not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Hari wisuda pun tiba. Suasana gedung serbaguna kampus sangat ramai. Ayana tampak anggun dengan kebaya kutubaru yang longgar dan jubah toga yang dimodifikasi khusus. Meskipun langkahnya sedikit lebih lambat dan sesekali ia harus mengelus perutnya yang terasa kencang, senyumnya tidak pernah pudar.
Saat nama "Ayana olyn atmalya" dipanggil oleh dekan, seisi ruangan sempat terdiam sejenak melihat seorang wisudawati yang melangkah dengan perut besar namun tetap terlihat tangguh.
"Horeee! Mamaaa! Mama hebat!" suara cempreng Reva melengking di antara kerumunan, membuatnya jadi pusat perhatian. Reva melambaikan tangan tinggi-tinggi didampingi Al yang menatap Ayana dengan tatapan penuh kebanggaan.
Ayana menerima ijazahnya dengan tangan bergetar. Di atas panggung, ia tidak hanya merasa sebagai seorang sarjana, tapi sebagai seorang pemenang. Ia telah membuktikan pada dunia bahwa menjadi ibu—bahkan di tengah badai masalah keluarga—bukanlah penghalang untuk menyelesaikan mimpi.
Selesai prosesi, Al langsung menghampiri Ayana dengan buket bunga besar. "Sarjana dan Ibu yang luar biasa. Saya bangga sama kamu, Na."
Ayana memeluk Al dan Reva bersamaan. "Terima kasih sudah nemenin aku sampai titik ini. Adek bayi di dalam juga pinter banget, dia nggak rewel selama acara tadi."
Di momen itu, rasa lelah akibat begadang mengerjakan skripsi sambil menidurkan Reva rasanya terbayar lunas. Kebahagiaan mereka kini lengkap: sebuah gelar, keluarga yang solid, dan kehadiran calon anggota keluarga baru yang sebentar lagi akan lahir. Tips Nyaman Wisuda Saat Hamil
...****************...
Hari itu, kediaman Al dan Ayana benar-benar dipenuhi dengan dekorasi warna-warni yang ceria. Di sudut ruang tamu, terdapat dekorasi balon dan angka "2" yang besar untuk merayakan ulang tahun Reva yang ke-2, sementara di sisi lain terdapat karangan bunga ucapan selamat untuk kelulusan Ayana.
Tepat di tengah ruangan, tersaji tumpeng besar dan aneka jajanan pasar untuk acara Syukuran 7 Bulanan (Mitoni) Ayana. Perut Ayana sudah semakin membundat cantik, dan ia tampak anggun mengenakan kebaya longgar berwarna pastel.
"Al, pelan-pelan jalannya, nanti kalau kontraksi palsu gimana?" tegur Mama Al yang sejak tadi tidak lepas mengawasi menantunya.
"Aku nggak apa-apa, Ma. Justru aku senang banget, hari ini semuanya kumpul," jawab Ayana sambil mengelus perutnya. Tradisi 7 Bulanan Kehamilan.
Acara dimulai dengan doa bersama. Al memimpin doa dengan sangat khusyuk, mengucap syukur atas gelar sarjana yang diraih Ayana, kesehatan calon bayi mereka, dan tumbuh kembang Reva yang kini sudah menjadi balita yang pintar.
"Selamat ulang tahun, anak pintar Papa," bisik Al saat Reva hendak meniup lilin di atas kue tart bertema dinosaurus favoritnya.
Reva tertawa kegirangan, "Leva dua tahun! Adek bayi mau kue juga?" tanya Reva sambil menyodorkan sepotong kecil kue ke arah perut Ayana, yang langsung membuat tamu undangan tertawa gemas.
Di tengah kemeriahan itu, Alya tiba-tiba datang. Ia tidak lagi datang dengan wajah kuyu seperti dulu. Ia membawa kado besar untuk Reva dan buket bunga untuk Ayana. Hubungan mereka memang belum sepenuhnya pulih, tapi kehadiran Alya menunjukkan sebuah rekonsiliasi keluarga yang nyata.
"Selamat ya, Na. Kamu hebat bisa lulus dengan kondisi hamil besar begini," ucap Alya tulus sambil memeluk adiknya. "Dan selamat ulang tahun, Reva sayang."
Momen itu menjadi puncak kebahagiaan. Ayana merasa hidupnya sudah sangat lengkap. Masa lalu yang pahit tentang perebutan anak dan fitnah kini telah terkubur, digantikan oleh tawa Reva yang berlarian dan tendangan aktif si kecil dari dalam perutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua bulan berlalu sejak keriuhan syukuran itu, suasana tenang di kediaman mereka pecah saat Fajar baru saja menyingsing. Ayana merasakan kontraksi yang jauh lebih kuat dari biasanya. Tanpa menunggu lama, Al segera melarikannya ke rumah sakit.
Setelah perjuangan yang menguras tenaga dan air mata, suara tangisan melengking yang lembut akhirnya memenuhi ruang persalinan. Seorang bayi perempuan yang cantik telah lahir ke dunia.
"Dia perempuan, Al... cantik sekali," bisik Ayana dengan suara parau, menatap haru bayi kecil yang diletakkan di dadanya untuk inisiasi menyusu dini. Bayi itu memiliki mata yang mirip Al, namun bibir mungilnya persis seperti Ayana.
Al mengecup kening istrinya lama, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Ayana. Dia sempurna."
Siang harinya, ruangan rawat Ayana berubah menjadi taman bunga dadakan. Reva datang dengan langkah berlari, mengenakan bando pita yang serasi dengan selimut adiknya. Ia terpaku di pinggir tempat tidur, menatap makhluk mungil yang sedang tertidur lelap.
"Papa, adek bayi cantik kayak Leva?" tanya Reva sambil mencoba menyentuh pipi adiknya yang sangat lembut.
"Iya, Sayang. Sekarang Reva jadi kakak, ya. Harus sayang sama Adek," jawab Al sambil menggendong Reva agar bisa melihat lebih dekat.
Alya kembali hadir, kali ini membawa sepasang sepatu bayi rajutan berwarna merah muda. Ia tampak lebih tenang, seolah beban masa lalunya benar-benar telah luruh melihat kehidupan baru di depannya.
Ayana menamai putri kecilnya Alana Aurora Azalea, sebuah nama yang berarti Anak perempuan berharga yang bersinar seperti fajar dan seindah bunga. Kehadiran Alana bukan hanya melengkapi kebahagiaan Al dan Ayana, tapi juga menjadi perekat terakhir yang menyatukan kembali retakan-retakan dalam keluarga mereka
...****************...
Di tengah keheningan kamar rawat yang hanya dihiasi suara napas teratur sang bayi, Al mengusap jemari mungil putrinya. "Jadi, kamu benar-benar yakin dengan nama itu?" tanya Al lembut.
Ayana tersenyum, wajahnya tampak bercahaya meski sisa kelelahan masih ada. "Iya, Al. Alana Aurora Azalea. Aku ingin dia tumbuh menjadi sosok yang membawa kehidupan dan energi bagi siapa pun di sekitarnya."
Ia menjeda sejenak, menatap Al dalam-dalam. "Seperti namanya, dia adalah Aurora kita—fajar yang mengakhiri kegelapan panjang semalam, dan Azalea yang akan terus mekar dengan indah meski musim berganti. Dia bukan sekadar bayi, Al. Dia adalah alasan kita untuk tidak lagi menoleh ke belakang."
Al tertegun, lalu mengangguk pelan sembari mengecup punggung tangan Ayana. "Nama yang indah. Dia benar-benar cahaya baru untuk keluarga kita."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Minggu-minggu pertama di rumah menjadi petualangan baru yang penuh tawa sekaligus kurang tidur. Al, yang biasanya kaku dan sangat serius dengan pekerjaannya, kini berubah menjadi sosok ayah yang sigap menggendong Alana di tengah malam demi memberikan waktu bagi Ayana untuk beristirahat.
Suatu sore, saat cahaya matahari senja masuk melalui celah jendela ruang tengah, Ayana mendapati pemandangan yang membuat hatinya mencelos hangat. Di atas karpet bulu, Al sedang duduk memangku Alana yang mulai terjaga, sementara Reva sibuk membacakan buku cerita bergambar untuk adiknya dengan logat cadelnya yang khas.
"Papa, lihat! Adek Alana senyum waktu Leva baca bagian kelinci!" seru Reva antusias.
Al terkekeh, mencium puncak kepala Reva dan Alana bergantian. "Iya, Sayang. Adek tahu kalau Kakak Reva itu pencerita yang hebat."
Ayana melangkah mendekat, membawa nampan berisi teh hangat. Ia menyadari bahwa suasana ini bukan sekadar rutinitas sore biasa. Kehadiran Alana dengan energinya yang ceria seolah menyapu bersih sisa-sisa kecanggungan yang dulu pernah ada di antara mereka. Reva tak lagi merasa cemburu; justru ia merasa memiliki tanggung jawab baru yang membuatnya lebih dewasa.
Bahkan Alya, yang kini rutin berkunjung, tak lagi datang dengan wajah penuh penyesalan. Ia sering menghabiskan waktu membantu Ayana memandikan Alana atau sekadar mengobrol ringan tentang masa depan anak-anak. Luka lama itu memang tidak hilang sepenuhnya, tapi kini telah tertutup oleh tawa bayi yang memenuhi setiap sudut rumah.
Alana benar-benar menjadi Aurora di tengah keluarga mereka. Seperti fajar, ia tidak hanya mengusir kegelapan, tapi juga memberi harapan bahwa setiap hari adalah lembaran baru yang bersih. Kini, retakan itu benar-benar tak terlihat lagi, tertutup rapat oleh kasih sayang yang mekar seindah Azalea.