NovelToon NovelToon
My Boss, My Past, My Sin

My Boss, My Past, My Sin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Bad Boy / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.

Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...

Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.

Keira Althea.

Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.

“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.

Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Aiden berhenti tepat di depan pagar rumah kecil mereka. Mesin motor dimatikan, tetapi rasa tak enak di dadanya justru makin kuat.

Rumah terlihat gelap.

Sepi.

Hening yang… tidak biasa.

Aiden turun dari motor perlahan, melepaskan helm sambil mengernyit.

“Mama nggak tidur jam segini… biasanya dia masih nonton drama sambil ketawa sendiri.”

Di waktu yang sama, Aiden mencoba membuka pintu, tapi terkunci. Syukurlah ia sesalu membawa kunci cadangan untuk jaga-jaga jika ibunya tak mau membukakan pintu rumah saat ia pulang terlambat.

Ceklek

Tak ada sahutan. Tak ada suara TV. Bahkan aroma mi instan yang biasanya ibunya masak tengah malam pun tidak ada.

Aiden menelan ludah. “Ma?” panggilnya.

Hening.

Ia melangkah masuk, meletakkan helm di sofa, lalu memeriksa dapur. Kosong.

Kamar Keira? Kosong juga.

Aiden mulai gelisah.

Ia berjalan mondar-mandir pelan, menatap ponselnya.Jangan-jangan ada yang terjadi?”

Secara otomatis, insting protektifnya naik.

Aiden berhenti di ruang tengah, menarik napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya. Jempolnya menekan kontak “Mama”.

Tuut… tuut…

Tidak diangkat.

Alis Aiden langsung menegang. Ia mencoba lagi.

Tuut… tuut…

Tetap tidak dijawab.

Aiden mengusap wajahnya, gelisah.

“Astaga, Ma…” gumamnya frustasi. “Jangan bilang mama kena masalah lagi.”

Ia menatap layar ponselnya yang gelap, rahangnya mengeras.

Lalu ia menghubungi Keira untuk ketiga kalinya—kali ini lebih cepat, lebih mendesak.

Begitu tersambung, Aiden langsung bicara tanpa salam:

“Ma, mama di mana? Kenapa nggak ada di rumah? Udah malem.”

Nadanya tegas, khawatir, tapi tetap dingin khas Aiden.

Tak ada jawaban selama beberapa detik…

yang membuat dada Aiden makin sesak.

“Ma?” panggilnya lagi, suaranya sedikit lebih tinggi.

Aiden mengerutkan kening saat mendengar napas seseorang dari seberang.

"Hallo."

Dan saat itu pula tubuh Aiden membeku seketika.

*****

Mansion Ethan...

Ethan duduk di tepi ranjang, masih memeluk Keira dari samping, jarinya tanpa sadar membelai lembut rambut perempuan itu.

Tiba-tiba—

Drrt… Drrt…

Getaran ponsel Keira terdengar di meja samping ranjang.

Ethan mengerutkan kening, melirik layar ponsel yang menyala.

Dan seketika rahangnya mengeras.

Nama kontak yang tertera: “My Handsome Baby ❤️😎”

Mata Ethan berubah gelap.

Otot lengannya menegang.

Darah di kepalanya naik begitu cepat sampai ia nyaris berdiri.

“…my handsome… baby?” Ethan mengulang lirih, suaranya rendah, dingin, tapi jelas menunjukkan amarah yang terpendam.

Ponsel terus bergetar.

Keira masih tidur nyenyak, tidak sadar apa pun.

Ethan memandang wajah Keira, lalu ponselnya lagi.

Rasa panas dan sakit yang asing menusuk dadanya—cemburu yang begitu brutal, sampai pikirannya gelap.

“…jadi kau punya panggilan seperti ini dengan anak muda itu…” gumam Ethan tajam, penuh rasa dikhianati.

“Berondong itu…”

Panggilan masih berlanjut.

Akhirnya Ethan mengambil ponsel itu.

Dengan tatapan mematikan, Ethan menjawab. “Hallo?”

Ada jeda pendek.

Lalu suara laki-laki muda, tegas namun terdengar khawatir:

“Ma, mama di mana? Kenapa nggak ada di rumah? Udah malem.”

Suara itu sangat jelas.

Dan semakin membuat Ethan panas.

“Mama?” Ethan mengulang pelan, penuh tekanan.

Nada suaranya berubah dingin dan tajam, seperti pisau bermata dua.

“Jadi kau memanggilnya begitu?” Ethan berkata lirih namun menusuk, nada dinginnya bercampur cemburu yang membara.

“Kau… ‘my handsome baby’… dan kau memanggilnya mama?”

Aiden di seberang membeku.

“…Ma—ma? Ini siapa?” suara Aiden terdengar waspada, bingung, bahkan siaga.

Ethan semakin gelap.

“Kau tidak perlu tahu aku siapa,” jawab Ethan dengan nada rendah yang membuat udara seolah menegang.

“Aku hanya ingin tahu…”

Tatapannya kembali pada Keira yang tidur tenang di dadanya.

“…apa hubunganmu dengannya… sampai kau punya nama kontak seperti itu?”

Aiden terdiam. Napasnya terdengar lewat sambungan.

Ethan melanjutkan, lebih dingin.

“Jawab.”

Nada itu bukan lagi pertanyaan.

Itu ancaman halus.

Sementara Keira masih tertidur, sama sekali tak sadar dua pria terdekat dalam hidupnya sedang terlibat perang dingin.

Aiden akhirnya berkata pelan, tegang:

“Mama… ada di mana?”

Ethan memejamkan mata sejenak, menahan emosi.

Rasa cemburunya meledak.

“…kau benar-benar tidak tahu, ya?” gumam Ethan rendah.

Pegangannya pada ponsel mengeras, knuckle-nya memutih.

Tanpa menunggu jawaban Aiden lagi, Ethan menutup telepon itu begitu saja.

Tuut.

Ia meletakkan ponsel Keira, wajahnya kembali gelap.

Matanya turun menatap Keira yang tidur damai.

Ethan mengusap pipi Keira dengan ibu jarinya, suaranya serak dan penuh rasa memiliki..“Bahkan saat tidur pun kau membuatku gila, Keira…”

Ia menarik Keira lebih dekat ke dadanya..“…dan aku tidak akan kalah dari siapapun, termasuk berondong itu.”

...----------------...

Sementara di sisi Aiden, pria tampan itu masih berdiri di ruang tamu rumah yang sepi.

Nada telepon yang tiba-tiba terputus membuat alisnya naik tajam.

Ia menatap ponselnya, menghela napas panjang dengan gaya dingin khasnya. “…Om mana lagi yang Mama kerjain…” gumam Aiden lirih namun penuh sindiran datar.

Ia tahu persis sifat Keira.

Emaknya itu suka banget ‘memberi pelajaran’ ke om-om hidung belang yang sok menggoda wanita, terutama yang sudah beristri.

Aiden memijat batang hidungnya, wajahnya campuran kesal dan pasrah. “Serius, Ma… malam-malam kayak gini masih sempet nge-prank om-om… bukannya pulang…”

Suara Aiden tetap tenang, dingin, datar, tapi jelas mengandung kekesalan khas anak lelaki yang sudah terbiasa mengurus emak bar-barnya.

Ia berniat menelpon lagi—

Tapi ia berhenti.

Matanya menerawang curiga.

“…tapi suaranya…”

Aiden mendecak pelan. “Baru kali ini Mama nemu om-om yang suaranya kayak gorila berotot.”

Ia menatap layar ponsel, bingung sekaligus waspada. “…Mama jangan-jangan bikin masalah lagi.”

...----------------...

Keesokan paginya...

Sinar matahari masuk lewat tirai kamar Ethan.

Keira perlahan membuka mata—kelopak matanya masih terasa berat.

Begitu pandangannya fokus…

Keira nyaris terlompat.

Ia berada di dalam pelukan seorang pria.

Tepatnya…

Pelukan seorang pria dengan dada bidang keras, hangat, dan sangat familiar.

Keira menoleh perlahan.

Dan saat wajah Ethan yang sedang tertidur pulas itu terlihat jelas…

DEG

“…ha?”

Keira membeku.

Jantungnya berdetak kencang.

Tubuh Ethan memeluk pinggangnya erat dari belakang, dagunya bertengger lembut di pundaknya seolah posisi itu sudah biasa ia lakukan bertahun-tahun.

Keira spontan menutup mulut dengan tangannya sendiri, menahan teriakan. “GILAAA… KENAPA GUE DI SINI?!” teriak batinnya.

Lalu—

Sekejap momen itu memukulnya seperti kilat.

Flash

Ranjang.

Dada kekar.

Tato elang.

Pelukan panas.

Ciuman yang melelehkan otak.

Tujuh belas tahun lalu...

Keira langsung pucat.

“Jangan bilang… ini kejadian ulang…” batinnya panik.

Napasnya memburu, dan dengan tangan gemetar ia mengintip sedikit di balik selimut, memastikan yang seharusnya dipastikan.

Ia lantas menghela napas lega saat melihat pakaiannya masih untuk.

“NO NO NO NO… deja vu apaan ini… gue nggak boleh kebablasan lagi…” Keira menahan tubuhnya agar tidak gemetar.

Ia bergerak pelan, mencoba keluar dari pelukan.

Tapi tangan Ethan otomatis mengetat, menarik pinggangnya lebih dekat, seolah tubuhnya sendiri menolak Keira pergi.

Keira. “…E—Ethan… lepasin aku dong…” bisiknya gemetaran.

Ethan, masih setengah sadar, menggumam rendah. “Jangan pergi…”

Suara itu dalam, serak, posesif.

Nafas Ethan menyentuh kulit leher Keira, membuat bulu kuduknya meremang.

Keira menelan ludah.

“…ini… ini bukan mimpi kan?”

Ia menepuk pipinya sendiri pelan.

Plak

Sakit.

“YA AMPUN INI BENERAN.”

Ia semakin panik, tapi tak berani teriak karena kepala pelayan bisa saja mendengar.

Dengan sisa-sisa tenaga, Keira akhirnya menggoyang-goyang tangan Ethan… dan KEJUTAN—

Ethan sadar pelan-pelan.

Matanya terbuka.

Dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Keira yang merah, panik, dan sangat dekat dengannya.

Senyum tipis Ethan langsung muncul.

Tenang.

Berbahaya.

Mematikan.

“Pagi, Keira.”

Nada itu begitu dalam, hangat, sekaligus posesif…

membuat Keira makin heboh sendiri.

Keira langsung berbisik keras. “ETHAN?! KENAPA KAMU PINDAHIN AKU KE SINI?!?”

Ethan hanya menatapnya dengan mata tajam yang entah kenapa membuat lutut Keira lemas.

“…kau tidur di sofa,” jawab Ethan datar. “Aku hanya memindahkanmu ke tempat yang seharusnya.”

“Maksud kamu… ranjang ini?!”

“Tempatku, berarti tempatmu juga.”

“HAH?!”

Keira sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ethan.

...****************...

1
Pa Muhsid
membaca karyamu tor seperti karya yang udah level diamond
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪
Yudi Chandra: huhuhu....makasi atas pujiannya.🙏🙏🙏😍😍😍
semoga selalu suka sama ceritanya.
kalo ada kritik dan saran bilang aja ya. biar cerita ini semakin berkembang dam banyak yang baca🤭🤭🤭🤭
salam kenal sebelumnya....
total 1 replies
Bu Dewi
seruu, lanjut kak
Yudi Chandra: okeeee👍👍👍👍
total 1 replies
Rohana Omar
1 bab lg la thorr
Yudi Chandra: besok yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rohana Omar
buat la 2 bab 1 ari thorr
Yudi Chandra: hihihi🤭🤭🤭🤭 iya. diusahain💪💪💪
total 1 replies
Rohana Omar
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bawa panci tu buat aq tergelak.....
Yudi Chandra: sama...🤭🤭🤭 namanya juga biar pinter🤣🤣🤣
total 5 replies
Pa Muhsid
anak anak anak 👨‍👩‍👧
Yudi Chandra: hahaha....anaknya siapa?🤣🤣🤣
total 1 replies
Pa Muhsid
anak lo
Yudi Chandra: hihihi....kan ethan nggak tau🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak,, hehehhehe
Yudi Chandra: pasti sayang. jangan lupa kasih bintang ya🤭🤭🤭.
biar semangat buat nulis lagi.😄
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
Yudi Chandra: pasti. jangan lupa kasih bintang 5 ya. 😁😁😁😁
total 1 replies
Akira Akira
lanjutttt
Akira Akira
lanjuttttttt
Felipa Bravo
Keren banget nih cerita, semangat terus author!
Yudi Chandra: huhuhu....makaciiiiiih😍😍😍
ini novel pertamaku di sini. biasanya di aplikasi oyen.

kasih kritik dan saran ya... biar aku makin semangat. terima kasih😍😍😍🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!