Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Tubuhnya Menyerah Lebih Dulu
Ruangan itu belum benar benar tenang bahkan setelah Arshaka berbicara bahkan setelah Elora memberikan jawabannya karena suara tidak pernah benar benar hilang hanya berubah menjadi bisik bisik yang lebih pelan namun justru terasa lebih tajam karena setiap kata yang diucapkan di antara mereka bukan lagi pertanyaan tapi penilaian yang terus berjalan tanpa henti
Elora masih duduk di kursinya tubuhnya tegak namun tidak benar benar stabil tangannya saling menggenggam di atas meja seolah itu satu satunya cara untuk menahan dirinya tetap berada di tempat napasnya mulai terasa lebih berat bukan karena ia tidak bisa bernapas tapi karena setiap udara yang masuk terasa tidak cukup untuk mengisi ruang kosong di dadanya
Tatapannya masih mengarah ke depan namun tidak benar benar fokus karena semua yang ia lihat mulai terasa kabur lampu yang terlalu terang suara yang terlalu banyak dan tekanan yang sejak tadi terus menumpuk tanpa memberi ruang untuk istirahat semuanya mulai bercampur menjadi satu hingga sulit dibedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada di kepalanya
“Elora apakah kamu punya bukti bahwa video itu tidak asli”
Satu pertanyaan kembali muncul memecah keheningan yang sebelumnya sempat terbentuk dan kali ini terasa lebih tajam lebih langsung seolah ingin memaksa jawaban yang tidak bisa diberikan dengan mudah
Elora mencoba membuka mulutnya mencoba menjawab namun kata kata yang ingin ia ucapkan tidak pernah benar benar keluar tenggorokannya terasa kering pikirannya kosong dan untuk pertama kalinya ia merasa benar benar tidak tahu harus berkata apa
Napasnya semakin cepat
Tidak teratur
Tangannya mulai dingin
Dan suara di sekelilingnya semakin menjauh
Arshaka yang berdiri di sampingnya langsung menyadari perubahan itu bahkan sebelum Elora benar benar kehilangan kendali karena ia melihatnya dari detail kecil dari cara jari Elora yang mulai melemah dari bagaimana bahunya sedikit turun dari bagaimana matanya tidak lagi fokus pada satu titik
“Elora”
Ia memanggil pelan
Namun tidak ada respons yang langsung
“Elora lihat aku”
Kali ini lebih tegas
Tangannya bergerak sedikit mendekat namun belum menyentuh
Elora mencoba menoleh
Namun gerakannya terasa lambat
Seolah tubuhnya tidak lagi sepenuhnya mengikuti apa yang ia inginkan
“Aku…”
Satu kata itu keluar
Lemah
Terputus
Dan kemudian
semuanya gelap
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dalam satu detik kepalanya sedikit miring sebelum akhirnya jatuh ke samping kursi yang ia duduki suara gaduh langsung memenuhi ruangan kamera kembali menyala lebih cepat dari sebelumnya suara teriakan mulai terdengar tidak lagi berupa pertanyaan tapi reaksi yang tidak terkontrol
“Elora pingsan”
“Ada apa ini”
“Ambil gambar ambil gambar”
Arshaka bergerak lebih cepat dari siapa pun tangannya langsung menahan tubuh Elora sebelum jatuh sepenuhnya memastikan kepalanya tidak membentur meja atau lantai gerakannya tegas tanpa panik namun jelas menunjukkan bahwa tidak ada ruang bagi siapa pun untuk mendekat terlalu jauh
“Jauh”
Suaranya rendah
Namun kali ini lebih keras dari sebelumnya
Beberapa orang langsung mundur meskipun tidak semuanya karena kamera masih mencoba menangkap momen itu namun tatapan Arshaka yang berubah membuat tidak ada yang benar benar berani mendekat
Ia mengangkat tubuh Elora dengan hati hati memastikan posisinya stabil sebelum berdiri
“Elora dengar aku”
Suaranya kembali lebih pelan
Namun tidak ada respons
Wajahnya tetap tenang
Tapi matanya berubah
Lebih gelap
Lebih dingin
Dan jauh lebih berbahaya
“Panggil tim medis sekarang”
Perintah itu keluar tanpa ragu
Langsung
Tidak ada yang membantah
Ruangan yang tadi penuh suara kini berubah menjadi kekacauan yang berbeda bukan lagi serangan pertanyaan tapi kepanikan yang tidak terarah sementara Arshaka tetap berdiri di tengah semua itu memegang Elora seolah dunia di sekitarnya tidak lagi penting
Ia tidak melihat kamera
Tidak peduli pada suara
Tidak juga pada apa yang akan diberitakan setelah ini
Karena di saat itu
hanya ada satu hal yang ia fokuskan
Elora
Beberapa menit kemudian ia sudah berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu apa pun lagi tanpa memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menghentikan langkahnya orang orang di sekitarnya memberi jalan bukan karena diminta tapi karena mereka tahu tidak ada yang bisa menahan
Di dalam mobil suasana jauh lebih sunyi Elora masih tidak sadar tubuhnya lemah napasnya pelan namun stabil sementara Arshaka duduk di sampingnya tangannya masih menahan posisi Elora agar tetap aman
Tatapannya lurus ke depan
Diam
Namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya
“Aku sudah cukup sabar”
Kalimat itu keluar pelan
Lebih kepada dirinya sendiri
“Sekarang selesai”
Dan di titik itu
ini bukan lagi tentang mencari
bukan juga tentang membuktikan
Tapi tentang memastikan
bahwa orang yang melakukan ini
tidak akan punya kesempatan kedua
Di tempat lain
Alven Arkana melihat berita yang baru saja muncul dengan ekspresi yang sulit dibaca senyum tipisnya masih ada namun kali ini tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya
“Menarik”
Gumamnya pelan
Namun di balik itu semua ia tahu
Sesuatu telah berubah
Karena kali ini
yang ia hadapi
bukan lagi seseorang yang menahan diri
Tapi seseorang
yang sudah mulai kehilangan batas
————
Yuk mana suaranyaaaaa!!!