Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Flashback On - Flashback Off
Saat ini, di kediaman Xavier, tepatnya di ruang kerjanya, Xavier tengah menjawab telepon dari seseorang.
“Bagaimana semuanya, Kelv? Apa sesuai dengan rencana?” tanya Xavier pada Kelvin di seberang telepon sana
“Tentu, tuan. Sesuai dengan harapan tuan, dan saya akan kirim segera rekaman tersebut pada email Anda, Tuan.”
“Bagus. Saya tunggu.”
Panggilan pun tertutup.
Tak lama kemudian, muncul suara notifikasi email masuk.
Ting!
Xavier pun langsung membuka email di laptopnya.
Dan terlihat, rekaman CCTV yang dikirimkan oleh Kelvin. Ya, tangan kanan Xavier itu bernama Kelvin. Orang yang mengikuti Agnes ke mana pun hingga akhirnya Agnes berakhir seperti itu.
Xavier pun membuka video itu, dan terlihat Agnes seperti kenikmatan melakukan itu. Seperti telah terbiasa melakukannya.
Suara-suara aneh itu terdengar di ruang kerja Xavier. Beruntungnya, ruangannya itu kedap suara.
Tak ingin berlama-lama, Xavier pun segera menutup laptopnya.
“Agnes, itu akibatnya karena kau telah menjebak adikmu sendiri,” gumamnya.
Lalu, ingatannya berputar pada 5 hari sebelum pernikahan.
Flashback On
Saat itu, waktu malam hari di Hotel Delaar, dipenuhi dengan cahaya lampu kristal yang berkilauan.
Para tamu berpakaian rapi, mereka berbincang dengan senyum yang tampak sempurna, namun dipenuhi dengan sesuatu tersembunyi.
Seseorang yang mereka tunggu dalam acara itu pun langsung disambut hangat oleh sang pemilik acara.
Dan orang itu adalah Tuan X.
Tuan X berdiri tegak, dengan wajah yang tenang seperti biasa yang ditutupi oleh sebuah topeng.
Di sampingnya, Kelvin sang tangan kanan mendadak mendapatkan panggilan alam.
“Tuan, saya ke toilet sebentar,” bisik Kelvin.
Tuan X mengangguk.
Beberapa saat setelah Kelvin pergi, seorang pria asing mendekat. Senyumnya terlihat ramah, tapi seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Selamat malam, Tuan. Kehormatan bagi saya bisa berbincang dengan Anda,” katanya sambil menyodorkan segelas minuman.
Tanpa curiga, Tuan X menerimanya. Ia bukan orang yang lengah, tapi malam itu – semuanya terasa berbeda.
Tuan X langsung meneguknya.
Dan semuanya mulai berubah.
Orang itu langsung menahan tubuh Tuan X agar tidak jatuh.
Ia segera menelepon seseorang untuk membawa seorang wanita ke dalam kamar 203.
🌱🌱
Dan di saat yang bersamaan, Violet tengah berada dalam sebuah kamar bersama Agnes dan teman-temannya, Frenda, Riany dan Grace.
Mereka telah memesan 10 botol minuman. Mereka pun berbincang-bincang singkat.
Saat pandangan Violet ke bawah, tiba-tiba saja Agnes langsung memberikan sebuah kode pada teman-temannya.
“Violet, bagaimana kalau kita bermain tantangan?” ucap Grace.
“Tantangan?”
“Iya, setiap botol yang kita putar dan berhenti pada seseorang, orang itu harus meminum satu botol ini,” jawab Riany sambil menunjukkan botolnya.
“Euhhh... itu sepertinya... aku gak bisa,” jawab Violet.
“Ayolah, kau tidak mungkin menolak keinginan kakakmu ini kan?” pinta Agnes sambil memelas.
Violet menatap kakaknya Agnes dengan pandangan yang sedikit ingin menolak. Namun, kakaknya menggunakan wajah memelas itu, Violet pun tidak bisa untuk menolaknya.
“Euhhh, b-baik, aku... ikut,” jawabnya dengan ragu.
“Bagus, kalau begitu kita mulai.”
Agnes pun memulai botolnya, pertama botol itu berhenti di arah Grace.
“Yahhh, aku kena,” ucap Grace yang langsung meminum minumannya.
Botol kedua berhenti di arah Agnes.
Lalu botol ketiga berhenti di arah Frenda.
“Wahhh, Violet, dewi keberuntungan memihakmu ini,” ucap Frenda.
“Ehhh, sepertinya,” jawab Violet ragu.
“Bagaimana kalau kita memutar lagi?”
“Oke,”
Dan kali ini, Riany yang memutar.
Perlahan botol itu mulai berputar pelan dan stop. Berhenti di arah Violet.
Violet terkejut mendapatkan bahwa dirinya kena.
“Kak, bisakah aku meminum yang lain?” pinta Violet.
“Tidak bisa, Vio. Kita semua sudah meminumnya dan terlihat baik-baik saja,” ucap Agnes.
Teman-teman Agnes pun semua mengangguk. Dan Violet pun tidak ada pilihan lain akhirnya ia meneguk minuman itu.
Baru di botol pertama, Violet sudah mulai terlihat keleyengan. Tapi, Agnes dan teman-temannya seolah membiarkan hal itu. Mereka pun terus melakukan putaran botol, dan 3 kali botol itu berhenti di arah Violet.
Violet terus meminumnya hingga ia mulai terlihat pusing. Agnes dan teman-temannya yang melihat itu pun bertos ria, seolah semua rencananya berhasil.
Agnes pun segera membawa Violet yang terlihat kelimpungan keluar dari dalam kamar.
Dan di saat yang bersamaan, Agnes tiba-tiba mendadak ingin ke toilet.
Ia pun mendudukkan Violet di lantai. Sedangkan Violet, ia langsung pergi.
Bersamaan dengan itu juga, Kelvin yang sedang berjalan terburu-buru, mendadak berhenti melihat seseorang tengah tidur di lantai.
“Siapa yang membawa wanita ini ke sini?” gumamnya.
Tanpa ada pilihan lain, ia pun membawa Violet ke arah kamar yang mana tempat Tuannya di bawa.
Dan ketika masuk, terlihat seorang wanita sedang mengerayapi tuannya. Dengan segera, ia pun mendudukkan Violet di kursi, Kelvin pun langsung berlari dan memukul tengkuk wanita itu.
Kelvin langsung saja menepuk-nepuk wajah tuannya agar tetap sadar. Dan perlahan, mata tuannya mulai terbuka.
“Eunghhh, panas...”
Segera saja Kelvin langsung membawa Tuannya ke kamar mandi dan berendam air dingin dalam bathub.
Setelah memasukkan Tuannya ke dalam bathub, ia pun langsung kembali pada Violet.
‘Nona, bangun.” Dengan menepuk pipinya agar perempuan itu segera sadar.
Sedangkan di luar, tempat Violet dibawa oleh Kelvin, Agnes baru saja kembali dari toilet langsung celingak-celingukan mencari Violet.
“Ke mana dia? Apa suruhan orang itu sudah membawanya?” gumamnya.
Dengan semangat, ia mengatakan, “Baguslah, setidaknya aku tidak perlu membawa Violet pada orang itu.”
Setelah itu, Agnes pun pergi meninggalkan Violet yang entah berada di kamar mana.
Sedangkan di kamar 203, Violet perlahan mulai bangun setelah ditepuk-tepuk oleh Kelvin, ia langsung bangkit secara tiba-tiba dan pergi menuju toilet.
“Huekkk... Huekkk...”
Violet pun memuntahkan isi perutnya yang terasa berputar-putar.
Tuan X yang berada di dalam bathub, melihat seseorang segera berdiri di depan cermin langsung bangkit.
Dengan mata yang sayup-sayup, rasa panas kembali muncul ketika melihat sosok wanita di depannya.
Tuan X langsung membalikkan tubuh Violet dan langsung menciumnya dengan panas.
Violet berusaha untuk menyeimbangi ciuman itu, hingga akhirnya tubuhnya perlahan mulai naik. Tuan X berjalan menuju ranjang dengan Violet berada dalam pangkuannya.
Kelvin yang melihat kondisi mulai memanas, langsung segera bertindak.
Bugh!
Ia memukul tengkuk Tuan X dan langsung menahan berat tubuhnya agar tidak menimpa Violet.
“Maaf, Tuan. Saya harus melakukan ini agar kalian tidak sama-sama memenuhi nafsu kalian.”
Kelvin pun langsung membawa tubuh Tuan X ke sisi ranjang satunya, begitu pun juga dengan Violet.
Sedangkan Kelvin, ia duduk di kursi sana.
...****************...
Pagi hari pun tiba, cahaya masuk melalui celah gorden, dan langsung menyinari wajah Violet.
Ia yang menyadari hari mulai siang pun segera bangun. Dengan kepala yang masih terasa pusing, ia melihat sekitar. "Aku... di mana?"
Ketika melihat sekeliling dengan pandangan yang masih berat, ia terkejut bukan main. "A-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa tidur dengan seorang pria?"
Violet segera melihat ke arah tubuhnya. "Pakaian masih sama, tidak ada yang berbeda."
"Aku-aku harus cepat pergi dari sini sebelum Tuan itu terbangun."
Violet dengan kepala yang masih pusing pun dengan cepat turun dari ranjang dan langsung keluar dari kamar itu tanpa melihat ke belakang.
** Di kediaman Alexander, tepatnya di kamar Agnes.
Ia tengah melihat sebuah video yang dikirim oleh orang suruhannya untuk mencemari nama Violet. Dalam video itu terlihat mereka sedang melakukan sebuah ciuman panas, namun hanya terlihat dari samping.
Dan Agnes langsung saja mengirim video itu dengan tulisan “SISWA PRIMA NAVARA TERLIHAT TENGAH MELAKUKAN SEBUAH ADEGAN DI SEBUAH HOTEL.”
Dengan akun anonim yang ia buat, Agnes segera melayangkan aksinya.
“Loh, itu terlihat seperti... Violet?”
“Beneran itu Violetta Rosalyn?”
“Siswa yang dikagumi para guru?”
Orang-orang pun langsung berbondong-bondong mengomentari postingan itu.
Dan mereka langsung mengirim ulang video itu dalam forum sekolah.
Agnes dengan nomor anonim, segera mengirimkan video itu pada Papa Darius dan Mama Viony. Setelah itu, ia pun segera membuang nomor itu pada tempat sampah di dekat pintu.
“Hahaha... Kau lihat Violet, setelah ini kau akan merasakan kemarahan Papa. Itu akibatnya jika kau melampaui diriku dan membuat orang yang ku suka tertarik padamu. Tapi kali ini, ia akan melihatmu seperti kotoran,” gumamnya dengan disertai senyum kecil.
Ketika hatinya senang, tiba-tiba langkah kaki terdengar. Agnes pun segera keluar dan pura-pura terkejut.
“Violet?! Kamu baru pulang?!” tanyanya dengan suara keras.
“Kamu dari mana? Kakak semalam cari-cari kamu.”
Papa Darius dan Mama Viony pun langsung keluar dari kamar dengan wajah merah. Ketika melihat Violet langsung saja Papa Darius melayangkan sebuah tamparan pada pipinya.
PLAK!
“P-Papa?”
“Berani-beraninya kamu pulang setelah melakukan sesuatu yang mencoreng nama keluarga!” bentak Papa Darius.
“A-apa maksud Papa?”
“Sudah berbuat malu, sekarang berani bertanya apa maksudnya, hah?!”
“Agnes! Masuk ke dalam!” suruh Papa Darius.
Agnes pun segera masuk ke dalam kamarnya, tetapi ia tak sepenuhnya tertutup, ia menyisakan sedikit celah pintu itu.
“Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi tolong percaya padaku, Pah, Mah,” ucapnya lirih.
Flashback Off