Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. BLINDED BY RAGE
“Bob…” suaranya serak, getir, tapi menggelegar. Jari telunjuknya gemetar menuding. “Kalau begitu… siapa sebenarnya dia?! Apa kamu tahu?! Atau justru kamu yang terlibat, hah?!”
Sahabat Raisa terkejut, wajahnya memucat. Ia berusaha bicara, namun lidahnya kelu. “Aku… aku hanya…”
“Jawab Bob!!” teriak sang ayah, tubuh atletisnya masih dipenuhi aura intimidasi.
Bobby hanya terdiam, bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, melainkan benar-benar takut salah bicara.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Gimana ini?" benaknya sambil memainkan kuku-kuku jarinya sendiri.
"JAWAB..." teriaknya hingga Bobby panik mendongak ke arahnya.
"Itu...i...tu, aku.." Bajunya kusut karena tangannya tak berhenti meremas.
"Aku gak tau Yah.." jawabnya sambil menunduk.
Ayah Raisa menarik dagunya sampai mendongak ke atas, napasnya memburu.
"Jujur kamu Bob?" Tatapan matanya dingin menusuk seperti pedang yang akan menghunus lawannya.
"I...iy.." sebelum dia mengiyakan perkataan itu, satu pukulan bersarang diwajahnya hingga tubuhnya terhuyung membentur tembok dan noda merah mengalir di sudut bibirnya. Ayah Raisa menarik kerah baju Bobby dan mengangkat tubuhnya ke udara seperti tidak ada beban yang berarti untuknya. Kaki Bobby berayun melayang mencari pijakan.
"CUKUP.. kumohon...hentikan Yah..." Raisa mencoba menghentikan aksi Ayahnya dengan berteriak agar Ayahnya mau berhenti, namun tak ada jawaban ataupun tanda-tanda perselisihan telah mereda.
Kesunyian singkat itu justru menjadi bara tambahan. Tanpa pikir panjang, Ayah Raisa melayangkan pukulan ke wajahnya. Sahabat Raisa terhuyung, hingga jatuh membentur dinding, namun mencoba bertahan dengan tubuhnya yang rapuh.
“Ayah!! Cukup!!” Raisa menjerit, suaranya nyaring menusuk malam. Tubuhnya yang lemah menyeret langkah untuk merangkul tangan ayahnya. Air matanya mengalir deras, bercampur rasa takut, sakit, dan tak berdaya.
“Jangan sakiti mereka! Mereka gak salah!!”
Namun ayahnya sudah dikuasai ketakutan yang menyamar sebagai amarah. Baginya, semua orang malam itu adalah ancaman yang nyaris merenggut putrinya.
Napas sang ayah memburu. Dada bidangnya naik turun liar, seakan udara tak cukup untuk memenuhi paru-parunya. Matanya merah, penuh amarah bercampur ketakutan. Tangannya bergetar, wajahnya memucat, tapi tubuhnya masih terus bergerak, menuding, mendorong, dan mengancam.
“SEMUA INI SALAH KALIAN!!” teriaknya, suaranya pecah, menggema di malam yang hening. “Kalau bukan karena kalian… Raisa gak akan terluka begini! KALIAN PIKIR AKU BUTA, HAH?!” Ayah Raisa menoleh ke arah Alex yang berusaha untuk berdiri dengan susah payah sambil memegang perutnya. Langkahnya yang gesit membuat Raisa tak sempat menghalaunya.
Ia meraih kerah anak buah Raisa yang sudah babak belur, mengangkatnya dengan kekuatan seorang mantan atlet. Tubuh anak buah itu limbung, cairan merah menetes, namun tetap tak berani melawan.
Namun sang ayah seperti tak mendengar. Suara Raisa bagai tenggelam di tengah badai amarahnya. Tangannya kini menghantam dinding, keras, hingga buku jarinya memerah. Napasnya makin tersengal, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya menegang dengan urat-urat yang menonjol.
“Semua orang… SEMUA orang mau merenggut kamu dari ayah…” suaranya pecah, lirih tapi penuh paranoid. “Aku gak bisa… aku gak bisa biarin… aku gak bisa kehilangan kamu, Raisa…”
Raisa menangis, suaranya pecah. Ia meraih wajah ayahnya dengan tangan gemetar, memaksanya menoleh.
“Ayah, lihat aku!! Ini Raisa… ini aku! Ayah, tolong sadar! Aku butuh Ayah! Aku mohon, hentikan!!”
Sahabat Raisa hanya bisa berdiri kaku di belakang, menatap dengan mata berkaca-kaca, merasakan getir dan ngeri melihat sosok kuat itu runtuh dalam ketakutannya sendiri.
Suasana menjadi hening, hanya tersisa erangan lemah anak buah Raisa yang terkapar di tanah, dan napas tertahan sahabatnya yang masih meringis kesakitan. Semua porak-poranda akibat luapan emosi sang ayah. Bercak merah menodai halaman rumah yang semula tertata rapi dan bersih.
Sang ayah masih berdiri dengan tubuh bergetar, napas tersengal, mata liar penuh amarah bercampur ketakutan. Tangannya berlumuran cairan merah entah milik siapa, tapi tetap terangkat, seakan siap melayangkan pukulan lagi.
“Ayah, hentikan… tolong…” suara Raisa pecah, nyaris tak terdengar karena isaknya. Ia meraih tubuh sang ayah dan langsung memeluknya erat dari belakang.
Tangisnya meledak, bahunya terguncang hebat.
“Ayah, cukup… cukup… jangan begini lagi…” suaranya serak, penuh luka. “Aku mohon, aku gak kuat lihat Ayah kayak gini… aku takut, Yah…”
Ayahnya terhuyung. Getaran tubuhnya makin terasa, otot-ototnya menegang. Tapi pelukan Raisa yang erat, hangat dengan air mata, perlahan meruntuhkan dinding amarahnya.
Matanya berkedip-kedip, pandangan kabur. Napasnya masih berat, tapi tidak lagi liar. Jemari yang tadi mengepal kini menggigil, mulai melemah, menggantung di sisi tubuhnya.
Raisa semakin mengeratkan pelukannya dari belakang, wajahnya menempel di punggung sang ayah, membasahinya dengan air mata.
“Ayah gak sendiri… aku di sini… tolong, Yah… jangan biarin penyakit ini ngalahin Ayah…”
Hening. Hanya suara tangis Raisa yang terdengar, menusuk ke hati. Sahabat dan anak buahnya, meski terkapar kesakitan, hanya bisa menatap dengan mata basah, tanpa daya, namun hatinya hancur menyaksikan ikatan ayah-anak yang begitu rapuh sekaligus kuat di saat bersamaan.
Perlahan, bahu sang ayah turun. Tubuhnya melemah, meski masih gemetar hebat. Ia tidak lagi mengamuk, meski napasnya tetap kacau, dadanya naik turun keras. Di balik getirnya, ada secercah kesadaran bahwa pelukan putrinya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak benar-benar hancur.
Tangisnya meledak, tubuhnya gemetar hebat saat ia memeluk ayahnya, meski tubuhnya sendiri masih dipenuhi luka.
“Ayo kita masuk… Ayah gak sendiri… aku di sini… aku janji aku gak akan pergi lagi… tolong tenang, Yah…”
Di balik pandangan sayu dan wajah penuh luka, mata Bobby masih terarah pada Raisa penuh khawatir, meski tak mampu mendekat.
"Sa..aku tau saat ini kamu rapuh banget dan kamu coba terlihat kuat di hadapan Ayah, tapi mata kamu gak bisa bohong dan aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Tapi aku gak tau harus apa?" benaknya.
Di malam itu, pintu gerbang besi yang besar seakan menjadi saksi bisu. Udara malam makin terasa dingin, menekan, menambah suram pemandangan. Sahabat Raisa masih setengah tergeletak dengan napas memburu, anak buah Raisa mengerang pelan, sementara Raisa sendiri memeluk tubuh ayahnya dari belakang dengan penuh isakan, mencoba memadamkan api dalam diri pria yang paling ia cintai.
Kalian pasti memikirkan bahwa kok bisa ribut-ribut gak ada pa RT atau tetangga yang denger mereka teriak-teriak kaya gitu? Ini dia alasannya.
Rumah keluarga Raisa berdiri megah di dalam sebuah kompleks elit yang dijaga ketat. Pagar hitam setinggi hampir tiga meter mengelilingi lahan luas itu, dilapisi besi kokoh dengan ujung runcing seperti tombak. Gerbang utamanya bukan hanya sekadar besi, tapi dilengkapi sensor otomatis dan kamera pengawas yang berputar pelan mengikuti setiap gerakan.
Halaman depannya membentang bak taman kecil, rumput hijau terawat seakan selalu disisir tiap pagi, lampu-lampu taman menyala redup menambah kesan dingin. Di kejauhan, bangunan utama menjulang, dinding kaca besar, pilar-pilar putih, dan balkon elegan yang menghadap jalanan sunyi. Rumah itu terlalu mewah, terlalu jauh dari rumah-rumah biasa, seolah berdiri di dunianya sendiri.
Tidak ada tetangga dekat. Tidak ada pedagang lewat. Bahkan suara mesin mobil pun jarang terdengar di kompleks ini. Jadi, ketika teriakan Raisa pecah, disusul dentuman pukulan dan jeritan tertahan anak buahnya, suara itu hanya bergaung di antara dinding tinggi rumah mereka sendiri. Dunia luar tetap diam, seakan buta dan tuli pada tragedi yang sedang meletus di balik gerbang megah itu.
Bersambung...
Apa Ayah Raisa bisa sadar dan tidak emosi lagi setelah raisa memberi penjelasan?
Alasan apa yang akan diambil oleh Raisa?
Apa Raisa akan jujur kali ini setelah melihat Ayahnya kambuh?atau malah menutupi dengan kebohongan kembali?
Kalian lebih kasian pada Bobby atau Alex?🤭
Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar nggak ketinggalan kelanjutan ceritanya ya.
Makasih yang sudah setia dan semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa.