NovelToon NovelToon
L'Oubli

L'Oubli

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Roh Supernatural / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dela Tan

Murni, seorang biarawati yang sedang cuti karena ingin menyembuhkan jiwa setelah terganggu mimpi-mimpi buruk yang terus berdatangan, menerima pesan aneh di ponselnya -suara paniknya sendiri yang membuatnya penasaran. Ia mengikuti petunjuk yang membawanya ke sebuah warung makan tua yang hanya buka saat malam.
Di warung itu ia bertemu dengan Mahanta, seorang juru masak pendiam yang misterius. Namun warung itu bukan warung biasa. Pelanggannya adalah jiwa-jiwa yang belum bisa pergi, dan menu makanannya bisa menenangkan roh atau mengirimnya ke dalam kegelapan. Murni perlahan terseret dalam dunia antara hidup dan mati. Ia mulai melihat masa lalu yang bukan miliknya. Meskipun Mahanta tampaknya menyimpan rahasia gelap tentang siapa dirinya dan siapa Murni sesungguhnya, pria itu bungkam. Sampai cinta yang semestinya dilarang oleh langit dan neraka merayap hadir dan mengungkapkan segalanya.

L'oubli (B. Perancis): keadaan tidak menyadari atau tidak sadar akan apa yang sedang terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 1 ; Bab 19 - Kembali Ke Biara

Cahaya fajar masih malu-malu mengintip di langit, seperti celah mata yang malas membuka setelah tidur terlalu nyenyak. Semburan cahaya belum kaya, hanya serupa bayangan keputihan tipis, seolah aliran kabut yang ditiupkan perlahan.

Murni cepat-cepat masuk ke kamar sewaannya. Sepanjang perjalanan pulang, ia bergegas. Perasaannya malam ini sukar dilukiskan. Entah mengapa hatinya terasa nyeri, sementara jari jemarinya terus mengusap lengan dimana tangan Mahanta menyentuhnya.

Itu sangat ringan, seringan sentuhan bulu. Tetapi mengapa itu masih terasa hingga kini. Bahkan setelah ia berada di dalam kamarnya yang hangat.

Murni memejamkan mata. Kini, bahkan ketika matanya terpejam, yang ada di pelupuknya  adalah wajah tampan Mahanta, dan tatapan mata yang mengantarkan getaran yang tidak mampu ia tahan.

Tanpa sadar, Murni menggigil. Menahan rasa merinding yang menguasai sekujur tubuhnya. Ini bukan rasa takut. Apakah ini… rasa ketertarikan? Inikah yang disebut hawa nafsu?

Mata Murni terbuka seketika. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir bayangan Mahanta yang menghuni pikirannya.

Bergegas ia masuk ke kamar mandi, melepaskan seluruh pakaian dan sengaja mandi air dingin. Ini ia lakukan agar konsentrasinya terpusat pada rasa dingin, dan bukan pada hal-hal tidak senonoh.

Selesai mandi, Murni berlutut di tepi tempat tidur, membuat tanda salib dan berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama.

“Apakah aku masih pengantin-Mu... jika jantungku berdegup karena dia?”

“Ampuni hambaMu… ampuni hambaMu…”

Namun, bahkan doanya terdengar hambar. Ada suara dalam hati kecilnya yang menyangkal.

‘Rasa yang hadir ini, aku tidak pernah meminta. Jika itu bisa ada, bukankah berarti Tuhan juga yang membiarkan itu terjadi?’

Lelah berdoa yang terasa kosong, Murni mengakhirinya. Berdiri terhuyung-huyung karena terlalu lama berlutut, ia merangkak ke atas tempat tidur, lalu berbaring telentang.

Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Meskipun kurang tidur, ia tidak merasa mengantuk karena baru mandi air dingin.

Tangannya bergerak ke atas dada, menggenggam salib kayu yang menjadi bandul kalungnya. Ia hanya berdiam diri seperti itu, tidak bergerak, berusaha mengosongkan pikiran.

Setelah suhu tubuhnya menyesuaikan dengan suhu ruangan, matanya mulai terasa berat. Bulu matanya yang panjang dan lentik bergerak-gerak, hingga akhirnya terkulai menutup rapat iris coklat muda di baliknya.

Dada Murni naik turun teratur, seiring napasnya. Wajahnya tampak damai. Namun… itu tidak lama.

Jika ada orang lain di kamar itu, dia akan menyaksikan, tidak lama setelah terlelap, kening  Murni mulai mengernyit. Kelopak matanya bergerak-gerak gelisah. Bibirnya yang berwarna merah muda mulai merekah, suara lenguhan halus lolos dari situ, diikuti pinggangnya yang bergerak melengkung dan lehernya terangkat.

Suara ambulans yang meraung-raung kencang, lewat di jalan di depan rumah.

Murni tersentak bangun. Tersengal-sengal. Ekspresi wajahnya linglung. Sejenak ia terdiam bengong, seolah mencerna apa yang terjadi. Matanya mengerjap beberapa kali, lalu rona merah menjalar ke pipinya.

Dan perlahan… tangannya yang semula menggenggam salib, melepaskan salib itu dan terangkat ke bibirnya.

Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri, seolah ingin menegaskan suatu rasa yang tertinggal di sana. Murni kembali memejamkan mata, dan meneguk ludah dengan susah payah.

Tidak salah lagi. Betapa pun polosnya ia, betapa pun tidak mengerti dan tidak berpengalaman, Murni tidak bodoh. Tentu saja ia mengerti apa yang baru saja ia mimpikan.

Itu bukan mimpi dikejar setan yang membuatnya lari terbirit-birit sampai kehabisan napas. Bukan mimpi berada di tengah kobaran api seperti dulu. Bahkan bukan mimpi berjalan bersama Mahanta di taman bunga dan makan sup yang dibuatnya.

Itu… sesuatu yang dewasa.

Sesuatu yang jelas tidak boleh terlintas pada orang seperti dirinya.

Kini Murni sepenuhnya paham, yakin, bahwa dirinya… tertarik. Bahkan menginginkan laki-laki itu, sampai terbawa mimpi. Jika mimpi-mimpi buruknya belum ia ketahui maknanya, apakah itu pengalaman di alam bawah sadar atau nubuatan, maka mimpinya barusan…membenarkan teori Freud.

Itu… adalah jendela ke alam bawah sadar yang menyimpan atau mengubur hasrat terpendam atau keinginan terlarang.

Murni merasa sangat berdosa, sangat kotor.

Detik itu juga, ia memutuskan bahwa ia harus kembali ke biara.

Jauh dari biara tidak membantunya menegaskan pilihan. Malah sebaliknya, ia merasa semakin jauh terperosok ke jurang kemanusiaan.

Tidak, tidak, Murni menggelengkan kepala, mengembuskan napas kuat-kuat.

‘Aku harus membersihkan hati,’ gumamnya. ‘Dan tempat yang paling tepat adalah di biara. Waktu tiga bulan cutiku juga sudah habis, tepat minggu ini.’

Ia percaya, rekan-rekan sesama novis dan biarawati, serta suasana gereja, akan membantunya. Sehingga ia tidak perlu kebingungan dan meraba-raba mencari pegangan seorang diri.

Murni beranjak dari tempat tidur, segera mengemas pakaian dan barang-barangnya yang tidak seberapa ke dalam koper.

Tiba di biara, Murni langsung menghadap Suster Maria, yang menyambutnya dengan sukacita.

“Hatimu sudah bulat?” Wajah anggun Suster Maria sangat cerah, senyum terkembang di bibirnya, bahagia sebab mengira Murni kembali karena telah mengenyahkan kebimbangan.

Namun, Murni menggeleng.

“Maaf, Suster. Aku kembali karena ada beberapa pertimbangan. Pertama, tentu saja karena waktu cutiku sudah habis. Kedua… karena berada di luar biara bukan mengenyahkan kebimbangan, malah sebaliknya. Jadi, jika aku masih diterima, aku ingin mendengar saran Suster, bahwa tempat untuk menenangkan hati justru di sini, bukan di tempat lain.”

Suster Maria mengangguk mengerti. “Kau tahu bahwa kau bisa bicara, menceritakan apa yang memberati hatimu padaku, bukan? Jika kau merasa tidak kuat menanggungnya sendiri, atau tidak tahu bagaimana memecahkan masalahmu… ingat bahwa aku ada di sini. Aku berjanji itu akan menjadi rahasia kita berdua, dan Tuhan.” Suara Suster Maria sangat lembut, menunjuk ke atas dan tersenyum.

Murni mengangguk. “Tentu saja. Terima kasih, Suster. Bukan aku tidak percaya Suster bisa menyimpan rahasia, hanya saja…” Murni menghela napas, “Aku tidak ingin… membebani orang lain.”

“Baiklah. Kembali saja ke kamarmu. Sebentar lagi kita harus bersiap untuk misa pagi.”

Murni pamit, dan menyeret koper ke kamar lamanya di biara, yang ia tempati bersama Theresia.

Murni berpapasan dengan teman sekamarnya itu di pintu, “Eh kau sudah kembali? Ayo cepat, sudah hampir waktu misa ini.”

“Ayo.” Murni meletakkan kopernya begitu saja. Ia telah mengenakan seragam biarawatinya, jadi langsung mengikuti Theresia ke gereja.

Setelah misa berakhir, ada beberapa umat yang tidak langsung pulang. Mereka menunggu giliran untuk masuk ke ruangan pengakuan dosa.

Melihat itu, Murni merasa tertohok.

Apakah… ia juga harus masuk ke ruangan pengakuan dosa?

1
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Ahh akhirnya selesai juga Maraton baca Obitus Casta, MurniMahanta...

Ketika cinta yg terasa nonsense diperjuangkan. Malaikat dan ibliss, nggak mungkin bersama. tapi.... walaupun sebentar seenggaknya Obitus sudah merasakan apa yg blom pernah dia rasain, Cinta. Mencintai Dicintai. Dan pastinya menikah, berhubungan.
Hukuman, perjuangan mereka udah imbang... Sad ending sbnrnya tapi harus spt itu😂

Terimakasih bwt krya nya kak ditunggu next karya. Semangat.

Eh iya, Aku yg kelewat apa nggak ada ceritanya ya, Casta itu sblom jadi Malaikat pernah jadi manusia kah?
mungkin seperti Obitus sblom jadi ibliss?
Dela Tan: Gak pernah. Semua malaikat diciptakan dari cahaya.
total 1 replies
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Arathel ini Malaikat perempuan apa laki-laki? aku ngiranya dia perempuan. Apa dia....?
Dan dia ngaku istrinya Obitus ke Murni itu penyamarannya?
Dela Tan: Laki-laki. iya itu penyamaran.
total 1 replies
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Tugas obitus bwt mendorong manusia melakukan kematian gitu yaa, ehh gimna ya mksdnya... mendorong manusia bwt putus asa trs bundir, nahh Casta tugasnya Menyelamatkan, memberikan harapan baru.
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
dan Doa obitus terkabul
bukan cuma bertemu tapi obitus juga jatuh cinta pada sang cahaya 😂
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Cinta tak direstui Antara Obitus sang kematian dan Casta sang Murni ( Malaikat dan ibliss mungkin yaa).

masih meraba-raba sejauh ini, apakah Murni ini reinkarnasi dari Casta? 😂
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Casta= Murni
Cristina Maya
alur cerita yang sangat indah. kita bisa merasakan sakitnya, bahagianya juga perihnya
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
masih menyimak kak
LɪᴢZʏ AᴜʀᴏRᴀ❷❶ℓ🔥
Setelah dua T ( Tiara dan Tristan)
Terus ke dua L ( Lili dan Lila)

aku mampir lagi di dua M ( Murni dan Manhata)
Dela Tan: 🤭 aku malah gak sadar ternyata karakterku selalu initial kembar.
total 1 replies
adi_nata
terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.
adi_nata
Tuhan Maha Adil
adi_nata
wah benarkah Arathael menyimpan cinta untuk Casta.
adi_nata
lalu rasa cinta itu darimana datangnya ? adalah anugerah Sang Kuasa atau bisikan iblis ?
ncapkin
seru bangat ternyata
adi_nata
dari rasa simpati menjadi cinta.
adi_nata
yang menyerukan kemerdekaan padahal mereka tengah mencoba menciptakan penjajahan dalam wujud berbeda.
adi_nata
wajar jika Obitus memiliki perasaan manusia walau sedikit, karena dirinya dahulu adalah manusia.
𝕐𝕆𝕊ℍuaˢ
This is a beautiful sad story. Thank you, Author.👏
𝕐𝕆𝕊ℍuaˢ
WAH! Daebak! it's beautiful sad story.👏👏👏
🌸Ar_Vi🌸
/Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!