Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Konflik
Cakra mencoba mengintip dari celah pintu.
“Apa itu”
Sebuah Cahaya pedang dan sesuatu yang terlihat seperti laser saling beradu memunculkan suara nyaring.
*Clang
“Kalian para mahluk yang ingin menjadi dewa memangnya peduli kepada manusia dengan kemampuan biasa tanpa akar roh ataupun bakat merasakan?” seorang kakek tua berteriak.
“Setiap mahluk punya takdir, walaupun kami tak peduli bukan artinya kami ingin dunia ini manusianya benar benar hilang” orang yang memegang pedang berbicara.
“Kalian memanggil mahluk luar, mengkorosi keadaan dunia ini bukankah itu yang malam membuat seluruh mahluk musnah”
“Musnah? Dibanding kalian yang menganggap kami sebagai mahluk biasa lebih baik kalian ikut musnah bersama kami”
“Hahahahahahaha”
“Kalian benar benar gila”
“Kau mengatakan kami gila? Lalu kemana kalian saat membantai bahkan orang yang gak bersalah dengan dalih balas dendam?”
“Pertarungan kalian membelah laut dan memecah gunung”
“Apakah kalian pikir tidak ada manusia disana”
“Kau tak akan pernah paham perspektif seorang dewa”
Cakra mulai memahami masalahnya dan apa mahluk yang muncul sebelumnya.
“Jadi ini masalah internal dunia ini”
“Para Praktisi tidak menganggap manusia ketika bertarung”
“Sedangkan para penyihir itu memilih cara yang salah untuk menandingi para praktisi”
Cakra melanjutkan melihat mengharapkan mendapatkan pemahaman dari mereka. Saat sedang bertarung seekor Binatang berbentuk seperti Serigala muncul. Binatang ini terlihat menengahi mereka, satu cakaran Binatang ini menerbangkan kedua orang tersebut menjauh dari area. MC bingung apa yang dilakukan oleh serigala tersebut.
*sambil menggaruk kepala
“Serigala itu apa?”
“Eh bentar sejauh ini aku di dunia ini…”
“Bagaimana aku bisa memahami bahasa mereka?”
“Apa bahasa di dunia ini disesuaikan ke aku atau aku diberikan kemampuan untuk memahami bahasa dunia ini?”
“HMMM”
“Melihat ukiran di dinding kuil tadi, hmm aku gak memahaminya”
“Tapi melihat ukiran di pedang aku paham”
“Kemungkinan di kuil tersebut adalah rune, sesuatu yang biasanya diukir untuk mekanisme sihir”
“Ya berarti aku mendapatkan kemampuan bahasa dunia ini secara instan tanpa menghilangkan kemampuan bahasa ku sebelumnya”
“Tapi siapa yang memberiku?”
Dari jauh terlihat pertarungan besar masih berlangsung, tapi kali ini serigala terlihat membentuk kubah untuk menahan kerusakan mereka di langit. Setiap kerusakan diserap oleh kubah tersebut, bagai air tawar disiramkan ke laut. Level kemampuan yang ditunjukkan mahluk itu sangat tinggi bahkan bisa mengatasi serangan praktisi tersebut dengan mudah. Cakra yang memperhatikan di kejauhan, mendapatkan pemikiran kalau sebenarnya ada mahluk yang memperbaiki kerusakan akibat para praktisi ataupun penyihir.
“Hmm apakah mahluk itu yang menjahit langit?”
“Dari warna energinya sih mirip”
Sangat lama pertarungan berlangsung, MC yang bosan juga lapar masuk kedalam untuk memasak makanan. Diluar bagai lonceng suara mereka sangat besar, bahkan ruang disekitar masih merasakan sedikit dampaknya. Di desa desa sekitar orang orang mulai mengungsi dari sana, selain itu Binatang dan monster juga terlihat menatap terus ke langit. Tapi serigala yang mengawal berbeda, dirinya tidak bergerak bagai sebuah gunung. Wujudnya tak terpengaruhi fluktuasi ruang.
Saat pertarungan makin memanas, tiba tiba terlihat sang penyihir mengeluarkan jenis energi polusi yang sama dengan yang ada di batu sebelumnya. Energi tersebut memancar ke langit, tapi terlihat ditahan oleh batas tak terlihat.
“Sial apa-apaan itu?”
“Energi polusi itu terlihat jauh lebih kuat”
“Tapi itu terlihat ditahan oleh sebuah batas”
“Eh! Bukan, itu bukan sebuah batas dia sedang berusaha membuka ruang”
Cakra yang sedang memasak, merasakan firasat buruk. Dirinya memutuskan untuk menutup ventilasi karena merasa akan ada hal yang kuat yang datang ke dunia ini. Di luar pilar gelap itu mulai membuat ruang retak, sang praktisi pun mencoba menebas tapi tak berhasil. Serigala yang menahan mereka berdua masih tetap diam.
*Crack
Retakannya terbuka, pada saat itu serigala itu terlihat sedikit melangkah di waktu tepat sebuah tentakel akan muncul. Mahluk itu membuka mata, sebuah Cahaya terang langsung membentuk pilar sinar kedua. Pilar sinar ini terlihat membuat ruang tersebut memperbaiki diri sendiri. Selain itu bersamaan dengan langkahnya tadi ruang yang bergetar tiba tiba diam, gunung pedang dan juga pulau melayang juga terlihat dipulihkan. Rakyat dibawah yang menjadi batu karena sinar sebelumnya pulih kembali.
Di retakan ruang yang sebelumnya muncul, pemulihan membuat retakan langsung tertutup seperti gak ada kerusakan. Energi hitam yang merembes ke dunia itu juga dihapus. Tak lama dari itu sebuah pasukan berkuda datang kesana. Mereka terlihat ingin menghentikan pertarungan kedua orang ini dan memutus pilar hitam. Ksatria ini mengambil panahnya, saat anak pahan dilepaskan terdengar suara bel yang dimana Cakra yang sedang memasak juga menangkap suara ini.
Panah tersebut tiba tiba muncul di pilar tersebut, menancap tanpa adanya lintasan.
*Jleb
*Crack
Pilar terlihat retak kecil, setelah itu melebar semakin membesar hingga akhirnya meluas.
“Pecah” *Dar
“Benda ini hanya merusak dunia saja”
Setelah pilar itu hancur, Praktisi bergerak ingin menebas sang penyihir yang hampir kehilangan kesadaran. Hanya saja tebasan tersebut ditahan oleh panah yang tiba tiba muncul memantulkan pedangnya.
*Clang
Pedang sang praktisi terlempar, setelah itu kubah yang menghalangi pertarungan mereka mulai menghilang menurunkan mereka kembali ke tanah.
Sang Jenderal berbicara.
“Aku akan mengambil orang ini untuk dimintai keterangan”
“Baiklah” Kata praktisi tersebut.
Praktisi terlihat menahan amarahnya, setelah itu dirinya terbang menuju gunung pedang kembali. Sang Jenderal juga mamasangkan sebuah borgol yang terlihat dikelilingin rune, dan memasukkan penyihir kedalam kereta dengan jeruji untuk mengangkut orang ini.
“Ayo bergerak”
“Perhatikan juga sekitar agar tak ada penyergapan”
*Ramai “Baik”
“Kalian juga perhatikan, kurasa perjalanan ini gak akan semudah itu” Jenderal berbisik ke dalam dirinya.
Sebuah bayangan di pohon terlihat mundur menghilang diantara bayangan. Kereta pun berangkan, rombongan ini terlihat seperti rombongan yang akan pergi berperang. Hewan hewan disekitar terlihat menjauhi seakan akan rombongan ini adalah rombongan pemburu.
*Bush… Bush rumput terkoyak
*Tak tak tak suara kaki dari seekor Binatang mirip kerbau tapi dengan wajah beruang
Mahluk mahluk ini terlihat menjauh, tapi sang jenderal merasa heran karena hal ini gak pernah terjadi saat mereka lewat sebelumnya.
“Ada yang aneh”
“Kalian bersiap!”
Di gua MC sedang asik memanggang daging, dia mengangkat daging tersebut karena sudah lama dia memanggang dan bau matangnya telah tercium.
“Ini sudah matang”
Cakra mengambil sebuah alas untuk menaruh daging besar tersebut.
“Entah kenapa setelah berhasil menyimpan tenaga alam, nafsu makanku membesar”
Langit pun mulai gelap menandakan malam telah tiba. Cakra yang berada didalam gua masih makan memotong daging tersebut, untungnya daging itu gak alot. Sebuah suara lonceng tiba tiba berdering seakan akan menggema di seluruh dunia ini….
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...