Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH
Sore hari Kanaya sudah bersiap untuk pergi sedangkan Alex masih fokus dengan laptopnya.
"Apa pekerjaanmu terlau banyak." Kanaya duduk di samping suaminya.
"Iya ini soal perusahaan di London." Jawab Alex tanpa memindahkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Bukannya kita akan pulang sore ini."
"Iya, sebentar lagi."
"Alex." Panggil Kanaya.
"Hmmm, ada apa?"
"Lusa kamu akan pergi?"
"Ya, kita akan pergi bersama sekalian bulan madu."
Kanaya bersandar di bahu Alex sambil mencubit-cubit lengan suaminya.
"Apa kamu sedang kesal?"
"Tidak." Jawab Kanaya dan malah mencubit Alex dengan keras.
"Aw, lalu kenapa mencubitku seperti itu." Alex menutup laptopnya.
"Kamu mengabaikanku. Jadi sekarang bersiap-siap kita akan kembali sebentar lagi."
Alex mencium kening Kanaya lalu turun ke bibirnya, Kanaya yang mendorong tubuh Alex yang ingin menindihnya di sofa.
"Apa kamu menolakku Kanaya?" Raut muka Alex berubah kecewa.
"Bu-bukan begitu ki-kita akan pulang sebentar lagi." Kanaya mengalihkan pandangannya.
"Apa itu alasan kuat sehingga kamu mendorongku?" Kanaya hanya diam.
Alex pun pergi meninggalkan Kanaya yang masih duduk di sofa, ia pun masuk ke dalam kamar mandi, Alex tersenyum melihat wajah istrinya.
*****
Mobil Alex berhenti di depan rumah Kanaya, mereka mampir untuk mengambil pakaian dan barang-barang yang di perlukan.
Alex membaringkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap Kanaya yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Aku tidak berfikir akan menikah denganmu Kanaya." Ucap Alex.
Kanaya menatap Alex "Aku juga tidak berfikir akan menikah denganmu, bahkan aku juga tidak menyangka bahwa pria brengsek itu adalah tuan muda Handoko."
"Kamu bilang suamimu brengsek?" Alex bangun dan mendekati Kanaya yang tengah duduk di lantai.
"Ya itu dulu sih." Kanaya kembali membereskan barang-barangnya.
Alex ikut duduk di lantai, bukan membantu Kanaya tapi dia malah mengeluarkan semua barang-barang yang telah Kanaya masukkan dalam tas dan Koper.
"Alex apa yang kamu lakukan?"
"Aku sedang membantumu."
"Apa seperti ini caramu membantu orang? Biar aku saja, kamu hanya menambah pekerjaanku saja." Kanaya menarik tas yang ada di depan Alex.
Alex menggeser tubuhnya ke arah lemari dan menghimpit Kanaya yang sedang memasukkan pakaiannya di dalam koper.
"Kanaya." Alex mencium telinga Kanaya.
Wajah Kanaya bersemu merah mendapat sentuhan di daerah telinganya. "A-alex kita harus cepat-cepat." Tolak Kanaya tapi Alex tak menghiraukannya.
"Kanaya aku-."
Drrttt..drrtt... Belum sempat Alex menyelesaikan ucapannya ponselnya pun berdering di saku celananya.
Kanaya menahan tawa saat melihat wajah Alex yang kesal karena gangguan ponselnya.
"Apa pekerjaanmu masih kurang?" Ucap Alex tanpa basa basi.
"Kakak aku ingin menagih janjimu, emangnya hanya kakak saja yang mau bulan madu dengan kakak ipar."
"Janji apa?"
"aku akan cuti 2 minggu."
"1 hari tidak ada tawar menawar." Alex langsung menutup teleponnya. Alex pun keluar dari kamar Kanaya.
Kanaya mempercepat beberesnya, setelah selesai Kanaya keluar tapi tidak melihat Alex, ia pun mencarinya di seluruh rumah tapi tetap tidak menemukannya.
"Alex." Panggil Kanaya tapi tidak ada jawaban.
Mobilnya masih terparkir di depan Kanaya pun menelpon ke ponselnya tapi ponselnya ada di atas meja makan, Kanaya masuk kedalam rumah dengan wajah khawatir tiba-tiba terdengar suara Alex.
"Kanaya."
Kanaya yang mendengar suara suaminya langsung berlari keluar dan memeluk Alex.
"Dari mana saja, aku mencarimu dari tadi." Kanaya mempererat pelukannya.
"Ah, aku dari luar beli makanan."
"Kamu membuatku takut." Kanaya melepaskan pelukannya.
Alex mengangkat wajah Kanaya menatap mata istrinya yang sudah di penuhi airmata yang siap untuk jatuh.
"Jangan menangis, aku hanya keluar membeli nasi goreng di sana." Alex menunjuk keluar.
"Kenapa kamu gak bilang kalau mau pergi, hiks." Kanaya memukul dada bidang Alex.
"Baiklah aku akan bilang kalau aku ingin pergi jadi berhenti menangis aku sudah lapar." Alex memberikan kantong plastik yang berisi 2 bungkus nasi goreng kepada Kanaya.
"Aku akan menyajikannya" Kanaya pun masuk ke dapur.
Alex duduk di sofa menunggu istrinya meenyajikan makanan di meja makan tapi terdengar suara ketukan pintu
Tok..tok..tok
Alex yang mendengar ketukan itu berdiri dan pergi membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, saat pintu terbuka Alex terkejut melihat siapa yang kini berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini." Ucap Alex dingin.
"Aku ingin bertemu Kanaya."
"Aku tidak memberimu izin untuk menemui istriku."
Arman begitu terkejut mendengar Alex mengatakan kalau Kanaya adalah istrinya, Kanaya yang keluar untuk memanggil Alex terkejut melihat Arman berdiri di depan pintunya.
Kanaya mendekati Alex dan memegang lenganya, Arman menatap Kanaya "Kanaya apa benar kalian sudah menikah?" Arman ingin memegang tangan Kanaya tapi Alex lebih dulu mencengkram pergelangan tangan Arman.
"Apa kamu tidak punya sopan santun, kau ingin menyentuh istri orang di depan suaminya." Alex menatap tajam seolah menguliti lawannya.
"Kanaya." Arman kembali memanggil Kanaya.
Tanpa basa basi Alex menutup pintu rumah Kanaya dan membawa Kanaya ke meja makan "Kita makan saja, tidak usah mengurusi orang yang salah alamat." Alex duduk di kursi makan dan mulai menyendoki nasi gorengnya.
Kanaya masih berdiri menatap Alex yang sudah mulai makan, "Al, tindakanmu tadi dengan menutup pintu tidak sopan." Ucap Kanaya.
Alex tidak menghiraukan perkataan Kanaya seolah ia tidak mendengarnya. "Kamu tidak makan?" Alex menatap Kanaya yang masih berdiri di sampingnya.
"Aku belum lapar." Jawab Kanaya.
Alex berdiri lalu pergi ke dapur membawa nasi goreng yang di piring Kanaya dan membuangnya di tempat sampah.
"Kenapa kamu membuangnya Al?" Tanya Kanaya.
"Kamu tidak lapar bukan? lalu siapa yang akan memakannya? Pria yang ada di luar itu?" Alex kembali duduk dan memakan makanannya.
"Al kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, selesaikan semuanya lalu kita kembali kerumah." Alex berdiri dan pergi ke kamar.
Kanaya menatap makanan Alex yang masih tersisa banyak, Kanaya pun duduk dan memakannya. "Bukannya dia bilang sedang lapar kenapa makanannya tidak habis." Gumam Kanaya sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Kembali terdengar suara ketukan pintu, Kanaya sudah ingin berdiri tapi Alex lebih dulu keluar, Kanaya kembali menyuapi mulutnya hingga terdengar suara orang yang sedang berkelahi.
Tanpa sadar Kanaya berlari keluar dan benar saja Alex dan Arman sedang berkelahi, Kanaya sangat terkejut saat melihat Alex sedang memukul Arman dengan membabi buta. "Alex, berhenti." Teriak Kanaya tapi tidak di hiraukan dengan Alex.
Kanaya melihat sisi lain dari suaminya, dia pun menarik lengan Alex agar menghentikan pukulannya karena Arman sudah terkapar tak berdaya.
"Al, tolong berhenti dia sudah tidak berdaya."
"Kau membelanya Kanaya?" Tatapan Alex sangat tajam menatap Kanaya yang sudah gemetar didepannya.
"Kau masih menyukainya sehingga kau membelanya." Alex menggenggam lengan Kanaya kuat-kuat.
Alex masuk kedalam rumah membawa semua koper dan tas kedalam mobilnya tanpa menghiraukan Kanaya dan Arman, Setelah semuanya dia menarik Kanaya masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Arman yang masih terbaring di lantai teras rumah Kanaya.
**Bersambung....
Jangan lupa mampir di novel Antara Cinta Dan Dendam. Beri like dan Vote ya...😊😊**
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..