NovelToon NovelToon
Mantan, Balikan Yuk!

Mantan, Balikan Yuk!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dosen
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.

Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.

Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 - Cafe 2

Tubuh kecil Azka tak sengaja menabrak orang hingga terjatuh membentur lantai dan kepalanya tak sengaja terkena kursi.

"AZKA!" Langkah Alea tergesa, meraih tubuh mungil putranya untuk meneliti bagian tubuh yang terluka. "Mana yang sakit sayang?"

Pipi gembul Azka mengembung, hidungnya kembang kempis hendak menangis.

"Kalau jalan lihat-lihat dong! Bocah nakal!" Bentak orang itu.

Alea mendongak, sementara Gavin segera menghampiri.

"Dia masih kecil Mbak, gak sepantasnya Anda marah-marah seperti itu. Gak lihat anak saya kesakitan?" Tidak terima anaknya di bentak, Alea berdiri di depan orang itu.

"Oh jadi kamu ibunya? Ajari yang bener anaknya, udah ini tempat ramai malah digunakan bermain, didik yang sopan."

"Maaf Bu, jika kedatangan Anda kesini hanya untuk membuat keributan silahkan keluar! Saya meminta maaf atas kecerobohan Azka tapi anda juga salah sebab sudah berjalan tanpa melihat jalan, malah lebih sibuk dengan ponsel di tangan," sahut Gavin.

"Ck, kamu siapa berani mengatur saya? Ini bukan milik kalian ya, cafe ini tempat umum jadi bebas di gunakan. Punya anak malah dibiarkan gitu saja, didik yang bener. Baju saya jadi kotor gara-gara anak kalian!" Ibu itu marah-marah, dia bermain handphone sambil memegang minuman.

Tak sengaja dia yang lebih dulu menabrak tubuh kecil Azka sehingga minumannya tumpah mengotori bajunya.

"Yang salah Anda, Bu. Justru Anda yang lebih dulu menabrak anak itu." Seseorang bersuara, berdiri dari duduknya.

Alea, Gavin pun menoleh dan seketika Alea diam mematung menyadari kehadiran seseorang disana. Tatapannya tajam penuh intimidasi, sorot marah serta benci terlihat dimatanya.

"Fathan," lirih Alea.

"Kamu tidak apa-apa sayang?" wanita itu ibunya Fathan, menunduk mengusap lembut kepala Azka.

Deg.

Ada yang berbeda ketika mengusap kepalanya, perasaan aneh muncul tiba-tiba saat matanya memindai wajah rupawan Azka.

"Hei, kamu! Kamu ibunya kan, cepat ganti baju saya! Ini mahal dan hanya bisa di beli oleh orang kaya." Orang itu meremehkan Alea.

"Berapa harganya biar saya yang ganti?" kata Gavin.

"Ck, orang susah aja sok sok'an mau bayar. Dari penampilan kalian saja bisa dilihat gak akan mampu bayar baju saya."

"Sebutkan berapa harganya dan setelah itu keluar dari cafe ini!" pinta Gavin tegas.

Berbeda dengan Alea, dia justru diam menggenggam tangan Azka menatap Fathan yang anteng duduk menatapnya.

"5 juta, harga yang harus bocah ini bayar!"

Tanpa banyak bicara, Gavin membuka ponselnya. "Sebutkan no nya."

"Tidak perlu! Om tidak perlu membayarnya." Alea menyahut lalu beralih menatap ibu-ibu tadi.

"Harga loundry satu buah baju tidak akan menghabiskan angka 5 juta, ini namanya pemerasan. Anak saya memang salah sudah berlarian tapi anda jauh lebih salah karena sudah menabrak anak saya. Mau buktinya?" Lalu Alea memutar layar besar yang ada di cafe menggunakan ponselnya.

Disana terlihat Azka berlari menuju pintu namun secara tiba-tiba ibu tadi berjalan menunduk sambil bermain ponsel dan membawa minuman. Ketika Azka ingin membuka pintu, tubuh kecilnya di tabrak begitu saja.

Ibu tadi mematung, berpikir kenapa bisa perempuan muda di depannya memilik akses cctv cafe.

"Masih mau mengelak?" seru Alea.

"Kasih aja Le, 5 juta gak akan buat kita bangkrut. Kasih aja itung-itung sedekah sama orang yang lagi susah," celetuk Gavin.

Perempuan itu menahan malu, banyak pasangan mata memperhatikannya. "Kalian semua .. kampungan!" serunya sembari keluar dari cafe.

Mereka menghela nafas lega.

"Mama ec klim nya." Azka menunjuk pedangan es krim.

"Kita kejar sayang," ajak Gavin seraya meraih Azka.

"Let go." Wajah Azka kembali ceria melupakan kejadian barusan.

"Tadi anak kamu?" tanya Bu Rima masih berdiri di samping Alea.

"Iya Bu." Namun mata Alea melirik Fathan.

"Lucu ya, tampan lagi, tapi saya merasa tidak asing sama wajahnya? Dimana ya, kayak pernah lihat?" Bu Rima berpikir keras, namun karena usianya udah tua dia lupa.

"Ah lupakan, seandainya Fathan sudah menikah pasti sekarang saya sudah gendong cucu, sayangnya anak itu sulit mau menikah."

"Bu." Fathan menegur, ada rasa gelisah dalam hati mengingat Alea belum pernah tahu tentang ibunya.

"Apa Fat? Yang ibu omongin bener, kamu udah usia 29 malah sebentar lagi mau 30 tahun sampai sekarang belum menikah juga. Untungnya sekarang sudah punya calon istri, makanya cepetan menikah, ibu gak sabar gendong cucu dari kamu."

Mata Alea memperhatikan keduanya, ada rasa kecewa bahwa ternyata selama ini Fathan menyembunyikan tentang ibunya.

"Jadi ibu ini .."

"Ah iya, saya Rima ibu kandungnya Fathan, ini anak saya." Wajah teduh Rima tersenyum tulus.

"Ibu kandung, oh, iya. Saya Azalea Bu." Lalu dia meraih tangan Bu Rima, mengecupnya sopan.

"Mantan Mas Fathan," sambung Alea.

"Mantan?" Bu Rima menatap bingung, sejauh ini putranya tidak pernah cerita punya mantan.

"Iya Bu, saya mantan ..."

"Dia mantan murid Fathan, Bu." Cepat-cepat Fathan menyahut tidak ingin masa lalunya diketahui oleh sang ibu.

Alea kecewa ternyata dia tidak sepenting itu sampai tidak diakui oleh mantan suaminya.

"Oh waktu di ibu kota ya?"

"Iya Bu. Sekarang kita nikmati makannya, Bu. Keburu dingin." Fathan berdiri merangkul ibunya menuntun duduk.

"Loh, Bu, Fathan, kenapa kalian berdiri? Itu makanannya sudah datang?" seru Silvi kembali dari toilet, heran melihat keduanya malah berdiri.

Alea menoleh memperhatikan ketiganya. "Apa dia calon istri Mas Fathan?" gumamnya dalam hati menahan sesak.

"Gak apa-apa sayang, itu tadi ada kekacauan kecil. Ayo duduk lagi, kamu kan belum makan dari tadi." Sikap Fathan mendadak berubah lembut penuh perhatian, senyumnya pun terlihat tulus seraya menggandeng tangan Silvi.

Perubahan itu terasa berbeda bagi Silvi. "Aneh," pikirnya dalam hati.

"Nah gitu dong, sama calon istri harus lembut dan mesra. Tunjukan kalau kamu calon suami yang sayang sama calon istrinya," kata Bu Rima tersenyum senang anaknya berubah.

Ketiganya duduk kembali sedangkan Alea berdiri mematung memandangi interaksi ketiganya. Kejutan itu sangat menyakitkan, orang yang ia cintai dan ingin diperjuangkan benar-benar sudah punya calon istri, bahkan mereka terlihat serasi dan interaksi keduanya terlihat manis.

Hatinya tersenyum miris, apa ia harus menyerah begitu saja? Mata Alea berkaca-kaca, menunduk menyembunyikan kesedihannya.

"Alea." Gavin menyadari kesedihannya, berjalan meraih tangan Alea. "Kita pergi."

Alea menoleh mengerjapkan mata berharap cair bening dimatanya tidak jatuh dan tidak terlihat orang. Mengangguk memilih pergi demi ketenangan hatinya, dia tidak mau membuat keributan di sana.

Interaksi keduanya tentu diperhatikan Fathan, rasa benci pun kembali mencuat. "Brengsekk!" umpat Fathan dalam hati, tersulut emosi melihat kemesraan keduanya.

1
Liswati Angelina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭ngakak terussss
Cimit: jangan di bayangin. 😆
total 1 replies
Liswati Angelina
seru dan lucu
Liswati Angelina
La terus ayah alea ternyata bapaknya si silvi...... 🤭🤭🤭 cuma nebak thoorr🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!