Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Di ruang kerja, Bella mengoceh mempertanyakan sikap Fahri yang memutus kerja sama dengan Toni secara sepihak. Rasanya terlalu kejam mengingat Toni merupakan salah satu investor yang menanam modal cukup besar di perusahaan.
"Dunia bisnis ini kejam, sayang. Jika tidak melempar, maka kita yang akan dilempar." terang Fahri. Bella masih anak bawang untuk urusan seperti ini, jadi dia belum mengerti kuatnya persaingan antara pebisnis satu dengan yang lainnya.
Meski dikatakan belum mengerti, tapi setidaknya Bella paham. Dia hanya tidak ingin urusan Sinta menjadi lebar kemana-mana.
Namun justru itu yang Fahri khawatirkan. Karena tidak ingin masalah tersebut melebar, makanya Fahri menolak kerja sama dengan Sinta. Fahri nyaris terjebak sekali oleh Venny, dia tidak ingin terjebak untuk kedua kalinya.
Kata orang, kena sekali anggap pelajaran agar kedepannya bisa lebih berhati-hati pada orang lain. Tapi kalau terjebak dua kali, itu artinya gob1ok.
Sambil duduk di kursi meja kerjanya, Fahri meraih tangan Bella dan menariknya. Bella yang barusan hendak duduk tiba-tiba terhenyak di atas pangkuan Fahri.
Fahri melingkarkan tangannya di pinggang Bella, Bella pun mengalungkan tangan di leher suaminya itu.
Sambil mendekap Bella, Fahri mengatakan bahwa dia tidak suka dengan orang bermuka dua. Seperti Toni tadi contohnya, padahal biasanya setiap investor saling bersaing agar dapat tempat di perusahaan seperti punya mereka, tapi Toni justru membahas masalah lain yang tidak ada sangkut paut dengannya. Fahri tidak tau bagaimana cara Sinta mencuci otaknya.
"Tapi tindakan kamu tadi bisa merugikan perusahaan, sayang." tegas Bella dengan kening menempel di leher Fahri.
"Rugi apanya? Tanpa mereka pun, perusahaan ini akan tetap berjalan." jelas Fahri dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Tapi tetap saja rugi, kalau tidak ada investor, siapa yang akan menanam modal ke kita, lalu dengan apa kita berinvestasi ke perusahaan lain." cecar Bella.
"Hahaha..." Fahri tertawa terbahak-bahak.
"Loh, kok malah ketawa? Aku serius, Fahri...." kesal Bella sambil menjewer telinga suaminya itu.
"Hm... Makanya punya suami tuh diperhatikan, ditanya, diselidiki, jangan tau enaknya saja." kata Fahri mengulum senyum, membuat alis Bella bertaut.
"Apanya yang diselidiki? Apa kamu selingkuh di belakang aku?" tanya Bella mencari tau, mendadak matanya terbelalak.
"Astaga, sayang. Kenapa lari ke selingkuh sih? Kapan aku punya waktu buat selingkuh? Orang selama 24 jam ada kamu kok di sisi aku." Fahri mendengus.
"Lalu apanya yang harus diselidiki?" tanya Bella lagi penasaran.
"Bella, Bella, kenapa kamu jadi lemot begini sih?" Fahri mulai geram. Dia mengangkat dagu Bella dan menyesap bibirnya dengan lembut.
"Isi baterai dulu yuk, biar pikirannya encer!" ajak Fahri dengan senyum nakal setelah melepas bibir Bella, hembuskan nafasnya yang hangat menerpa wajah Bella, membuat jantung Bella berdebar-debar.
"Ogah!" tolak Bella sambil membuang muka.
"Nah, giliran yang satu itu, gampang banget nyambungnya." Fahri terkekeh, Bella benar-benar membuatnya geram.
"Hehehe..." Bella ikut tertawa cengengesan.
Melihat Bella tertawa menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi, senyum Fahri menyungging.
Kadang dia senang melihat Bella seperti ini, manja, lugu tetapi sesekali pecicilan. Namun kalau lagi marah, sudahlah, Fahri benar-benar dibuat gila olehnya.
"Sebentar lagi ada janji sama klien di luar, ayo siap-siap!" Bella hendak bangkit dari pangkuan suaminya itu tapi Fahri menahannya.
"No, kita gak usah ikut." tekan Fahri sambil menggeleng, dia sudah memiliki tujuan lain.
"Kenapa, sayang?" Bella menautkan sepasang alisnya.
"Klien kali ini perempuan lagi, biar Reza saja yang mengurusnya." Fahri tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi antara dia dan Bella seperti waktu itu, lebih baik dia menghindar.
"Kasihan Reza, sayang. Masa' semuanya dia yang urus? Kapan dia punya waktu istirahat?" keluh Bella, bagaimanapun Reza bukan robot yang akan kuat jungkir balik tiap hari, kadang Bella merasa Fahri terlalu kejam kepada asistennya itu. Kerja sih kerja, tapi gak harus dipaksa 24 nonstop juga.
"Suruh bawa Ranti saja, biar sekalian pendekatan. Kasihan kelamaan jomblo, takut berkarat." bisik Fahri sambil menahan tawa.
"Astaga, sayang. Kenapa pikiran kamu kesana mulu sih? Lagian kamu juga sama, kalau aku gak mau rujuk, pasti sampai detik ini...." Bella menutup mulut dengan cepat, dia benar-benar keceplosan. Dia takut Fahri marah.
"Kalau gak mau rujuk, aku paksa." tekan Fahri dengan tatapan nakal, sebelah matanya mengedip.
"Gimana mau maksa kalau akunya gak mau?" Bella membuang muka dengan angkuh.
"Mana ada cerita gak mau, baru dicium sedikit saja sudah mendezah, baru dikecup lehernya saja sudah gak tahan." ungkap Fahri mengingat bagaimana antusias nya Bella saat mereka bersenggama, mulut Bella tidak bisa diam. Itulah yang membuat Fahri sangat suka, adrenalin Fahri terpacu untuk memuaskan istrinya itu.
"Fahri..." teriak Bella dengan pipi memerah.
"Ah, enak, ehm..." ejek Fahri meniru suara Bella ketika berada di bawah kungkungannya, ekspresinya pun benar-benar sama, membuat Bella menyembunyikan wajahnya karena malu.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk!" sorak Fahri ketika mendengar ketukan pintu dari luar.
Bella hendak turun dari pangkuan Fahri tapi urung karena Fahri memeluk erat pinggangnya.
Sepersekian detik, Ranti muncul dari balik pintu yang terbuka setengah. "Ma-maaf, Pak." Ranti berbalik badan, dia tidak nyaman melihat pemandangan di hadapannya.
"Ngapain berbalik? Sini masuk!" perintah Fahri.
Dengan perasaan tidak enak, Ranti kembali berbalik. "Hehe... Maaf mengganggu sebentar Pak, Bu..." dengan raut muka merah dan senyum getir, Ranti memberanikan diri menghadap walau sebenarnya malu melihat kedua atasannya yang begitu intim.
Dengan langkah pelan dan pandangan mengedar ke arah lain, Ranti mendekat dan menyerahkan proposal yang sudah direvisi sekaligus mengingatkan jadwal bertemu klien siang ini.
"Kamu saja yang pergi sama Reza, kami ada urusan." kata Fahri.
"A-aku..." Ranti tergagap menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, siapa lagi? Memang ada orang lain di ruangan ini?" ujar Fahri.
"Ti-tidak, Pak. Tapi, aku..."
"Sudah, jangan aku aku terus!" timpal Bella.
"Baik, Bu." Dengan berat hati, terpaksa Ranti mengangguk kecil menyetujui perintah kedua atasannya. Lalu undur diri untuk bersiap-siap.
Setelah Ranti menghilang dari pandangan mereka, Fahri mengajak Bella bersiap-siap. Dia sudah lelah menjadi direktur utama hingga harus berkutat dengan pekerjaan selama lima tahun penuh, dia ingin merasakan menjadi dirinya sendiri setelah sekian lama menyibukkan diri di perusahaan.
Andai tidak memikirkan permintaan kakek Ahmad kala itu, mana mau dia mengurus perusahaan yang menurutnya melelahkan itu. Hidupnya terkekang, kebebasannya hilang.
"Kita mau kemana, sayang?" tanya Bella setelah turun dari pangkuan Fahri. Fahri menyambar tas milik Bella di atas meja dan menentengnya, sebelah tangannya menggenggam tangan Bella erat.
"Mencari tau siapa suamimu sebenarnya." jawab Fahri santai.
Bella mengangkat sebelah alisnya, dia tidak mengerti maksud Fahri. Memangnya siapa Fahri sebenarnya. Setau Bella Fahri suaminya, cucu laki-laki mendiang kakek Ahmad dan pewaris utama Ahmad Invest Internasional yang kini sedang berjaya. Selain itu, Bella benar-benar tidak tau.
itu belom hamil yaa 🤭🤣