Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan.
"Aku Nolan." Pria bermanik hijau menjulurkan tangan dan disambut oleh Hana.
"Hana." Senyum ramah terbit di bibir pria bermanik hijau itu.
"Kau lebih cantik dari dekat."
Hana bingung ingin menjawab apa.
"Kau pesanlah sesuatu." Nolan memberikan buku menu kepada Hana.
"Apa saja tugasku, Tuan?"
"Wow. Kau terlalu terburu-buru. Aku bahkan belum makan."
"Maaf." Hana merasa gugup hingga tak sabar untuk ke inti pembicaraan.
"Tak apa. Kau pesan apa?"
"Aku tak mengerti bahasanya." Nolan dengan ramah menjelaskan satu persatu menu pada Hana.
"Kau mau yang mana?" Tanya Nolan, Hana menunjuk asal salah satu menu, ia ingin cepat.
"Ini saja, Tuan." Nolan mengangguk lalu menyebutkan beberapa menu kepada pelayan.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Nolan mengajak bicara Hana tentang hal-hal ringan.
Gadis itu hanya memberi jawaban singkat atau berupa anggukan.
Hana sedikit tak nyaman dengan sikap ramah Nolan, beruntung tak lama kemudian pesanan mereka datang. Nolan segera mengakhiri pembicaraan dan mengajak Hana untuk segera makan.
"Apa kita sudah bisa bicara?" Hana langsung menodong inti diskusi ketika mereka selesai.
Nolan meletakkan serbet usai mengelap bibirnya.
"Ya, kau sudah tahu berapa bayaranmu?"
"Belum. Aku bahkan tak tahu apa saja tugasku."
"Kau hanya menemaniku, menyiapkan segala keperluanku."
"Seperti asisten?"
Nolan mengangguk.
"Bagaimana dengan kamar?"
"Jika kau tak mau bersamaku, aku bisa memesan dua kamar. Terserah padamu, Hana." Nolan bicara dengan lembut dan tersenyum.
"Ya, dua kamar."
Nolan menjelaskan secara detail apa saja keinginannya saat berlibur nanti dan juga upah yang ia berikan.
Hana mengajukan permintaan untuk tak melayani sex pria itu.
"Jika boleh aku tahu, apa alasannya?"
"Aku hanya tidak ingin melakukan itu."
Hana menjawab datar.
Pria itu mengangguk paham.
Dirinya ragu apa bisa menahan hasrat untuk tidak melakukan sex jika berdekatan dengan perempuan.
"Baiklah, aku akan menerima hal itu." Nolan dengan santai menerima permintaan mereka. Dirinya selalu menyewa seorang perempuan secara acak ketika ia akan berlibur.
Secara kebetulan, ia tertarik dengan Hana ketika dirinya berkunjung ke bar milik Louis.
"Louis.." Hana datang sebelum jam bekerja dimulai, ia menghampiri Louis yang sedang merapikan gelas.
"Hai, Hana. Kau sudah bertemu dengannya?"
Gadis itu mengangguk.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku menyetujuinya. Minggu depan akan berangkat."
"Good. Aku senang mendengarnya. Semoga dengan ini hutangmu segera lunas." Hana mengernyit mendengar hal yang cukup privasi baginya.
Louis mengerti dari raut wajah perempuan cantik ini.
"Ah, Salsa yang memberitahu, dia memakai hal itu agar kau diterima di sini." Louis tersenyum ramah.
"Apa sulit untuk bekerja di sini?"
"Oh, tentu tidak. Bahkan sangat mudah. Emm.. Kau tahu apa maksudku, Hana." Louis mengerling nakal.
"Ah~ sambil menjajakan tubuh?"
"Yeah, kau sangat pintar. Hahaha." Louis kemudian berdehem, ia merasa tak nyaman dengan respon Hana yang hanya diam.
"Ehm, Salsa meminta agar kau bekerja hanya sebagai pelayan. Awalnya aku keberatan, tapi temanmu itu memohon dan memberitahu tentang hutangmu."
"Oh, Salsa... Ka-"
"Dia teman yang baik, Hana. Aku salut pada pertemanan kalian."
"Ya, dia satu-satunya teman yang kupunya di kota ini, Louis."
"Aku harap masa depanmu indah."
"Ya, aku harap begitu."
Bar semakin malam semakin dipadati oleh pengunjung, lantai atas pun ramai dikunjungi para pemburu daging segar.
Hana dan pelayan lain sibuk melayani pengunjung yang datang.
"Tuan, saya mendapatkan kabar bahwa perempuan itu bekerja pada seorang pengusaha MJ." Ruby melaporkan sesuatu yang ia terima dari seorang mata-mata.
"Apa yang dilakukannya?"
"Dia akan menemani seorang pria yang bernama Nolan MJ pergi berlibur ke luar negri."
Luca mengetuk jarinya di atas meja.
"Terus awasi dia, kirim orang untuk mengikutinya."
"Baik, tuan."
"Apa yang kau lakukan, Hana." Gumam Luca.
Hari yang ditunggu oleh Hana untuk melakukan pekerjaan bersama Nolan. Ia seperti seorang pengasuh pria dewasa.
Kini ia bersama Nolan sedang berada di bandara, mereka menaiki pesawat pribadi milik Nolan yang terparkir di bandara milik negara.
"Apa semua barangmu sudah kau bawa?" Nolan memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Mengenakan kaos dan celana pendek memberikan kesan santai namun tetap elegan.
"Ya, sudah."
Nolan mengernyitkan keningnya melihat tas sedang yang dijinjing Hana.
"Apa semua barangmu di sana?" Nolan menunjuk tas tersebut.
"Ya, tuan." Sedangkan Nolan membawa dua koper besar bersamanya.
"Apa kau bercanda? Kita menginap satu minggu, Hana."
"Saya sedang tidak bercanda, tuan. Ini semua cukup untuk satu minggu."
"Ah, terserah padamu." Nolan beranjak menuju ke dalam pesawat.
Hana tak seorang diri menemani Nolan, pria itu membawa serta bodyguardnya yang berjumlah lima orang. Mereka berbaur dengan orang sekitar.
"Kau jangan jauh-jauh dariku."
Hana menatap sekeliling ruangan pesawat beralih fokus mendengar ucapan Nolan yang duduk di kursi sembari minum.
"Baik, tuan."
Baru kali ini ia menaiki pesawat pribadi dan dia dilayani dengan baik seperti seorang nyonya.
Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara, Nolan dan Hana beserta antek-anteknya turun dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju villa milik Nolan untuk satu minggu ke depan.
Mereka berada di Swiss, tepatnya di bagian pedesaan. Hanya berjarak beberapa menit untuk menuju sebuah desa dimana villa milik Nolan yang langsung menghadap danau dan pegunungan Alpen.
Wajah polos itu sangat menikmati perjalanan yang baru, ia seperti di dunia lain.
Matanya disuguhi pemandangan yang sebagian besar pegunungan.
Nolan ingin menenangkan diri di sini usai melakukan pekerjaan yang menyita banyak waktunya dan tekanan dari keluarga terkhusus ayahnya yang meminta ia segera menikah.
"Hana." Perempuan berkuncir kuda itu sedang menata barang-barang milik Nolan ke dalam lemari pakaian.
"Ya, tuan?"
"Kau bisa memasak?"
Hana berpikir sejenak.
"Saya tak yakin, tapi saya akan coba memasak. Tuan ingin makan apa?"
"Aku ingin masakan Indonesia, terserah padamu."
"Baik, tuan."
Hana melanjutkan membereskan barang Nolan dan bergegas memasak untuk tuannya. Dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan oleh pengawal Nolan, Hana segera bergerak.
Satu jam kemudian setelah menyibukkan diri di dapur villa, ia selesai menghidangkan beberapa masakan Indonesia.
"Tuan, makanannya sudah siap." Nolan sedang menelepon di beranda seketika menoleh ke belakang dan mengangguk.
Hana memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Nolan menuju meja makan dan takjub melihat hidangan yang tersedia di sana, membuat nafsu makannya meningkat.
Namun, dirinya mencari sosok yang menyediakan makanan tersebut tak ada di dekatnya.
Nolan naik ke lantai dua di mana kamarnya dan Hana berada.
Mengetuk pintu kamar yang berada di sebelah kamarnya beberapa kali.
"Ya, Tuan. Sebentar, saya sedang berpakaian." Seru Hana dari dalam kamar.
"Cepatlah, aku sudah lapar."
"Tuan bisa makan lebih dulu."
"Kita makan bersama, Hana."
"Ya!"
Nolan turun ke lantai bawah untuk menunggu Hana di meja makan, tak lama Hana menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Maaf, tuan. Saya mandi karena terlalu berkeringat."
Aroma sabun semerbak menusuk hidung Nolan, membuat pikirannya yang tadi ruwet sedikit fresh.
"Tak apa, ayo makan."
"Baik."
Nolan memakan semua makanan yang dimasak oleh Hana dengan lahap. Perempuan itu tersenyum, ia senang usahanya tak sia-sia.
"Tugasmu ku tambah."
"Ya, tuan?"
"Memasak untukku."
"Asal menunya tidak sulit, saya siap."
"Sebisa kau saja, Hana. Aku tak pemilih."
"Baik, tuan."
"Kita bisa bicara seperti seorang teman."
"Saya nyaman seperti ini."
"Ok, berapa umurmu?"
"21 tahun."
"Sangat muda. Kenapa kau bersedia mengambil pekerjaan ini?"
"Karena butuh uang, tuan."
Nolan menampilkan smirknya.
"Kau tidak takut aku macam-macam?" Hana membalas tatapan Nolan yang memandangnya.