Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: DI BALIK BATANG POHON
Naluri seorang perwira lapangan yang telah bertahun-tahun ditempa di berbagai medan operasi tidak pernah bisa dibohongi. Meskipun dari kejauhan sosok Arkan tampak begitu rapi menyembunyikan tubuh mungilnya di balik rimbunnya daun dan batang pohon beringin tua yang menjulang di samping gedung utama Mako, Kolonel Victor langsung menangkap adanya sebuah pergerakan yang ganjil. Pria raksasa itu memiliki kepekaan visual yang teramat tajam; ia tahu ada sepasang mata bulat yang sejak beberapa menit lalu tengah mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik bayang-bayang pohon.
Lucunya, saat Arkan menyadari bahwa arah pandangan mata tajam sang Kolonel mulai bergeser ke arah tempat persembunyiannya, bocah berusia enam tahun itu mendadak panik. Ia membalikkan tubuh kecilnya, bersiap untuk mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin menuju arah blok perumahan belakang. Namun, gerakannya kalah cepat dari komando taktis sang penguasa ksatrian.
"Ada anak kecil berbaju merah di samping beringin. Amankan, bawa ke ruangan saya," perintah Victor pendek melalui isyarat tangan dan suara baritonnya yang tegas kepada dua prajurit provost yang sedang berdiri berjaga di gerbang steril Mako.
"Siap, laksanakan Komandan!"
Dua prajurit bertubuh tegap itu langsung bergerak taktis. Langkah kaki Arkan yang pendek tentu saja bukan tandingan bagi langkah lebar para tentara tersebut. Dalam hitungan detik, langkah pelarian Arkan terhenti. Kedua tangannya dipegang dengan lembut namun cekatan oleh prajurit provost, lalu tubuh mungilnya digandeng masuk melewati lobi megah dan dibawa langsung menuju ruang kerja kebesaran Danpusdikmil.
Begitu pintu jati setinggi dua meter itu tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang luas dan sunyi, Kolonel Victor meletakkan tongkat komandonya di atas meja kerja. Di dalam lubuk hatinya, Victor benar-benar didera rasa kaget dan heran yang luar biasa. Mengapa Arkan yang biasanya selalu bertingkah lincah, manja, dan tanpa permisi langsung menghambur ke pelukannya, hari ini justru memilih untuk lari menghindar? Bahkan, anak kecil itu kenapa tiba-tiba memiliki inisiatif aneh untuk memandangnya secara sembunyi-sembunyi dari balik batang pohon besar laksana seorang penyusup kecil?
Victor melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Arkan? Ada apa?" tanya Victor dengan nada tegas yang konstan, menatap lekat bocah yang kini berdiri mematung di tengah ruangan.
Yang ditanya sama sekali tidak menjawab. Arkan hanya tertunduk dalam-dalam hingga dagunya hampir menyentuh kerah kaus sekolah dasarnya. Kedua tangan kecilnya saling bertautan di depan paha, sementara ujung sepatu ketsnya bergerak-gerak gelisah, memainkan lantai marmer mengkilap di bawahnya. Ada gurat beban pikiran yang terlalu berat untuk dipikul oleh anak seusianya.
Melihat respons defensif yang tidak biasa ini, Victor mengembuskan napas panjang. Ego komandannya melunak seketika. Pria raksasa dengan tinggi badan hampir seratus sembilan puluh sentimeter itu perlahan menurunkan tubuh kekarnya, mengambil posisi berjongkok tepat di hadapan Arkan agar tinggi mereka sejajar.
"Arkan... lihat Ayah. Ayah tanya, ada apa?" Kini suara bariton Victor merendah, dipenuhi oleh kelembutan batin seorang figur pelindung yang selama dua tahun ini selalu menjadi tempat bersandar bagi sang anak.
Mendengar kata "Ayah" meluncur dari bibir pria di depannya, pertahanan bocah enam tahun itu akhirnya goyah. Arkan perlahan mendongakkan kepalanya. Sepasang mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata kelam Kolonel Victor—pria yang selama dua tahun penuh ini selalu ia panggil dan ia banggakan sebagai ayahnya di depan seluruh dunia asrama.
"Ayah Besar... apa benar ya, Ayah itu bukan ayahnya Arkan?"
Pertanyaan polos namun menohok itu akhirnya lolos dari bibir mungil Arkan, memecah keheningan ruang kerja Mako dengan gaung yang seolah menyayat hati.
Untuk sesaat, Kolonel Victor tertegun diam di tempatnya berjongkok. Jantungnya berdenyut satu kali lebih cepat, dan pasokan udara di sekitarnya seolah mendadak menipis. Kalimat anak itu laksana hantaman telak yang langsung menyerang titik paling rapuh di dalam jiwanya. Namun, sebagai seorang perwira menengah yang terlatih mengendalikan emosi di bawah tekanan paling ekstrem sekalipun, Victor dengan sangat cepat mampu menguasai kembali ekspresi wajah dan perasaannya.
Victor menata sorot matanya agar tetap tenang dan teduh. "Siapa yang bilang seperti itu pada Arkan?" tanya Victor lembut, mencoba menggali akar masalah tanpa ingin menakuti sang anak.
Arkan mengusap ujung hidungnya yang mulai memerah, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. "Kata teman-teman... Ayah itu bukan ayahnya Arkan. Soalnya... soalnya Ayah tidak tinggal di rumah Ibu. Rumah Ayah kan yang besar di depan itu, sedangkan Arkan dan Ibu tinggal di rumah yang kecil."
Anak kecil itu menjeda kalimatnya sejenak, menatap Victor dengan pandangan penuh kepolosan yang menuntut jawaban jujur. "Ayah... apa Ayah sama Ibu itu sebenarnya lagi berantem ya? Jadinya... jadinya Ayah dan Ibu berpisah? Terus tidak satu rumah lagi?"
Mendengar rentetan kalimat yang mengalir lancar dari mulut Arkan, Kolonel Victor benar-benar terheran-heran sekaligus dibuat tercengang di tempatnya berada. Alis tebalnya bertaut rapat. Di dalam benaknya, Victor bertanya-tanya dengan sangat masygul, dari mana anak sekecil Arkan, bocah enam tahun yang baru saja mencicipi bangku sekolah dasar—bisa menemukan konsep rumit tentang orang tua yang "berantem", hingga menggunakan kosakata seberat kata "berpisah" dan "tidak satu rumah"?
Victor tahu betul, ini bukan sekadar imajinasi anak-anak biasa. Ini adalah replika dari kalimat-kalimat sindiran dan olok-olokan tajam milik orang dewasa yang sengaja diembuskan ke udara, yang tanpa sengaja telah meracuni pikiran murni putranya. Dinding asrama yang semula ia bangun untuk melindungi Ayu dan Arkan, ternyata telah bocor oleh lidah-lidah tajam yang tak tahu batas.
Melihat binar keraguan dan kesedihan yang mendalam di sepasang mata bulat Arkan, dada tegap Kolonel Victor terasa kian bergemuruh. Pria raksasa itu menghela napas panjang, menekan segala gejolak emosi dan kemarahan yang sempat memuncak di kepalanya akibat ulah lidah-lidah tajam orang dewasa di luar sana. Tangan kanannya yang besar bergerak perlahan, menangkup bahu kecil Arkan dengan remasan lembut yang sarat akan proteksi.
"Arkan, dengarkan Ayah baik-baik ya," ucap Victor dengan nada suara bariton yang dibuat sehangat dan setenang mungkin, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam jiwa bocah enam tahun itu. "Mengenai semua pertanyaan Arkan tadi nanti Ayah, atau mungkin Ibu, yang akan menceritakan semuanya pada Arkan. Tapi nanti, nanti kalau Arkan sudah besar, ya?"
Mendengar jawaban yang dirasanya menggantung dan tidak memuaskan rasa ingin tahunya, wajah Arkan seketika merengut. Ia menghentakkan kaki kecilnya pelan di atas lantai marmer. "Tapi kenapa harus tunggu Arkan besar dulu, Ayah?" rengeknya dengan bibir yang melengkung ke bawah, menuntut kejelasan detik itu juga.
Victor tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan ketabahan sekaligus kegetiran yang mendalam. "Karena untuk saat ini, Arkan masih belum mengerti bagaimana rumitnya urusan orang dewasa, Jagoan. Ada hal-hal yang belum saatnya masuk ke dalam kepala kecilmu ini."
Namun, logika Arkan yang cerdas justru menangkap kalimat penundaan itu sebagai sebuah pembenaran atas ketakutan terbesarnya selama ini. Sepasang mata bulatnya kembali berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata kelam sang komandan dengan tatapan terluka. "Kalau harus tunggu Arkan besar... itu berarti beneran ya, Yah? Ayah besar ini sebenarnya bukan ayah Arkan kan? Atau... atau memang Ayah sama Ibu itu beneran sudah pisah karena berantem?"
Melihat kesimpulan cerdas namun menyakitkan yang ditarik oleh Arkan, jantung Victor laksana dihantam godam tak kasat mata. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mempererat pegangannya pada bahu Arkan. "Tidak, Jagoan. Bukan begitu maksud Ayah—"
"Semuanya jahat! Kakak-kakak di lapangan itu jahat! Mereka semua bilang kalau Arkan itu beneran gak punya ayah di rumah."
Belum sempat Victor meluncurkan rangkaian kalimat penjelasan taktis yang sudah ia susun di dalam kepala, pertahanan emosional Arkan runtuh sepenuhnya. Bocah enam tahun itu berteriak dengan suara bergetar menahan tangis yang buncah. Air matanya seketika meleleh deras membasahi pipi gembulnya. Tanpa memedulikan seruan Victor, Arkan membalikkan tubuh kecilnya dengan cepat, merenggut pegangan tangan sang Kolonel, lalu berlari kencang menerobos pintu ruang kerja yang besar menuju koridor luar Mako.
Langkah kaki kets kecil Arkan berderap cepat menjauhi area lobi utama. Di ambang pintu luar, Sersan Satu Johan yang sejak tadi berdiri berjaga dengan sigap langsung menatap ke arah dalam ruangan. Pandangan matanya beralih dari siluet tubuh ringkih Arkan yang berlari menjauh, lalu beralih menatap lurus ke arah wajah Kolonel Victor yang masih berjongkok mematung di tengah ruangan kerja.
Johan melemparkan sorot mata penuh tanya, sebuah isyarat visual yang seolah bertanya. "Komandan, haruskah hamba bergerak mengejar Arkan sekarang?"
Victor perlahan menegakkan kembali tubuh raksasanya. Ia berdiri tegap, menatap lurus ke ambang pintu luar tempat putranya menghilang, lalu memberikan isyarat tangan pendek dengan gelengan kepala pelan. Tidak perlu. Biarkan dia pulang ke ibunya, begitulah arti dari gestur diam sang panglima.
Toh, jauh di dalam lubuk hatinya, Victor menyadari satu kenyataan pahit bahwa lambat laun ia memang tidak bisa terus-menerus membohongi atau menyembunyikan realitas status mereka dari anak kecil secerdas Arkan. Victor dirundung ketakutan yang teramat sangat, jika ia terus memelihara kebohongan manis ini, kelak saat Arkan sudah benar-benar paham dan dewasa, anak itu justru akan menjaga jarak secara radikal dengannya karena merasa telah dikhianati dan dibohongi oleh orang-orang yang paling dicintainya. Victor tidak mau kehilangan kepercayaan dari Arkan.
Johan melangkah masuk beberapa senti, menutup pintu jati tersebut dengan pelan, lalu berdiri dalam posisi siap di hadapan meja kerja. Suasana ruangan mendadak terasa mencekam akibat aura kemarahan senyap yang memancar dari tubuh tegap sang Kolonel.
"Lalu... apa yang akan Komandan lakukan sekarang setelah ini?" tanya Johan dengan nada suara yang teramat berhati-hati, menyadari bahwa sang penguasa ksatrian telah mencapai titik batas kesabarannya terhadap riak-riak sosial di asrama belakang.
Victor berjalan perlahan menuju meja kerjanya, meraih tongkat komando emasnya dengan cengkeraman rahang yang mengeras kuat. Sepasang manik matanya berkilat tajam dan dingin laksana mata pisau sangkur.
"Johan, gerakkan unit intelijen dalam dan provost sore ini juga," perintah Victor dengan suara bariton yang merendah namun sarat akan ancaman mutlak. "Periksa dan bersihkan seluruh sektor asrama blok belakang. Saya mau kamu cari tahu secara detail, ada apa saja dan desas-desus busuk apa saja yang sudah terlewatkan dari pengawasan kita selama dua tahun belakangan ini. Cari tahu siapa saja oknum mulut lancang yang berani menebarkan racun di telinga anak-anak komplek. Bawa daftar namanya ke meja saya sebelum matahari terbenam."
"Siap, laksanakan Komandan!" sahut Johan dengan sikap hormat sempurna, memahami bahwa badai pembersihan internal kini siap mengancam ketenangan para penggosip di ksatrian Bukit Raya.