Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Hari itu cuaca sangat panas, matahari bersinar terik membakar aspal jalanan. Namun di dalam rumah kecil itu, suasana terasa jauh lebih teduh dan nyaman berkat kipas angin tua yang berputar pelan dan kehadiran Alexa yang selalu sibuk merapikan segalanya.
Genesis pulang lebih awal dari biasanya karena shift kerjanya sudah selesai. Wajahnya tampak lelah, keringat bercucuran membasahi kaos oblong yang ia kenakan, namun langkah kakinya terasa ringan begitu melihat sosok Alexa yang sedang duduk di lantai sambil menjahit kancing baju kerjanya yang copot.
Pemandangan itu terasa begitu… biasa.
“Pulang, Gen? Cepet banget?” tanya Alexa tanpa menoleh, tangannya tetap lihai memainkan jarum dan benang.
“Iya, hari ini kelar cepet. Panas banget di luar,” jawab Genesis sambil meletakkan tasnya, lalu duduk bersandar di dinding tepat di hadapan Alexa. Ia tidak langsung mandi atau berganti baju, ia justru ingin duduk diam seperti ini, menatap gadis itu.
Alexa akhirnya berhenti menjahit, menoleh dan menatap wajah Genesis lekat-lekatkan.
“Kamu capek ya? Wajahnya kusut gitu,” kata Alexa lembut, ia meletakkan jahitannya, lalu mengangkat tangannya menyeka keringat di pelipis Genesis dengan ibu jarinya.
Gerakan itu begitu alami, begitu lembut, seolah sudah dilakukan ribuan kali.
Genesis menutup matanya sejenak, menikmati sentuhan dingin tangan Alexa di wajahnya yang panas. Ia tidak mundur, tidak canggung, justru ia mendekatkan wajahnya sedikit lebih dekat.
“Capek badan sih iya. Tapi kalau udah liat muka lo, capeknya ilang entah ke mana,” jawab Genesis dengan nada bercanda tapi tatapannya serius sekali.
Alexa terkekeh pelan, menarik tangannya kembali meski jantungnya berdegup kencang.
“Makin manis aja mulut kamu. Dulu juga gini ya kalau mau minta sesuatu?”
Kalimat itu terlontar begitu saja. Alexa tersentak dalam hati. Astaga, aku ngomong apa sih? Itu kan kebiasaan aku ngomong sama dia waktu kecil!
Namun Genesis justru tertawa renyah, menampakkan deretan giginya yang rapi.
“Hah? Dulu? Dulu kapan? Lo kenal gue dari lama emangnya?”
“E-enggak! Maksud aku… cewek kan emang gitu, kalau cowok udah mulai manis pasti ada maunya!” Alexa buru-buru mengalihkan topik, wajahnya memerah karena hampir ketahuan ceroboh.
Genesis semakin tertawa melihat tingkah gadis itu yang lucu saat panik.
“Iya deh iya. Gue mau minta sesuatu sih sebenernya.”
“Apa?”
“Minta ditemenin. Gue pengen ngobrol lama-lama gitu hari ini. Capek banget pikiran, pengen curhat,” kata Genesis, suaranya merendah, kehilangan nada bercandanya.
Alexa mengangguk cepat. “Boleh dong. Mau ngobrol apa? Aku dengerin kok.”
Mereka pun duduk berhadapan di lantai yang dingin. Jarak di antara mereka sangat dekat, hampir tak ada ruang kosong. Genesis menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan tentang bosnya yang galak, tentang temannya yang jahil, tentang beratnya mencari uang di kota ini, dan tentang rasa takutnya akan masa depan.
Selama ini Genesis tidak pernah punya tempat untuk bercerita. Sejak ibunya meninggal, ia memendam segalanya sendirian, menanggung beban dunia sendirian. Tapi sekarang, ada Alexa. Ada pendengar setia yang menatapnya dengan mata penuh pengertian.
“…kadang gue mikir, buat apa gue kerja keras? Buat siapa? Hidup gue dulu sepi banget, Lex. Gelap. Rasanya pengen nyerah aja gitu,” cerita Genesis pelan, matanya menatap lantai.
Alexa mendengarkan dengan seksama, tangannya terulur secara refleks memegang tangan Genesis yang tergeletak di antara mereka.
“Tapi sekarang?” tanya Alexa lembut.
Genesis mendongak, menatap mata Alexa dalam-dalam. Ia membalas genggaman tangan gadis itu, mengerat, seolah ingin menyalurkan semua perasaannya lewat sentuhan itu.
“Sekarang beda. Sekarang gue punya alasan buat bangun pagi. Gue punya alasan buat pulang cepet. Gue nggak takut lagi sama rumah yang sepi, karena gue tau ada lo di dalem sini.”
Suasana menjadi hening sejenak, hanya suara napas mereka yang terdengar teratur.
“Lex, lo sadar nggak sih?” Genesis mulai lagi, suaranya serak dan berat.
“Kita ini aneh banget. Kita kenal baru beberapa minggu kan? Lo orang asing, gue juga orang asing. Tapi rasanya… rasanya kayak kita udah kenal seumur hidup.”
Alexa menelan ludah yang terasa berat di tenggorokan. Dadanya sesak oleh emosi.
“Iya…” jawabnya terbata. “Aku juga ngerasa gitu. Rasanya… aku kayak udah hafal banget sama kamu. Rasanya aku kayak… udah lama banget nungguin momen kayak gini.”
“Rasa familiar itu dari mana ya?” Genesis mengerutkan keningnya, mencoba mencari jawaban.
“Lo ngomongnya kadang kayak orang tua, cara lo ngurus rumah juga kayak emak-emak berpengalaman, cara lo masak… persis banget.”
Ia menatap tajam ke manik mata Alexa. “Lo sebenernya siapa sih, Lex? Kenapa lo bisa ngerti gue sebaik ini? Kenapa lo bisa bikin gue nyaman secepat ini?”
Pertanyaan itu menghantam dada Naura begitu keras. Ia ingin sekali berteriak menjawab, AKU IBUMU! AKU ORANG YANG MELAHIRKAN KAMU, YANG MEMBESARKAN KAMU! MAKANYA AKU NGERTI!
Tapi yang keluar hanyalah senyum getir dan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku… aku cuma orang yang sangat peduli sama kamu, Gen. Sangat peduli,” jawabnya dengan hati-hati.
“Mungkin… mungkin takdir yang mempertemukan kita. Mungkin Tuhan ngeliat kamu kesepian, jadi Tuhan kirim aku buat nemenin kamu.”
Genesis menggeleng pelan, ia tidak puas dengan jawaban itu, tapi ia tidak memaksa. Ia tidak ingin merusak suasana indah ini dengan pertanyaan yang belum waktunya dijawab.
“Gue nggak peduli lo siapa. Gue nggak peduli lo dari mana. Yang penting sekarang, lo ada di sini. Lo sama gue,” ucap Genesis tegas. Ia mengangkat tangan Alexa, menempelkan punggung tangan gadis itu ke pipinya sendiri.
“Gue ngerasa aman kalau sama lo. Gue ngerasa… pulang. Lo ngerti nggak rasanya pulang ke rumah yang beneran rumah?”
“Ngerti…” isak Alexa pelan, air mata akhirnya jatuh. “Ibu… aku ngerti banget.”
“Lo kenapa nangis terus sih akhir-akhir ini?” Genesis mengusap air mata di pipi Alexa dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut dan penuh kasih sayang.
“Jangan nangis dong. Lihat kamu nangis, hati gue rasanya sakit banget kayak ditusuk-tusuk.”
“Karena aku bahagia, Gen. Aku bahagia banget liat kamu sekarang. Kamu kuat, kamu baik, kamu dewasa…” Alexa berusaha tersenyum di balik tangisnya.
“Aku cuma takut… takut suatu hari ini semua cuma mimpi. Takut aku bangun dan kamu nggak ada di sini lagi.”
“Gila aja!” Genesis memotong cepat, suaranya tegas. “Gue ada di sini. Gue nyata. Dan gue bakal terus ada di sini. Selama lo juga nggak kemana-mana.”
Ia mendekatkan wajahnya, hingga dahi mereka bersentuhan. Hidung mereka hampir bersentuhan, napas mereka bercampur menjadi satu.
“Janji sama gue, Lex. Apapun yang terjadi, jangan pernah lepasin tangan gue. Kita hadapin bareng-bareng ya?” bisik Genesis tepat di depan bibir Alexa.
Alexa mengangguk berkali-kali, tak mampu berkata apa-apa lagi karena tangisnya yang mulai tertahan di tenggorokan.
“Iya… aku janji. Kita hadapin bareng. Aku nggak bakal lepasin kamu, Gen… aku nggak bakal lepasin kamu lagi.”
Mereka diam dalam posisi itu untuk waktu yang sangat lama. Tidak perlu kata-kata lagi. Semua perasaan, semua kerinduan, semua rasa sayang itu sudah tersampaikan lewat genggaman tangan dan tatapan mata.
Ikatan itu sudah terbentuk. Bukan hanya ikatan antara dua manusia yang saling menyukai, tapi ikatan darah, ikatan jiwa, yang dipersatukan kembali oleh takdir yang rumit.
Mereka mungkin tidak sadar sepenuhnya apa yang terjadi di antara mereka, tapi tubuh dan hati mereka tahu. Mereka tahu bahwa mereka adalah milik satu sama lain. Bahwa mereka adalah rumah bagi satu sama lain.
“Sayang kamu, Lex…” bisik Genesis lirih, hampir tak terdengar.
“Sayang kamu juga, Genesis…” jawab Alexa, dengan hati yang penuh cinta sekaligus penuh luka.
Malam itu mereka tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Tangan mereka masih saling menggenggam bahkan saat mata sudah terpejam. Ikatan itu sudah kuat, sangat kuat. Dan mulai saat ini, tidak ada satu pun hal yang mudah untuk bisa memisahkan mereka berdua.