu ketenangan ini hanyalah sementara.
Musuh belum bergerak bukan karena takut.
Mereka sedang mencari kesempatan.
Karena itu, Gu Yanran tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.
Ia terus mengirim patroli ke berbagai desa kecil di sekitar perbatasan.
Selain berjaga, mereka juga mencari kemungkinan adanya mata-mata yang telah menyusup lebih dulu.
Api unggun menyala di beberapa sudut desa. Para prajurit berjaga sambil menggenggam senjata mereka erat-erat.
Sementara itu, Gu Yanran berdiri sendirian di atas tembok pertahanan desa.
Angin malam meniup rambut panjangnya perlahan.
Tatapannya mengarah jauh ke kegelapan hutan di depan sana.
Ia tahu…
Cepat atau lambat, perang besar akan segera dimulai.