Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Melody berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi karena hampir semua murid tumpah ruah di lapangan. Ia menggerutu tiada henti, bibirnya mengerucut sebal setiap kali mengingat kejadian memalukan tadi.
"Bener-bener nyebelin! Itu si Kaisar pasti sengaja biar gue jadi bahan ketawaan satu sekolah," omelnya sambil mengusap kepalanya yang masih terasa berdenyut. "Mau ngelawan tapi dia terlalu berpengaruh. Kalau gue labrak, yang ada besok nama gue tinggal kenangan di kartu keluarga Emak."
Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar. Ada pesan masuk dari grup mereka.
Ghea: Mel, lo di mana? Gue udah mau mulai lomba puisi di ruang seni nih! Doain gue menang biar nggak malu-maluin geng kita!
Rere: Gue juga udah di ruang tari, lagi pemanasan biar encok gue nggak kumat. Buruan ke sini nonton gue!
Melody menghela napas panjang. "Ahh, males banget. Kepala gue masih nyut-nyutan, pantat gue juga masih cenat-cenut gara-gara aspal lapangan."
Ia memutuskan untuk tidak menghampiri kedua sahabatnya. Alih-alih menuju ruang seni atau ruang tari, Melody justru belok arah menuju kelasnya sendiri. Suasana kelas 12 itu kosong melompong, hanya ada suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit.
"Mending tidur. Di dunia nyata jarang bisa tidur di jam sekolah begini, mumpung jadi anak sultan, mari kita manfaatkan fasilitas," gumamnya.
Melody menarik kursi, melipat kedua tangannya di atas meja sebagai bantal, lalu menelungkupkan wajahnya. Aroma parfum mahal milik si pemilik tubuh asli tercium lembut, perlahan-lahan membawa Melody tenggelam ke alam mimpi. Ia tidak peduli lagi dengan riuh rendah sorak-sorai di luar sana, atau fakta bahwa kepalanya baru saja dihantam bola oleh sang calon bos mafia.
Suasana kelas yang tadinya tenang mendadak pecah oleh suara langkah kaki berat dan gelak tawa yang menggema. Geng Amours masuk ke dalam kelas dengan keringat yang masih membasahi jersey mereka, membawa aura kemenangan sekaligus kegaduhan.
"Buset, tidur ni makhluk satu!" seru Jigar sambil menunjuk ke arah meja Melody. Ia tertawa kecil saat melihat posisi tidur Melody yang sangat pulas. "Liat tuh, jidatnya merah banget lagi bekas kena bola si Kaisar tadi. Awet bener itu stempel."
Galen, David, dan Azka ikut mendekat, sementara Kaisar hanya berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, namun matanya tak lepas menatap gadis yang sedang terlelap itu.
Kebisingan itu menusuk indra pendengaran Melody. Nyut-nyutan di kepalanya terasa makin parah karena suara tawa Jigar yang melengking.
"Berisik, anjirrr!" umpat Melody lantang. Ia masih memejamkan mata, jiwanya yang petakilan sebagai Asha langsung keluar tanpa filter. Ia belum sadar kalau dirinya sedang berada di dalam novel, bukan di kamarnya sendiri.
"Siapa sih yang teriak-teriak? Kagak tau orang lagi pening apa!" gerutunya lagi sambil perlahan mengangkat wajahnya dari lipatan tangan.
Namun, begitu kelopak matanya terbuka sempurna dan penglihatannya fokus, jantung Melody rasanya mau copot. Di depannya, berdiri Galen yang sedang tersenyum miring, Jigar yang menahan tawa, Azka dan David yang menatapnya heran, serta... Kaisar.
Kaisar berdiri sedikit jauh, menyandarkan punggungnya pada bingkai pintu. Matanya yang tajam dan sedingin es menusuk tepat ke arah mata Melody.
Melody membeku. Nyawanya seolah belum terkumpul sepenuhnya tapi adrenalinnya sudah melonjak ke ubun-ubun.
“Mampus gue... gue barusan ngatain geng mafia berisik?” batin Melody merana.
Melody berusaha menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum yang sangat dipaksakan—lebih mirip ringisan orang sakit gigi. Matanya berkilat menatap rombongan cowok-cowok populer itu.
"Bisa... kecilkan suara kalian sedikit? Kepala saya lagi mau pecah, nih," ucapnya dengan nada yang ditekan, berusaha tetap sopan tapi jelas-jelas sedang geram.
David malah menyeringai jahil, ia sengaja mendekat dan menyahut dengan suara yang lebih kencang, "Kagak! Kelas ini punya umum, bukan punya nenek moyang lo, Mel!"
Melody mengepalkan tangannya di bawah meja. "Lama-lama gue gebukin juga nih anak," gumamnya pelan, sangat pelan, tapi karena kelas sedang hening sejenak, gumaman itu terdengar jelas oleh anggota Amours.
Jigar dan Galen saling pandang, kaget mendengar Melody yang biasanya mendayu-dayu mengejar Kaisar sekarang malah ingin "menggebuk" teman mereka. Namun, sebelum suasana makin panas, pintu kelas diketuk pelan.
"P-permisi..."
Seorang cowok dengan kacamata besar, kemeja yang dikancingkan sampai ke atas, dan tangan yang gemetar memegang sebuah surat berwarna merah jambu masuk ke kelas. Langkahnya ragu-ragu saat melewati geng Amours yang auranya sangat mengintimidasi.
Cowok itu berhenti tepat di depan meja Melody. "M-melody... aku... aku udah lama suka sama kamu. Biarpun kamu suka sama Kaisar, aku tetep mau bilang kalau aku cinta sama kamu! Ini surat buat kamu!"
Suasana kelas mendadak sunyi senyap. Galen menaikkan alisnya, Jigar menahan tawa, sementara Kaisar yang tadinya bersandar di pintu kini menegakkan tubuhnya. Tatapan Kaisar yang semula dingin berubah menjadi lebih tajam, menusuk punggung cowok culun itu.
Melody melongo. Buset, di saat nyawa gue lagi di ujung tanduk gara-gara geng mafia ini, malah ada drama cinta monyet masuk? pikirnya stres.