Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PICKED ME UP
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring memenuhi koridor. Namun berbeda dari biasanya…Hari itu Hyeana berjalan keluar kelas sambil terus memikirkan kejadian tadi siang. Tangannya sesekali menyentuh liontin hitam di balik seragamnya. Hangat kecilnya masih terasa samar. Ara langsung nyenggol bahunya pelan.
“Dia beneran bakal jemput kamu nanti?” tanya Ara
Wajah Hyeana langsung merah.
“A-Aku nggak tau.” jawab Hyeana
“Padahal tadi dia ngomong jelas banget.” sahut Anne sambil nyengir kecil.
“‘Aku akan kembali sebelum kau pulang sekolah.’” lanjut Anne menirukan suara Harvey dengan dramatis.
“ANNE DIEM.” ucap Hyeana malu
Haras langsung ngakak.
“Gila sih, aura Harvey tadi serem banget tapi giliran sama Hyeana malah beda sendiri.” ucap Haras
“REAL.” Olla langsung angkat tangan setuju.
Lidia menutup bukunya pelan.
“Dia hampir menghancurkan dunia ini hanya karena melihat Hyeana terluka.”
Seana yang berjalan paling belakang akhirnya bicara pelan.
“asal kalian tau, itu bahkan bukan kekuatan penuhnya.” ucap Seana tiba-tiba
Deg.
Hyeana langsung diam sebentar. Entah kenapa…Kalimat itu malah membuatnya kembali mengingat ekspresi Harvey tadi. Tatapan takut itu. Cara Harvey memeluknya erat seolah benar-benar takut dirinya hilang.
'Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.'
Jantung Hyeana langsung berdetak cepat lagi.
“Eh eh eh dia senyum-senyum sendiri lagi.” bisik Ara.
“FIX.” jawab Olla cepat.
“HYEANAAAA UDAH MULAI JATUH CINTA.” Haras langsung teriak heboh.
“NGGAK.” ucap Hyeana sedikit panik
“ITU REFLEKS PENOLAKAN ORANG JATUH CINTA.” lanjut Haras tanpa dosa.
“AKU LEMPAR KALIAN YA.” ucap Hyeana mulai agak kesal, malu, dan ya...SALTING.
Mereka akhirnya keluar gerbang sekolah sambil ribut seperti biasa. Langit sore mulai berubah jingga. Angin lembut berhembus pelan di jalan depan sekolah. Dan tepat saat Hyeana mulai berpikir mungkin Harvey belum datang…CRAAACK—
Udara di dekat pohon besar depan sekolah mendadak retak tipis, Ara langsung reflek mundur.
“EH EH EH.”
Portal hitam keperakan perlahan terbuka. Lalu Harvey keluar dari sana dengan mantel hitam panjangnya seperti biasa. Harvey langsung mencari Hyeana begitu keluar dari portal dan saat mata merah itu menemukan Hyeana, tatapannya langsung melembut sedikit.
“Aku kembali, Hyeana.”
Deg.
Teman-teman Hyeana langsung serentak menoleh ke arah Hyeana dengan ekspresi:
“NAHHHH.”
“STOP LIATIN AKU KAYAK GITU.”
Harvey berjalan mendekat tanpa peduli tatapan orang-orang sekitar. Begitu sampai depan Hyeana, tangannya langsung menyentuh pelan kepala Hyeana seperti memastikan kondisinya benar-benar baik.
“Apa kepalamu masih terasa sakit?”
Hyeana langsung salah tingkah karena teman-temannya semuanya ngeliatin.
“U-Udah mendingan kok…”
Harvey mengangguk kecil lega. Baginya itu sudah cukup namun beberapa detik kemudian…Mata merah Harvey perlahan menoleh ke arah teman-teman Hyeana. Suasana langsung hening.
Ara: “….”
Haras: “….”
Olla: “….”
Anne: “….”
Lidia: “….”
Seana: “….”
Aura pangeran Veilstead itu memang tetap menyeramkan walaupun mereka sudah kenal. Harvey menatap mereka beberapa detik lalu akhirnya bicara pelan.
“Terima kasih karena tetap berada di sisi Hyeana sejak kejadian tadi.”
Semua langsung bengong, suara itu terdengar tulus sekali. Haras langsung refleks garuk belakang kepala.
“Ya…gimana ya....masa tega ninggalin temen sendiri.”
Ara langsung mengangguk cepat.
“Hyeana juga selalu nolongin kita kok.”
Untuk sepersekian detik…tatapan Harvey berubah sedikit lebih hangat.
“Begitu ya.”
Dan entah kenapa…Kalimat sederhana itu malah membuat Harvey sadar satu hal, Hyeana sekarang tidak sendirian, dia punya orang-orang yang benar-benar peduli padanya. Hal yang dulu tidak berhasil Harvey lindungi untuk Ileana.
Angin sore kembali berhembus pelan, lalu tiba-tiba.....
“JADI KALIAN BERDUA UDAH RESMI BELUM?” tanya Olla brutal.
“OLLA?!” Hyeana langsung panik.
Haras langsung ikut nimbrung.
“NAH IYA GUE JUGA PENASARAN TAU.”
Anne sampai ketawa, Ara udah hampir jatuh karena ngakak. Sedangkan Harvey…
“Resmi?”
Mata merahnya benar-benar terlihat sedang memikirkan pertanyaan itu serius.
“JANGAN DIPIKIRIN HARVEY.” Hyeana langsung makin panik namun sudut bibir Harvey perlahan naik tipis kecil.
Langit sore perlahan berubah gelap saat Hyeana akhirnya sampai di rumah. Setelah kejadian di sekolah tadi…Tubuhnya memang masih sedikit lelah namun anehnya hatinya jauh lebih tenang sekarang.
Terutama karena Harvey benar-benar menemaninya sampai depan rumah.
“Dadah Harvey.”
“Hmm.”
Harvey berdiri dekat gerbang rumah sambil menatap Hyeana beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kau benar-benar sudah tidak sakit?”
Hyeana langsung senyum kecil.
“Aku baik-baik aja kok.”
Tatapan merah Harvey turun pelan ke tangan kiri Hyeana yang tadi hampir terluka parah karena roh itu. Meski luka fisiknya sudah hilang…Harvey tetap terlihat belum sepenuhnya tenang. Tanpa sadar…Hyeana akhirnya melangkah mendekat sedikit.
“Harvey.”
“Hmm?”
“Aku beneran nggak apa-apa.” Suara Hyeana kali ini jauh lebih lembut.
Entah kenapa…Kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang benar-benar ingin Harvey dengar sejak tadi. Mata merahnya akhirnya sedikit melembut.
“Baiklah Hyeana.”
Namun tepat sebelum Hyeana masuk rumah…
“Tapi malam ini aku tetap akan mengawasimu.”
Deg.
“Hah?”
Harvey bicara setenang biasanya.
“Aku tidak percaya dunia manusia lagi setelah kejadian tadi.”
“Itu posesif banget tau.”
“Aku tahu.”
“HAH?!”
Sudut bibir Harvey naik tipis kecil lagi dan sialnya…Sekarang Hyeana mulai sadar kalau Harvey ternyata suka menggoda dirinya diam-diam.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Malam akhirnya datang. Hyeana rebahan di kasur sambil memandangi langit-langit kamar. Lampu kamarnya sudah mati, hanya cahaya bulan yang masuk samar dari jendela. Tangannya memainkan liontin hitam itu pelan, tiba-tiba Liontin itu tiba-tiba menyala kecil.
CRAAACK—
Portal hitam tipis langsung terbuka di dekat meja belajar.
“Hah?!”
Harvey keluar dari portal dengan tenang seperti itu hal paling normal di dunia, sedangkan Hyeana langsung duduk panik di kasur.
“KAMU MASUK KAMAR CEWEK MALAM-MALAM LEWAT PORTAL GITU AJA?!”
Harvey terlihat berpikir sebentar.
“Aku sudah mengetuk portalnya.”
“ITU BUKAN KETUKAN.”
Harvey berjalan mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Hyeana, aku membawa ini.”
Hyeana langsung berhenti ngomel saat melihat kotak kecil hitam emas di tangan Harvey.
“Apa itu?”
Harvey duduk santai di kursi dekat kasur Hyeana lalu membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya ada potongan-potongan kecil kue berwarna biru muda dengan taburan cahaya kecil seperti bintang.
“Makanan Veilstead?”
Harvey mengangguk kecil.
“Ibu bilang manusia biasanya merasa lebih baik setelah memakan sesuatu yang manis.”
Deg.
Hyeana langsung diam sebentar.
“Ibu Lilyant yang nyuruh?”
“Sebagian saja.”
“Sebagian?”
“Aku sendiri yang ingin membawanya.”
Jantung Hyeana langsung gak normal lagi.
“Kenapa kamu ngomongnya harus setenang itu sih...”
“Karena itu sebuah kenyataannya.”
Hyeana langsung menutupi wajah pakai bantal.
Harvey memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya terdengar suara rendah kecil...
“Lucu.”
“HARVEY.”
Sudut bibir Harvey naik tipis lagi. Akhirnya Hyeana duduk bersila di kasur sambil mencoba kue Veilstead tadi. Matanya langsung sedikit membesar.
“Kue ini sangat enak”
“Aku senang kau menyukainya.”
Lalu suasana perlahan jadi jauh lebih tenang. Tidak ada roh, tidak ada pertarungan, tidak ada rasa sakit.
Hanya Hyeana dan Harvey yang menghabiskan malam bersama diam-diam di kamar kecil itu.
Hyeana mulai cerita banyak hal. Ia bercerita tentang guru sekolahnya yang galak, tentang Olla yang selalu tidur di kelas, tentang Haras yang hobinya bikin ribut, tentang Ara yang gampang panik, tentang Anne yang suka manas-manasin orang, tentang Lidia yang terlalu pendiam, tentang Seana yang kadang terasa misterius.
Harvey mendengarkan semuanya, benar-benar mendengarkan. Tatapan merah itu terus tertuju ke Hyeana seolah suara gadis itu jauh lebih menarik dibanding seluruh dunia.
“Terus Olla juga pernah ketiduran di UKS selama tiga jam.”
Harvey terlihat bingung.
“Mengapa dia melakukan itu.”
“Karena dia Olla.”
“Itu tidak menjelaskan apa pun Hyeana.”
Hyeana langsung ketawa.
Dan suara tawa itu…Membuat dada Harvey terasa hangat aneh lagi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kamar seseorang terasa setenang ini baginya. Tanpa sadar…Waktu berlalu cukup lama. Sampai akhirnya Hyeana menguap kecil dan Harvey langsung memperhatikan.
“Kau sudah mengantuk.”
“Sedikit…”
“Kau harus segera beristirahat.”
Padahal yang paling tidak ingin mengakhiri momen ini justru Harvey sendiri. Hyeana perlahan rebahan lagi di kasur sambil memeluk bantal. Sedangkan Harvey masih duduk di kursi dekat tempat tidurnya.
“Harvey.”
“Hmm?”
“Kamu bakal pulang ke Veilstead sekarang?”
“Aku akan tetap berada disini sampai kau tertidur.”
Deg.
“K-kamu serius?”
“Aku sudah bilang kan?.”
Tatapan merah Harvey turun pelan ke arah Hyeana.
“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian malam ini.”
Suasana kamar jadi sunyi lagi, namun kali ini…Sunyinya terasa nyaman. Hyeana perlahan memejamkan mata sambil memegang liontin hitam itu dekat dadanya dan beberapa menit kemudian… Nafasnya mulai teratur. Hyeana sudah tertidur.
Harvey masih duduk diam di dekat kasur sambil memperhatikan wajah Hyeana lama sekali, sangat lama, lalu perlahan…Tangannya bergerak pelan merapikan sedikit rambut Hyeana yang berantakan.
“Selamat malam, kekasihku.” Suara rendah itu hampir seperti bisikan.
Malam itu…Untuk pertama kalinya dalam 300 tahun, Harvey merasa damai hanya dengan melihat seseorang tertidur lelap di dekatnya.