NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Balik Bayang-Bayang

Malam itu, Putri Aurelia tidak bisa tidur. Bayangan Lucas yang membungkuk hormat namun tetap menatapnya dengan binar mata yang sama seperti enam tahun lalu terus berputar di kepalanya.

Ia merasa ada sesuatu yang belum tuntas. Janji di bawah pohon apel, kotak yang mereka kubur, dan semua cerita yang tertunda selama enam tahun seolah menuntut untuk segera dibicarakan.

Keesokan harinya, Aurelia memutuskan untuk mengambil risiko lebih besar. Ia mengenakan jubah beludru biru tua yang bisa menutupi gaun mewahnya dan menyelinap keluar saat jam istirahat siang, waktu di mana para prajurit biasanya berganti shift. Tujuannya hanya satu: gudang logistik bagian dalam, tempat di mana Lucas biasanya memeriksa laporan pasokan.

Di dalam gudang yang remang-remang dan dipenuhi aroma kayu serta rempah, Aurelia menemukan Lucas sedang berdiri di depan sebuah meja kayu besar. Ia tampak sangat serius, jemarinya lincah mencatat jumlah karung gandum yang baru masuk. Cahaya matahari yang masuk lewat celah atap menyinari rambut cokelatnya, membuat ujung-ujung rambutnya yang sedikit pirang tampak berkilau.

"Wakil Kepala Logistik tampaknya sangat sibuk hari ini," sapa Aurelia lembut dari balik tumpukan kain sutra.

Lucas tersentak, bahunya menegang sesaat sebelum ia menoleh. Begitu melihat Aurelia, ia langsung meletakkan penanya dan menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada pekerja lain di sana.

"Tuan Putri, Anda benar-benar hobi membuat jantungku hampir copot," bisik Lucas sambil melangkah mendekat. Kali ini, ia tidak membungkuk sedalam kemarin karena mereka sedang dalam keadaan yang sangat tertutup. "Berada di sini siang hari sangat berbahaya. Jika pengawal mencarimu ke paviliun dan tidak menemukanmu..."

"Biarkan saja mereka mencari," potong Aurelia dengan nada berani yang jarang ia tunjukkan. "Aku sudah bosan menjadi putri yang selalu ada di tempat yang seharusnya. Aku ingin menagih janji, Lucas."

Lucas menaikkan alisnya. "Janji yang mana? Aku sudah membawakan kue jahe kemarin."

"Bukan itu," Aurelia melangkah lebih dekat, hingga ia bisa mencium aroma samar keringat dan debu jalanan dari pakaian Lucas—aroma yang menurutnya jauh lebih jujur daripada wangi parfum bunga di istana. "Janji tentang kotak kita. Di bawah pohon apel. Kamu bilang siapa pun yang melihat kotak itu lebih dulu di masa depan, dia harus menunggu yang lain di sana."

Mata Lucas seketika melunak. Ia terdiam sejenak, menatap mata Aurelia yang penuh harap. "Aku sudah pergi ke sana kemarin malam, tepat setelah aku mengantarkanmu kembali ke koridor."

Aurelia tertegun. "Dan?"

"Tanahnya masih sama. Pohonnya sudah tumbuh jauh lebih besar, persis seperti kita," Lucas tersenyum tipis. "Tapi aku tidak berani menggalinya sendirian. Aku ingat aturanmu: kita hanya boleh membukanya bersama-sama."

"Malam ini," bisik Aurelia. "Temui aku di sana setelah lonceng tengah malam berbunyi. Aku akan membawa lentera kecil."

"Aurelia, itu terlalu berisiko. Penjagaan malam sekarang jauh lebih ketat sejak Pangeran Theo sering berkunjung," Lucas mencoba memperingatkan, namun di dalam hatinya ia juga sangat ingin pergi ke sana.

"Kalau kamu berani membawaku kabur ke pasar rakyat saat kita masih kecil, kenapa sekarang kamu jadi penakut?" goda Aurelia.

Lucas terkekeh, suara rendahnya bergema di ruangan sunyi itu. "Baiklah. Tapi jika kita tertangkap, aku akan bilang kalau Tuan Putri yang menculikku ke kebun apel."

Malam pun tiba. Dengan jantung yang berdebu kencang, Aurelia menyelinap melewati taman yang gelap. Ia hanya menggunakan cahaya bulan sebagai penunjuk jalan agar tidak menarik perhatian penjaga menara. Di bawah pohon apel yang rimbun, sesosok bayangan tinggi sudah menunggu.

"Kamu datang tepat waktu," suara Lucas menyambutnya dari kegelapan.

Tanpa banyak bicara, mereka berdua berlutut di sela-sela akar pohon yang besar. Lucas mengeluarkan pisau kecil dari pinggangnya untuk menggali tanah yang sudah mengeras selama enam tahun. Aurelia membantu dengan tangan kosong, tidak peduli jika kuku-kukunya yang terawat menjadi kotor oleh tanah hitam.

Setelah beberapa menit menggali, ujung pisau Lucas mengenai sesuatu yang keras. *Klak.*

Mereka mengangkat kotak kayu kecil yang kini sudah ditutupi lumut dan sedikit lapuk. Dengan hati-hati, Lucas mencungkil kuncinya yang sudah berkarat. Begitu tutupnya terbuka, sebuah dunia masa kecil seolah meledak di hadapan mereka.

Di sana, di bawah cahaya lentera yang redup, tergeletak kelereng mata kucing yang masih berkilau meski sedikit kusam. Ada jaring ikan kecil yang sudah mengering dan rapuh, serta sekeping koin kuno yang mereka temukan di pasar dulu. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sepucuk surat kecil yang tintanya sudah sedikit luntur.

Aurelia mengambil surat itu dan membacanya pelan. *"Jangan lupakan aku, Lucas. Meskipun aku harus jadi ratu, kamu harus tetap jadi ksatria logistikku."*

Suasana menjadi sangat hening. Keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan penuh dengan emosi yang tertahan. Lucas menatap surat itu, lalu menatap Aurelia.

"Aku tidak pernah melupakannya, Aurelia. Sedetik pun tidak," ucap Lucas dengan nada yang sangat serius. "Di luar sana, saat aku harus bekerja di bawah badai atau tidur di atas kereta kuda yang keras, aku selalu mengingat surat ini.

Aku bekerja keras supaya bisa dipercaya Ayah menjadi Wakil Kepala Logistik, hanya agar aku punya alasan yang sah untuk kembali masuk ke istana ini. Hanya untuk melihatmu lagi."

Aurelia merasakan air mata hangat jatuh ke pipinya. "Aku pikir kamu akan menemukan teman baru di luar sana. Seseorang yang tidak punya banyak aturan seperti aku."

Lucas tertawa kecil, tangannya bergerak ragu sejenak sebelum akhirnya ia memberanikan diri menghapus air mata di pipi Aurelia dengan ibu jarinya. "Tidak ada gadis di luar sana yang bisa memanjat gudang senjata atau bersembunyi di bawah tumpukan kain sutra sebaik kamu."

Tiba-tiba, dari arah gerbang istana, terdengar suara gong tanda patroli malam sedang menuju ke arah taman belakang.

"Kita harus menguburnya kembali," ujar Lucas cepat.

"Jangan," Aurelia menahan tangan Lucas. "Biar aku yang simpan kelerengnya. Satu untukku, satu untukmu. Sebagai tanda bahwa janji kita sekarang sudah diperbarui."

Aurelia memberikan satu kelereng mata kucing berwarna biru kepada Lucas, dan menyimpan yang berwarna hijau untuk dirinya sendiri. Mereka dengan cepat merapikan tanah dan kembali ke bayang-bayang sebelum lampu obor para prajurit mencapai area tersebut.

Sambil berjalan kembali menuju kamarnya, Aurelia menggenggam kelereng itu erat-erat. Pertemuan malam itu telah mengubah segalanya.

Kini ia tahu bahwa Lucas bukan hanya kembali sebagai seorang pekerja, tapi sebagai seseorang yang masih menjaga seluruh bagian dari masa kecil mereka di dalam hatinya. Jarak enam tahun itu seolah lenyap, digantikan oleh ikatan baru yang jauh lebih kuat.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!