Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah misterius
Rumah Utama Kaelmont sejak siang telah berubah menjadi sarang kesibukan.
Pelayan berlalu-lalang membawa nampan perak, rangkaian bunga segar, dan kain-kain sutra yang akan menghiasi aula utama. Lampu-lampu kristal dibersihkan hingga berkilau, sementara meja panjang disusun rapi untuk menyambut Keluarga Aldenor—salah satu keluarga bangsawan berpengaruh dari wilayah timur.
“Pastikan taplak meja itu lurus.”
“Baik,”
“Bunga lily jangan diletakkan terlalu dekat dengan lilin.”
“Elara, tolong bantu di sisi kanan aula.”
“Baik, bi.”
Elara bergerak cepat, menggulung lengan bajunya sedikit agar tidak mengganggu. Tangannya cekatan membantu para pelayan senior, meski sesekali napasnya tertahan oleh tekanan suasana.
“Keluarga Aldenor bukan tamu biasa,” bisik seorang pelayan tua Marye sambil merapikan vas bunga.
“Salah sedikit, bisa jadi masalah besar.”
Elara mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
“Lagipula, nyonya Marianne sendiri yang mengawasi pesta ini.”
Nama itu membuat Elara tanpa sadar menelan ludah.
Dia melirik ke arah balkon lantai atas—tempat di mana sang Nyonya biasanya berdiri mengawasi segalanya dengan tatapan tajam.
“Apakah… Tuan Marquis juga akan hadir malam ini?” tanya Elara hati-hati.
“Tentu. Pesta ini dibuat untuknya.”
Elara terdiam. Jemarinya mengencang di balik kain yang sedang dia rapikan.
***
Sementara itu, di sisi lain kota—
Marquis Lucein baru saja meninggalkan jamuan kecil para bangsawan wilayah barat. Pembicaraan politik, perluasan lahan, dan—seperti biasa—topik perjodohan yang dibungkus senyum sopan.
“Marquis Kaelmont,” suara seorang bangsawan tua masih terngiang di kepalanya.
“Hubungan darah itu penting, kau mengerti bukan Lucien.. Aku harap kau dan Putri bisa segera menikah dan membangun nama bangsawan kita jauh lebih tinggi”
Lucein tidak menjawab kala itu. Ia hanya membalas dengan anggukan singkat.
Langkahnya kini melambat saat melewati deretan pertokoan elit yang masih diterangi lampu minyak keemasan.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti.
Sebuah etalase menarik perhatiannya.
Di balik kaca bersih, tergantung sebuah gaun berwarna cokelat muda, sederhana namun anggun. Potongannya halus, dengan pernik renda kecil di bagian lengan dan bordir lembut di dada—tidak berlebihan, tidak pula mencolok.
Lucein menatapnya lama.
Tanpa disadari, bayangan Elara muncul di benaknya.
Rambutnya yang tergerai sederhana. Cara gadis itu memeluk buku seni dengan hati-hati. Tatapan jujur yang selalu menunduk, namun berani ketika berbicara tentang perasaan.
Gaun itu akan cocok untuknya.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Lucein mengernyit, seolah tidak menyukai arah pikirannya sendiri.
Seorang penjaga toko yang berdiri di dalam segera menyadari kehadirannya dan keluar dengan membungkuk hormat.
“Tuan, apakah ada yang dapat kami bantu?” sapa pria itu sopan.
Lucein tetap menatap gaun itu.
“Gaun itu..."
“Ah, itu gaun rancangan baru kami,” jawab sang penjaga toko dengan bangga.
“Gaunya tdak terlalu mewah, namun memiliki keanggunan yang lembut. Cocok untuk seseorang yang tidak ingin menjadi pusat perhatian, namun tetap meninggalkan kesan.”
Kalimat membuat Lucein terdiam beberapa saat.
“Berapa harganya?” tanyanya akhirnya.
Penjaga toko menyebutkan angka.
Tanpa menawar, Lucein mengangguk.
“Siapkan.”
“Apakah akan langsung dikenakan?”
“Tidak,” jawab Lucein singkat.
“Kirimkan ke rumah keluarga Kaelmont. Aku akan memberitahu pada siapa harus diantar.”
Penjaga mengangguk, lalu kembali membungkuk hormat.
“Baik tuan.”
Lucein berbalik pergi sebelum keraguan kembali menyergap.
**
Menjelang senja, Rumah Utama Kaelmont akhirnya siap menyambut tamu.
Aula utama berkilau oleh cahaya lampu kristal. Aroma bunga segar memenuhi udara, berpadu dengan wangi lilin beraroma lembut. Para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan, mengenakan seragam terbaik mereka.
Elara masih berada di ruang pelayan, membantu merapikan tirai kecil.
“Elara!” panggilnya setengah berbisik
“Ada kiriman untukmu.”
Elara terkejut.
“Untukku?”
“Iya,ayo lihatlah dulu” Kata pelayan tua bernama Marye itu.
Elara mengernyit bingung, namun tetap mengikuti langkah bibi Marye menuju sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Di sana, terletak sebuah kotak panjang berbalut kertas cokelat muda, dihiasi pita sederhana namun rapi. Tidak ada nama pengirim—hanya segel toko ternama kota.
“Bukalah,” dorong pelayan lain. “Kalau bukan milikmu, tentu bisa dikembalikan.”
Elara membuka kotak itu perlahan.
Matanya membelalak.
Di dalamnya terlipat rapi sebuah gaun berwarna cokelat muda, dengan renda halus di lengan dan bordir lembut di dada—sederhana, anggun, dan… sangat indah.