Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sutra Bulan
Paviliun Bulan berdiri sunyi di tengah taman batu.
Cahaya perak jatuh lembut dari langit malam, menembus sutra-sutra tipis yang bergoyang perlahan.
Lin Feiyan melangkah masuk dengan hati-hati.
Langkah kakinya nyaris tak bersuara di lantai kayu dingin.
Udara terasa tenang.
Terlalu tenang.
Di tengah paviliun, Xi Qinxue telah menunggu.
Ia berdiri membelakangi Feiyan, rambut hitamnya terurai rapi, disinari cahaya bulan.
“Masuklah,” katanya tanpa menoleh.
Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan angin.
Feiyan berhenti dua langkah dari ambang.
Ia menunduk hormat.
“Senior Xi,” ucapnya pelan.
Xi Qinxue berbalik perlahan.
Wajahnya tenang, matanya jernih, seolah tak menyimpan apa pun.
“Kau terlihat gelisah,” katanya.
“Latihan akhir-akhir ini berat bagimu.”
Feiyan terdiam sesaat.
Ia tidak menyangkal.
“Banyak hal… terasa tidak stabil,” jawabnya akhirnya.
“Qi-ku, pikiranku.”
Xi Qinxue tersenyum tipis.
Senyum yang menenangkan, tapi tidak hangat.
“Karena itu aku memanggilmu,” katanya.
“Beberapa jalan tidak bisa dilihat dari tengah keramaian.”
Ia mengangkat tangannya.
Sutra bulan di sekeliling paviliun bergerak pelan, menutup dunia luar.
Feiyan merasa seperti terpisah dari sekte.
Dari waktu.
“Duduklah,” ujar Xi Qinxue.
Mereka duduk berhadapan di atas tikar rendah.
Di antara mereka, lampu roh kecil memancarkan cahaya perak lembut.
Xi Qinxue menatap Feiyan lama.
Tatapan itu tenang, mengamati, seolah menimbang sesuatu yang tidak terlihat.
“Kau berada di persimpangan,” katanya akhirnya.
“Dan kau tidak menyadarinya.”
Feiyan mengerutkan kening.
“Persimpangan?”
Xi Qinxue mengangguk pelan.
“Setiap kultivator mengalaminya. Tapi milikmu… lebih rumit.”
Ia tidak langsung menjelaskan.
Ia membiarkan kata-kata itu menggantung.
Feiyan menelan ludah.
Dadanya terasa sedikit sesak.
“Senior,” katanya hati-hati,
“aku tidak tahu jalan mana yang harus kupilih.”
Xi Qinxue tersenyum lagi.
Kali ini lebih lembut.
“Itu wajar,” katanya.
“Justru berbahaya jika kau merasa terlalu yakin.”
Ia mengangkat jari telunjuk.
Qi halus mengalir, membentuk benang cahaya seperti sutra.
Benang itu melayang di udara.
Berpilin, membentuk pola lingkaran yang rumit.
“Lihat ini,” ujar Xi Qinxue.
Di dalam lingkaran sutra bulan, bayangan samar muncul.
Potongan-potongan gambaran yang tidak utuh.
Feiyan melihat dirinya berdiri di puncak batu.
Cahaya kuat menyelimutinya—namun retak-retak hitam menjalar di sekeliling.
“Keberhasilan,” kata Xi Qinxue pelan.
“Tapi rapuh.”
Gambaran itu berganti.
Feiyan melihat dirinya jatuh ke dalam kegelapan.
Tidak ada teriakan.
Hanya kehampaan.
“Kegagalan,” lanjut Xi Qinxue.
“Dan tidak selalu karena kurangnya usaha.”
Feiyan merasakan tengkuknya dingin.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Ini… masa depanku?” tanyanya lirih.
Xi Qinxue tidak langsung menjawab.
Ia menggerakkan jari-jarinya, mengaburkan gambaran itu.
“Ini salah satu kemungkinan,” katanya akhirnya.
“Banyak jalan, banyak ujung.”
Ia menatap Feiyan.
“Masalahnya, tidak semua jalan cocok untukmu.”
Feiyan mengangkat kepala.
“Apa maksud Senior?”
Xi Qinxue menurunkan tangannya.
Cahaya sutra memudar, meninggalkan udara kosong.
“Kau memiliki kecenderungan untuk terseret arus,” katanya lembut.
“Emosimu mudah dipengaruhi. Pilihanmu… mudah goyah.”
Kata-kata itu tidak terdengar menghina.
Justru terdengar seperti kepedulian.
Feiyan menunduk.
Ia tidak bisa membantahnya.
“Karena itu,” lanjut Xi Qinxue,
“melangkah sendirian akan sangat berbahaya.”
Ia mendekat sedikit.
Jarak mereka menyempit tanpa Feiyan sadari.
“Ada jalur-jalur yang seharusnya kau hindari,” katanya.
“Bukan karena salah… tapi karena terlalu berat untukmu.”
Feiyan mengangkat wajahnya.
“Bagaimana aku tahu jalur mana itu?”
Xi Qinxue tersenyum tipis.
Senyum yang penuh keyakinan.
“Dengan membaca tanda-tanda,” jawabnya.
“Dan dengan mendengarkan mereka yang melihat lebih jauh.”
Feiyan terdiam.
Kata-kata itu terasa masuk akal.
Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar.
Void Crack berdenyut lemah.
Xi Qinxue melirik sekilas ke arah dada Feiyan.
Gerakannya sangat halus.
“Kau merasakannya, bukan?” katanya.
“Ketidakselarasan itu.”
Feiyan terkejut.
“Iya… sejak beberapa waktu lalu.”
“Karena kau terlalu memaksa,” ujar Xi Qinxue lembut.
“Dan karena kau belum menemukan ritme yang benar.”
Ia mengangkat tangannya lagi.
Sutra bulan membentuk simbol halus di udara.
“Jika kau melangkah terlalu cepat,” katanya,
“retakan kecil bisa menjadi kehancuran.”
Simbol itu bergetar.
Lalu perlahan menghilang.
Feiyan menahan napas.
Pikirannya penuh.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya akhirnya.
Nada suaranya mengandung harap.
Xi Qinxue menatapnya lama.
Tatapan itu tenang, dingin, namun pasti.
“Jangan terburu-buru memilih,” katanya.
“Dan jangan percaya pada dorongan sesaat.”
Ia tersenyum lembut.
“Dengarkan tanda-tanda. Ikuti arus yang paling tenang.”
Feiyan mengangguk perlahan.
Ia merasa sedikit lebih ringan.
Seolah bebannya dibagi.
Seolah ada seseorang yang memegang peta untuknya.
“Terima kasih, Senior,” ucapnya tulus.
“Aku merasa… lebih tenang.”
Xi Qinxue menurunkan pandangannya.
Senyumnya tetap di sana.
“Tenang itu penting,” katanya.
“Tanpa ketenangan, pilihan hanya akan melukai.”
Feiyan bangkit dan menunduk hormat.
Dadanya masih bergetar samar.
Saat ia berbalik untuk pergi, sutra bulan bergoyang lagi.
Cahaya perak menyelimutinya sesaat.
Xi Qinxue berdiri sendiri di paviliun.
Memandang punggung Feiyan yang menjauh.
Senyumnya menipis.
Menjadi dingin.
“Masa depan memang penuh kemungkinan,” gumamnya pelan.
“Tapi arah… selalu bisa ditulis ulang.”
Sutra bulan berdesir pelan.
Cahaya perak meredup, menyembunyikan tatapannya yang penuh kepastian.
Feiyan melangkah keluar dari Paviliun Bulan.
Angin malam menyentuh wajahnya dengan lembut.
Langkahnya terasa lebih ringan dibanding saat datang.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang hilang.
Ia berhenti di tangga batu.
Menatap ke arah danau Qi yang memantulkan cahaya bulan.
Airnya tenang.
Terlalu tenang.
Feiyan menarik napas panjang.
Kata-kata Xi Qinxue masih terngiang jelas di kepalanya.
Jangan melangkah sendirian.
Dengarkan tanda-tanda.
Ikuti arus yang paling tenang.
Semua terdengar masuk akal.
Bahkan terasa bijak.
Namun ketika ia mencoba memikirkan keputusannya sendiri—
pikirannya kosong.
Tidak ada dorongan.
Tidak ada keyakinan.
Hanya kebingungan yang rapi dan tertata.
Feiyan duduk di tepi danau.
Tangannya menyentuh dadanya tanpa sadar.
Void Crack berdenyut lemah.
Seperti napas yang tertahan.
Ia mengerutkan kening.
“Tenang…” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia mencoba menenangkan Qi.
Mengalirkannya perlahan sesuai teknik dasar.
Namun aliran itu tidak sepenuhnya patuh.
Seolah menunggu arahan lain.
Bukan dari dirinya.
Feiyan membuka mata.
Perasaan aneh menyelinap ke dalam hatinya.
Bagaimana jika aku salah memilih?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Dan tidak pergi.
Ia mengingat gambaran-gambaran yang diperlihatkan Xi Qinxue.
Keberhasilan yang retak.
Kegagalan yang sunyi.
Bayangan itu samar, tapi meninggalkan bekas.
Feiyan menggenggam jubahnya.
Dadanya terasa sedikit sesak.
“Apa aku memang tidak cocok berjalan sendiri…?”
Suara itu pelan.
Nyaris tidak terdengar.
Namun begitu ia mengakuinya,
ada rasa lega kecil yang muncul.
Seolah beban berpindah.
Seolah tanggung jawabnya berkurang.
Feiyan menghela napas.
Matanya kembali menatap permukaan danau.
Cahaya bulan bergetar di atas air.
Seperti sutra yang bergerak perlahan.
Di dalam paviliun, Xi Qinxue masih berdiri.
Ia tidak langsung pergi.
Ia menunggu.
Sutra bulan di sekelilingnya kembali terbuka.
Angin malam masuk membawa hawa dingin.
Xi Qinxue menutup matanya.
Mengatur napasnya dengan tenang.
Qi halus mengalir di ujung jarinya.
Tidak membentuk ilusi.
Tidak memanggil bayangan.
Hanya getaran kecil.
Senyumnya terangkat tipis.
“Benih pertama telah tertanam,” gumamnya pelan.
Ia membuka mata.
Tatapannya jernih, dingin, dan fokus.
Ia bisa merasakan perubahan kecil itu.
Ikatan yang hampir tak terlihat.
Bukan paksaan.
Bukan pengendalian.
Hanya pergeseran halus—
dari percaya pada diri sendiri
menjadi percaya pada arah luar.
Xi Qinxue berjalan ke tepi paviliun.
Menatap ke arah Feiyan yang duduk sendirian di kejauhan.
Siluetnya kecil di bawah cahaya bulan.
Rapuh.
Tenang.
“Keraguan adalah pintu terbaik,” katanya lirih.
“Dan kau membukanya sendiri.”
Di danau, Feiyan berdiri.
Ia merasa sudah cukup lama duduk.
Ia melangkah kembali menuju asrama.
Langkahnya pelan, teratur.
Di setiap langkah, pikirannya berulang-ulang kembali pada satu hal.
Aku harus lebih berhati-hati.
Namun kalimat itu tidak lagi berarti aku harus lebih kuat.
Melainkan—
Aku harus lebih mendengarkan.
Dan tanpa ia sadari,
yang pertama kali ia pikirkan bukan dirinya sendiri.
Melainkan Xi Qinxue.
“Senior Xi pasti tahu lebih banyak,” gumamnya pelan.
“Dia melihat lebih jauh.”
Kata-kata itu terasa nyaman.
Seperti pegangan di tengah kabut.
Void Crack berdenyut lagi.
Kali ini sedikit lebih jelas.
Bukan sakit.
Bukan panas.
Melainkan kosong.
Feiyan berhenti sejenak.
Menekan dadanya.
Kosong itu tidak menakutkan.
Justru terasa… pasrah.
Ia melanjutkan langkahnya.
Tidak menoleh ke belakang.
Di Paviliun Bulan, Xi Qinxue membuka gulungan kecil.
Gulungan itu tipis, berwarna kelabu pucat.
Permukaannya dipenuhi garis-garis halus.
Ia mengambil kuas kecil.
Mencelupkannya ke tinta hitam pekat.
Dengan satu tarikan lembut,
ia menulis sebuah kalimat pendek.
Hati ini akan mencari arah di luar dirinya.
Xi Qinxue berhenti sejenak.
Lalu menambahkan satu baris lagi.
Dan saat itu tiba, pilihan akan berhenti menjadi miliknya.
Ia menutup gulungan itu.
Menyimpannya kembali ke dalam lengan jubah.
Sutra bulan bergoyang pelan.
Cahaya perak menyelimuti paviliun sekali lagi.
Xi Qinxue berdiri di tengahnya.
Tenang.
Tak tergesa.
“Tidak perlu terburu-buru,” gumamnya.
“Masih banyak waktu.”
Di kejauhan, Feiyan memasuki bangunan asrama.
Pintu kayu tertutup di belakangnya.
Malam kembali sunyi.
Namun di antara cahaya bulan dan bayangan sutra,
sebuah jalan telah digeser sedikit—
cukup untuk membuat langkah berikutnya
tidak lagi sepenuhnya milik Lin Feiyan.