NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beraktifitas Kembali

Suara deru mesin mobil terdengar berat dan kuat, membelah jalanan hingga akhirnya masuk ke area yang luas dan tertutup. Zyro mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan yang stabil namun penuh keteguhan hati. Tujuannya hanya satu: basecamp tempat ia dan seluruh anggota timnya berkumpul, sekaligus tempat bengkel besar yang menjadi pusat kegiatan mereka sehari-hari.

Begitu mobil Zyro masuk ke halaman bengkel, suara gemuruh mesinnya terdengar sangat jelas hingga menggema di seluruh ruangan. Semua orang yang ada di sana seketika menoleh, aktivitas mereka terhenti sejenak saat mengenali suara kendaraan itu. Pintu mobil terbuka, dan Zyro turun dengan wajah yang tampak lelah namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Kepala tim Beni segera berdiri tegak dan berjalan mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya tampak bercampur antara rasa lega dan kekesalan yang sudah lama tertahan. Ia menatap Zyro tajam begitu pemuda itu berhenti di hadapannya.

"Akhirnya kau kembali juga, Zyro..." ujar kepala tim dengan suara berat.

"Aku pikir kau hilang ditelan bumi? Ke mana saja kau selama ini? Kau tahu betapa khawatir dan bingungnya kami karena kepergianmu yang tiba-tiba tanpa kabar sedikitpun?"

Zyro hanya diam sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu melangkah masuk menuju ruangan kerjanya yang berada di bagian dalam, terpisah dari keramaian bengkel. Kepala tim mengikutinya dari belakang dengan langkah yang tak kalah cepat. Begitu pintu ruangan ditutup, suasana menjadi hening dan tegang. Di sana, tanpa ada yang mengganggu, Zyro mulai menceritakan segalanya—apa yang terjadi, apa yang ia alami, perasaannya, serta keputusan besar yang sudah ia ambil sepenuh hati. Ia bercerita tentang Valencia, tentang kondisi gadis itu yang pernah berada di ambang kematian, tentang rasa takutnya yang luar biasa saat hampir kehilangan orang yang paling berharga baginya, hingga alasan di balik keputusan yang dianggap banyak orang sebagai hal yang tidak biasa.

Setelah Zyro selesai berbicara, keheningan melanda ruangan itu beberapa saat. Kepala tim menggelengkan kepalanya perlahan, matanya menatap tajam ke arah Zyro, penuh dengan pertanyaan dan kekhawatiran.

"Apakah semua itu sudah kau pikirkan dengan matang-matang, Zyro?" tanyanya dengan suara rendah namun tegas. "Kau benar-benar serius dengan keputusan ini? Kau ingin membagi madumu? Berbagi perasaan, perhatian, dan tanggung jawab yang seharusnya hanya milikmu seorang? Kau sadar betapa rumitnya jalan yang akan kau ambil ini nanti?"

Zyro menatap balik dengan pandangan yang mantap, tidak ada keraguan sedikitpun di matanya. Ia mengangguk perlahan namun tegas.

"Aku sudah memikirkannya berulang kali, sampai tidak ada lagi keraguan di hatiku," jawab Zyro dengan suara yang tenang namun penuh penekanan.

"Aku tidak ingin lagi melihat Valencia terbaring lemah di ambang kematian seperti kemaren. Aku tidak ingin lagi merasakan ketakutan luar biasa saat hampir kehilangannya selamanya. Aku tidak sanggup membayangkan hidupku tanpa dia. Dan jika jalan ini—jalan untuk berbagi—adalah satu-satunya cara agar dia tetap aman, tetap sehat, dan tetap ada di sisiku... maka aku berani melakukannya. Mungkin ini terdengar aneh bagi banyak orang, tapi bagiku, ini adalah jalan terbaik. Jalan yang bisa menyelamatkannya, menyelamatkan perasaanku, dan menyelamatkan kami semua agar tetap bisa bersama dalam damai dan kebahagiaan."

Kepala tim menghela napas panjang, melihat keteguhan hati Zyro yang tidak bisa digoyahkan lagi. Ia sadar, keputusan itu sudah tertanam kuat di hati pemuda itu, dan tidak ada satu pun ucapan yang bisa mengubahnya.

Beni Kepala tim menatap Zyro dalam-dalam, lalu perlahan mengangguk seolah menerima keputusan yang sudah bulat itu. Ia menepuk bahu Zyro dengan kuat, campuran antara rasa khawatir dan rasa hormat atas keteguhan hati pemuda di hadapannya.

"Baiklah... jika itu benar-benar keputusanmu," ujarnya dengan nada suara yang lebih lembut namun tetap tegas.

"Itu adalah jalan hidupmu, dan kaulah sendiri yang akan menjalaninya. Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal di kemudian hari, dan semoga apa yang kau pilih ini benar-benar membawa kebaikan bagi semua orang yang kau sayangi. Apapun yang terjadi, ingatlah bahwa kami semua di sini akan tetap mendukungmu sepenuhnya."

Zyro tersenyum tipis, rasa berat di hatinya seolah berkurang sedikit mendengar ucapan itu. Ia mengangguk mantap. "Terima kasih. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan aku siap menanggung segala risikonya."

Di tempat yang lain, tepatnya di ruang kantor yang luas, mewah, dan tertata rapi, Ansel duduk di kursi kerjanya yang besar dan nyaman. Ia memandang ke luar jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota, namun pikirannya sedang tertuju pada satu hal yang sangat penting. Ia lalu memutar kursinya ke arah Jodi yang berdiri dengan sikap hormat di depannya.

"Jodi, bagaimana perkembangannya? Apakah proyek pembangunan hotel yang kita rencanakan sudah berjalan?" tanya Ansel dengan nada tenang namun penuh wibawa.

Jodi segera mengangguk dengan sigap, wajahnya tampak serius dan profesional. "Sudah, Tuan. Semuanya berjalan sesuai rencana dan jadwal yang telah ditetapkan. Saat ini kita sudah berada di tahap pembebasan lahan. Seluruh dokumen dan administrasi yang diperlukan sudah selesai diproses dan dinyatakan sah oleh pihak berwenang. Semuanya beres dan tidak ada kendala sedikitpun."

Ansel mengangguk puas mendengar laporan itu.

"Bagus... Kalau begitu, tahan dulu proses pembayarannya untuk sementara waktu. Jangan lakukan pembayaran apa pun dulu sampai aku memberi perintah lanjutan. Ada beberapa hal yang perlu aku perhitungkan kembali sebelum kita melangkah ke tahap selanjutnya."

"Baik, Tuan. Saya mengerti dan akan melaksanakannya sesuai perintah Tuan," jawab Jodi tegas, lalu membungkuk sedikit sebelum akhirnya keluar dari ruangan untuk melanjutkan tugasnya.

Ansel kembali menatap ke luar jendela, pikirannya melayang jauh. Proyek besar ini bukan sekadar bisnis baginya, ada banyak harapan dan rencana jangka panjang yang tersimpan di baliknya. Dan ia memastikan, setiap langkah yang diambil haruslah langkah yang paling tepat dan menguntungkan bagi semua pihak.

------------------------------##-----------------------------

Ting!

Suara notifikasi pesan masuk terdengar jelas dari ponsel Valencia yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia segera meraih benda pipih itu dan membaca pesan yang masuk.

My Zyro : Sayang, bisa kah kau mengirimkan nomor ponsel Ansel padaku? Aku lupa memintanya tadi pagi.

Valencia tersenyum kecil melihat pesan itu, lalu dengan cepat ia mengetikkan nomor ponsel Ansel dan mengirimkannya ke Zyro.

- My Ansel (Terkirim)

------------------------------##----------------------------

dering... deringggg...

Suara dering ponsel Ansel terdengar nyaring memecah kesunyian ruang kerjanya. Ia mengangkat ponsel itu dan melihat nomor yang tertera di layar. Nomor asing dan tidak tersimpan dalam daftar kontaknya. Ansel menyipitkan matanya bingung, bertanya-tanya siapa yang meneleponnya di jam seperti ini. Ia menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.

"Halo, ?" tanyanya dengan nada datar dan berwibawa.

Suara Zyro terdengar jelas dari seberang sana, tenang namun tegas.

"Sel, kirimkan nomor rekeningmu sekarang juga," perintah Zyro langsung pada intinya tanpa basa-basi.

Ansel terdiam sejenak, heran dengan permintaan tiba-tiba itu.

"Buat apa? Tiba-tiba saja kau minta nomor rekeningku, ada keperluan apa?" tanyanya bingung.

"Aku sudah berjanji padamu kan? Aku akan memberikan gaji untuk Jodi, asistenmu itu. Jadi berapa jumlah uang yang harus aku transfer ke rekeningmu?" jelas Zyro dengan nada serius.

Ansel menghela napas pelan, lalu menjawab santai.

"Terserah kau mau mentransfer berapa , Zyro. Tapi biar kau tahu, gaji Jodi sebulan itu 35 juta rupiah," jawabnya tenang.

"Hm, . Nanti akan aku transfer 70 juta rupiah " jawab Zyro tegas tanpa ragu sedikitpun. Sebelum menutup teleponnya,

"aku tunggu nomor rekeningmu Ansel"

Ansel tersenyum tipis mendengarnya, hatinya terasa hangat melihat betapa bertanggung jawab dan murah hatinya kumbangnya itu.

"Ya, baiklah. Terima kasih, Zyro," jawabnya singkat, lalu sambungan telepon pun terputus.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!