NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Ingin Menikah Denganmu

Pertemuan puisi musim dingin itu diadakan di Paviliun Teratai Kembar, yang berdiri

anggun di tengah danau dalam kediaman keluarga wang.

.

Paviliun itu baru selesai dibangun awal tahun ini, sebuah karya yang sengaja dirancang

untuk memadukan keindahan dan tata krama.

Sebuah jalan kayu memanjang di atas air

yang tenang, lalu bercabang menjadi dua jalur sempit, masing-masing menuju paviliun

di ujungnya.

Dua paviliun itu dipisahkan, namun tidak terlalu jauh.

Cukup dekat untuk saling mendengar suara…

namun cukup jauh untuk menjaga batas antara pria dan wanita.

Di musim panas, tempat ini dipenuhi lautan daun teratai dan bunga yang bermekaran,

harum lembut mengapung di udara.

Namun kini, di musim dingin, danau itu sunyi, permukaannya dingin dan pucat seperti cermin beku.

Angin berhembus tipis, membawa rasa dingin yang menggigit.

Tirai bambu diturunkan setengah, menahan hembusan angin, sementara di dalam

paviliun, tungku arang menyala pelan.

Uap teh mengepul perlahan, dan aroma anggur hangat menyebar, menciptakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya dunia di

luar.

...----------------...

Ketika Shen Fuyan turun dari kereta, ia langsung merasakan ada sesuatu yang… tidak biasa.

Langkahnya baru saja menyentuh tanah, namun suasana di sekitarnya tiba-tiba mereda.

Percakapan terhenti.

Tatapan berkumpul.

Para gadis muda, para putra bangsawan semuanya menoleh ke arahnya dengan

ekspresi yang sulit dijelaskan.

Shen Fuyan sedikit mengernyit di balik ketenangannya.

Apa riasanku benar-benar seaneh itu?

Namun ia tidak menunjukkan apa pun.

Selama bertahun-tahun, ia telah melatih dirinya memiliki ketahanan mental seperti baja.

Tatapan orang lain? Hal kecil.

Bahkan jika seseorang berteriak tepat di telinganya, ia mungkin hanya akan mengangkat alis sedikit.

Namun tetap saja… rasa penasaran itu muncul.

Ia melirik ke samping.

Di sana, Nyonya Lin berdiri dengan senyum puas yang nyaris tidak disembunyikan.

Ada kilatan bangga di matanya.

…Bangga?

Shen Fuyan memicingkan mata.

Lalu ia beralih ke Lin Yuexin.

Seperti biasa, gadis itu tersenyum lembut—sempurna, anggun, dan… terlalu sempurna.

Senyum yang jelas-jelas dibuat.

Senyum yang biasa digunakan untuk menipu orang.

“…Baiklah,” gumam Shen Fuyan dalam hati.

Kalau begitu, ia akan mengikuti arus saja.

Dengan langkah tenang, ia mengikuti pelayan menuju Paviliun Teratai Kembar.

...----------------...

Di paviliun wanita, suasana jauh lebih hidup.

Tawa ringan terdengar, diselingi bisikan dan pujian yang ditahan-tahan.

Sebagian besar yang hadir adalah anggota perkumpulan puisi milik Lin Yuexin,

sementara sisanya adalah sahabat dekat Nona Wang.

Begitu Shen Fuyan muncul perhatian langsung tertuju padanya.

Bukan sekadar sopan santun.

Tatapan mereka terlalu intens.

Awalnya, Shen Fuyan mengira ini karena pengaruh Lin Yuexin. Wajar saja gadis itu

punya jaringan luas di ibu kota.

Namun lama-kelamaan, ia menyadari sesuatu.

Tatapan itu… tidak lepas dari wajahnya.

Akhirnya, seorang gadis tidak bisa menahan diri dan berseru,

“Nona Shen, riasan Anda… apakah punya nama?”

Shen Fuyan terdiam sejenak.

Lalu, tanpa ragu, ia menoleh ke Nyonya Lin.“Punya nama?”

Nyonya Lin menundukkan kepala sedikit, suaranya tenang.

“Disebut Riasan Retak Berkilau.”

Sejenak hening lalu paviliun meledak dengan decak kagum.

“Indah sekali!”

“Retak, tapi tidak berantakan nama yang sempurna!”

Suasana langsung berubah menjadi puitis.

Seseorang mulai merangkai bait, namun terhenti di tengah.

Setengah puisi itu kemudian dikirim ke paviliun pria.

Masalahnya para pria tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.

Tanpa memahami maknanya, mereka menambahkan baris secara sembarangan, bahkan ada yang memuji dengan asal-asalan.

Senyum para wanita tetap terjaga.

Namun di baliknya ketidakpuasan mulai mengendap.

...----------------...

Di tengah situasi itu, tiba-tiba Shen Fuyan ditarik ke sisi paviliun yang menghadap

langsung ke arah pria.

Satu per satu gadis di sana berdiri, memberi jalan.

Tanpa sempat menolak, ia sudah berada di tempat paling mencolok.

Angin dingin meniup ujung lengan bajunya.

Tirai bambu bergoyang pelan.

Dari paviliun seberang, para pria langsung terdiam.

Wajah mereka memerah.

Yang tadi asal bicara kini membisu.Yang tadi memuji tanpa berpikir kini menunduk, mulai memutar otak dengan serius.

Shen Fuyan… justru duduk santai.

Ia menyender ringan, seperti tidak terjadi apa-apa.

Seolah-olah menjadi pusat perhatian adalah hal biasa.

Ia mengambil cangkir teh, meniup uapnya perlahan, lalu menyesap dengan tenang.

Bahkan sempat mencoba anggur hangat.

Gerakannya santai.

Tanpa canggung.

Tanpa beban.

Tak lama kemudian, puisi akhirnya disempurnakan.

Sorak sorai terdengar dari kedua paviliun.

Semua orang tahu hari ini akan dikenang.

Nama Shen Fuyan dan riasannya akan menyebar ke seluruh ibu kota.

Namun Shen Fuyan tidak terlalu peduli.

Ia hanya berkata pelan pada Lin Yuexin,

“Ada cermin?”

Lin Yuexin, seolah sudah menunggu, langsung mengeluarkan cermin perunggu kecil dari lengan bajunya.

Shen Fuyan melihat dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan.Alisnya ditarik tipis melengkung.

Sudut matanya ditinggikan dengan warna lembut.

Bibirnya kecil, seperti kuncup bunga.

Namun yang paling mencolok, kilau warna-warni halus di wajahnya.

Seperti pecahan cahaya.

Berantakan… tapi indah.

Ia terdiam.

Sejak kapan ibu kota menyukai hal seperti ini?

...----------------...

Di paviliun pria, Pei Yuling juga memperhatikannya.

Awalnya, ia mengira ketertarikannya hanya sesaat.

Namun semakin lama ia melihat, semakin sulit mengalihkan pandangan.

Bukan hanya karena riasannya.

Tapi karena sikapnya.

Tenang.

Tidak terguncang.

Seolah-olah seluruh perhatian itu memang miliknya sejak awal.

Itu… tidak biasa.

Dan justru itulah yang membuatnya sulit diabaikan.

Tak lama, seorang pelayan datang menghampiri Pei Yuling.

“Tuan muda ingin berbicara dengan Anda.”

Pei Yuling mengira itu adalah Nona Wang.

Tanpa ragu, ia bangkit dan mengikuti pelayan menuju taman.

Salju tipis menutupi tanah.Udara dingin menggigit.

Ia berdiri sendirian, menunggu.

Langkah kaki terdengar.

Ia menoleh dengan harap.

Namun harapan itu langsung runtuh.

Yang datang bukan orang yang ia tunggu.

Melainkan Shen Fuyan.

Ia menurunkan pandangannya, menyembunyikan kekecewaan.

“Pertunangan kita belum resmi,” katanya datar.

“Bertemu seperti ini tidak baik untuk reputasimu.”

Shen Fuyan tersenyum tipis.

“Aku tidak punya pilihan. Ada hal yang harus kubicarakan sebelum semuanya terlambat.”

Suara itu jernih.

Lembut namun tegas.

Pei Yuling menghela napas.

“Katakan.”

Shen Fuyan menatapnya lurus.

“Kau mencintai orang lain.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa hiasan.

Tanpa ragu.

Pei Yuling terdiam.

Shen Fuyan melanjutkan, suaranya tetap tenang

“Aku tidak ingin menikah dengan pria yang hatinya bukan milikku.”

Namun sebelum ia selesai

Pei Yuling memotongnya.

“Aku tidak akan mengkhianatimu.”

Nada suaranya mengeras.

“Tapi perasaan… bukan sesuatu yang bisa kuatur.”

Matanya redup.

“Aku tidak akan mencarinya setelah menikah. Itu penghinaan baginya.”

Ada luka di sana.

Jelas.

Dalam.

Namun ia tidak melihat perubahan ekspresi Shen Fuyan.

Tiba-tiba BRUK!

Tubuhnya dihantam ke batang pohon.

Getaran keras menjalar.

Napasnya tercekat.

Tangannya secara refleks mencengkeram pergelangan yang menahan lehernya kuat.

Tidak bisa dilepaskan.

Matanya terangkatdan bertemu dengan tatapan Shen Fuyan.

Dingin.

Tajam.

Tanpa sedikit pun kelembutan.

Wajah yang tadi terlihat anggun… kini terasa menekan.

Mendominasi.

Berbahaya.

Suara Shen Fuyan turun, rendah dan dingin seperti es musim dingin

“Merasa paling menderita, ya?”

Udara di sekitar mereka… seakan membeku.

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!