Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan Terbuka
Angkasa berdiri di balkon kamarnya. Dia masih terbayang wajah Nia tadi siang di kantin. Cantik. Membuat Angkasa tak bisa menghapusnya dari pikirannya.
"Bumi," gumam Angkasa.
Pria yang memanggil Nia dengan nama utuhnya itu membuat Angkasa, entah mengapa, gelisah.
"Dunia," gumam Angkasa.
Angkasa ingat bagaimana pertama kali dia mendengar nama lengkap Nia. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu —lucu, aneh, dan yang paling mendominasi, takjub.
"Aneh ya nama ku?" tanya Nia kecil waktu itu, melihat ekspresi Angkasa yang bengong.
"Nggak. Keren," gumam Aang saat ini, sambil menatap langit senja.
"Angkasa? Woah! Keren banget!" puji Nia kecil saat Angkasa memperkenalkan dirinya.
Sudut bibir Angkasa terangkat sedikit mengingat kejadian itu. Untuk pertama kalinya, namanya dipuji, membuat Angkasa merasa sangat keren waktu itu.
Senja seolah menjadi latar yang pas bagi Angkasa untuk mengenang masa lalu. Semua ingatan yang bisa dia ingat tentang Nia dan petualangan bersamanya mengalir begitu saja.
"Bukit Senja," gumam Angkasa.
Sebuah bukit dimana dia dan Nia sering menatap matahari terbenam disana. Pemandangannya indah. Angkasa masih ingat wajah ceria Nia diterpa cahaya senja. Begitu menyilaukan.
Angkasa merogoh sesuatu di saku celananya. Gelang persahabatan dari Nia. Hari ini pun Nia memakainya. Terlihat sudah lusuh. Tapi Nia masih setia melingkarkan gelang itu di tangannya, seolah mengikat erat dirinya pada janji di masa lalu.
"Kita akan jadi sahabat selamanya!" janji Nia dan Aang saat itu sambil memakai gelang bersamaan.
"Sahabat selamanya," gumam Angkasa.
"Cekrek..." suara pintu kamar dibuka membuat Angkasa dengan cepat memasukkan gelang persahabatannya kembali ke dalam saku celananya.
"Sayang, kamu siap-siap ya. Nanti jam tujuh kita ada makan malam sama para investor perusahaannya Papa," kata Nyonya Mahendra sambil berjalan menuju Angkasa yang berdiri di balkon kamarnya.
"Aang harus ikut?" tanya Angkasa memastikan dia punya pilihan lain. Nyonya Mahendra mengerucutkan mulutnya.
"Ya, harus dong. Calon pewaris mana boleh absen?" kata Nyonya Mahendra. Angkasa tersenyum kikuk.
"Ya, Ma," kata Angkasa akhirnya.
"Naaah... gitu... Kalo gitu Mama mau siap-siap dulu. Biasa... cewek kalo dandan lama," kata Nyonya Mahendra sambil terkekeh sendiri. Angkasa mengangguk sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya Nyonya Mahendra meninggalkan kamarnya.
Angkasa merebahkan diri di kasurnya. Dia kembali mengambil gelang persahabatan dari dalam saku celananya. Dia menatap lama gelang itu.
'Kamu dengar? Makan malam dengan para investor katanya. Faktanya, itu adalah makan malam perjodohan terbuka,'
***
Jam tujuh tepat Tuan dan Nyonya Mahendra beserta Angkasa sudah duduk di meja panjang besar di sebuah ruang VIP Bon Appetite, restaurant masakan Prancis bintang lima di kota. Beberapa tamu undangan sudah duduk di kursi yang disediakan.
Sesuai dugaan Angkasa, acara malam itu bukanlah makan malam bisnis biasa. Beberapa tamu undangan bahkan memperkenalkan puteri mereka pada Angkasa secara terang-terangan.
"Tuan Muda Angkasa. Lama tak jumpa. Terakhir kita ketemu waktu Tuan Muda umur sepuluh tahun. Abis itu Tuan Muda terbang ke Jepang," kata Tuan Adiwangsa, pimpinan Adiwangsa Group, perusahaan yang bergerak di bidang hiburan. Angkasa tersenyum tipis sambil mengangguk sopan.
"Oh, iya, perkenalkan, Tuan Muda. Ini puteri sulung saya, Mentari, masih kuliah semester empat di univeritas negeri di kota, jurusan manajemen bisnis," lanjut Tuan Adiwangsa. Lagi-lagi, Angkasa hanya tersenyum tipis dan mengangguk sopan.
"Wah! Tuan Adiwangsa ternyata punya anak gadis secantik ini?" komentar Nyonya Mahendra yang duduk di samping Angkasa.
"Nyonya bisa saja," kata Tuan Adiwangsa sambil terkekeh.
"Mari, mari. Silakan duduk. Malam masih panjang. Bisa dilanjut nanti ngobrolnya," kata Nyonya Mahendra. Tuan Mahendra hanya tersenyum.
"Baik, baik, Nyonya," kata Tuan Adiwangsa sambil menggandeng puterinya untuk duduk di hadapan Angkasa.
Mentari menatap Angkasa seperti elang menatap mangsanya. Mentari pikir, acara makan malam yang dikatakan papanya akan sangat membosankan. Ternyata, dia justru mendapatkan mangsa yang menawan. Mentari tersenyum menatap Angkasa yang sedang berbicara dengan mamanya.
'Anak mami macam dia pasti gampang,' pikir Mentari.
"Ehem... Baik. Terimakasih kepada para investor Mahendra Resort and Property yang telah hadir pada makan malam hari ini," kata Tuan Mahendra membuka acara.
"Meski ada beberapa undangan yang belum hadir, mari kita mulai saja acara jamuan malam ini," lanjut Tuan Mahendra.
"Untuk malam ini, mari kita berhenti membicarakan bisnis dan keuntungan. Malam ini, kita bicara dari hati ke hati sebagai teman, keluarga, agar hubungan kita bukan sekedar relasi bisnis semata," kata Tuan Mahendra.
"Baik. Langsung saja. Demi kerekatan hubungan kita," kata Tuan Mahendra mengangkat gelas minumnya yang diikuti para tamu undangan. Tuan Mahendra dan para tamu lalu meminum minuman mereka bersamaan.
"Silakan menikmati jamuan yang ada. Ingat, acara malam ini bebas," kata Tuan Mahendra lalu terkekeh. Diikuti tawa para tamu undangan.
Suasana menjadi bising oleh dentingan sendok, garpu, dan piring bercampur dengungan obrolan para tamu. Angkasa makan dengan santai tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
"Ehem, Tuan Muda sepertinya sangat menyukai masakan Prancis," kata Mentari sambil melirik ke arah Nyonya Mahendra.
"Ah! Nona Mentari seorang yang jeli ternyata," puji Nyonya Mahendra. Mentari tersenyum penuh makna.
"Puteri sulung Adiwangsa Group memang beda," lanjut Nyonya Mahendra. Angkasa terlihat santai mengunyah makanannya.
"Angkasa, kamu bisa ajak Nona Mentari menghirup udara segar di balkon," pinta Nyonya Mahendra lembut yang artinya perintah mutlak. Angkasa meletakkan sendok dan garpunya, lalu beranjak.
"Mari," ajaknya datar pada Mentari. Mentari tersenyum, sambil mengelap sudut bibirnya.
Angkasa dan Mentari sudah akan melangkah menuju balkon, saat pintu ruang VIP dibuka. Angkasa menoleh dan terkejut. Matanya membulat melihat siapa yang baru datang.
"Ah! Nyonya Lestari!" kata Nyonya Mahendra sambil berdiri dan menyambut tamu yang baru saja datang. Nyonya Lestari tersenyum ramah dan hangat lalu memeluk Nyonya Mahendra.
Yang membuat Angkasa terkejut bukanlah Nyonya Lestari, melainkan seseorang yang hadir bersamanya yang juga sama terkejutnya dengan Angkasa.
"Ini puterinya? Cantik banget!" puji Nyonya Mahendra.
"Dunia. Biasa dipanggil Nia, Nyonya," kata Nyonya Lestari lembut.
Nia tersenyum sambil menunduk sopan. Sesekali Nia melirik ke arah Angkasa yang menatapnya tajam. Mentari terlihat kesal harus menunggu.
"Dunia? Nama yang unik. Manis anaknya. Lemah lembut keliatannya," puji Nyonya Mahendra.
"Kuliah?" tanya Nyonya Mahendra. Nia mengangguk.
"Di universitas negeri kota, jurusan seni murni," kata Nyonya Lestari bangga.
"Seni? Bisa melukis?" tanya Nyonya Mahendra. Nia mengangguk.
"Apa aja bisa?" tanya Nyonya Mahendra memastikan.
"Bisa, Nyonya," jawab Nia sopan.
"Wah! Udah lama banget saya pengen lukisan keluarga. Nia bisa?" tanya Nyonya Mahendra.
"Bisa, Nyonya. Tapi, agak lama," kata Nia sopan. Nyonya Mahendra seketika menggaet lengan Nia.
"Panggil 'Tante' aja," bisik Nyonya Mahendra. Nia tersenyum sopan.
"Angkasa," panggil Nyonya Mahendra. Angkasa berjalan menuju mamanya, meninggalkan Mentari yang sudah merengut karena belum beraksi sama sekali, namun mangsa telah pergi.
"Ini puteri Nyonya Lestari. Nia namanya. Bisa melukis. Kapan kamu luang? Biar dia lukis kita sekeluarga. Gimana, Pa?" tanya Nyonya Mahendra pada Angkasa dan Tuan Mahendra sekaligus.
"Atur saja, Ma," kata Tuan Mahendra dengan senyum yang terkembang.
"Kamu gimana, Sayang?" tanya Nyonya Mahendra pada Angkasa.
Angkasa menatap Nia yang juga menatapnya. Sudut bibir Angkasa terangkat sedikit.
'Semesta memang suka becanda,'
***