Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dalam sebuah kamar sederhana nan gelap. Seorang gadis terduduk di sebelah tempat tidur, terduduk di lantai sambil memeluk lutut dan menenggelamkan wajah diantara paha, sedang rambu hitamnya dibiarkan terurai membungkus tubuhnya yang kini tengah tergoncang hebat. Tangis semalaman tak akan cukup untuk melukiskan betapa sedih ia saat ini.
Mengapa? Oh mengapa? Setiap pertemuan dengan pria itu selalu berakhir derita untuknya? Apakah menyakiti fisik dan hatinya begitu sangat penting bagi dia? Seolah lingkaran setan yang tak berujung sudah menjerat kakinya yang membuat Nayla tidak bisa lari untuk menjauh.
Yakin jika tuhan punya rahasia dibalik semua kejadian yang menimpanya itu, namun apa? Rahasia apa yang disembunyikan dibalik rasa sakit yang ia alami? Bukan hanya sekali namun sampai tiga kali. Kini ia mulai bertanya kenapa hidupnya harus seperti ini? Dimana letak kesalahannya? Ataukah dimana letak jalan keluar sehingga ia bisa berlari menjauh sejauh-jauhnya.
Ia merasa sudah tidak mampu untuk menanggungnya, tak sanggup merasakannya, dan tidak kuat menghadapi semua penderitaan ini.
Namun semua adalah bagian dari misteri kehidupan dimana ia harus menyingkap kelambu-kelambu yang menutupinya satu persatu agar bisa keluar.
Tapi disini Nayla tidak tahu kelambu bagianmana yang harus ia singkap agar bisa berlari menjauh dari sana.
Seolah ia hanya tersesat di setiap jalan yang ia lalui? Kenapa tak ada petunjuk arah untuknya agar bisa keluar? Kenapa ia harus selalu bertemu dengan pria itu? Bertemu dengan orang yang paling ia benci dan dihindarinya?
Benarkah tuhan itu ada? Ia mulai ragu. Jika memang ada kenapa tuhan harus selalu mempertemukan mereka, padahal jelas pertemuan itu hanya akan selalu menyakitinya?
Jika tuhan memang ada kenapa tidak datang untuk menolongnya? Ketika ia harus masuk ke jurang kenistaan itu berkali-kali?
Bukankah selama ini Nayla sudah menjadi hamba yang baik untuk Allah. Ia bahkan tidak pernah melewatkan sholat lima waktunya, selalu rutin untuk tahajud setiap malam, dan sering melaksanakan puasa sunah juga. Segala bentuk ibadah yang tuhan sarankan selalu Nayla lakukan, menjadi anak yang baik, berbakti pada orang tua, dan bukan hanya beribadah bahkan ia juga selalu menjauhi maksiat yang di larang oleh agama. Namun kenapa hidupnya harus seperti ini?
Nayla bertanya sesuatu yang ia rasakan tanpa mampu menemukan jawaban dari setiap pertanyaanya, karena itu semua adalah rahasia Tuhan dan hanya tuhan yang tahu atas semua jawaban dari pertanyaan Nayla.
Oh ibu… peluklah aku saat ini. Aku tak sanggup menanggung semuanya. Aku ingin engkau datang dan mendekap ku dengan erat. Menghilang kan rasa takut di hati ku. Membuang semua rasa sedih ini. Namun dimanakah kini engkau ibu? Tolong hangatkan jiwaku ini dengan pelukan mu, monolog Nayla dalam hati.
Ibu, tolong katakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa aku bisa melewati ini semua, tolong ibu, tolong katakan itu pada ku? ratap Nayla lewat tangisan.
Ibu, akankah engkau tetap berdiri kokoh disana menanti ku kembali meski dalam keterpurukan dan kehancuran seperti saat ini?
Aku rindu pada mu ibu, aku rindu pelukan mu, kasih sayang mu dan dekapan hangat mu yang dapat memenangkan jiwa ini.
Tolong aku ibu, bebaskan aku dari ruangan gelap ini? Dari penjara yang membelenggu hidupku. Tolong putri mu ibu. Aku tak sanggup lagi untuk menerima ini semua, yang terasa sangat begitu berat bagi ku ibu. Tolong aku....
Namun sosok yang ia rindukan tak ada di sisinya. Sosok yang ia nantikan berada jauh dari pandangan matanya.
Dengan lemah tangan itu mencari benda pipih dari dalam clutch bag miliknya, ia mencari sosok ibu disana.
“Halo, Assalamualaikum ibu!” Sapa Nayla begitu panggilannya tersambung.
“Walaikumsalam Nayla. Ada apa nak kenapa telepon malam-malam?” tanya suara di seberang sana yang tidak lain adalah ibunya.
“Ibu, aku kangen,” Lirih Nayla.
“Iya, ibu tahu nak, Ibu juga kangen kamu, sayang.”
Nayla tidak dapat berkata-kata lagi, ia hanya mampu menangis menahan gejolak dalam dadanya yang terasa begitu perih.
Rasa rindu kepada sang ibu tak dapat dibendung lagi begitu mendengar suara wanita itu, membuat ia menjadi begitu sedih.
Nayla ingin menumpahkan semua yang ia rasakan pada ibu sekarang, tapi ia tidak bisa bercerita tentang keadaanya, mulutnya terkunci seolah tak dapat bersuara yang ia bisa lakukan hanya menumpahkan air mata mengharap wanita itu tahu akan duka yang sedang menimpa dirinya saat ini.
“Sayang, kenapa kamu nangis?” suara ibu terdengar panik, “Anak gadis ibu jangan cengeng, harus kuat ya sayang? Ibu juga kangen sama kamu. Ibu akan kesana kalau sudah ada rezeki jadi bersabarlah sedikit sayang,” Sang ibu kini mencoba menangkan putrinya.
Yang tidak berkata-kata melainkan cuma isakan tangis yang terdengar membuat hati wanita itu semakin sedih dan menderita.
"Ibu janji begitu ada uang ibu akan langsung ke Jakarta buat jenguk kamu nak."
"Ibu..." Suara Nayla melemah.
"Iya sayang, ibu ada di sini."
Nayla terdiam, ingin iya berkata maaf ke ibunya namun suara itu tak keluar, dadanya terlalu sesak menahan betapa berat rindu yang ia tangung, juga betapa perihnya hati Nayla sekarang.
"Ada apa anak? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Tanya sang ibu khawatir dengan keadaan putrinya, apa lagi akhir-akhir ini sang ibu memang sering mimpi buruk tentang Nayla.
"Sayang, tenangkan hati mu. Jangan menangis begini. Doa kan ibu dan bapak cepat ada rezeki biar bisa bertemu kamu, ndok. Anak ibu sudah besar jadi jangan cengeng ya..." Sang ibu mencoba menenangkan hati Nayla dan menghibur putrinya sebisa mungkin.
Mereka teleponan sampai lama meski obrolan itu hanya didominasi sang ibu yang berbicara dan Nayla sebagai pendengar, sambil isak tangis Nayla tak terdengar lagi karena ia tertidur dalam buaian suara nyanyian sang ibu yang mengantarkan tidurnya lewat HP.
Jika dekat biasanya Nayla akan tidur di pangkuan sang ibu dan Aisyah akan mengelus-elus rambutnya penuh sayang guna menemani tidurnya, tapi saat jauh begini maka hanya suara lembut sang ibu yang bersenandung akan mengantarkan sang putri tercinta untuk terlelap.
*
*
*
*
Ibu Aisyah
Entah sudah berapa kali dalam bulan ini ia terbangun dari tidurnya saat tengah malam karena mimpi akan putrinya yang menangis dan meminta tolong padanya.
Flashback On
Malam itu Aisyah sedang tidur bersama suami tercinta di rumah sederhana mereka.
Namun tiba-tiba ia bermimpi dan dalam mimpinya itu ia melihat Nayla putri tercintanya sedang berlari ketakutan sambil menangis dan berteriak meminta tolong layaknya orang yang akan di bunuh saja.
Tangisan Nayla sangat menyayat hati. Seolah anaknya itu akan di jadikan tumbal pesugihan seseorang sehingga dia menangis dan memohon ampun.
Tentu sebagai orang tua yang melihat anaknya seperti itu ia tidak tega. Maka sang ibu berlari mengejar Nayla dan mendekatinya.
"Nayla anak ku, kenapa kamu disini? Kenapa kamu seperti ini?" Tanya sang ibu ketika melihat penampilan anaknya acak-acakan dan jauh dari kata layak.
"Ibu, tolong Nayla Bu! Tolong! Nayla takut ibu."
"Tenang lah Nay, ada ibu, ada ibu disini..." Ujar sang ibu memeluknya mencoba menenangkan putrinya yang menangis.
Saat Aisyah sedang memeluk Nayla dengan erat tiba-tiba ada sesuatu yang menarik putrinya dari belakang yang membuat Nayla terlepas dari pelukannya,
"Ibu.....!!!" Teriak Nayla sambil mengulurkan tangannya untuk ia pegang, namun gerakan itu teramat cepat yang membuat ia tidak dapat menangkap tangan anaknya kembali.
"Nayla.....!!!!" Teriak sang ibu histeris...sambil berlari mengejar putrinya yang kian menjauh darinya.
"Kembalikan anak ku tuhan, aku mohon kembalikan anak ku!" Ujarnya pilu dengan derai air mata.
"Nayla.....!!!" Teriak sang ibu sambil menangis histeris karena kehilangan buah hatinya.
"Huhuhu.... Nayla,...."
"Kembalikan dia tuhan, aku mohon kembalikan Nayla ku!
"Huhuhu....Nayla....huhuhu...." Aisyah menangis.
"Ibu, bagun bu, bangun!" sang suami menggoyang-goyangan bahu istrinya yang tidur di sebelahnya agar bangun.
Begitu membuka mata Aisya langsung bangun dan memeluk suaminya yang kini sudah duduk di sebelahnya, ia menangis dalam pelukan sang suami.
"lbu kenapa teriak-teriak sambil nangis gitu? Emang ibu mimpi apa?" Tanya suaminya sambil menepuk-nepuk punggung sang istri penuh sayang.
"Ibu mimpi Nayla pak, mimpi Nayla hilang dari pelukan ibu. Nayla kenapa ya pak? Anak kita kenapa?" Tanya sang istri.
"Tidak kenapa-kenapa ibu, itu kan cuma mimpi." Ujar sang suami menenangkan.
"Tapi ibu sudah mimpi seperti itu berkali-kali pak, tidak mungkin jika bukan pertanda buruk. Mimpi itu sudah datang berulang-ulang menghampiri ibu setiap malam," Sang istri mencoba protes pada suaminya.
"Bapak juga tidak tahu Bu. Kan bapak bukan orang yang ahli dalam membaca mimpi. Lagian dari pada ibu pusing mengartikan mimpi mending kita sholat saja yok? Mendoakan anak kita di sana, semoga Nayla baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan Allah." Ujar sang suami memberi saran.
Dan Aisyah setuju dengan apa yang di ucapkan suaminya, Selanjutnya kini kedua orang tua itu sholat tahajud berjamaah untuk mendoakan putra-putri mereka agar selalu di beri keselamatan dan perlindungan dari yang kuasa.
Flashback off
Dan kini setelah mimpi buruk yang selalu menyiksanya, Aisyah harus mendengarkan putrinya yang menangis pilu begitu. Membuat suasana hatinya tak dapat dilukis kan oleh kata-kata. Jika memang bisa, ingin rasanya ia melesat ke kos Nayla saat ini juga untuk memeluk buah hatinya yang sedang sedih.
*****
Itu adalah ikatan batin antara ibu dan anak, meski tidak semua orang mengalami namun ada beberapa orang yang kerap mendapatkan firasat jika akan ada hal buruk yang menimpa keluarga mereka terutama jika itu menyangkut anak-anak mereka.
*****