Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Moly Yang Terkabul
Adila menghempaskan Moly yang sedang duduk bertumpang kaki dengan majalah yang terentang dikedua tangannya.
"Aduh Nek.... maen sluduk-sluduk aja kayak banteng, disinong kan masih mlompong." Protes Moly.
"Tinggal geser ribet banget sih." Ucap Adila dengan menyandarkan kepala di sandaran sofa.
Merasakan sesuatu yang janggal pada Adila, Moly menurunkan kaca mata hitam sebatas hidung.
"Are you oke?"
Adila tak menjawab, memilih memejamkan mata mengenyahkan bayang-bayang Aditya yang sedang berdua dengan perempuan yang menurut indera penglihatannya sangat dekat dan juga akrab.
"Iiiih cicuit bingits sih, ek dikacangin gini..." Moly mendelikan matanya kesal karena merasa diabaikan.
Moly kembali melihat majalah yang tadi dia lihat dan belum sempat dia baca. Senyum-senyum sendiri, terpesona dengan gambar yang ada didalamnya.
"Mon...." Panggil Adila dengan mata terpejam.
"Mon..." Moly masih tetap diam.
" Lu denger nggak sih gue panggil." Gertak Adila yang seketika matanya kembali terbuka.
"Sory ye, my name MOLY... no Momon." Jawabnya santai.
Adila berdecak," Serius nih gue."
"Ek juga serius Beb..." Kembali melihat majalahnya.
Adila menggeser duduknya mendekati Moly.
"Mol...."
"Aduh Nek... pangil ek jangan separo diiing, endingnya ke panggil tukang cimol, molen and ongol-ongol... gatel kuping ek jadinya."
Adila mengertakan gigi," Ribet amat sih nama lu, panggil ini salah panggil itu juga salah."
Moly menggoyang-goyangkan wajahnya centil, mengabaikan gerutuan Adila yang menurutnya tidak penting dibanding majalah yang sekarang ini dia baca.
"Ngapain lagi tuh mulut komat kamit kayak baca mantra." Tuduh Adila.
Moly menarik sudut bibirnya," Ek bukan dukun santet ye... ek doa pada sang maha pencipta."
"Doa apaan... doa pengen dandanin Krisdayanti ya?" Ledek Adila.
"Kepo ih..."
Moly kembali fokus melanjutkan doa yang akan dia panjatkan, bibirnya yang maju mundur membuat Adila terkikik geli memperhatikannya.
Terakhir Moly mengusapkan kedua tangan ke wajah, namun tidak sampai menyentuhnya karena menghindari bedak yang mungkin akan tersapu oleh tangannya.
"Udah?"
" Iyuup."
"Mol...."
"Moly Nek... MOOO...LY...."
Adila menepak keningnya pusing sendiri," Oke Moly si tangan emas."
Moly menyeringai sambil mencubit pipi Adila gemas," Itu baru cucok."
"Tadi you mau ngomong apose?"
Adila menyangga kepala, menjawab tanpa melihat Moly," Dira mana?"
"Si manis lagi disuruh keluar sama Bu Dina."
Kemudian Adila menatap Moly dengan serius,"Menurut Lo, kalau cewek sama cowok duduk berdua terus kelihatannya deket banget itu disebut pacaran nggak?"
Moly melipat bibirnya kedalam, menyimpan tangan di dagu," ada dua jawaban, answer one mereka pacaran and answer two mereka emang pacaran.
"Apaan sih lo, ngasih jawaban dua-duanya sama."
Moly terkekeh," Ya ek nggak bisa jawab lah cin, ek harus lihat siaran langsungnya."
"Lu kira lagi nonton konser harus siaran langsung."
Sedang seru dengan perdebatan mereka, Ibu Dina keluar dari ruangannya menghampiri mereka.
"Mari ikut saya, wakil Presdir ingin bertemu langsung dengan kalian, sekalian kita tanda tangan surat perjanjian ini bersama dengan beliau."
Pita suara Adila seakan terputus, Wakil Presdir... itu artinya dia akan bertemu dengan pria datar di asisten Tuan one night standnya, David.
Moly langsung berdiri," Oke Bu Dina." Jawabnya dengan logat genit.
Kemudian melihat Adila yang masih duduk tak bergeming," Nek ayuk... bengong mulu, habis disuntik vaksin yup?"
Adila menjulurkan lidahnya," Emang gue ayam sayur."
Dengan jantung yang berdebar kencang, Adila melingkarkan tangannya di pinggang Moly.
"Gue kebelet pipis nih." Bisiknya.
Kebiasaan Adila apabila menghadapi situasi yang menegangkan, kantung kemihnya akan secara tiba-tiba terisi penuh.
"Ih kebiasaan deh itu M*ss V, bocor mulu...udah dower kali ye."
"Songong lu."
Sampai dilantai dua puluh empat, mereka keluat dari lift mengikuti jejak langkah Ibu Dina. Beberapa kali Adila menghembuskan nafasnya, meredakan ketegangan yang membuat kepalanya berdenyut-denyut. Berbanding terbalik dengan Moly yang berjalan santai menikmati setiap dinding yang berhiaskan lukisan dan karikatur yang sangat unik.
"Cin you sakit... merinding dingin nih tangan." Tiba-tiba Moly bertanya dengan meraba tangan Adila yang bergelayut dilengannya.
Adila menggeleng.
"Itu face kenapose tegang banget kayak ketahuan nyolong ayam."
Adila berdecak.
Lu nggak tahu aja gue udah nyolong anak orang buat tidur sama gue
"Berisik ah... silent." Sentak Adila yang otomatis bibir Moly terkunci rapat.
Ibu Dina menghentikan langkahnya.
" Saya ingin bertemu dengan Pak David." Ucap Ibu Dina kepada seorang wanita yang sedang duduk dengan tumpukan berkas di mejanya.
"Silahkan Bu, Pak David sudah menunggu."
"Terima kasih... oh iya, Pak Aditya ada diruangannya, tamunya sudah pulang atau belum?"
Mendengar nama Aditya, pendengaran Adila menajam
"Ada, hanya tamunya masih didalam."
Pasti cewek yang tadi, batin Adila.
"Oh gitu, kira-kira masih lama tidak ya?"
"Sepertinya begitu, soalnya sedang membahas pembangunan proyek baru di Yogyakarta."
Apaaan, orang mereka lagi ketawa ketiwi di Rooftop, sengak emang nih cewek, coba-coba ngibul
Ibu Dina memanggutkan kepalanya," Kalau gitu saya masuk dulu."
"Iya silahkan."
Terdengar seruan dari dalam ruangan setelah Ibu Dina mengetuknya tiga kali. Aura mencekam mulai menghantui diri Adila.
David yang sedang berselancar dengan layar laptop, menarik diri untuk berdiri setelah Ibu Dina menyapanya dengan sopan.
"Silahkan duduk."
Dan giliran matanya melihat Adila dan Moly, David tertegun. Namun ia bisa langsung menguasai diri mempersilahkan mereka untuk duduk bersama Ibu Dina.
Adila mengangguk dan tersenyum, menarik tangan Moly untuk ikut duduk bersamanya. Tapi bukannya duduk, Moly malah diam tak berkutik, kakinya seperti tertancap paku beton yang sangat dalam. Mata yang tak juga mau berkedip, mulutnya yang menganga dan tangan yang tak juga mau turun, ekspresi yang sangat berlebihan.
"Mingkem... ada laler masuk, kesedak,tahu rasa lu." Bisik Adila, duduk mengikuti Ibu Dina membiarkan Moly yang masih betah berdiri.
Mulut Moly mengatup, tapi bukan duduk dia malah menghampiri David dan mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan name ek M...O...L...Y... Moly, si make-up artis bertangan emas." Seraya mengedipkan sebelah matanya, genit.
David melihat tangan Moly yang berkutek bling-bling, kemudian beralih melihat mata genit yang seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Bergidik.
David menerima uluran tangan Moly," Saya David, silahkan duduk."
"Thank You."
Ibu Dina mulai membuka percakapan,"Jadi ini Pak yang namanya Mbak Adila dan Mas Moly yang nanti akan membantu kita dalam acara Ulang tahun perusahaan ini."
Mas... Wajah Moly memberengut, bibirnya mengerucut dan alisnya mengkerut. Adila yang melihatnya hanya bisa menahan tawa, wajah Moly yang sangat mengenaskan.
"Dan ini surat perjanjian kerja sama dengan Mbak Adila dan Mas Moly."
David mengambil map hijau yang diberikan Ibu Dina. Semua biodata dan profil Moly dan Adila terlampir jelas dalam surat perjanjian itu.
David membacanya dengan sangat serius, hingga kata demi kata tak satupun ia lewatkan, terutama di lampiran biodata Adila.
"Jadi anda seorang model?" Telusur David.
"Betul Pak."
"Sejak kapan anda menggeluti dunia modelling?"
"Sejak keluar dari bangku SMA Pak."
"Selain model, kegiatan anda apalagi?"
Mau nyensus kayaknya nih orang, serasa di Dinas Kependudukan gue
"Dila juga kuliah loh Mas, Uups... maksud ek, Pak..." Sela Moly, seraya menutup mulutnya yang keceplosan tersipu malu,".... pokoknya dia Miss nya model di Surabaya... over all dijamin pasti perfecto."
David menyandarkan punggungnya seperti tidak percaya," Selain kuliah, ada lagi kegiatan yang lain?"
Gila nih orang, pasti dia mikir uka-uka ama gue gara-gara one night stand ama Bosnya
"Tidak ada Pak." Jawab Adila singkat.
David terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu," Semuanya saya serahkan kepada Ibu Dina. Semoga acara nanti bisa berjalan sesuai dengan rencana. Dan untuk Nona Adila dan...."
"Cukup panggil ek Moly, No Mas.... jahanam itu nama buat ek."
Adila dan Ibu Dina saling melirik, menahan tawa.
"Oke... dan Moly, bisa bekerja semaksimal mungkin membantu perusahaan kami sampai hari H nya tiba nanti."
"Siap Pak... semuanya dijamin rebeess, iya nggak Cin?"
Adila hanya mengangguk, tak banyak bicara.
"Sebelum saya menandatangani ini, saya minta salinan rincian anggaran untuk acaranya nanti, kemarin saya lupa memintanya."
"Baik Pak, sebentar saya telepon dulu bagian yang menangani keuangan agar segera membawanya kemari."
Ibu Dina berdiri agak menjauh, hendak melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
Selang beberapa menit, Adira masuk dengan membawa file ditangannya.
"Permisi..."
"Manis... sini duduk samping ek...," Moly melambaikan tangan, Adira pun duduk menurutinya.
"Di apit dua dayang kembar deh... ek terhura" Seraya merangkulkan kedua tangannya dipundak Adila dan Adira.
"Kembar?" Tanya David.
"Ih Pak ganteng nggak tahu yei.... two girls ini kan twin, bumi and langit sih... tapi dua-duanya cucok meong kan?"
Adila memelototkan matanya, kesal dengan Moly yang terlalu banyak bicara mengungkapkan kehidupan pribadinya.
David mengangguk paham, kenapa selama ini Adila sering terlihat di perkantoran Wirrbel. sedikit demi sedikit teka teki ini akan mulai terkuak, dan cepat atau lambat dia akan tahu siapa sebenarnya Adila, wanita yang masih dalam tanda tanya besar di kepalanya saat ini.
"Ini filenya Bu." Adira menyela ucapan Moly.
Ibu Dina menerima file itu dan memberikannya kepada David. Dengan seksama David melihat rincian anggaran itu, kemudian menutupnya kembali.
"Baiklah semuanya sudah sesuai, saya akan tanda tangan. Semoga acara ini akan membuat Bapak Presdir senang."
"Saya juga berharap seperti itu Pak." Ibu Dina menimpali.
Selesai menandatangani surat perjanjian itu secara bergantian, pintu ruangan David tiba-tiba terbuka.
"David...." Panggil seseorang yang muncul dibalik pintu.
Semua mata menoleh.
Mengetahui siapa yang datang, Adila cepat-cepat menunduk tak ingin melihatnya, dan Moly....
Aaaah..Duren in Magazine...Thanks God, doa ek terkabul..