laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ambang Gugur
...Sebaik apa pun seseorang berusaha menjadi baik, selalu ada celah bagi orang lain untuk tidak menyukainya....
...----------------...
Satu minggu berlalu sejak hari itu. Zaskia kembali berdiri di dapur yang sama—bukan lagi sebagai tamu, melainkan bagian dari ritmenya. Menjadi pastry chef memberinya banyak ilmu baru dan teknik modern yang menantang. Dibilang sulit, iya. Namun tidak bagi Zaskia. Dalam waktu singkat, ia mampu memuaskan pelanggan—termasuk Arka, sang pemilik toko—hingga pujian kerap mengalir padanya.
Pagi itu, tepat pukul delapan, Zaskia dipercaya menangani pesanan kue ulang tahun dari pelanggan tetap—keluarga elit.
“Zaskia,” panggil Risa dengan nada tegas namun berwibawa. “Pak Arka minta kamu menangani white chocolate vanilla cake ini.”
Ia menyerahkan selembar catatan.
Zaskia membacanya pelan dalam hati.
Kue harus ringan, tampilannya bersih, tidak mencolok. Tanpa dekorasi berlebihan—cukup aksen kecil yang terasa mahal.
Di tangannya, catatan itu berubah dari permintaan klien menjadi instruksi yang jelas.
"Kamu siapkan semua bahannya,” lanjut Risa. "Ini klien besar Pak Arka. Biasanya ditangani Vera—dan kali ini beliau mempercayakannya padamu. Harus selesai sebelum jam tiga.”
“Baik, Kak Risa.”
Risa menepuk bahu Zaskia ringan. “Lakukan yang terbaik. Ini kesempatanmu.”
Pandangan Risa menyapu dapur. “Fokus pada pekerjaan masing-masing. Bantu Zaskia kalau diperlukan.”
"Siap, Kak." jawab semua serentak.
Zaskia segera bergerak. Telur dan gula dikocok lama hingga pucat dan mengental. Tepung yang telah diayak masuk perlahan, dijaga agar udara di dalam adonan tidak runtuh. Susu dan mentega hangat menyusul terakhir—memberi kelembutan tanpa membuat kue rapuh.
Kue dipanggang dengan suhu sedang, matang perlahan agar warnanya tetap cerah dan bagian dalamnya lembap. Setelah dingin, kue dibelah menjadi tiga lapisan rapi. Krim cokelat putih dioleskan secukupnya—tidak berlebihan, hanya untuk menjaga keseimbangan rasa.
Bagian luar dilapisi buttercream ringan dan licin, diratakan hingga bersih. Tanpa hiasan ramai. Hanya sentuhan emas tipis di bagian atas—sebuah isyarat perhatian, bukan pamer.
Tak terasa lima jam berlalu.
Tepat pukul dua siang, kue itu berdiri tenang di atas meja.
“Wow,” suara Risa terdengar dari ambang pintu. “It's beautifully done.”
Ia mencicipi potongan kecil yang disodorkan Zaskia, menutup mata sepersekian detik.
“Rasanya pas,” ucapnya singkat.
Zaskia tersenyum lega.
“Kuenya letakkan di meja utama dapur. Jangan ke pendingin,” pesan Risa. “Nanti pengiriman diurus Karyawan lain.”
Zaskia mengangguk, menuruti.
Ia tidak menyadari—keberhasilan sering kali tidak melahirkan apresiasi, melainkan rasa tersisih.
Vera berdiri tidak jauh dari meja utama. Dari tempatnya, kue itu tampak sempurna—terlalu sempurna untuk sesuatu yang bukan dibuat olehnya. Permukaannya licin, warnanya bersih, aksen emasnya nyaris tak terlihat.
Pujian Risa masih terngiang di kepalanya.
Biasanya, pesanan seperti ini jatuh ke tangannya. Selalu. Namun hari ini, nama orang lain berada di balik kue itu.
Saat dapur mulai lengang, Vera melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh kuenya. Tidak perlu. Tangannya hanya menggeser posisi meja pendingin, memastikan suhu di sekitarnya sedikit lebih hangat dari seharusnya.
Sebentar saja.
Ia tahu, krim sehalus itu tidak langsung rusak—hanya melemah. Berkeringat tipis. Cukup untuk mengacaukan segalanya saat tiba di tangan klien.
Sebelum pergi, ia mematikan CCTV sesaat.
Beberapa jam kemudian.
Pukul 18.00.
Arka dimarahi habis-habisan lewat telepon. Kue pesanan meleleh, warna bercampur, hiasan rusak. Klien menuntut penggantian sebelum acara dimulai—atau toko ini akan menerima konsekuensi serius.
Arka meraup wajahnya kasar.
Tanpa membuang waktu, ia memerintahkan Risa mengumpulkan seluruh karyawan.
Arka berdiri di tengah dapur, tangannya bersedekap. Rahangnya mengeras, napasnya ditarik dalam sebelum dilepaskan perlahan. Ia tidak berteriak, tidak membanting apa pun—namun justru itulah yang membuat suasana terasa mencekam.
Tidak ada yang berani mengangkat kepala.
“M-mohon maaf, Pak Arka,” Risa memberanikan diri. “Sebenarnya ada apa?”
Tatapan Arka menajam. “Apa kamu tidak mengarahkan Zaskia bahwa kue itu tidak boleh terkena suhu dingin sebelum beberapa jam?”
Zaskia mendongak. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
“Saya sudah menjelaskan semuanya, Pak,” jawab Risa. “Dan karyawan lain tahu itu.”
“Kue itu rusak,” potong Arka. “Klien minta diganti. Kalau tidak, toko ini menanggung kerugian besar. Tidak pernah ada kejadian seperti ini.”
Lalu pandangannya beralih.
“Dan kamu, Mbak Zaskia.”
Tubuh Zaskia menegang. Jemarinya saling bertaut.
“Kenapa bisa ceroboh dengan hal sekecil ini.”
“Pak Arka, maaf,” ucap Zaskia lirih. “Saya sudah mengikuti arahan Kak Risa. T-tapi—”
“Saya kecewa,” potong Arka, suaranya berat. “Dengan berat hati...saya tidak bisa mempertahankan kamu di sini.”
Air mata menggenang di mata Zaskia.
“Apa ini, Arka.”
Semua menoleh. Farah melangkah masuk.
“Ma—”
“Mama dengar semuanya,” potong Farah.
Ia menghampiri Zaskia dan menggenggam kedua tangannya. “Saya yakin kamu tidak sengaja.”
Air mata Zaskia akhirnya jatuh.
“Masih ada waktu satu setengah jam,” lanjut Farah. “Kita bisa buat kue lagi.”
“Waktunya terlalu singkat, Ma.”
“Tidak harus kue yang sama.”
Farah menatap Zaskia lembut. “Kamu bisa?”
Zaskia mengangguk, menghapus sisa air mata di sudut matanya. Dadanya masih terasa sesak, namun ia tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama di sana.
“Baik, Bu,” ucapnya pelan.
Farah menoleh ke Risa. “Atur ulang dapur. Kita tidak punya banyak waktu.”
Risa mengangguk cepat, lalu menepuk tangannya sekali untuk menarik perhatian. “Semua dengar. Kita punya satu setengah jam. Zaskia fokus di kue utama. Yang lain, bantu sesuai instruksi.”
Vera ikut bergerak, meski raut wajahnya menyimpan decak kesal. Rencananya gagal—Zaskia tidak jatuh seperti yang ia harapkan.
Dapur yang sempat membeku perlahan hidup kembali. Bunyi loyang disusun, oven dinyalakan, bahan-bahan dikeluarkan dari etalase. Tidak ada yang banyak bicara—semua bergerak dengan kesadaran yang sama: waktu tidak berpihak pada mereka.
Zaskia berdiri sejenak di depan meja kerjanya. Ia menarik napas dalam, menenangkan getaran di jemarinya. Kali ini, ia tidak mungkin membuat ulang kue yang sama. Terlalu berisiko. Terlalu lama.
Pandangan Zaskia menyapu bahan-bahan di hadapannya. Pikirannya bekerja cepat.
Kue yang ringan. Elegan. Tidak bergantung pada krim yang sensitif suhu.
“Aku buat almond sponge dengan glaze tipis,” ucapnya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Cepat matang, stabil, dan tetap mewah.”
Risa mengangguk. “Aku siapkan bahannya.”
Zaskia mengenakan kembali celemeknya. Ikatan di belakang terasa lebih erat dari biasanya—mengingatkannya bahwa ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pertaruhan.
Tangannya mulai bergerak. Telur dipisahkan, putihnya dikocok hingga mengembang, kuningnya diaduk cepat dengan gula dan ekstrak almond. Tidak ada ruang untuk ragu. Setiap gerakan harus tepat.
Di sudut ruangan, Arka berdiri diam. Tatapannya mengikuti dari jauh—masih keras, masih dingin—namun kali ini bercampur pengamatan.
Zaskia tidak menoleh. Ia fokus pada adonan yang perlahan menyatu di mangkuk. Oven harus tepat panasnya. Loyang harus tipis agar matang merata. Tidak boleh ada kesalahan kedua.
Waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Dan di dapur itu, di antara detik yang semakin sempit, Zaskia bertaruh pada satu hal yang masih ia miliki: kemampuannya sendiri.
Tepat pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, kue itu akhirnya berdiri di atas meja.
Tidak sempurna, tidak pula berlebihan—namun rapi, stabil, dan tenang.
Zaskia menghembuskan napas pelan. Bukan lega sepenuhnya, hanya cukup untuk menyadari satu hal: ia berhasil bertahan.
Setelah itu, tubuhnya meminta jeda. Zaskia duduk sejenak di kursi panjang, membiarkan kelelahan menyusul.
Ting.
Ia meraih ponsel.
Sebuah pesan masuk dari Revan—setelah seminggu observasi tanpa satu pun kabar darinya.
Zaskia menatap layar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tanpa membaca detailnya, ia tahu satu hal: malam ini ia harus menemuinya.