NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Mencari Tahu

Pagi itu suasana kantor pusat PT. Argas terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya. Gedung tinggi yang biasanya dipenuhi suasana profesional kini terasa dingin dan berat.

Langit Jakarta juga tampak mendung sejak pagi. Awan gelap menggantung di atas kota, seolah ikut membawa firasat buruk.

Di ruang kerja utama lantai atas, Bagaskara duduk diam di kursinya sambil menatap foto di layar ponselnya. Foto Erika bersama pria lain di mall. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras.

Bagaskara benar-benar merasa dikhianati. Bukan hanya karena perselingkuhan, tapi karena sadar, selama ini dirinya terlalu percaya pada keluarga Erika.

Terlalu keras memaksa Arvano mempertahankan hubungan yang bahkan tidak pernah diinginkan anaknya sendiri.

Bagaskara menghela napas berat, namun satu hal masih mengganggunya.

Kebohongan ayah Erika tadi malam. “Itu adiknya Erika.” kata itu terus terngiang di kepalanya, entah kenapa Bagaskara tidak percaya sedikit pun.

Tok tok tok. Pintu ruangan diketuk pelan.

“Masuk.” Pintu terbuka. Yang masuk Yaitu Alga, Devon, dan Fero. Tiga sahabat Arvano yang juga bekerja di PT. Argas.

Mereka langsung sadar suasana ruangan terasa tidak biasa.

Alga mengernyit kecil. “Om manggil kami?”

Bagaskara langsung berdiri pelan, dengan tatapannya yang serius. “Kalian tahu soal Erika?”

Ruangan langsung sedikit sunyi. Devon dan Fero saling pandang.

Sementara Alga menghela napas kecil. “Sedikit.”

Bagaskara menatap mereka tajam. “Arvano juga tahu?”

Kali ini Fero menjawab pelan. “Dari dulu.”

Bagaskara langsung memejamkan mata sesaat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul di dadanya. Berarti, Anaknya memang benar selama ini. Namun dirinya terlalu keras kepala untuk percaya.

Bagaskara akhirnya membuka mata lagi. “Aku mau kalian cari pria yang ada di foto ini.” Menunjukkan foto Erika bersama pria di mall. “Cari sekarang.”

Alga sedikit bingung. “Maksud Om?”

Bagaskara menatap dingin. “Aku mau dengar sendiri siapa dia sebenarnya.”

Tak lama kemudian, Alga, Devon, dan Fero langsung bergerak. Mereka memang sudah terbiasa menangani urusan perusahaan yang rumit. Karena koneksi keluarga Argas cukup luas, mencari satu orang bukan hal sulit.

Sementara itu, Di rumah keluarga Argas, Aurel sedang membantu Feni menyiram tanaman depan rumah. Indah duduk di teras sambil memikirkan kejadian semalam dengan tatapannya kosong.

Aurel akhirnya duduk di sampingnya pelan. “Bu…”

Indah menghela napas panjang. “Ibu kecewa banget.”

Aurel diam mendengarkan.

“Selama ini ibu selalu bela Erika—.” Nada suara Indah terdengar sedih. “—Tapi ternyata…”

Aurel pelan-pelan berkata, “Mungkin Mas Arvano dari awal udah tahu, Bu.”

Indah tersenyum pahit kecil. “Iyaa.”

Saat itulah, Indah mulai sadar satu hal. Selama ini Arvano menjauh dari Erika bukan karena keras kepala, melainkan karena pria itu memang tahu sesuatu yang tidak diketahui keluarganya.

Di sisi lain, Bagaskara sebenarnya bukan orang yang mudah marah. Namun sekali seseorang menyentuh keluarganya, bisa menjadi sangat berbahaya.

Sekarang, yang membuatnya paling marah bukan hanya perselingkuhan Erika. Melainkan fakta bahwa mereka mencoba memanfaatkan keluarganya demi harta dan bisnis. Karena bagi Bagaskara, keluarga adalah segalanya dan tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.

Menjelang sore, sebuah mobil hitam berhenti di gudang kosong dekat gedung PT. Argas.

Gudang itu jarang dipakai, hanya orang-orang tertentu yang tahu tempat itu milik perusahaan.

Di dalam gudang, seorang pria duduk di kursi dengan tangan terikat. Wajahnya panik. Pria itulah laki-laki yang bersama Erika di mall.

Di depan pria itu, Alga berdiri sambil menyilangkan tangan. Devon duduk santai di atas meja kayu. Sementara Fero menatap tajam sejak tadi.

“Lepasin gue!” Pria itu memberontak panik. “Kalian gila ya?!”

Alga hanya tersenyum tipis. “Tenang, kami cuma mau ngobrol.”

Tak lama kemudian, pintu gudang terbuka lagi. Bagaskara masuk. Aura Bagaskara langsung membuat suasana semakin tegang. Pria yang diikat langsung membeku.

Bagaskara berjalan perlahan mendekat dengan tatapannya yang dingin, sangat dingin. Bagaskara berhenti tepat di depan pria itu. “Kamu adiknya Erika?”

Pria itu langsung gugup. “I-iya…” Namun wajahnya terlihat jelas sedang berbohong. Semua orang di ruangan itu sadar.

Bagaskara langsung tertawa kecil dingin. “Kamu pikir aku bodoh?”

Pria itu mulai panik. “Saya beneran adiknya—”

Belum selesai bicara.

BRAK! Kursinya ditendang Devon sampai hampir jatuh.

Pria itu langsung ketakutan.

“Kami paling benci pembohong,” ujar Devon dingin.

Suasana gudang semakin menegangkan. Pria itu terus mencoba menyangkal.

Namun Alga mulai kehilangan sabar. “Ngaku aja.”

“Saya emang adiknya!” Ucap pria itu dengan tegas.

Fero langsung memukul meja keras. “Bohong!”

Pria itu gemetar.

Sementara Bagaskara masih diam memperhatikan dengan tatapannya tajam seperti bisa membaca semuanya.

Alga menarik kerah pria itu kasar. “Kalau enggak ngaku sekarang…”

“GUE NGAKU!” Ucap Pria itu dengan cepat.

Ruangan langsung sunyi.

Pria itu mulai panik dan berkeringat. “Saya… saya pacarnya Erika.”

Deg.

Meskipun sebenarnya mereka sudah menduga, tetap saja pengakuan itu membuat suasana berubah.

Bagaskara langsung mengepalkan tangannya. Tatapannya mengeras. “Lanjut.”

Pria itu menunduk takut. “Erika dari awal emang enggak cinta sama Arvano, Dia cuma mau harta keluarga Arga.” Ucapan itu langsung membuat rahang Bagaskara mengeras keras.

Pria itu melanjutkan terbata-bata, “Kami… kami cuma mau manfaatin hubungan bisnis.”

“Astaga…” gumam Alga pelan.

Bagaskara akhirnya bicara lagi dengan suara rendah penuh amarah. “Berani sekali kalian main-main sama keluargaku.”

Pria itu langsung ketakutan. “S-saya cuma ikut Erika”

Bagaskara mendekat sedikit. “Kasih tahu Erika.”

Nada suaranya sangat dingin. “Semua rencananya sudah ketahuan.”

Tak lama kemudian, Pria itu akhirnya dilepas. Namun sebelum pergi, Bagaskara memberi satu peringatan terakhir. “Kalau kalian coba ganggu keluargaku lagi…” Tatapannya tajam menusuk. “.....Aku pastikan hidup kalian hancur.”

Pria itu langsung pergi terburu-buru.

Sementara suasana gudang masih terasa berat. Bagaskara lalu mengeluarkan ponselnya, langsung menelpon ayah Erika.

Telepon tersambung cepat.

Bagaskara "Mulai hari ini kerja sama kita selesai".

Ayah Erika "Pak Bagaskara, tunggu dulu—"

Bagaskara "dan hubungan Erika dengan Arvano juga selesai."

Ayah Erika "Ini salah paham."

Bagaskara "Cukup. Kalian sudah bohong ke saya. Anak bapak selingkuh dan bapak ikut menutupi semuanya."

Telepon langsung dimatikan sepihak. Ruangan kembali sunyi.

Alga sampai menghela napas panjang. “Wah… selesai udah.”

Bagaskara memejamkan mata sebentar. Entah kenapa, justru merasa lega. Karena akhirnya, kebohongan itu selesai juga.

Sementara itu, Arvano yang sejak tadi mendengar semuanya hanya diam, tidak terlihat terkejut. Karena memang sudah tahu dari awal.

Namun melihat ayahnya akhirnya percaya, ada rasa lega kecil dalam dirinya. Karena selama ini Arvano lelah terus dipaksa mempertahankan hubungan palsu itu. Dan sekarang, tidak ada lagi penghalang terbesar antara dirinya dan Aurel.

Malam harinya, Rumah keluarga Argas terasa jauh lebih tenang. Indah terlihat lega setelah tahu semuanya benar-benar terbongkar. Bagaskara juga tidak lagi membahas Erika.

Sementara di dapur, Aurel diam-diam tersenyum kecil saat mendengar hubungan Arvano dan Erika resmi berakhir.

Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama, karena di tempat lain, Erika sedang menangis marah di kamarnya.

Ponselnya dilempar sampai pecah. “Bagaskara berani mutusin kerja sama?!”

Pria yang tadi ditangkap hanya diam ketakutan.

Erika berhenti menangis. Tatapannya berubah dingin. Sangat dingin. Semua amarahnya kini hanya tertuju pada satu orang, yaitu Aurel.

“Kalau bukan karena pembantu itu…” Tangannya mengepal kuat. “Hidupku enggak akan hancur begini.”

Dan malam itu, Kebencian Erika berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!