Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Festival
Langit malam menyelimuti ibu kota Astrael.
Lampu-lampu kristal menyala di sepanjang jalan utama, sementara musik dari pesta bangsawan mulai terdengar samar dari berbagai penjuru istana.
Namun di balik kemewahan itu sesuatu sedang bergerak dalam kegelapan.
Di ruang pribadi Putra Mahkota, Putra Mahkota Elias Astrael berdiri di depan jendela dengan wajah dingin.
Sementara Arcelia Vareinne memperhatikan kesatria yang baru saja datang membawa laporan.
“Sejak kapan Kael menghilang?” tanya Putra Mahkota Elias rendah.
“Sekitar satu jam lalu, Yang Mulia.” kata Kesatria itu dan terlihat tegang.
“Beberapa pengawal pribadinya juga tidak ditemukan.” sambungnya.
Mata emas Putra Mahkota Elias menyipit perlahan. “Dan kalian baru melapor sekarang?” tanya Putra Mahkota dengan penuh tekanan.
Keringat dingin langsung muncul di wajah kesatria tersebut. “M-Maafkan kami…” katanya gugup.
“Keluar.” kata Putra Mahkota.
Dengan suara nada datar itu justru lebih menakutkan.
Kesatria tersebut langsung membungkuk lalu pergi secepat mungkin.
Begitu pintu tertutup suasana ruangan berubah jauh lebih berat.
Di atas meja, Auriel berjalan mondar-mandir gelisah. “Ini buruk.”
“Sangat buruk.” kata Auriel sambil terus bergumam.
“Apa menurutmu dia akan langsung bergerak malam ini?” tanya Arcelia.
Auriel mengangguk cepat. “Kalau Kael menghilang sebelum festival…berarti rencana mereka sudah masuk tahap akhir.”
Putra Mahkota Elias mengepalkan tangannya perlahan. Tatapannya kini dipenuhi kemarahan dingin. “Dia akhirnya memilih jalan ini.” katanya pelan.
Arcelia menyipit tipis. “Apa Yang Mulia masih berharap Pangeran Kael berubah?”
Keheningan muncul beberapa detik.
Lalu Putra Mahkota Elias tertawa kecil. Namun kali ini tawanya terdengar pahit.
“Dia adikku.” katanya.
Sebuah kata sederhana namun cukup menjelaskan semuanya.
Arcelia memalingkan pandangan pelan.
Dunia kerajaan memang selalu seperti ini. Keluarga bisa menjadi musuh paling berbahaya.
“Tuan Rumah.” Auriel tiba-tiba berdiri tegak.
Bulunya sedikit bercahaya. “Ada sesuatu.” kata Auriel sambil merasakan sesuatu.
Mata Arcelia langsung berubah tajam. “Ada apa?” tanya Arcelia.
Auriel menoleh ke arah dinding utara ruangan. “Sihir pengintai.”
Putra Mahkota Elias langsung bergerak cepat. Tangannya menyentuh dinding marmer putih dan detik berikutnya—
CRACK!
Lingkaran sihir kecil muncul samar sebelum pecah berkeping-keping. Udara di ruangan langsung berubah dingin.
Mata Putra Mahkota Elias mengeras. “Mereka memata-matai ruangan ini.” katanya.
Auriel menggeram kecil. “Black Serpent benar-benar terlalu berani.” kata Auriel kesal.
Namun Arcelia justru memperhatikan sesuatu yang lain. “Yang Mulia menghancurkan sihir itu dengan mudah.”
Tatapan emas Elias bertemu dengannya.
Dan untuk pertama kalinya sedikit aura menekan muncul dari tubuh Putra Mahkota.
“Aku tidak akan bertahan hidup sampai sekarang kalau lemah.” katanya.
Berarti Putra Mahkota Elias menyembunyikan kekuatannya selama ini. Sama seperti Kael yang menyembunyikan ambisinya.
Istana ini benar-benar dipenuhi topeng.
TOK!
Tok!
Suara ketukan cepat kembali terdengar. Namun kali ini terdengar lebih panik.
“Masuk,” ujar Putra Mahkota Elias dingin.
Saat pintu terbuka Marcus Vale masuk dengan wajah serius.
“Yang Mulia.” katanya pelan matanya sambil menatap Arcelia dengan cepat.
“Ada apa?” kata Putra Mahkota.
Marcus terlihat ragu sesaat. Lalu berkata pelan “Gerbang utara istana diserang.” katanya.
Semua langsung terkejut dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak dan berbicara seolah sedang terguncang.
Putra Mahkota Elias langsung menyipit. “Siapa yang berani menyerang istana secara terbuka?." tanya Putra Mahkota.
“Orang-orang bertopeng.” katanya dan Marcus menarik napas pendek.
“Dan mereka membawa simbol ular hitam.” lanjut Marcus.
Auriel langsung melompat turun dari meja. “Mereka mulai bergerak secara terang-terangan?!” kata Auriel tak percaya.
“Itu belum semuanya,” lanjut Marcus.
Tatapannya perlahan jatuh pada Arcelia. “Ada satu pesan yang ditinggalkan.”
Mata merah anggur Arcelia menyipit. “Pesan?”
Marcus mengangguk. Kemudian dengan suara berat ia berkata “‘Serahkan pewaris Arkanel… atau malam ini istana akan dipenuhi darah.’”
Ruangan mendadak terasa membeku. Tatapan Putra Mahkota Elias berubah sangat dingin.
Sementara Auriel menatap Arcelia dengan wajah tegang. “Mereka sudah tahu.”
“Identitasmu mulai terbongkar.” kata Auriel